Setelah kejadian pembicaraan teman-teman Darel di kantin, Alana merasa pikirannya penuh. Sepanjang pelajaran, ia berulang kali melirik ke arah Darel yang duduk beberapa baris di depannya.
Kenapa dia repot-repot membela Dito?
Kenapa dia dan gengnya tiba-tiba tertarik untuk makan bersamanya dan Shasa tadi di kantin,biasanya kan mereka bukan tipe yang akan bergabung dengan yang lain nya?
Dan yang paling mengganggunya—kenapa dia jadi memikirkan Darel monyet terus akhir-akhir ini?
Alana menghela napas pelan, berusaha mengabaikan pikirannya dan kembali fokus pada buku catatannya. Namun, itu tidak bertahan lama karena sesaat kemudian, sebuah kertas kecil mendarat di dahi nya membuat nya terkejut.
"Aduh...siapa sih yang usil"gerutunya
Alana melirik ke sekeliling. Tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa kertas itu berasal dari Darel yang menoleh ke belakang dengan ekspresi santai.
Pelan, Alana membuka lipatan kertas tersebut.
“Besok setelah sekolah, ikut gue.”
Alana mengernyit. Ikut dia? Ke mana? Dan untuk apa?Jangan-jangan Darel mau menagih uang bensin dan bekal nya, dan jika benar, ia sial hari ini karna tak sempat membawa bekal dan tak mendapat uang saku.
Tanpa membalas, Alana hanya meremas kertas itu dan memasukkannya ke dalam sakunya. Ia tidak berniat menanggapi.
Namun, tidak lama setelahnya, ponselnya yang berada di dalam laci meja bergetar pelan. Alana meliriknya dan melihat satu pesan masuk.
Darel monyet: Jangan pura-pura enggak lihat.
Alana menahan diri untuk tidak mendengus kesal. Dengan cepat, ia mengetik balasan.
Me: Aku enggak ada urusan sama kamu. Kenapa aku harus ikut?
Balasannya segera dibaca, dan hanya dalam hitungan detik, pesan baru masuk.
Darel monyet: Karena gue penasaran sama lo. And gue juga tahu lo juga penasaran sama gue kan.
Alana membeku di tempatnya. Penasaran? Tidak mungkin. Tidak mungkin dia penasaran dengan Darel. Tapi kenapa hatinya terasa tidak setenang biasanya?
Tapi apa-apa an pede sekali Darel ini, siapa juga yang penasaran sama cowok kayak Darel.
Shasa yang duduk di sampingnya menyadari perubahan ekspresi Alana. “Ada apa?” bisiknya.
Alana buru-buru menggeleng. “Enggak ada.”
---
Keesokan harinya, Alana benar-benar berusaha menghindari Darel sepanjang hari. Ia berpikir jika dia tidak menanggapi, maka Darel akan melupakan ajakan itu.
Namun, ketika bel pulang berbunyi dan Alana baru saja melangkah keluar dari gerbang sekolah, seseorang tiba-tiba menarik pergelangan tangannya.
“Hey—”
Darel berdiri di sana dengan ekspresi puas. “Gue tahu lo bakal coba kabur.”
Alana menatapnya dengan kesal. “Gue nggak janji mau ikut lo ya Darel monyet!.”
“Tapi gue janji bakal bikin ini menarik,” ujar Darel santai. “Ayo.”
Alana menimbang-nimbang sejenak, tapi akhirnya menghela napas. Mungkin dia memang sedikit penasaran dengan apa yang Darel rencanakan.
Mereka akhirnya berjalan menuju parkiran, di mana Darel membawa motor sport hitamnya.
“Naik.”
"Gue ngak nyampe Darel monyet! " Alana menghela nafas pelan, sungguh ia sangat sebal mood nya sedang turun.
"Ck makanya tinggi"
"Gue potong kaki lo juga lama-lama Darel, biar gue sambung ke kaki gue biar gue tinggi" ucap Alana dengan kesal.
"Gue mau ngebut, lo pegangan" titah Darel.
"Woy kita mau kemana?! " tanya Alana berterima karna Darel sudah mengenakan helm nya.
Darel hanya tersenyum misterius di balik helm nya. “Ikut aja.”
“Pegangan, kalo lo ngak mau jatuh,” ujar Darel tanpa menoleh.
Alana mendecak, tapi akhirnya menurut. Dengan hati-hati, ia melingkarkan tangannya di pinggang Darel. Rasanya canggung, tetapi ia berusaha untuk tidak terlalu memikirkan.
Darel menyalakan mesinnya, lalu melaju meninggalkan sekolah.
---
Alana berpikir Darel akan membawanya ke kafe atau tempat nongkrong lainnya, tetapi ternyata ia salah. Motor mereka berhenti di sebuah taman di pinggiran kota.
