Bab 2: Kembali ke Ibu

Luka yang Tak Terlihat

Xiao Tian berjalan tertatih di sepanjang jalan setapak berbatu yang membentang di antara hutan lebat. Angin malam yang dingin menerpa tubuhnya yang penuh luka, namun ia terus melangkah tanpa henti. Sekte Langit Suci telah membuangnya, dua wanita yang ia cintai telah mengkhianatinya, dan kini satu-satunya tempat yang bisa ia tuju adalah rumah ibunya di desa terpencil di kaki gunung.

Ia tak pernah menyangka akan kembali dalam keadaan seperti ini. Sebagai seorang murid jenius sekte, ia selalu berpikir bahwa ia akan pulang dengan kebanggaan, membawa kehormatan bagi ibunya. Namun, kenyataan berkata lain—ia kembali sebagai seseorang yang gagal, sebagai seorang yang diusir dan dicampakkan.

Setelah berjam-jam berjalan, akhirnya ia melihat cahaya samar dari sebuah rumah kecil di tengah desa. Cahaya yang hangat, satu-satunya tempat yang mungkin masih bisa menerimanya.

Dengan langkah lemah, ia mendorong pintu kayu rumah itu.

"Ibu…" panggilnya pelan.

Seorang wanita paruh baya dengan wajah lembut berbalik dari dapur kecil. Matanya melebar saat melihat putranya berdiri di ambang pintu, tubuhnya penuh luka dan bajunya compang-camping.

"Tian'er!" serunya, segera berlari menghampiri dan memeluknya erat.

Xiao Tian terdiam dalam pelukan itu, merasakan kehangatan yang sudah lama tak ia rasakan. Air mata yang ia tahan sejak tadi hampir tumpah, namun ia menggigit bibirnya, menahan semuanya di dalam hati.

"Ibu… aku pulang," bisiknya.

Membantu Sang Ibu

Hari-hari berlalu, dan Xiao Tian mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan sederhana di desa. Ibunya, Lin Rou, adalah seorang pembuat kue yang menjual dagangannya di pasar desa. Meskipun hidup mereka tidak mewah, Lin Rou selalu bekerja keras untuk menghidupi keluarganya.

Xiao Tian, yang dulu terbiasa dengan pelatihan dan pertempuran di sekte, kini menghabiskan harinya membantu ibunya membuat dan menjual kue. Tangannya yang biasa menggenggam pedang, kini menguleni adonan dan memanggang roti.

"Aku tak pernah menyangka akan melihatmu membuat kue seperti ini," Lin Rou tertawa pelan saat melihat putranya dengan serius menata kue di atas nampan.

Xiao Tian tersenyum tipis. "Aku juga tak pernah menyangka. Tapi… ini tidak buruk."

Namun, di balik kedamaian ini, ada sesuatu yang disembunyikan oleh ibunya. Xiao Tian merasakan ada beban di mata wanita itu setiap kali ia menatapnya. Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan, tetapi tak sanggup mengatakannya.

Dan jawaban dari kegelisahannya datang lebih cepat dari yang ia duga.

Kedatangan Keluarga Wang

Sore itu, ketika Xiao Tian dan ibunya sedang bersiap membawa kue ke pasar, suara derap langkah kuda menggema di jalan desa. Beberapa pria berpakaian mewah turun dari kuda mereka, dipimpin oleh seorang pria paruh baya dengan wajah angkuh—Wang Qingshan, kepala keluarga Wang.

Lin Rou langsung pucat saat melihat mereka. Tangannya gemetar, dan tatapannya dipenuhi kecemasan.

"Wang Qingshan… Kenapa kau datang ke sini?" tanyanya dengan suara bergetar.

Pria itu tersenyum sinis. "Lin Rou, kau tahu kenapa aku ada di sini. Hutangmu sudah jatuh tempo."

Xiao Tian menyipitkan mata. "Hutang?"

Lin Rou menunduk, enggan menatap putranya. "Tian'er… aku tidak ingin kau khawatir, tapi… ibu memiliki hutang besar kepada keluarga Wang."

Wang Qingshan tertawa kecil. "Tentu saja. Sudah bertahun-tahun berlalu, dan bunga hutang itu terus bertambah. Sekarang jumlahnya sudah mencapai lima ratus emas."

Xiao Tian terkejut. Jumlah itu sangat besar bagi rakyat biasa. Bahkan jika mereka bekerja seumur hidup, belum tentu bisa melunasinya.

"Ibu…" Xiao Tian menggenggam tangan ibunya. "Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"

Lin Rou menggigit bibirnya. "Aku tidak ingin kau khawatir… Aku pikir aku bisa menyelesaikannya sendiri…"

Wang Qingshan menyeringai. "Dan sekarang kau tidak bisa. Jadi ada dua pilihan—bayar hutangmu, atau…" ia melirik Xiao Tian. "Serahkan anakmu untuk bekerja di keluarga Wang sebagai pelayan. Kami bisa menghapus hutangmu jika kau setuju."

Xiao Tian mengepalkan tinjunya.

Seumur hidupnya, ia tak pernah takut menghadapi lawan yang lebih kuat. Namun kali ini, musuhnya bukan hanya seorang pria angkuh, tetapi juga situasi yang jauh lebih rumit.

Ia tidak akan membiarkan ibunya menanggung semuanya sendiri.

Lalu apa yang ia akan lakukan?

