CHAPTER 2 Hati Yang Mulai Tertarik

"Lana, tolong ke sini sebentar," suara bariton Pak Dani membelah keheningan kelas, memanggil Lana dari dunianya sendiri.

Dengan langkah sedikit ragu, Lana menghampiri Pak Dani yang berdiri di dekat Sakha. Raut wajah gurunya tampak serius, namun penuh harap.

"Lana, Bapak ingin meminta bantuanmu. Beberapa hari ke depan, bisakah kamu membimbing Sakha dalam beberapa mata pelajaran? Bapak melihat nilainya sedikit tertinggal. Bapak yakin kamu bisa membantunya."

Mata Lana membulat sempurna, terkejut dengan permintaan tak terduga itu. Ia menoleh ke arah Sakha, yang berdiri tegak dengan ekspresi datar, seolah tak peduli dengan apa yang sedang dibicarakan.

"Tapi, Pak..." Lana tergagap, mencari kata-kata yang tepat. "Tapi, mungkin Sakha keberatan. Kenapa tidak Rio saja, Pak? Nilai Rio juga bagus."

"Hmm, Bapak rasa kamu lebih cocok untuk mengajar. Kamu lebih sabar dan detail. Sudah, kamu saja yang bantu Sakha, ya," Pak Dani menepuk bahu Lana, lalu beralih menatap Sakha. "Kamu tidak keberatan, kan, diajar oleh Lana? Dia anak yang baik dan prestasinya tidak perlu diragukan lagi."

Sakha hanya mengangguk singkat, tanpa ekspresi. Sikapnya yang acuh tak acuh itu membuat Lana semakin bingung. Ia tahu Sakha pasti tidak senang dengan ide ini, tapi kenapa dia tidak menolak?

Lana merasa seperti tersesat dalam kebingungan. Bagaimana mungkin dia, yang baru mengenal Sakha, harus mengajarinya? Apalagi dengan sikap dingin dan ketus pemuda itu, metode pengajaran seperti apa yang harus ia gunakan? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di benaknya, membuatnya semakin frustrasi.

-------

"Kenapa kamu tadi tidak menolak?" Lana menunduk sambil memainkan ujung sepatunya. Kedua bibirnya mengerucut. Ia menatap malas punggung Sakha yang tengah berdiri membelakanginya.

Siang itu sepulang sekolah keduanya berada di depan gerbang sekolah. Mereka sedang menunggu supir keluarga Sakha yang akan datang menjemputnya.

Sesuai permintaan wali kelas mereka, Lana akan belajar bersama pemuda itu dan membantunya untuk menjelaskan beberapa materi yang tertinggal atau masih tidak dimengerti olehnya.

"Kenapa harus menolak?" Sakha menoleh sekilas, melihat sejenak ekspresi Lana yang tampak kesal padanya.

Biasanya Lana selalu memasang wajah ramah dan senyum di wajahnya, tapi ternyata ekspresi kesalnya terlihat cukup menggemaskan, pikir Sakha.

"Bukankah kamu keberatan?" Lana menghentakkan kakinya, ia lalu bergerak mendekat ke samping pemuda itu dan menatapnya.

Mata bening milik Lana membulat, membuat wajah gadis itu terlihat seperti anak anjing kecil yang sedang merajuk. Sakha sampai menahan diri untuk tidak tertawa melihat ekspresi Lana yang baginya terlihat lucu.

"Aku tidak pernah keberatan." jawab Sakha santai.

"Hah?" Lana mengernyitkan dahinya.

"Apa?"

"Bukannya kamu tidak nyaman sama aku, harusnya kamu minta belajar dengan Rio. Dia.."

"Nope. It's okay, you're better choice."

Lana memicingkan matanya curiga.

"Jangan sampai kamu buat aku kesal ya, saat kita belajar nanti."

"Aku tidak pernah buat kamu kesal." tukas Sakha singkat.

Lana tercengang sampai membulatkan matanya. "Woah..kau luar biasa!"

"Memangnya aku pernah buat kamu kesal?"tanyanya dengan wajah tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Hmmm..enggak..enggak sama sekali." tegas Lana sembari menarik nafas panjang.

Sepertinya pemuda di depannya ini memang sengaja memancing emosinya, jadi Lana berusaha menahan dirinya agar tidak terpancing.

"Jadi berapa menit lagi kita tunggu jemputan kamu?" tanya Lana sembari menatap jalanan yang sudah sedikit sepi.

"Sebentar lagi."