Taman itu tidak ramai, hanya ada beberapa anak kecil yang bermain dan beberapa pasangan yang duduk di bangku taman. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma bunga yang menyegarkan.
Alana menatap Darel yang turun dari motor dan menatap Darel dengan bingung. “Kenapa kita ke sini?”
Darel memasukkan tangannya ke saku celana. “Karena ini tempat favoritku.”
Alana mengernyit. “Serius?”
“Kenapa? Enggak cocok sama image bad boy-gue?” goda Darel.
Alana tidak bisa menahan senyum kecil. “Sedikit.”
"Lo ngak ada niatan bantuin gue turun gitu? " ujar Alana dengan muka bingung bagaimana cara ia mendarat di rerumputan taman ini.
"Ah beban lo" namun akhirnya Darel membantu Alana turun dari motor milik nya, nyatanya Alana tinggi nya hanya sebatas dada nya dan motor Darel itu tinggi membuat Alana yang pendek jadi kesusahan menaiki maupun turun dari motor Darel.
"Ini beneran lo, taman" ucap Alana sambil menunjuk Darel masih tak percaya saja jika Darel yang terlihat dingin dan dengan image badboy nya suka tempat seperti—taman ini.
Darel tertawa pelan. “Dulu, sebelum hidup gue belum sesibuk sekarang, gue sering ke sini.”
Mereka berjalan menuju bangku taman, duduk berdampingan. Alana melihat ke sekeliling. Suasana di sini benar-benar tenang, jauh dari hiruk-pikuk sekolah dan segala drama sosialnya.
“Kenapa kamu ngajak gue ke sini?” tanya Alana akhirnya.
Darel menatapnya, lalu mengangkat bahu. “gue pengen tahu lebih banyak tentang lo.”
Alana mengernyit. “Kenapa?”
Darel menatap lurus ke depan sebelum menjawab. “Karena lo beda.”
Alana terdiam. Kata itu lagi. Kenapa semua orang di geng Darel terus mengatakan bahwa dia ‘beda’? memang nya ia cewek apaan dikatai beda melulu perasaan.
“Beda gimana Darel monyet?” tanyanya pelan.
Darel menoleh ke arahnya, matanya menatap dalam. “Cewek lain selalu berusahabdekat, tapi lo enggak. Itu bikin gue penasaran sama lo, dan juga karna lo yang selalu pengen jadi peringkat satu terus.”
Alana merasa pipinya sedikit memanas. Ia berusaha untuk tetap tenang.
“gue cuma nggak tertarik sama kehidupan sosial yang ribet,dan soal peringkat itu....gue harus pertahanin peringkat satu gue karna itu penting buat gue” jawabnya jujur.
"Dan , biar gue ngak dapat hukuman dari ayah" batin Alana.
Darel tersenyum kecil. “Dan itu yang bikin lo makin menarik.”
Alana menghela napas. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Darel selalu punya cara untuk membuatnya kehabisan kata-kata sellau membuat nya seperti patung manusia seolah-olah manusia yang di sihir menjadi patung.
Mereka duduk dalam diam selama beberapa saat, menikmati suasana sore yang tenang.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama ketika Alana tanpa sengaja melihat sesuatu.
Seseorang yang tidak asing sedang berdiri di seberang jalan, memperhatikan mereka dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Ayahnya.
Alana merasa jantungnya berdegup kencang. Tangannya gemetar.
Darel yang menyadari perubahan ekspresi Alana langsung menoleh. “Lo kenapa?”
Alana buru-buru berdiri. “Gue pergi dulu ya Rel.”
Darel mengernyit. “Tunggu, ada apa? Lo mau kemana Alana”
Namun, Alana sudah berlari.
Darel tidak tinggal diam. Ia langsung mengejarnya. “Alana! Tunggu!”
Namun, sebelum Darel bisa menyusul, sebuah mobil hitam melaju mendekati Alana dan berhenti di depannya.
Pintu mobil terbuka, dan seorang pria paruh baya keluar.
“Masuk,” perintahnya dengan suara dingin.
Alana menggigit bibirnya, tubuhnya sedikit gemetar.
Darel yang melihat itu segera menghampiri. “Siapa dia?” tanyanya dengan nada waspada.
Ayah Alana menoleh ke Darel, matanya tajam. “Bukan urusanmu.”
Darel semakin curiga. “Alana?”
Alana menunduk, tidak berani menatap siapa pun.
Akhirnya, dengan langkah berat, ia masuk ke dalam mobil.
Darel hanya bisa menyaksikan saat mobil itu melaju pergi, meninggalkannya dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.
Ada sesuatu yang salah.
Dan Darel berniat untuk mencari tahu.
