Sebaiknya kita tidak menikah

Selesai membuat pancake, Naya membawanya pada Zira yang saat ini tengah duduk di ayunannya sembari menggerutu kesal. Mendengar kekesalan anak itu, Naya hanya bisa tersenyum. Wajar saja Zira kesal, apalagi usianya baru empat tahun. Jadi, dia belum mengerti tentang keharusan sang bunda menolak permintaannya.

"Hei, Tante bawakan pancake kesukaanmu." Ucap Naya secara tiba-tiba duduk di sebelah Zira.

Melihat kehadiran Naya, Zira hanya meliriknya sebentar sebelum menatap lurus kedepan. "Zila nda mau, maunya di buat Bunda. Tapi Bunda cibuuuuk ulucin olang cakit. Kenapa olang cakit lepotin bunda Zila cih? Memangna nda ada bunda meleka olang? Beli di pacal banyak! Kata bunda, cemua-cemua ada di pacal!" Gerutu anak itu.

Naya tersenyum, ingin rasanya dia tertawa. Mana ada yang menjual ibu di pasar? Sepertinya Zira salah tangkap, wajar saja anak seumurannya tak mengerti dengan lebih jelas apa itu pasar.

"Gak mau? Padahal Tante niatnya mau makan bareng Zira. Ini juga Pancake kesukaan Tante, kalau Zira gak mau ... Tante makan aja deh!" Naya mencoba menggoda Zira, dia mengambil salah satu pancake dan memakannya.

Menc1um aroma Pancake yang sangat menggoda, membuat Zira melirik. Matanya menangkap Naya yang menikmati pancake buatannya. Terlihat menggiurkan, perut Zira tiba-tiba merasa lapar.

"Enak kali itu loti g0c0ng cebelah, belkoncel lia lemaknya Zila minta makan." Batin Zira.

"Tante habiskan yah? Bahannya sudah tidak ada, mungkin Zira tidak dapat lagi ma ...,"

Zira meraih pancake yang tersisa dsn melahapnya dengan lapar. Naya yang melihat itu terkekeh, dia mengelus kepala Zira dengan lembut. Tak susah membujuk anak itu, cukup mudah.

"Zila nda mau tapi lemaknya lapal, bukan Zila loh yang mau." Seru Zira dengan segala gengsinya.

"Hais, oke ... bukan Zira yang mau."

Setelah mengamati Zira memakan pancake nya, Naya kembali teringat akan Zevan yang masih tertidur. Dia tadi meninggalkannya setelah bayi itu menyuusu, jadi dirinya pikir Zevan tak akan bangun dalam waktu dekat. Tak tahu saja Naya jika Zevan sempat bangun tadi.

"Onty, becok buat lagi. Kalau nda ada bahannya, minta cama om tliplek, banyak uangnya dia. Kebulu jamulan uangnya kalau di cimpen telus." Seru Zira dengan mata membulat sempurna.

"Hahaha, kenapa kamu selaku menyebutnya om triplek? Kenapa tidak ... om galak? Dia galak padamu kan?"

Zira menggeleng, "Om tliplek baik, tapi mukanya aja yang tliplek. Onty, Onty pacal om tliplek?"

Naya melunturkan senyumnya, ia jadi bingung memjawab pertanyaan anak itu. Seharusnya Naya tak mengajak Zira mengobrol, karena nantinya anak itu akan bertanya hal di luar dugaan.

"Eh itu ...,"

"Om tliplek itu banyak pacalnya, menooool cemua! Bunda nda cuka, culuh Om cali pacal balu." Zira membocorkan hal yang sebelumnya Naya tidak tahu.

"Menol? Menor? Apa iya om mu itu punya pacar?" Tanya Naya yang seolah tidak percaya.

Zira menghabiskan pancakenya lebih dulu dan menelannya dengan cepat, ia lalu memeluk perutnya sebelum kembali menatap Naya yang menunggu jawabannya.

"Heum! Omty jadi pacal Om tliplek aja, bial onty-onty menol itu nda datang lagi."

"Aunty Auntyyy?!" Pekik Naya dengan mata membulat sempurna.

Itu artinya, pacar Zion bukan hanya satu melainkan banyak. Naya membayangkan, jika pacar-pacar pria itu tahu dia akan di labrak ramai-ramai. Enggak, Naya enggak mau. Dia akan menolak dengan Zion dan mengganti uangnya dengan cara lain. Yah, Naya akan melakukannya.

Tiba-tiba Naya pergi, meninggalkan Zira yang menatap kepergiannya sembari mengerjapkan matanya. Anak menggemaskan itu bingung menatap kepergian Naya tanpa sepatah kata pun.

Sementara itu, Naya buru-buru berjalan kembali kamarnya. Perkataan Zira kembali terngiang di pikirannya. Sebelum dia menikah dengan Zion, dirinya harus segera membatalkannya. Jika tidak, Naya tak bisa membayangkan menikah pria playboy itu.

