Darren sudah berada di rumah sakit. Kini dia sedang diperiksa oleh dokter yang biasa memeriksa kesehatannya.
Sementara untuk ketujuh sahabat-sahabatnya dan sang Paman berada di luar, menunggu dengan pikiran yang kacau.
"Ren, semoga lo baik-baik saja."
"Ren," lirih mereka semua.
"Sayang, Paman berharap kamu tidak kenapa-kenapa. Tuhan, semoga sakit jantung keponakanku tidak parah," batin Marco.
Beberapa detik kemudian..
Cklek..
Pintu ruang Dokter terbuka. Dan setelah itu, keluarlah seorang Dokter dari dalam ruangan tersebut.
"Ma, bagaimana kondisi Darren?" tanya Axel ketika melihat ibunya keluar dari ruangannya.
Dokter tersebut adalah Celsea Immanuel, ibunya Axel Immanuel.
Celsea seketika tersenyum ketika mendengar pertanyaan dan melihat wajah khawatir putra bungsunya itu.
"Bi!" seru sahabat-sahabatnya Darren yang lain.
"Darren tidak apa-apa. Dia hanya kelelahan karena otaknya terlalu banyak berpikir," jawab Celsea.
"Lalu bagaimana dengan jantungnya, kak Celsea?" tanya Marco.
"Untuk saat ini masih dalam keadaan baik-baik saja, walau sempat mendapatkan serangan."
"Apa perlu dirawat, Bi?" tanya Jerry.
"Tidak perlu. Cukup istirahat di rumah saja."
"Bagaimana Darren bisa istirahat di rumahnya, sementara yang membuat Darren menjadi seperti sekarang ini adalah keluarganya sendiri," ucap Qenan.
"Kenapa tidak membawanya pulang ke rumah pribadinya?" tanya Celsea.
"Darren masih berada di rumah itu karena dia ingin mengadakan doa 40 hari kematian Oma Vidya," jawab Axel.
"Kan Darren bisa bolak-balik dari rumahnya ke rumah ayahnya?" usul Celsea.
"Kalau seperti itu, bisa-bisa nanti keempat kakaknya Darren berpikir bahwa Darren masih membutuhkan mereka dan tidak bisa hidup tanpa mereka," ucap Rehan.
Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari sahabat-sahabat putranya tentang Darren dan keluarganya membuat Celsea menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Ya, sudah kalau begitu. Sekarang kita lihat Darren di ruangan bibi Celsea!" seru Willy.
Setelah itu, mereka pun pergi menuju ruangan Celsea untuk melihat Darren.
^^^
Di ujung koridor rumah sakit terlihat seorang pria yang memakai masker hitam sejak tadi memperhatikannya kearah ketujuh sahabat-sahabatnya Darren, Marco dan dokter Celsea.
Pria itu kemudian menghubungi seseorang untuk memberikan informasi yang dia lihat.
"Hallo, Bos!"
"...."
"Tampaknya bajingan itu sedang sakit, dan kini dia sedang berada di ruang dokter yang menanganinya. Dan kebetulan dokter itu adalah ibu dari sahabatnya."
"...."
"Baik, Bos!"
Tutt..
Tutt..
***
Di perjalanan pulang, Darren satu mobil bersama Qenan dan Axel. Willy bersama Jerry dan Dylan. Sementara Marco bersama Darel dan Rehan.
Baik Qenan maupun sahabatnya yang lain mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
Namun detik kemudian, tiba-tiba dari arah depan dan arah belakang terlihat beberapa mobil Van berwarna hitam menghadang mobil.
Mobil-mobil Van tersebut menabrakkan mobilnya kearah mobil yang dikendarai oleh Qenan dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Dengan kelincahan menyetir mereka dan dengan gerakan cepat, mobil Qenan yang berada di depan dengan mudahnya berhasil membelokkan mobilnya ke kanan sehingga membuat mobil sahabat-sahabatnya di belakang langsung mengikutinya sehingga mobil-mobil Van tersebut tidak berhasil menabrakkan mobilnya ke mobil lawan.
Mobil-mobil Van yang bagian belakang langsung mengejar mobil Qenan dan yang lainnya, sedang mobil-mobil Van yang arah depan terpaksa putar arah.
"Siapa mereka?" tanya Darren dengan tatapan matanya melihat kearah kaca spion. Dapat dia lihat bahwa mobil Van tersebut masih mengejarnya.
"Apa jangan-jangan mereka adalah orang-orang yang mencelakai Bibi Belva dan Oma Vidya?" tanya Axel.
"Mungkin juga," jawab Darren dengan tatapan matanya menatap kearah kaca spion.
"Kalian bawa senjata kan?" tanya Darren.
"Bawa!" Qenan dan Axel menjawab bersamaan.
"Xel, video call yang lainnya."
"Siap!"
Axel kemudian mengambil ponselnya di saku celananya. Setelah itu, Axel melakukan video call dengan sahabat-sahabatnya yang berada di mobil belakang.
"Hallo, Xel!" sapa para sahabatnya.
"Kalian bawa senjata kan?" tanya Darren.
"Bawa, Ren!" jawab kompak sahabat-sahabatnya.
