Dinikahi Untuk Dibenci
Pesta pernikahan telah usai. Ruangan penuh kemewahan kini sepi, hanya menyisakan bayangan siluet pengantin yang melangkah memasuki kamar hotel yang disiapkan untuk malam pertama mereka. Laras berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya dalam gaun putih berkilauan yang kini terasa seperti belenggu.
Dari belakang, Edward mendekat dengan langkah tenang. Udara di antara mereka terasa berat, penuh dengan sesuatu yang tak terucapkan.
“Kita akan membuat malam pertama ini tak terlupakan, Sayang,” bisiknya tepat di telinga Laras, suaranya dalam dan penuh kendali.
Laras mengepalkan tangan. Napasnya tertahan, tapi ia menolak untuk menunjukkan ketakutan.
Tiba-tiba, suara ketukan terdengar di pintu. "Malam panjang dimulai, Sayang." Edward menyeringai, seolah sudah menantikan momen ini.
Ia melangkah menuju pintu tanpa ragu, dan saat membukanya, seorang gadis muda berdiri di ambang pintu. Cantik—sama cantiknya dengan Laras. Matanya dipenuhi ekspresi yang sulit diartikan.
"Kau datang tepat waktu, Sayang." Edward mengusap pipi gadis itu dengan lembut, tatapan matanya menggelitik sesuatu yang dalam dan menjijikkan di perut Laras.
Pria itu mengeluarkan sebutir obat dari sakunya.
“Telan ini dan bersiaplah,” ujar Edward dengan nada pelan namun tegas. “Aku ingin malam ini sempurna.”
Gadis itu menunduk patuh, melangkah masuk ke kamar mandi tanpa sepatah kata pun. Namun, sebelum pintu tertutup sepenuhnya, Edward menambahkan, “Pakai pakaian yang ada di dalam paperbag.”
Laras merasakan hawa dingin menjalar di tubuhnya. Ia menoleh menatap Edward, wajahnya tetap datar, namun matanya menyala dengan kemarahan yang terpendam.
“Apa maksudmu?” tanyanya, suaranya terdengar datar namun tajam.
Edward menoleh ke arahnya, tersenyum sinis. “Ini malam pernikahan kita, Sayang. Bukankah wajar jika seorang suami menikmati malam pertamanya?”
Laras menghela napas pelan, lalu melangkah menuju pintu tanpa ragu. “Kalau begitu, selamat menikmati malam pertama.”
Namun, sebelum ia sempat menyentuh kenop pintu, suara ‘klik’ terdengar. Edward telah menguncinya.
Ia bersandar di pintu dengan santai, menatap Laras dengan penuh kemenangan. “Kau tidak akan ke mana-mana. Kau harus melihatnya.”
Laras membeku.
Edward melangkah mendekat, mengangkat dagunya dengan satu jari. "Aku ingin kau belajar, Sayang," ujar Edward, menelusuri wajah Laras dengan tatapan dingin. "Supaya saat waktunya tiba, kau tahu bagaimana cara melayaniku dengan baik."
Detik itu, sesuatu dalam diri Laras pecah. Ia tersenyum kecil, sebuah senyum yang dingin dan berbahaya.
“Kau benar,” katanya pelan. “Malam ini akan menjadi malam yang tak terlupakan.”
Tapi bukan untuk alasan yang Edward pikirkan.
Kini malam pertama dimulai—dengan cara yang jauh dari kata sakral bagi Laras.
Edward berdiri di tengah kamar, tangan lincah melepas tuksedo, lalu kemejanya, memperlihatkan tubuhnya yang terawat dengan dada bidang dan perut berotot. Laras tak bereaksi, tak sekalipun mengalihkan pandangan dari cermin di depannya. Ia bukan gadis polos yang akan merona melihat pria bertelanjang dada. Tidak, bukan itu yang membuat hatinya bergemuruh malam ini.
"Dia pikir aku akan kagum melihat tubuhnya?"
Senyum Edward melebar saat pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sosok gadis yang kini hanya berbalut lingerie tipis.
"Malam ini akan menjadi malam pertama yang sempurna." Edward menatap Laras dengan senyuman yang menjijikan bagi Laras.
Tatapan gadis itu berkabut, napasnya memburu—efek obat yang mulai bekerja. Dengan langkah goyah namun tanpa ragu, ia mendekat, matanya penuh gairah yang dipaksakan. "A--aku.."
Edward tersenyum penuh arti. "Aku akan membuat panas di tubuhmu hilang, Sayang."
Tanpa perlu aba-aba, gadis itu membiarkan tubuhnya direngkuh oleh Edward, menerima kecupan pria itu dengan pasrah, bahkan membalasnya dengan gelora yang semakin liar.
"Menjijikan." Laras masih berdiri di tempatnya, ekspresinya tetap datar. Tapi ada sesuatu di dadanya yang mencengkeram begitu erat, seolah hendak menghancurkannya dari dalam.
Tak ingin menjadi saksi lebih lama, Laras berbalik, melangkah ke balkon. Ia mendorong pintu kaca, membiarkan angin malam menyambutnya dengan dingin yang menusuk kulit.
Di bawah sana, kota berpendar dalam cahaya. Begitu luas. Begitu ramai. Dan di tengah gemerlap itu, Laras merasa begitu sendirian.
Namun, kesendirian itu tak seberapa dibandingkan suara yang mulai memenuhi kamar.
"Akh..sa--sakit..."
"Ta--tahan sebentar..."
"Ugh..kau sempit sekali..."
"Hah..hah..."
Desahan, bisikan mesra, erangan yang tanpa ragu terdengar dari dalam.
Laras menutup mata, tetapi suara itu tetap menyerangnya, menusuk gendang telinganya tanpa belas kasihan.
"Dasar brengsek!"
Malam ini, ia hanya bisa berdiri di balkon, mendengarkan suaminya bercinta dengan wanita lain—sepanjang malam.
Ia tidak menangis. Tidak akan menangis.
Karena ini adalah pilihan yang telah ia ambil.
***
Fajar merayap masuk melalui tirai yang setengah terbuka, cahaya samar menyapu kamar yang masih berantakan. Suara napas tertidur gadis itu masih terdengar, tapi Laras tidak memedulikannya. Dia masih berdiri di balkon, tangannya mencengkeram pagar besi hingga buku-buku jarinya memutih.
Udara pagi yang dingin menyentuh kulitnya, tetapi itu tidak bisa menghapus jejak malam sebelumnya. Suara Edward, bisikan mesra yang ditujukan kepada wanita lain, gema kepuasan yang ia dengar sepanjang malam—semuanya masih terukir di pikirannya, meninggalkan luka yang tak terlihat.
Langkah kaki mendekat dari belakang. Edward sudah berpakaian lengkap, wajahnya masih menyimpan kepuasan yang sinis. Dengan santai, ia menyesap segelas anggur yang entah sejak kapan ia ambil, lalu bersandar di kusen pintu balkon.
"Bagaimana, Sayang?" Suaranya terdengar malas, penuh ejekan. "Malam pertama kita tak terlupakan, bukan?"
Laras tidak langsung menoleh. Dia hanya menghela napas, lalu mengangkat tangannya yang masih gemetar untuk merapikan rambutnya. Saat akhirnya ia menoleh, tatapannya tidak lagi kosong—melainkan sedingin es yang menusuk.
"Benar." Bibirnya melengkung tipis, hampir seperti senyuman. "Aku tak akan pernah lupa betapa menjijikkannya dirimu."
Edward tertawa kecil, seolah menikmati responsnya. Dengan langkah santai, dia meraih dagu Laras, mencengkeramnya cukup kuat hingga Laras terpaksa menatap langsung ke matanya.
"Jangan khawatir." Bisiknya rendah, bibirnya nyaris menyentuh telinga Laras. "Aku punya banyak cara untuk membuatmu tunduk padaku."
Laras bergeming, bahkan ketika rasa sakit menjalar dari cengkeraman Edward.
