Zion mengantarkan Naya ke rumah sakit, dia menurunkan wanita itu begitu saja dan lekas pergi. Tak peduli bagaimana perasaan Naya dengan perkataannya tadi. Semakin sakit wanita itu, justru menjadi kebahagiaan tersendiri. Seolah, ia puas melampiaskan dendamnya pada wanita yang adik tirinya itu cintai.
Naya yang melihat kepergian mobil Zion hanya menghela nafas pelan, ia mengusap matanya yang berair dan masuk ke dalam rumah sakit. Sepanjang jalan menuju ruang NICU, perkataan Zion terngiang di pikirannya. Dia bertanya-tanya, mengapa pria itu seolah begitu benci dengan suaminya.
Saat sedang berpikir, tiba-tiba seseorang menariknya dengan kasar dan menamparnya. Sontak, hal itu mengundang perhatian semua orang yang ada di sekitar. Naya hanya bisa memegangi pipinya yang terasa panas, dirinya masih syok dengan kejadian yang begitu cepat.
"ISTRI KUR4NG AJAR KAMU! PUTRAKU SEDANG KESUSAHAN DI PENJARA KAMU MALAH MENGGUGAT CERAI?! MENYESAL SAYA TELAH MENIKAHKAN KAMU DENGAN PUTRA SAYA!" Sentak seorang wanita paruh baya yang kini menunjuk wajah Naya.
"Mama ...,"
"Berhenti memanggil saya Mama! Kamu bukan menantu saya lagi, Naya! Selama ini, saya pikir kamu wanita yang baik, yang bisa membuat putra saya bahagia, tapi kenyataannya apa? Kamu justru mengkhianatinya, pengkhianat! Pengkhianat kamu!" Rhea Tifanny adalah mertua Naya, dia begitu marah setelah mendapati Naya menggugat cerai putranya.
Rhea akan mengangkat tangannya, berniat akan menampar kembali Naya. Tapi sebelum itu, tangan seorang pria lebih dulu menahannya. Rhea terkejut, reflek ia menoleh. Matanya menangkap Zion yang kembali menolongnya.
"Jangan sentuh calon istriku!" Ucapnya yang tak lain adalah Zion.
Naya tak menyangka Zion akan datang kembali dan mencegah Rhea kembali menamparnya. Namun, Naya justru menangkap tatapan penuh kebencian Zion pada Rhea yang kini tengah terlihat bingung.
"Kamu berselingkuh dengannya? Dimana pikiranmu merebut istri orang lain!" Sentak Rhea dengan tatapan tajam.
Mendengar itu, Zion justru menyeringai dalam. Ia melangkah mendekati Rhea dan mengikis jarak antara keduanya. Perlahan, ia sedikit menundukkan kepalanya agar menatap wanita paruh baya itu dari dekat. Entah mengapa, aura yang Zion keluarkan membuat Rhea merasa terpojok.
"Bukankah hal itu harus anda katakan juga pada suami anda? Dimana pikirannya saat merebut seorang istri dari suaminya? Cepat, tanyakan pada suami anda yang sudah tidur di tanah itu." Zion mendesis Lirih, sembari matanya melirik wajah Rhea yang terlihat pucat.
"Ba-bagaimana ...." Mata Rhea berkaca-kaca, menatap Zion yang kembali menegakkan tubuhnya dan tersenyum puas melihat ekspresi tertekan dirinya.
"Zion?" Tebak Rhea, suara nya terdengar bergetar.
Naya langsung mengalihkan pandangannya pada Zion yang kini memasang ekspresi dingin. Tak di sangka, pria itu justru berbalik dan menariknya pergi dengan kasar. Reflek, Naya melawan, ia berusaha melepas cengkraman Zion. Namun, hasilnya nihil. Kekuatan pria itu jauh lebih besar.
Rhea mematung di tempat, menatap kepergian pria yang tak pernah dirinya sangka keduanya akan bertemu kembali. "Dia benar-benar Zion?"
