Bagian 4 Dita dan Keinginan Jadi Bodoh

Dita menatap layar ponselnya, menahan napas saat melihat puisi Juno diputar ribuan kali di akun podcast mereka. Komentar demi komentar terus masuk, memuji kedalaman makna, kejujuran kata-kata, dan betapa puisi itu "mewakili generasi kami."

Dita menekan tombol power, mematikan layar.

Ia duduk di pojok kamarnya, lampu dibiarkan redup. Sementara dunia di luar sana mengagumi Juno, ia merasa makin tenggelam dalam kebingungan yang tak pernah selesai.

Bukan karena Dita tidak mengagumi Juno ia mengagumi Juno, mungkin lebih dari siapa pun. Tapi sejak puisi itu viral, sesuatu berubah dalam dirinya. Seolah-olah semua orang menemukan suara mereka dalam puisi Juno, sementara Dita malah kehilangan suaranya sendiri.

“Apa yang salah sama gue?” gumamnya.

Ia memandangi tumpukan buku pelajaran di meja. Fisika, Biologi, Kimia. Semuanya sudah disampul rapi, ada coretan kecil di pojok masing-masing: target nilai. Target yang ia buat sendiri, untuk membuktikan sesuatu pada orang tuanya, pada gurunya, pada dirinya sendiri.

Tapi semua target itu terasa hampa. Ia tidak menikmati belajar. Ia hanya pandai berpura-pura.

Dita mengingat masa kecilnya. Saat itu, ia suka menggambar. Ia bahkan pernah berkata pada ibunya, “Ma, aku mau jadi ilustrator!” Tapi sang ibu hanya tertawa pelan. “Bagus, tapi jangan dijadikan cita-cita, ya. Itu bisa jadi hobi, tapi bukan pekerjaan.”

Sejak hari itu, Dita berhenti menggambar. Ia mulai belajar lebih keras, menjadi juara kelas, ikut les ini-itu. Ia pikir, dengan menjadi anak pintar, ia bisa diterima. Tapi yang ia rasakan justru... kosong.

Saat Juno berdiri di depan kelas dan berkata “Saya tidak bisa,” Dita ingin berdiri juga. Ingin bilang, “Saya juga.” Tapi ia tidak bisa. Ia terlalu takut kehilangan label “anak pintar.”

Hari itu, setelah pulang sekolah, Dita tidak langsung ke rumah. Ia mampir ke warnet tua di dekat stasiun. Tempat itu sepi. Ia memilih bilik paling pojok, membuka blog Juno secara anonim.

Ia membaca satu per satu puisinya. Pelan-pelan. Kata demi kata seperti menusuk pelan ke dalam pikirannya yang kusut.

> “Di kelas, aku dituntut hafal rumus,

Tapi tak ada yang mau mendengar rasa.”

Dita menelan ludah. Ia bisa hafal semua rumus. Tapi tak ada yang tahu rasanya saat ia bangun setiap pagi dengan perasaan ingin menghilang.

Ia membuka aplikasi pengolah kata dan mulai mengetik. Tangannya gemetar.

> “Aku ingin jadi bodoh.

Bukan karena aku tidak bisa berpikir,

Tapi karena jadi pintar membuatku mati perlahan.

Di balik setiap nilai 90,

Ada malam yang penuh tangis dan kelelahan.

Aku ingin jadi bodoh.

Supaya aku bisa bebas.”

Ia berhenti. Menatap layar. Lalu menghapus semua.

Ia takut. Takut jika ada yang tahu isi pikirannya. Takut dianggap lemah. Tapi perasaan itu terus menumpuk. Seperti air di dalam gelas retak, tinggal tunggu waktu sampai tumpah.

Keesokan harinya, di sekolah, suasana kelas masih hangat dengan pujian untuk Juno. Bahkan Bu Nira pun tampak tak bisa menyangkal dampaknya.

“Puisi itu... menyentuh,” kata Bu Nira pelan. “Meskipun saya tidak setuju dengan semua isinya, tapi saya tidak bisa bohong, saya juga merasa... tersindir.”

Juno menunduk, Dita menatapnya dari bangku belakang. Ada rasa iri. Tapi bukan iri karena Juno dipuji. Iri karena Juno berani menjadi dirinya sendiri.

Saat istirahat, Dita menemui Nala di kantin.

“Lo pernah ngerasa... capek jadi pintar?” tanya Dita, suaranya pelan.

Nala berhenti mengunyah. “Gue pernah ngerasa capek jadi ‘dianggap pintar’.”

“Beda ya?”

“Banget. Kalo lo emang pintar dan menikmati, ya oke. Tapi kalo lo pintar cuma karena lo takut dianggap gagal... itu siksaan.”