"Enggak, pokoknya aku harus ...." Naya terkejut setekah mendapati Zion yang berada di kamarnya. Bahkan, pria itu tertidur di ranjang sembari memeluk Zevan yang tertidur pulas. Melihat itu, Naya membulatkan matanya. Dengan cepat, ia mendekati ranjang dan melihat kedua pria berbeda usia itu dari dekat.

"Kenapa pria itu ada disini? Ngapain dia?" Gumam Naya dengan ekspresi yang syok.

Melihat tangan Zion yang menindih tubuh kecil Zevan, sontak Naya langsung meraih bayinya itu dalam gendongannya. Perbuatannya, membuat Zion terbangun dan menatap kaget ke arahnya.

"Ngapain kamu di kamarku?!" Pelik Zion dengan tatapan marah.

"Kamar? Tuan, anda bisa melihat ke sekeliling, ini kamar siapa?" Naya heran, pertanyaan Zion sangat aneh menurutnya

Zion menatap ke sekeliling kamar, dan dia baru sadar jika ini bukan kamarnya. Alhasil, dia langsung turun dari ranjang dan menatap Naya yang berdiri di hadapannya. Rasanya, Zion malu sudah masuk ke kamar wanita itu tanpa izin. Memang ini rumahnya tapi, Naya mengenakan kamar itu atas izinnya.

"Ekhem, salahmu sendiri kenapa tidak menutup pintunya." Zion tak mau merasa bersalah dan di salahkan, jadilah dia menyalahkan Naya atas apa yang terjadi.

"Tadi aku sudah menutupnya,"

"Tidak, kamu tidak menutupnya!" Kekeuh Zion drngan ekspresi meyakinkan.

"Aku menutupnya, kalau tidak di tutup pun untuk apa Tuan masuk?" Zion mendadak terdiam seribu bahasa saat Naya mengatakan hal itu.

Melihat Zion yang tak mampu lagi memjawab perkataannya, Naya menghela nafas pelan. "Lupakan, ada hal yang lebih penting dari itu."

Pandangan Zion seketika berubah mendengar Naya yang aakan membicarakan hal penting. "Ada apa?"

Sebelum mengatakannya, Naya lebih dulu meletakkan Zevan ke atas ranjang. Lalu, ia berbalik dan berdiri di hadapan Zion. Sejenak, dirinya memantapkan hati dan menguatkan mentalnya untuk berbicara tentang penolakan pernikahan mereka.

"Kita sebaiknya tidak menikah, Tuan."

Zion yang tadinya mengantuk tiba-tiba kembali merasa segar, raut wajah nya berubah drastis. Ia menatap tajam Naya yang mengalihkan pandangannya seolah tak mau menatap matanya. Ini masih pagi, tapi wanita itu justru mengajaknya berperang.

"Tidak ingat perjanjian kita huh?" Desis Zion.

"Aku ingat, aku akan menggantinya secepatnya."

Mendengar hal itu Zion justru tertawa keras tapi terdengar sangat menyeramkan. Tawanya seketika terhenti, dan kembali saat matanya menatap Naya dengan tajam. Kakinya melangkah mendekati wanita cantik yang terus melangkah mundur ketakutan. Hingga, tembok di belakangnya membuat wanita itu terhenti.

Brugh!

Zion memukul tembok dengan keras, Naya sampai memejamkan matanya. Tubuhnya bergetar hebat, seolah ia tengah ketakutan dan Zion tak menyadari hal itu. Untuk menyalurkan rasa takutnya, Naya mencoba menggigit bibirnya. Ia masih belum berani membuka matanya untuk melihat wajah pria yang marah dengannya itu.

"Kamu mau kembali dengan mantanmu itu hm?" Zion memandang wajah Naya dari dekat, nada suara terdengar penuh dengan tekanan.

"Boleh, kamu boleh kembali dengannya tapi ... setelah aku menghamilimu." Zion tiba-tiba menarik tangan Naya dengan kasar dan menjatuhkannya ke atas sofa. Sontak saja Naya berontak, ia berusaha melepaskan tangannya yang di cengkram oleh pria yang saat ini menindihnya.

"Hentikan hiks .. aku mohon, hentikan hiks ... aku akan menurutimu tapi jangan lakukan ini padaku hiks ... hentikan aku mohon hiks ...." Erangan tangis Naya membuat kegiatan Zion terhenti. Terlebih, saat dirinya melihat bibir wanita itu sudah berdarah.

Merasa Zion tak lagi memaksanya, Naya mencoba menatap mata pria itu. Tatapannya terlihat takut, seolah ada ketakutan yang tak bisa ia ungkapkan. Zion dapat melihat ketakutan Naya, ia baru sadar jika dirinya telah menyakiti wanita itu.

"Aku mohon, jangan lakukan ini hiks ... aku akan menurutimu hiks ... aku hanya tidak mau pacar-pacarmu melabrakku hiks ...,"

"Heuh? Pacar?"