Sementara itu, Zion menghempaskan tangan Naya setelah keduanya masuk ke dalam lift. Naya merasakan kesakitan yang amat di tangannya yang habis di cengkram oleh Zion. Raut wajahnya terlihat kesal, tapi dirinya tak berani protes.
"Jangan lagi bertemu dengan wanita itu." Titah Zion.
"Dia masih mertuaku. Aku sudah menganggapnya ibuku sendiri, dia ...,"
"Dimana dia saat kamu membutuhkannya huh?"
Tring!
Pintu lift terbuka setelah Zion mengatakan satu kalimat itu. Naya masih mencoba untuk memikirkan apa yang Zion katakan padanya. Yah benar, dimana Rhea saat dirinya membutuhkannya? Bahkan, hanya sekedar menjawab teleponnya wanita paruh baya itu mendadak menghilang.
Melihatnya yang melamun, pria tampan itu terlihat kesal.
"Kamu mau jadi patung disini atau bertemu dengan bayimu huh?"
"E-eh, iya. ...."
Naya berjalan lebih dulu, sementara Zion ikut di belakangnya. Langkah keduanya terhenti di kaca jendela ruang NICU, Naya mencoba mengintip putranya dari kaca tersebut. Ia tersenyum saat matanya menangkap sosok bayi mungil yang sedang menggerakkan tangannya. Matanya terlihat menahan tangis, ingin rasanya ia cepat menggendong anak nya itu.
"Berjuanglah nak, mama menanti kesembuhanmu." Lirih Naya. Sedangkan Zion hanya memandang tatapan khawatir dari Naya pada bayinya yang masih berada di ruang NICU.
"Segitunya dia berjuang demi bayinya? Bahkan rela melepaskan ikatan pernikahannya?" Batin Zion.
Zion memutuskan kembali ke rumahnya, ia berniat masuk langsung ke kamarnya. Namun, dirinya justru berpapasan dengan Raisa yang baru saja keluar dari kamar putrinya. Melihat Zion, raut wajah wanita itu terlihat marah.
"Aku melihatmu di media, ngapain kamu dengan istri Rayyan hah? Rencana apa yang sedang kamu rencanakan Zion?!" Sentak Raisa yang sudah mencurigai rencana adiknya.
Zion tak menjawab, ia memilih melangkah pergi. Tingkahnya, membuat Raisa sangat kesal. Ia tak suka sikap Zion yang semenan-mena seperti itu. Apalagi, setelah melihat kabar yang beredar.
"Kesalahan itu bukan pada Rayyan, tapi pada ayahnya. Jangan melibatkan orang yang tidak bersalah Zion!" Seru Raisa yang membuat langkah Zion terhenti seketika.
"Pria itu sudah ma.ti, bagaimana caranya aku membalas dendam? Hais, kem4tian sangat baik untuknya. Rayyan ... dia memang tak bersalah, tapi dia mengambil apa yang seharusnya aku dapatkan!"
"Terus apa rencanamu pada istri Rayyan? Dia tidak tahu apapun! Jangan libatkan dia, aku gak setuju!" Emosi Raisa tampak menggebu, matanya menatap tajam dengan penuh emosi.
"Karena Naya, wanita yang begitu Rayyan cintai. Aku ingin lihat, bagaimana wanita yang kakak sebut sebagai mama itu hancur melihat kehancuran putra kesayangannya. Jadi, jangan campuri urusanku Kak." Zion berlalu pergi, meninggalkan Raisa yang berdecak kesal melihatnya.
.
.
.
Akhirnya, pengadilan resmi memutuskan perceraian Naya dan juga Rayyan. Setelah mendapatkan surat cerainya, Naya pun memutuskan untuk menghubungi Zion demi mengambil uang sisa untuk pengobatan bayinya yang masih berada di ruang NICU.
Uang miliknya hanya tersisa sedikit, karena ia gunakan untuk biaya kebutuhannya sehari hari dan juga kebutuhan bayinya. Akibat bayinya yang terlahir prematur di usia kandungan tujuh bulan, Naya harus memberikan pengobatan yang terbaik untuk putranya. Jelas, rumah sakit mahal ini akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
"Kamu mencariku?"
Naya tersentak kaget melihat Zion yang entah kapan sudah berdiri di sebelahnya sembari memegang ponsel di telinganya. Naya sampai memegangi dad4nya karena jantungnya yng seolah berhenti berdetak.
"Ini akta cerainya." Naya memberikan akta cerai miliknya pada Zion.
Melihat itu, Zion lekas mengambilnya dan melihatnya. Ia tersenyum puas dan membayangkan kehancuran adik tirinya. Bukan hanya soal karir yang hancur, tapi kisah cinta juga hancur karena perbuatannya. Zion merasa bahagia dengan apa yang Rayyan alami saat ini.
"Kira-kira ... kapan aku akan menemuinya dan melihat penderitaannya?" Batin Zion dengan banyak rencana di kepalanya.
Naya meremas tangannya yang terasa berkeringat, matanya melirik takut ke arah Zion yang masih fokus menatap akta cerai di tangannya.
"Boleh aku minta uang sisanya Tuan?"
Zion mengangkat pandangannya, seketika tatapan matanya dan Naya saling beradu. Sebelum akhirnya Naya memutuskan untuk menunduk agar pandangan keduanya terputus.
"Berikan!" Zion memerintahkan bodyguardnya untuk menberikan sebuah koper yang pria itu bawa pada Naya.
Naya mengambilnya, dan membuka koper itu. Zion tak menipunya, koper itu benar-benar berisikan uang. Pengobatan bayinya di ruang NICU sangatlah mahal, apalagi berada di rumah sakit besar ini.
Zion mengamati apa yang Naya lakukan dengan seksama. Ia tak melihat pakaian mewah yang Naya kenakan yang biasa dirinya lihat di televisi atau sosial media. Wanita itu berubah menjadi wanita sederhana dengan pakaian yang terlihat murah.
Jika dirinya lihat lebih dekat, Naya memang sangat cantik. Walau tanpa polesan make up seperti yang dirinya lihat di sosial media, tapi wanita itu masih tampak menawan. Apalagi saat tersenyum yang menampilkan lesung pipinya.
"Eh, apa yang aku pikirkan? Kenapa justru aku memujinya? Tidak ... selera Rayyan sangat bu.ruk." Batin Zion. Karena tak mau berlarut dalam pikiran anehnya, Zion memilih pergi. Naya hanya menatap kepergiannya tanpa ekspresi apapun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Alistalita
Catat ya gak bakal jatuh cinta pada naya.
Hidup tidak akan bahagia jika terus menyimpan dendam Zion.
hatimu terlalu terluka relakan semua yang terjadi, Anggaplah bantuanmu pada Naya sebagai rasa kemanusiaan.
Masih teka teki dengan kehidupan Ortu Zion, kenapa Rhea rela meninggalkan Raisa dan Zion tinggal bersama mantan suaminya. Kehidupan Zion pasti tidak mudah sampai bisa sesukses ini, Semoga dengan hadirnya Naya dan anaknya bisa mengobati segala luka, yang pernah Zion rasakan..
2025-03-08
31
Aluna_21
Cie terpesona, Istri orang emang lebih mentang,, keren kamu zion menjadikan istri saudaramu janda,, dan tanpa babibu kamu pungutt😭 dengan alasan bagian dati bls dendam🤣🤣
2025-03-08
9
Uba Muhammad Al-varo
biarkan saat ini kamu Naya berpisah sama Rayyan tapi dilain waktu kamu harus jujur apa yang sebenarnya terjadi padamu dan baby mu Naya, biarlah sekarang kamu menderita tapi setelah yakinlah kamu akan bahagia berkumpul bersama keluarga mu Naya, semangat Naya
2025-03-09
2