"Kenapa enggak pakai angkutan umum? Kan bisa lebih cepat." Lana memajukan tubuhnya sedikit ke arah jalan raya, ia menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan jemputan milik Sakha.

Mereka sudah menunggu hampir satu jam dan menurut Lana itu waktu yang cukup lama, ia sangat tidak suka membuang waktu. Waktu satu jam bisa ia manfaatkan untuk mengerjakan soal-soal latihan, belajar memasak atau mengecek tanaman-tanaman yang ada di kebun kecilnya.

"Lagipula kamu kan sudah besar, kenapa masih diantar jemput." seloroh gadis itu.

"Ternyata kamu cerewet juga ya."

Tiba-tiba sebuah kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi, untunglah Sakha menyadari hal tersebut. Dengan refleksnya yang cepat, ia menarik tas punggung yang dikenakan oleh Lana, membuat gadis itu langsung terhuyung ke belakang.

Sakha segera menarik gadis itu ke pelukannya, Lana yang terkejut hanya bisa memejamkan matanya. Ia dapat merasakan kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi itu hampir menyerempetnya, membuat angin kencang menyapu wajahnya sebelum akhirnya Sakha menarik dan menyembunyikan tubuh gadis itu dalam pelukannya.

Lana dapat mendengar degup jantung Sakha yang berdetak lebih cepat dan deru nafasnya yang memburu. Gadis itu mendongak, mendapati wajah pemuda itu yang menegang.

Setelah dirasa sudah aman, Lana berusaha melepaskan dirinya dari pelukan pemuda itu, namun cengkraman tangan Sakha di tubuhnya terasa sangat kuat.

"Sa..Kha.." ucap Lana yang mulai merasa sesak.

Sakha Masih terdiam tak bergeming.

"Sakha..lepas.."tukas Lana lirih.

Sakha akhirnya tersadar dan cepat-cepat melepas pelukannya pada Lana. Gadis itu memperhatikan wajah Sakha yang terlihat pucat dan berkeringat.

"Kamu baik-baik saja?"

Sakha tidak menjawab, tiba-tiba pandangannya sedikit kabur ia pun bersandar pada gerbang yang ada di belakangnya. Lana yang terkejut memegang lengannya.

"Kamu sakit? Kenapa tiba-tiba pucat dan berkeringat?" Lana terlihat panik.

Sakha tidak menjawab dan hanya berusaha mengambil nafas panjang untuk menetralkan perasaannya yang berkecamuk juga kepalanya yang mendadak terasa pusing.

Lana menyentuh kening Sakha dengan telapak tangannya. Suhu tubuh pemuda itu terasa dingin. Lana semakin khawatir.

"Kita ke rumah sakit saja ya? A..aku..cari taxi dulu."

Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekitar berusaha mencari taxi yang bisa ia pakai untuk mengantarkan Sakha ke rumah sakit terdekat. Ia khawatir kalau pemuda itu punya riwayat penyakit yang perlu penanganan cepat.

Lana melihat satu mobil yang berjarak kurang lebih 200m dari tempat mereka berada. Lana hendak melambaikan tangannya untuk memanggil taxi tersebut namun tiba-tiba tangan Sakha menahannya.

"Aku baik-baik saja." ucapnya dengan suara lemah

"Kamu yakin?" Lana Masih tidak percaya.

Sakha mengangguk lalu berusaha berdiri dengan tegap. Lana segera membantu memapahnya, lengan Sakha merangkul gadis itu sampai membuatnya terhuyung.

Lana yang sebetulnya cukup tinggi, terasa sangat kecil jika dibandingkan dengan Sakha yang memiliki tinggi 178cm. Tubuhnya seperti tenggelam dibalik badan kekar milik pemuda itu.

Tak lama menunggu untunglah supir pribadi milik keluarga Sakha akhirnya datang, pria paruh baya yang berpenampilan sederhana itu nampak terkejut melihat Sakha yang pucat dan sedang bersama dengan seorang gadis. Banyak yang ingin ia tanyakan tapi ia tunda dan dengan segera turun dari mobilnya untuk membantu Sakha memasuki mobil.

Lana menemani Sakha duduk di kursi belakang.

Lana lalu mengambil botol air mineralnya yang tadi baru ia beli di kantin. Ia segera membuka segel botol tersebut dan menyodorkannya pada Sakha.

Sakha meminum air yang diberikan oleh Lana, lalu menyandarkan kepalanya yang masih sedikit pusing.