Episodes
1 Bab 1: Pengkhianatan di Puncak Langit
2 Bab 2: Kembali ke Ibu
3 Bab 3: Harga yang Terlalu Mahal
4 Bab 4: Warisan Darah dan Delapan Iblis
5 Bab 5: Amukan Darah dan Pertemuan Takdir
6 Bab 6: Cahaya dalam Kegelapan
7 Bab 7: Latihan dan Perpisahan
8 Bab 8: Melangkah ke Benua Baru
9 Bab 9: Ujian Masuk Sekte
10 Bab 10: Jalan yang Berbeda
11 Bab 11: Pertempuran Murid Inti & Luka di Bawah Rembulan
12 Bab 12 : Hukuman di Bawah Hujan
13 Bab 13: Petunjuk Pulau Terlarang
14 Bab 14: Perpisahan dan Perjalanan ke Pulau Terlarang
15 Bab 15: Menghadapi Sosok Misterius di Pulau Terlarang
16 Bab 16: Pulau Terlarang dan Tujuh Tetua
17 Bab 17: Dibawa ke Desa Misterius
18 Bab 18: Wajah yang Dikenal
19 Bab 19: Tujuh Guru, Tujuh Warisan
20 Bab 20: Latihan di Pulau Terlarang & Kepergian dari Desa
21 Bab 21: Reruntuhan di Tengah Kegelapan
22 Bab 22: Warisan Kegelapan dan Pembukaan Segel Pertama
23 Bab 23: Kegelapan yang Datang & Kepergian dari Pulau Terlarang
24 Bab 24: Perjalanan Menuju Reruntuhan Dewa Kuno
25 Bab 25: Permainan Kematian di Reruntuhan Dewa Kuno
26 Bab 26: Permainan Kematian Memasuki Babak Baru
27 Bab 27: Pembantaian di Depan Gerbang
28 Bab 28: Pewaris Dewa dan Pertempuran Melawan Kegelapan
29 Bab 29: Bangkitnya Pewaris Dewa dan Segel Budak
30 Bab 30: Perjalanan ke Hutan Malapetaka
31 Bab 31: Kabut Kematian dan Pertarungan di Kejauhan
32 Bab 32: Malam di Hutan Beracun
33 Bab 33: Pertempuran di Tengah Malam
34 Bab 34: Cahaya Emas dan Gerbang Tertutup
35 Bab 35: Pertempuran Terjadi, Ular Raksasa dan Burung Phoenix
36 Bab 36: Gerbang yang Terbuka dan Langkah Selanjutnya
37 Bab 37: Harta yang Tersembunyi
38 Bab 38: Darah dan Kehancuran
39 Bab 39: Kekuatan yang Terlalu Besar
40 Bab 40: Malam di Kota
Episodes

Updated 40 Episodes

1
Bab 1: Pengkhianatan di Puncak Langit
2
Bab 2: Kembali ke Ibu
3
Bab 3: Harga yang Terlalu Mahal
4
Bab 4: Warisan Darah dan Delapan Iblis
5
Bab 5: Amukan Darah dan Pertemuan Takdir
6
Bab 6: Cahaya dalam Kegelapan
7
Bab 7: Latihan dan Perpisahan
8
Bab 8: Melangkah ke Benua Baru
9
Bab 9: Ujian Masuk Sekte
10
Bab 10: Jalan yang Berbeda
11
Bab 11: Pertempuran Murid Inti & Luka di Bawah Rembulan
12
Bab 12 : Hukuman di Bawah Hujan
13
Bab 13: Petunjuk Pulau Terlarang
14
Bab 14: Perpisahan dan Perjalanan ke Pulau Terlarang
15
Bab 15: Menghadapi Sosok Misterius di Pulau Terlarang
16
Bab 16: Pulau Terlarang dan Tujuh Tetua
17
Bab 17: Dibawa ke Desa Misterius
18
Bab 18: Wajah yang Dikenal
19
Bab 19: Tujuh Guru, Tujuh Warisan
20
Bab 20: Latihan di Pulau Terlarang & Kepergian dari Desa
21
Bab 21: Reruntuhan di Tengah Kegelapan
22
Bab 22: Warisan Kegelapan dan Pembukaan Segel Pertama
23
Bab 23: Kegelapan yang Datang & Kepergian dari Pulau Terlarang
24
Bab 24: Perjalanan Menuju Reruntuhan Dewa Kuno
25
Bab 25: Permainan Kematian di Reruntuhan Dewa Kuno
26
Bab 26: Permainan Kematian Memasuki Babak Baru
27
Bab 27: Pembantaian di Depan Gerbang
28
Bab 28: Pewaris Dewa dan Pertempuran Melawan Kegelapan
29
Bab 29: Bangkitnya Pewaris Dewa dan Segel Budak
30
Bab 30: Perjalanan ke Hutan Malapetaka
31
Bab 31: Kabut Kematian dan Pertarungan di Kejauhan
32
Bab 32: Malam di Hutan Beracun
33
Bab 33: Pertempuran di Tengah Malam
34
Bab 34: Cahaya Emas dan Gerbang Tertutup
35
Bab 35: Pertempuran Terjadi, Ular Raksasa dan Burung Phoenix
36
Bab 36: Gerbang yang Terbuka dan Langkah Selanjutnya
37
Bab 37: Harta yang Tersembunyi
38
Bab 38: Darah dan Kehancuran
39
Bab 39: Kekuatan yang Terlalu Besar
40
Bab 40: Malam di Kota

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!