----
Malam itu, rumah besar milik Adrian Baskara terasa lebih sunyi dari biasanya. Namun, di dalam kamar Alana, keheningan itu berubah menjadi jeritan yang tertahan.
Tubuhnya meringkuk di sudut kamar, lututnya ditarik ke dada, sementara napasnya tersengal menahan sakit dan tangannya mengepal menahan sakitnya.
Tangannya bergetar, meraba luka baru yang membekas di punggung dan lengannya. Kali ini lebih parah dari sebelumnya.
Hukuman itu datang setelah ayahnya menemukan Alana sore tadi bersama Darel di taman, dan Ayha Alana berspekulasi bahwa peringkat Alana turun karna Darel.
Hanya karena itu.
Adrian tidak pernah menerima ampuman, dan Alana harus menanggung akibatnya.
Tadi, Ayah nya mencengkeram rambutnya, memaksanya berlutut di lantai dingin. Kata-kata kasar meluncur dari bibirnya, menyebut Alana sebagai anak tidak berguna.
Dan sebelum sempat menjawab, Alana merasakan panasnya air mendidih menyentuh punggungnya.
Rasa sakitnya begitu tajam hingga ia hampir pingsan, tapi ayahnya hanya memandangnya dengan tatapan dingin, seolah-olah Alana bukan manusia—hanya kesalahan yang harus diperbaiki.
Sekarang, di dalam kamarnya yang terkunci, Alana hanya bisa menahan isakan pelan.
Air matanya jatuh, tapi tak ada yang peduli.
Tak ada yang tahu.
Dan esok pagi, dia tetap harus tersenyum seolah semua baik-baik saja.
Bohong memang, namun nyata nya, ia sudah seperti boneka saja.
---
TIGA HARI KEMUDIAN
Di sekolah, meja Alana kosong.
Shasa mengetuk-ketuk bolpoinnya ke meja dengan gelisah. Sudah tiga hari Alana tidak masuk sekolah, dan gadis itu juga tidak merespons pesan atau teleponnya.
"Apa sesuatu terjadi?” gumamnya pelan.
Shasa menoleh ke arah meja Darel, yang juga tampak murung.
Darel sama sekali tidak berkonsentrasi dalam pelajaran. Pandangannya terus mengarah ke bangku kosong Alana, merasa ada sesuatu yang salah.
“Shasa,” panggilnya tiba-tiba.
Shasa mengangkat alis dan menatap Darel dengan tatapan tak santai. “Kenapa lo manggil-mangil gue?”
“Lo tahu di mana rumah Alana?”
Shasa menegang. “Kenapa lo tanya?”
Darel menatapnya tajam. “Gue mau ke sana,tapi waktu itu gue cuma anter Alana sampai gerbang komplek nyap.”
Shasa menggigit bibirnya, ragu-ragu. “Darel, ini bukan ide bagus. Ayah Alana—”
“Gue nggak peduli,” potong Darel. “Gue cuma mau mastiin dia baik-baik saja.”
Shasa menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas.
“Kalo gitu Gue ikut.”
---
DI RUMAH ALANA
Malam itu, hujan turun dengan deras ketika Darel dan Shasa berdiri di depan gerbang rumah mewah yang tampak begitu dingin dan sepi.
Darel mengetuk besi gerbang, tapi tidak ada jawaban.
“Gimana cara kita masuk?” tanya Shasa pelan.
Darel menatap sekeliling, lalu tanpa ragu, dia melangkah ke sisi pagar dan mulai memanjat.
“Darel! Lo gila?!” bisik Shasa panik.
Darel hanya menoleh sekilas. “Kalo lo nggak mau ikut, tunggu di sini.”
'Bener kata Alana, Darel monyet suka manjat-manjat'Shasa mengumpat pelan, lalu dengan enggan mengikuti Darel.
Begitu sampai di halaman rumah, mereka berjalan hati-hati menuju jendela yang gelap.
Darel mencoba mengetuk jendela perlahan.
“Alana?”
Hening.
Lalu, terdengar suara lirih. “Darel…?”
Shasa dan Darel saling pandang sebelum Darel mencoba mendorong jendela.
Terkunci.
“Buka jendelanya,” bisik Darel.
“Gue… gue enggak bisa,” suara Alana terdengar lemah. “Gue dikunci di dalam.”
Shasa menahan napas. “Alana, kamu baik-baik saja?”
Tak ada jawaban.
Lalu, suara isakan pelan terdengar dari dalam.
Darel mengepalkan tangannya. Ada sesuatu yang sangat salah.
Dan dia tidak akan diam saja.
To be continue...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Jhylara_Anfi
semangat up ny kk😊 kalu berkenan boleh mampir juga di cerita aku😁🙏
2025-03-21
0