Lana menjelaskan kepada supirnya, tentang Sakha yang tadi menolongnya dari sebuah mobil yang hampir menyerempetnya, setelah itu tiba-tiba saja kondisi Sakha seperti ini.

Supir tersebut hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dan menenangkan Lana kalau tuannya akan baik-baik saja.

Lana menatap Sakha yang terlihat lemas, ia lalu menyentuh kepala pemuda itu yang untunglah kini suhunya sudah kembali normal.

Tiba-tiba Sakha membuka matanya, tangan pemuda itu terangkat lalu menggenggam jemari Lana.

Lana terdiam mematung. Keduanya bertatapan seolah saling berbicara.

"Jangan membuatku cemas." tukas Sakha lirih.

Lana terpaku, bingung dengan ucapan pemuda itu.

Siapa yang membuatnya cemas? Bukankah ia yang sakit dan sejak tadi membuatku khawatir.

Episodes
1 CHAPTER 1 Senyum Tulus Alana
2 CHAPTER 2 Hati Yang Mulai Tertarik
3 CHAPTER 3 Pertemuan dengan Nenek
4 CHAPTER 4 Makan Malam Bersama
5 CHAPTER 5 Malaikat Penolong Nenek
6 CHAPTER 6 BERTEMAN
7 CHAPTER 7 Perhatian Lana
8 CHAPTER 8 Ulang Tahun Nenek
9 CHAPTER 9 Hadiah Untuk Nenek
10 CHAPTER 10 KELUARGA LANA
11 CHAPTER 11 Sebuah Pelukan
12 CHAPTER 12 Bekal Untuk Lana
13 CHAPTER 13 Lana Yang Sendiri
14 CHAPTER 14 Study Tour Part 1
15 CHAPTER 15 Study Tour Part 2
16 CHAPTER 16 Study Tour Part 3
17 CHAPTER 17 Apa itu cinta ?
18 CHAPTER 18 Kehadiran Bayu
19 CHAPTER 19 Nenek Yasmin Sakit
20 CHAPTER 20 Bersama Kak Bayu
21 CHAPTER 21 Bertemu Bunda Part 1
22 CHAPTER 22 Bertemu Bunda Part 2
23 CHAPTER 23 MENYEMBUNYIKAN LUKA
24 CHAPTER 24 Memasak Untuk Nenek Part 1
25 CHAPTER 25 Memasak Untuk Nenek Part 2
26 CHAPTER 26 Tentang Kuliah dan Masa Depan
27 CHAPTER 27 Jangan Membuatku Jatuh Cinta
28 CHAPTER 28 Kalian Pacaran ??
29 CHAPTER 29 Nasehat Dilla
30 CHAPTER 30 Hati Lana
31 CHAPTER 31 Berita Buruk dari Ibu
32 CHAPTER 32 Ada Apa dengan Sakha ? Part 1
33 CHAPTER 33 Ada Apa dengan Sakha ? Part 2
34 CHAPTER 34 ASING
35 CHAPTER 35 Pesta Kelulusan
36 CHAPTER 36 Air Mata Lana
37 CHAPTER 37 Kecelakaan Sakha
38 CHAPTER 38 10 Tahun Kemudian
39 CHAPTER 39 Bunda Sakit
40 CHAPTER 40 Kembali Ke Jakarta
41 CHAPTER 41 Bertemu Keanu yang Lucu
42 CHAPTER 42 Meninggalnya Bunda Part 1
43 CHAPTER 43 Meninggalnya Bunda Part 2
44 CHAPTER 44 Perjodohan Sakha
45 CHAPTER 45 Deluxe Line
46 CHAPTER 46 Kehadiran Lana di Deluxe Line
47 CHAPTER 47 Bermain Dengan Keanu
48 CHAPTER 48 Arriba Group Part 1
49 CHAPTER 49 Arriba Group Part 2
50 CHAPTER 50 Makan Malam dengan Nenek
51 CHAPTER 51 Kegundahan Dilla dan Lana
52 CHAPTER 52 Kak Gani
53 CHAPTER 53 Pertemuan Berikutnya
54 CHAPTER 54 MAAF
55 CHAPTER 55 Kejujuran
56 CHAPTER 56 Kenyataan
57 CHAPTER 57 Bahaya Mengintai
58 CHAPTER 58 Dalam Bahaya
59 CHAPTER 59 Tangisan Lana
60 CHAPTER 60 Di Rumah Sakit
61 CHAPTER 61 Memberi Kesempatan
62 CHAPTER 62 Kejujuran Sakha
63 CHAPTER 63 Coba Memaafkan
64 CHAPTER 64 Keluar Rumah Sakit
65 CHAPTER 65 Sakha di Deluxe Line
66 CHAPTER 66 Makan Siang Bersama
67 CHAPTER 67 Mencintaimu..Lagi..
68 CHAPTER 68 Tak Menyerah
69 CHAPTER 69 Survei Lokasi Project
70 CHAPTER 70 Sakit
Episodes