"Aku mungkin tak bisa melawanmu," suaranya tenang, hampir terlalu tenang. "Tapi jangan pernah berharap aku akan menyerah begitu saja."
Edward mendecakkan lidahnya. "Kita lihat saja nanti, Sayang." Ia melepaskan dagu Laras, lalu melangkah pergi, meninggalkannya sendiri di balkon yang dingin.
Begitu Edward menghilang dari pandangan, Laras menyentuh dagunya yang terasa nyeri. Tatapannya meredup. Di balik ketegarannya, hatinya menjerit.
"Sampai kapan aku diperlakukan seperti ini?"
Tapi dia tidak akan menangis. Tidak di depan Edward. Tidak di tempat ini.
Laras masih berdiri di balkon kamar hotel itu, tubuhnya bersandar lemah pada pagar besi yang dingin. Gaun pengantin putihnya telah kehilangan makna—kini hanya selembar kain simbol penyerahan yang dipaksakan. Angin pagi menyapu pelan wajahnya, seakan mencoba menghapus jejak malam kelam yang baru saja ia lalui.
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka, lalu ditutup kembali. Suara langkah kaki… tidak ada. Hening.
Laras tetap di tempatnya, memejamkan mata sejenak. Ia menunggu—entah menunggu Edward datang lagi atau hanya memastikan bahwa pria itu benar-benar sudah pergi.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan.
Dengan langkah enggan, Laras akhirnya meninggalkan balkon. Gaun pengantin yang panjang menyapu lantai, sebagian renda-rendanya sudah kotor terkena debu dari lantai luar.
Ia masuk ke kamar. Pandangannya menyapu ruangan.
Tuksedo Edward tergeletak begitu saja di lantai, bersama dasi, kemeja… dan pakaian dalam pria itu.
Perlahan, tatapan Laras naik ke arah ranjang.
Sprei putih itu ternoda. Sebuah bercak merah di tengah-tengahnya, seolah menjadi penanda kemenangan yang menjijikkan.
Mendadak terlintas di benaknya—pekikan kesakitan gadis itu semalam, teriakan samar yang berbaur dengan suara erangan Edward.
Laras menelan ludah. Bukan karena cemburu. Tapi karena muak. Jijik. Perutnya bergejolak, seperti hendak memuntahkan sesuatu.
Ia mundur selangkah, memegangi pinggir meja agar tetap berdiri. Napasnya berat, namun tidak ada air mata yang jatuh. Ia terlalu lelah untuk menangis.
Saat itulah, suara ketukan terdengar dari arah pintu.
Tok… Tok… Tok.
Di balik pintu, suara pria terdengar sopan namun tegas.
“Nyonya Laras, saya diperintahkan Tuan Edward untuk mengantar Anda pulang.”
Laras memejamkan mata. Kata “pulang” terasa asing baginya sekarang.
Karena sejak menikah dengan Edward, ia tak tahu lagi—rumah yang mana yang benar-benar bisa disebut pulang.
...🔸🔸🔸...
...Pernikahan adalah lambang kesucian, namun saat dilandasi dendam dan kebencian, pernikahan hanyalah penjara menyakitkan....
..."Dhanaa724"....
...🍁💦🍁...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
Dwi Winarni Wina
Mampir dan hadiiiir kak....
Edward sangat menjijikan skl menikah dgn laras mlm pertamanya dgn wanita lain......
Benci dan cinta beda tipis lama2 Edward jg bisa jatuh cinta sm laras.........
2025-04-13
2
syisya
mampir thor, semoga ceritanya lebih greget lagi
gemes aku ama Edward
ulekan mana ulekan ??? 🌶️🌶️🌶️🥊⚒️⚒️ ku palu ndasmu edwaaaaard hhhhhhh
2025-04-08
1
Far~ hidayu❤️😘🇵🇸
mengapa Edward ... menikah dengan laras 🤔 tetapi malam pertama bersama gadis lain ..sakit jiwa kah
2025-04-16
1