Dita terdiam. Nala melanjutkan, “Lo tau, Dit... gue lihat lo tuh kayak robot. Selalu tahu harus jawab apa, selalu tahu harus gimana. Tapi... lo bahagia gak?”

Dita ingin bilang iya. Tapi tak bisa.

“Enggak,” bisiknya.

Nala menepuk tangannya pelan. “Gue pernah di titik itu. Tapi akhirnya gue sadar, jadi manusia tuh gak harus selalu benar. Kadang, lo harus berani salah. Itu cara lo bertumbuh.”

Dita tersenyum kecut. “Tapi kalau gue berhenti pintar, siapa gue?”

Nala menatapnya serius. “Lo Dita. Yang lebih dari sekadar nilai. Yang punya cerita. Yang pernah mimpi jadi ilustrator.”

Dita terkejut. “Lo tau?”

“Gue ngintip gambar-gambar lo di sketchbook, waktu lo tinggal di kelas. Lo berbakat, Dit.”

Sepulang sekolah, Dita membuka laci dan mengeluarkan sketchbook yang sudah lama terkubur. Halaman pertama berdebu. Tapi gambarnya masih hidup. Ada potret perempuan yang menangis di tengah tumpukan buku.

Ia membuka halaman baru. Mulai menggambar lagi. Tangannya bergetar, tapi kali ini bukan karena takut—melainkan karena lega.

Malam itu, Dita membuka laptop dan mulai menulis surat. Bukan surat untuk guru, bukan untuk orang tua. Tapi untuk dirinya sendiri.

> “Hai Dita,

Maaf ya, selama ini aku menuntutmu terlalu keras.

Aku cuma pengen kita diterima. Tapi ternyata... jadi diri sendiri itu lebih penting daripada jadi sempurna.

Besok, kita mulai lagi.

Pelan-pelan. Tapi jujur.”

Surat itu ia tempelkan di cermin.

Besoknya, saat pelajaran Kimia, Dita tidak mengangkat tangan meski tahu jawabannya. Ia hanya menulis di pojok bukunya: “Hari ini aku belajar jadi manusia, bukan mesin jawaban.”

Sepulang sekolah, Dita mendatangi Juno.

“Jun, boleh gak... gue baca puisi di episode podcast berikutnya?”

Juno tampak terkejut. “Lo?”

Dita mengangguk. “Gue gak seindah lo nulisnya. Tapi gue pengen bilang sesuatu. Tentang... rasa capek jadi pintar.”

Juno tersenyum. “Lo udah punya suara itu dari lama, Dit. Sekarang lo baru mau make-nya.”

“Gue takut salah,” aku Dita.

“Justru itu bagian terbaiknya. Orang yang takut salah, biasanya yang paling jujur saat akhirnya bicara.”

Dita menunduk, tersenyum kecil.

Episode itu tayang tiga hari kemudian.

Dengan suara gemetar, Dita berkata di awal, “Hai. Aku Dita. Dan aku ingin jadi bodoh... supaya aku bisa bahagia.”

Episodes
1 Bagian 1 : Wacana yang Tak Pernah Usai
2 Bagian 2 Nala, Si Pemberani di Dunia Maya
3 Bagian 3 Puisi Juno di Tengah Matematika
4 Bagian 4 Dita dan Keinginan Jadi Bodoh
5 Bagian 5 Bimbingan Konseling, Bukan Konseling
6 Bagian 6 Kita Ini Generasi Apa?
7 Bagian 7 Sekolah Rasa Penjara
8 Bagian 8 Salah Faham dalam Diam
9 Bagian 9 Kenapa Cinta Bikin Bingung?
10 Bagian 10 Pertemuan yang Mengubah Segalanya
11 Bagian 11 Podcast Gagal Paham
12 Bagian 12 Viral yang Tidak Direncanakan
13 Bagian 13 Reaksi Guru, Respons Dunia
14 Bagian 14 Orang Tua yang Tak Mau Mendengar
15 Bagian 15 Komentar Pedas dari Netizen
16 Bagian 16 Di Balik Layar Podcast
17 Bagian 17 Surat Peringatan
18 Bab 18 – Kata Mereka, Kita Kurang Aja
19 Bagian 19 Keresahan adalah Kebenaran
20 Bagian 20 Suara yang Tak Pernah Usai
21 Bagian 21Rasa yang Tak Terdefinisi
22 Bagian 22 Dita Menjauh
23 Bagian 23 Juno dan Luka Lama
24 Bagian 24 Pertengkaran Pertama
25 Bagian 25 Nala yang Kelelahan
26 Bagian 26 Rahasia-Rahasia Kecil
27 Bagian 27 Raka dalam Dilema
28 Bagian 28 Ujian Bernama Persahabatan
29 Bagian 29 Pilih Cinta atau Kebenaran
30 Bagian 30 Diam Adalah Pengkhianatan
31 Bagian 31 Dialog Palsu di Ruang Guru
32 Bagian 32 Rapat Orang Tua yang Membara
33 Bagian 33 Guru Favorit Ikut Mengecewakan
34 Bagian 34 Mereka Bilang Kita Kurang Ajar
35 Bagian 35 Masalah Itu Bernama Reputasi
36 Bagian 36 Dunia Dewasa Tak Seindah Dulu
37 Bagian 37 Antara Cita-Cita dan Kenyataan
38 Bagian 38 Label Buruk yang Menempel
39 Bagian 39 Ketika Kejujuran Malah Dihukum
40 Bagian 40 Sekolah dan Politik dalam Miniatur
41 Bagian 41 Rencana Besar Dimulai
42 Bagian 42 Poster, Spanduk, dan Tanda Tanya
43 Bagian 43 Aksi Diam yang Berteriak
44 Bagian 44 Mereka Tak Siap Mendengar
45 Bagian 45 Nala Bicara di Forum Terbuka
46 Bagian 46 Dita Menulis Surat Terbuka
47 Bagian 47 Podcast Terakhir
48 Bagian 48 Juno Menghilang
49 Bagian 49 Raka Dipanggil Polisi
50 Bagian 50 Kita Tak Bisa Mundur
Episodes