Updated 70 Episodes

1
CHAPTER 1 Senyum Tulus Alana
2
CHAPTER 2 Hati Yang Mulai Tertarik
3
CHAPTER 3 Pertemuan dengan Nenek
4
CHAPTER 4 Makan Malam Bersama
5
CHAPTER 5 Malaikat Penolong Nenek
6
CHAPTER 6 BERTEMAN
7
CHAPTER 7 Perhatian Lana
8
CHAPTER 8 Ulang Tahun Nenek
9
CHAPTER 9 Hadiah Untuk Nenek
10
CHAPTER 10 KELUARGA LANA
11
CHAPTER 11 Sebuah Pelukan
12
CHAPTER 12 Bekal Untuk Lana
13
CHAPTER 13 Lana Yang Sendiri
14
CHAPTER 14 Study Tour Part 1
15
CHAPTER 15 Study Tour Part 2
16
CHAPTER 16 Study Tour Part 3
17
CHAPTER 17 Apa itu cinta ?
18
CHAPTER 18 Kehadiran Bayu
19
CHAPTER 19 Nenek Yasmin Sakit
20
CHAPTER 20 Bersama Kak Bayu
21
CHAPTER 21 Bertemu Bunda Part 1
22
CHAPTER 22 Bertemu Bunda Part 2
23
CHAPTER 23 MENYEMBUNYIKAN LUKA
24
CHAPTER 24 Memasak Untuk Nenek Part 1
25
CHAPTER 25 Memasak Untuk Nenek Part 2
26
CHAPTER 26 Tentang Kuliah dan Masa Depan
27
CHAPTER 27 Jangan Membuatku Jatuh Cinta
28
CHAPTER 28 Kalian Pacaran ??
29
CHAPTER 29 Nasehat Dilla
30
CHAPTER 30 Hati Lana
31
CHAPTER 31 Berita Buruk dari Ibu
32
CHAPTER 32 Ada Apa dengan Sakha ? Part 1
33
CHAPTER 33 Ada Apa dengan Sakha ? Part 2
34
CHAPTER 34 ASING
35
CHAPTER 35 Pesta Kelulusan
36
CHAPTER 36 Air Mata Lana
37
CHAPTER 37 Kecelakaan Sakha
38
CHAPTER 38 10 Tahun Kemudian
39
CHAPTER 39 Bunda Sakit
40
CHAPTER 40 Kembali Ke Jakarta
41
CHAPTER 41 Bertemu Keanu yang Lucu
42
CHAPTER 42 Meninggalnya Bunda Part 1
43
CHAPTER 43 Meninggalnya Bunda Part 2
44
CHAPTER 44 Perjodohan Sakha
45
CHAPTER 45 Deluxe Line
46
CHAPTER 46 Kehadiran Lana di Deluxe Line
47
CHAPTER 47 Bermain Dengan Keanu
48
CHAPTER 48 Arriba Group Part 1
49
CHAPTER 49 Arriba Group Part 2
50
CHAPTER 50 Makan Malam dengan Nenek
51
CHAPTER 51 Kegundahan Dilla dan Lana
52
CHAPTER 52 Kak Gani
53
CHAPTER 53 Pertemuan Berikutnya
54
CHAPTER 54 MAAF
55
CHAPTER 55 Kejujuran
56
CHAPTER 56 Kenyataan
57
CHAPTER 57 Bahaya Mengintai
58
CHAPTER 58 Dalam Bahaya
59
CHAPTER 59 Tangisan Lana
60
CHAPTER 60 Di Rumah Sakit
61
CHAPTER 61 Memberi Kesempatan
62
CHAPTER 62 Kejujuran Sakha
63
CHAPTER 63 Coba Memaafkan
64
CHAPTER 64 Keluar Rumah Sakit
65
CHAPTER 65 Sakha di Deluxe Line
66
CHAPTER 66 Makan Siang Bersama
67
CHAPTER 67 Mencintaimu..Lagi..
68
CHAPTER 68 Tak Menyerah
69
CHAPTER 69 Survei Lokasi Project
70
CHAPTER 70 Sakit

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!