______

Pagi pagi nih kawan, jangan lupa dukungannya😍

Terpopuler

Comments

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

Zira Om triplek mu punya banyak pacar apa pegawai wanita atau malah banyak Mwanita mengoda Om triplekmu hingga bundamu g suka,eh halalil dulu Zion main mau menghamili dulu br boleh balikan sm Rayyan Naya,gbusah kasar Zion tu Naya takut

2025-03-10

8

nuraeinieni

nuraeinieni

emang kamu tau naya pacarnya zion,,,tuh zion saja heran dengar perkataan mu,,terima aja naya ajakan zion,,sebenarnya zion baik hanya karna dendam nya bikin zion begitu.

2025-03-10

5

Irma Juniarti

Irma Juniarti

hayoooooo zilaaaaa tanggung jawab loh,🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2025-03-10

9

lihat semua
Episodes
1 Dendam Seorang Zionathan Axelo
2 Menjadikanmu Tawanan
3 Cerai
4 Takut kamu kabur
5 Sulit di tebak
6 Terbayang terus
7 Sebaiknya kita tidak menikah
8 Hati yang terluka
9 Gaun pernikahan
10 Pernikahan
11 Keributan di malam pertama
12 Benarkah hanya sandiwara?
13 Permintaan Raisa
14 Zionathan Axelo, suami dari Naya
15 Bukan wanita yang baik?
16 Uluran tangan si kecil
17 Baby blues?
18 Karena kamu istriku
19 Temani dia
20 Hanya karena dasi
21 Pijat-pijat ehem
22 Gantian Demam
23 Mantan kadaluarsa!
24 Aku ingin memulainya~
25 Teman untuk hari ini
26 Mencoba mendekati
27 Karenamu, dia melakukannya
28 Seperti apa jatuh cinta?
29 Aku ingin kamu
30 Penyusup
31 Niatan yang selalu di gagalkan
32 Mas Zion
33 Rencana Zion
34 Pesona istri Zion Axelo
35 Apa sudah ada cinta?
36 Bunga yang aku berikan selalu
37 Kamu adalah istri seorang Zion Axelo
38 Tamu yang tak di undang
39 Janji Naya
40 Malam yang di nanti
41 Mulai nyaman
42 Menunda punya anak?
43 Gara-gara pesanan Zion
44 Bayi lucu Mama
45 Tingkah dua bocah menggemaskan
46 Daddy yang baik
47 Hadiah dari kakak ipar
48 Hasil yang samar
49 Harus merelakan
50 Keputusan yang berat
51 Usulan yang di setujui
52 Tambatan hati Xander
53 Tak mendapat restu
54 Hari keberangkatan
55 Tahun yang berlalu
56 Kehidupan yang baru
57 Ingin mengungkapkan, tapi sudah di patahkan
58 Naik odong-odong
59 Bayi tampan mama tak mau yang lain
60 Jailnya Zevan
61 Tuan Abercio
62 Apa aku ini sangat tidak berguna menjadi suami?
63 Hiduplah lebih lama
64 Pertama sekolah
65 Antri es krim
Episodes

Updated 65 Episodes

1
Dendam Seorang Zionathan Axelo
2
Menjadikanmu Tawanan
3
Cerai
4
Takut kamu kabur
5
Sulit di tebak
6
Terbayang terus
7
Sebaiknya kita tidak menikah
8
Hati yang terluka
9
Gaun pernikahan
10
Pernikahan
11
Keributan di malam pertama
12
Benarkah hanya sandiwara?
13
Permintaan Raisa
14
Zionathan Axelo, suami dari Naya
15
Bukan wanita yang baik?
16
Uluran tangan si kecil
17
Baby blues?
18
Karena kamu istriku
19
Temani dia
20
Hanya karena dasi
21
Pijat-pijat ehem
22
Gantian Demam
23
Mantan kadaluarsa!
24
Aku ingin memulainya~
25
Teman untuk hari ini
26
Mencoba mendekati
27
Karenamu, dia melakukannya
28
Seperti apa jatuh cinta?
29
Aku ingin kamu
30
Penyusup
31
Niatan yang selalu di gagalkan
32
Mas Zion
33
Rencana Zion
34
Pesona istri Zion Axelo
35
Apa sudah ada cinta?
36
Bunga yang aku berikan selalu
37
Kamu adalah istri seorang Zion Axelo
38
Tamu yang tak di undang
39
Janji Naya
40
Malam yang di nanti
41
Mulai nyaman
42
Menunda punya anak?
43
Gara-gara pesanan Zion
44
Bayi lucu Mama
45
Tingkah dua bocah menggemaskan
46
Daddy yang baik
47
Hadiah dari kakak ipar
48
Hasil yang samar
49
Harus merelakan
50
Keputusan yang berat
51
Usulan yang di setujui
52
Tambatan hati Xander
53
Tak mendapat restu
54
Hari keberangkatan
55
Tahun yang berlalu
56
Kehidupan yang baru
57
Ingin mengungkapkan, tapi sudah di patahkan
58
Naik odong-odong
59
Bayi tampan mama tak mau yang lain
60
Jailnya Zevan
61
Tuan Abercio
62
Apa aku ini sangat tidak berguna menjadi suami?
63
Hiduplah lebih lama
64
Pertama sekolah
65
Antri es krim

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!