"Darren, Paman tidak punya senjata! Bagaimana?" seru Marco yang berada di mobil milik Rehan.
"Kalian punya berapa senjata di mobil kalian?" tanya Darren.
"Ren, aku kebetulan menyimpan tiga senjata plus peluru 10 kotak!" jawab Willy.
"Nanti ketika kita turun, bawa semua senjata kamu dan peluru-peluru tersebut. Aku butuh satu senjata."
"Baik."
"Tetap tersambung!"
"Baik!"
Setelah itu, keheningan yang menemani mereka. Hanya terdengar deru mesin mobil yang melaju kencang di jalan raya.
"Di depan nanti belok kiri. Kebetulan ada karnaval disana."
"Baik!" sahabat-sahabatnya langsung menjawabnya.
***
Mobil Qenan serta yang lainnya berhenti di parkiran pinggiran jalan. Lokasinya tampak ramai.
Setelah itu, Darren serta ketujuh sahabat-sahabatnya dan sang Paman turun dari mobilnya.
"Ini, Ren!" Willy memberikan satu senjatanya kepada Darren beserta satu kotak peluru. "Dan ini untuk Paman Marco!" Willy juga memberikannya satu senjata dan satu kotak peluru.
"Ayo!"
Mereka kemudian berbaur menjadi satu dengan orang-orang yang berlalu lalang.
^^^
Kini Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya dan sang Paman duduk di sebuah kedai kopi. Mereka duduk di kursi panjang yang ada luar. Tatapan mata mereka melihat ke sekelilingnya dengan tangannya menggenggam erat senjatanya.
"Itu mereka!"
Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya dan Pamannya seketika terkejut mendengar suara beberapa orang. Mereka kemudian melihat keasal suara.
"Sial!"
Kemudian mereka berdiri dari duduknya, lalu berlari sembari memberikan tembakan kearah orang-orang yang masih mengejarnya.
Dor.. Dor..
Dor.. Dor..
Dor..
Terjadi aksi saling memberikan tembakan di sekitar masyarakat banyak sehingga membuat masyarakat tersebut berteriak sembari berlari menyelamatkan diri.
***
Braakk..
Terdengar pintu ruangan dibuka secara paksa sehingga membuat orang-orang yang ada di dalam terkejut.
"Zoya, kamu kenapa?" tanya Noe kepada tangan kanannya yang saat ini tampak ngos-ngosan.
Saat ini berada di markas Mafia Black Guerilla. Disana juga ada keempat ketua mafia lain.
"Saya mendapatkan kabar dari anggota saya. Dia mengatakan kepada saya bahwa ada sekitar 300 orang berpakaian hitam lengkap dengan senjata tengah menyerang kedelapan adik-adiknya ketua. Target mereka adalah tuan Darren. Dan mereka sudah memantau tuan Darren sejak di rumah sakit."
"Apa?! Rumah sakit?!" tanya Ziggy dan Devian bersamaan.
"Iya, ketua. Anggota saya mengatakan bahwa tuan Darren dilarikan ke rumah sakit oleh ketujuh sahabat-sahabatnya dan tuan Marco."
"Apa kau sudah mengirim bala bantuan untuk adik-adikku?" tanya Chico.
"Sudah, ketua!"
"Ach, syukurlah!"
Ting..
Ponsel milik Zoya berbunyi menandakan sebuah notifikasi masuk.
Zoya langsung mengambil ponselnya, lalu membuka pesan tersebut. Setelah itu, dia membacanya.
Seketika Zoya membelalakkan matanya ketika setelah membaca pesan tersebut.
"Ada apa?" tanya Noe.
"Ketua, orang-orang yang saat itu menjadi saksi di depan tuan Erland dan putra-putranya mendatangi kediaman tuan Erland. Sasaran mereka sekarang ini adalah tuan Gilang dan tuan Darka. Orang itu mengetahui bahwa keduanya mempercayai Darren."
"Apa?!" kelima ketua mafia tersebut terkejut.
"Ja-jadi...?"
"Informasi yang diberikan oleh anggotaku mengatakan bahwa orang itu mengetahui bahwa selama ini tuan Gilang dan tuan Darka mempercayai tuan Darren. Lebih baik ketua lihat ini!" Zoya langsung memberikan ponselnya kepada sang ketua.
Noe mengambil ponsel milik tangan kanannya itu. Di layar ponsel itu terlihat sebuah video yang mana isinya adalah ungkapan isi hati Gilang dan Darka. Serta ucapan Gilang dan Darka yang mengatakan bahwa mereka mempercayai adiknya.
Di dalam video itu juga memperlihatkan bagaimana sakit dan hancurnya hati Gilang dan Darka setiap melihat ayah dan keempat kakaknya yang bersikap buruk dan berkata kasar terhadap adiknya.
"Ternyata bukan hanya Darren saja yang mereka sakiti, melainkan Gilang dan Darka!" seru Devian sembari memberikannya ponsel tersebut kepada Zoya.
"Ya, sudah! Ayo kita pergi!" seru Ziggy.
"Kita bagi tugas. Aku dan Ziggy pergi menolong Darren dan yang lainnya, dan kalian pergi ke kediaman Paman Erland!" ucap Noe.
"Hm!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments