DINDING YANG TERBUKA

pak Tono mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan Naomi. "saya nggak bisa kasih petunjuk apa-apa buat kalian" ucapnya.

Mahen dan teman-temannya pun terdiam.

"apa bapak nggak pernah nemuin sesuatu di rumah itu?" tanya Naomi. pak Tono menggeleng.

"gimana kalau kita cari petunjuk dirumah itu pak? pak Tono kan bisa masuk kesan" celetukan Adis membuat pak Tono menatapnya.

"saya tidak berani" jawab pak Tono. Mahen pun menghela nafas panjang, jika pak Tono sendiri tidak berani itu berarti pak Tono juga tidak berani mengizinkan orang lain masuk kedalam rumah itu untuk mencari petunjuk.

"apa kita boleh masuk ke rumah itu pak?" tanya Mahen memberanikan diri.

pak Tono terdiam cukup lama seolah sedang menimbang-nimbang antara mengizinkan atau tidak.

"tolong jangan diacak-acak rumahnya. setelah selesai rapihkan lagi. sebenarnya ini tidak sopan, tapi saya sendiri penasaran kemana sebenarnya Feni pergi" jawaban pak Tono membuat Mahen dan teman-temannya merasa lega dan bahagia.

entah apa yang akan mereka temukan di sana, tetapi bisa masuk ke dalam sana adalah hal yang paling penting saat ini.

"terimakasih banyak pak, kami janji akan jaga sikap di dalam sana. kami juga janji akan merapihkan lagi jika sudah selesai" ucap Mahen kelewat senang.

pak Tono mengangguk, "sebentar, saya ambilkan kuncinya dulu" ucapnya seraya berlalu kedalam rumah.

tak berselang lama pak Tono kembali dengan menggenggam kunci di tangannya.

"ini kuncinya, saya percayakan pada kamu" ucap pak Tono memberikan kunci itu pada Herdi.

Herdi terbengong, kenapa dia? padahal Mahen duduk tepat berada di hadapan pak Tono. tapi sudahlah, yang penting kunci itu sudah ada pada mereka.

"bapak nggak ikut?" tanya Mahen. pak Tono menggeleng, "semoga bisa menemukan apa yang kalian cari" do'a pak Tono.

..

Mahen dan yang lain pun kembali ke rumah tante Feronica.

Herdi, yang di percaya oleh pak Tono untuk memegang kunci rumah itu pun masuk lebih dulu.

mereka masuk perlahan, kali ini mereka tidak berpencar.

seperti biasa, Oca selalu memegang lengan Naomi. hal itu tak lepas dari pandangan Ethan.

"ssttt.. Kunti bogel, ouy.." bisik Ethan memanggil Adis yang berada tak jauh darinya. Adis pun menoleh, "apaan?" tanya-nya.

Ethan menunjuk Naomi dan Oca dengan dagunya.

Adis menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Ethan lalu kembali menoleh pada Ethan. "jangan bikin gosip sembarangan, Oca emang senempel itu sama Naomi tapi mereka normal" bisik Adis sambil mengeplak bahu Ethan.

mereka menyusuri rumah besar itu. Naomi berjalan di depan kali ini bersama Mahen. Oca di belakang Naomi bersama Adis dan Ethan, Herdi dan Aidan berada di urutan paling belakang.

mereka tiba ruang tengah, Naomi mengamati setiap sudut ruang. tangannya menyusuri dinding. ada beberapa lukisan dan foto yang terpajang di dinding.

di rumah itu ada empat kamar tidur, salah satu kamar terletak paling dekat dengan ruang tamu, salah satunya lagi berada di bagian belakang dekat dengan dapur.

Naomi dan Mahen memimpin rombongan memasuki setiap kamar dan ruangan lainnya. ruang terakhir rumah itu adalah perpustakaan.

"Tante lo bener-bener hobi baca buku ya hen, nggak di rumah ini nggak di rumah kakek lo ada ruang bacanya semua." ucap Herdi.

"tante gue juga hobi nulis. makanya banyak cerita-cerita pendek di kertas-kertas tinggalannya" jawab Mahen.

"sebenarnya ada teka-teki di kasus ini" celetuk Naomi. mendengar Naomi berbicara, yang lain pun berlari mendekat untuk mendengarkan.

"teka-teki apa?" tanya Mahen. "kalau tante lo masih hidup, kenapa buku yang ada di ranjang kamar tante lo kemaren di biarkan gitu aja dan nggak di pindah atau geser sedikitpun?" Naomi mengeluarkan unek-uneknya.

"iya juga ya, seolah buku itu di biarkan jadi kenang-kenangan barang terakhir yang di sentuh tante Fero" celetuk Ethan.

"betul" Naomi mengacungkan ibu jarinya pada Ethan.

"tumben ketan cerdas?" ledek Adis. "dih.. Kunti bogel" Ethan balik mengatai Adis.

"jadi menurut lo tante gue udah meninggal?" tanya Mahen pada Naomi.

"gue belum bisa memastikan. kalau tante lo udah meninggal dimana makamnya?" tanya Naomi balik.

Mahen terdiam, selama ini ia tidak pernah berziarah ke makam tante Fero. ia hanya diajak berziarah ke makam kerabat-kerabatnya yang lain tapi tidak ada makam tante Fero.

"lagian kalau tante Fero udah meninggal siapa dong yang nyuruh orang nganterin bayaran buat pak Tono?" tanya Ethan sok pintar.

"itu bisa aja kakeknya Mahen kan" jawab Naomi.

"huuuuu.." Kunti bogel bersorak mengejek Ethan. Ethan merengut karena kesal dan malu.

"tapi kalau masih hidup, sebenarnya dia ada dimana? kenapa nggak pernah pulang? kenapa nggak pernah muncul batang hidungnya?" tanya Mahen.

"nih.. batang hidung lo" ucap Ethan sambil menyentil hidung Mahen. Mahen pun berdecak kesal.

"kita lanjut aja cari petunjuk disini. kamar belakang belum kita liat" ucap Naomi.

kamar yang lain sudah mereka geledah namun tidak ada apa-apa di dalamnya. hanya kasur dan nakas yang di atasnya terdapat lampu tidur sedangkan di dalam lacinya ada lilin aromaterapi.

Naomi menyusuri kamar utama itu dengan teliti. di dalam kamar ini terdapat lebih banyak barang di bandingkan kamar lainnya.

banyak foto keluarga yang di tempel di dinding kamar ini. "itu nyokap lo bukan sih?" tanya Aidan pada Mahen sambil menunjuk salah satu lukisan.

Mahen menatap foto itu dalam-dalam. di dalam foto itu ada mamahnya, Felicia yang duduk di kursi mengenakan gaun hitam yang hanya sebatas dada namun bawahnya panjang. di belakang Felicia ada tante Feronica yang berdiri mengenakan kemeja putih dipadukan jas hitam.

"gileee.. tante lo keren banget hen" heboh Adis melihat foto tante Fero yang terlihat sangat keren menurutnya.

"bener banget, malah kaya pasangan, tante lo lakiknya nyokap lo bininya" celetuk Ethan. seperti biasa keplakan Adis mendarat di mulut Ethan.

"sekeren itu lo kata lesbong?!" ucap Adis ngegas. "sewot amat Kun" sahut Ethan lirih namun masih bisa di dengar oleh Adis.

Adis mengurungkan niatnya membalas ucapan Ethan saat melihat Mahen menurunkan foto yang mereka ributkan itu.

saat foto itu di turunkan, mata Naomi manatap sesuatu berwarna hitam pada dinding yang tadi tertutup oleh foto itu.

"hen, coba lo sentuh yang item-item itu!" perintah Naomi pada Mahen yang masih berdiri di ranjang.

"mana?" tanya Mahen yang tidak melihat sesuatu yang dimaksud Naomi.

"itu tuhhh" tangan Naomi menunjuk-nunjuk tepat ke arah sesuatu yang ia maksud.

"manaaa?" mahen masih belum menemukan sesuatu yang di tunjuk Naomi.

"arghh.. geser lo" perintah Naomi sembari ikut naik ke atas ranjang dan menggeser tubuh Mahen.

sayangnya, meskipun sudah menjinjit tetap saja Naomi tidak sampai. Naomi menarik Mahen dan menyuruhnya jongkok.

Mahen pun kebingungan namun tetap menurut hingga ia terkejut saat Naomi naik di punggungnya.

"berdiri hen!" perintah Naomi. "ha?" Mahen tidak paham.

"berdiriii.. ha he ha he" ketus Naomi.

Mahen pun berdiri sesuai perintah Naomi.

tangan Naomi menekan benda bulat berwarna hitam yang menempel pada dinding.

benda itu sangat kecil bahkan terlihat seperti kotoran yang menempel. tapi si detektif cantik Naomi bisa mendeteksi benda itu.

tombol..

ya benda itu seperti tombol kecil, saat Naomi menekannya, di salah satu pojok ruangan terdengar suara seperti lemari yang bergeser.

Mahen dan yang lain menoleh ke arah sumber suara dan mereka di buat menganga karena dinding yang tadi rapat tanpa celah sedikitpun kini terbuka seukuran pintu.

"ini..?" Mahen tak mampu berkata-kata.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!