Updated 50 Episodes

1
Bagian 1 : Wacana yang Tak Pernah Usai
2
Bagian 2 Nala, Si Pemberani di Dunia Maya
3
Bagian 3 Puisi Juno di Tengah Matematika
4
Bagian 4 Dita dan Keinginan Jadi Bodoh
5
Bagian 5 Bimbingan Konseling, Bukan Konseling
6
Bagian 6 Kita Ini Generasi Apa?
7
Bagian 7 Sekolah Rasa Penjara
8
Bagian 8 Salah Faham dalam Diam
9
Bagian 9 Kenapa Cinta Bikin Bingung?
10
Bagian 10 Pertemuan yang Mengubah Segalanya
11
Bagian 11 Podcast Gagal Paham
12
Bagian 12 Viral yang Tidak Direncanakan
13
Bagian 13 Reaksi Guru, Respons Dunia
14
Bagian 14 Orang Tua yang Tak Mau Mendengar
15
Bagian 15 Komentar Pedas dari Netizen
16
Bagian 16 Di Balik Layar Podcast
17
Bagian 17 Surat Peringatan
18
Bab 18 – Kata Mereka, Kita Kurang Aja
19
Bagian 19 Keresahan adalah Kebenaran
20
Bagian 20 Suara yang Tak Pernah Usai
21
Bagian 21Rasa yang Tak Terdefinisi
22
Bagian 22 Dita Menjauh
23
Bagian 23 Juno dan Luka Lama
24
Bagian 24 Pertengkaran Pertama
25
Bagian 25 Nala yang Kelelahan
26
Bagian 26 Rahasia-Rahasia Kecil
27
Bagian 27 Raka dalam Dilema
28
Bagian 28 Ujian Bernama Persahabatan
29
Bagian 29 Pilih Cinta atau Kebenaran
30
Bagian 30 Diam Adalah Pengkhianatan
31
Bagian 31 Dialog Palsu di Ruang Guru
32
Bagian 32 Rapat Orang Tua yang Membara
33
Bagian 33 Guru Favorit Ikut Mengecewakan
34
Bagian 34 Mereka Bilang Kita Kurang Ajar
35
Bagian 35 Masalah Itu Bernama Reputasi
36
Bagian 36 Dunia Dewasa Tak Seindah Dulu
37
Bagian 37 Antara Cita-Cita dan Kenyataan
38
Bagian 38 Label Buruk yang Menempel
39
Bagian 39 Ketika Kejujuran Malah Dihukum
40
Bagian 40 Sekolah dan Politik dalam Miniatur
41
Bagian 41 Rencana Besar Dimulai
42
Bagian 42 Poster, Spanduk, dan Tanda Tanya
43
Bagian 43 Aksi Diam yang Berteriak
44
Bagian 44 Mereka Tak Siap Mendengar
45
Bagian 45 Nala Bicara di Forum Terbuka
46
Bagian 46 Dita Menulis Surat Terbuka
47
Bagian 47 Podcast Terakhir
48
Bagian 48 Juno Menghilang
49
Bagian 49 Raka Dipanggil Polisi
50
Bagian 50 Kita Tak Bisa Mundur

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!