Botol dan tempat sampah

Zea mengendarai taksi untuk pulang ke rumahnya . Billy menuruti permintaan Zea .

" Kita bertemu di rumah " ucap Billy.

Ada bau parfum milik wanita lain di mobil Billy . Membuat Zea mual berlama-lama di mobil Billy .

Sesampainya di rumah . Billy menunggu Zea di teras rumah mereka. Zea lalu masuk ke dalam rumah tanpa peduli ada Billy di sana .

" Sayang bisa kita bicara sebentar " ucap Billy .

" Apa kamu berselingkuh mau meminta ijin ku terlebih dahulu ?" tanya Zea .

" Tidak Zea , aku minta maaf . Aku khilaf Sayang . Aku terbujuk rayuan wanita itu " ucap Billy .

" Terbujuk hingga kamu tidak pulang semalaman Billy . Apa itu yang di namakan khilaf ?" tanya Zea menatap dalam nata Billy .

Mata yang dulu selalu memandang Zea dengan penuh cinta . Rasanya cinta itu sudah tidak ada padanya lagi .

Billy tidak bisa berkata lagi . Semalam memang dia pergi dari rumah . Namun tidak tidur di tempat Sarah .

" Kenapa ? Aku memang belum bisa memberimu keturunan Billy . Tapi apakah begini cara mu ? Ceraikan aku Billy . Jika kamu sudah tidak menginginkan ku . Jangan mendua cinta . Aku tidak pernah memaafkannya " ucap Zea .

" Kamu ini baru pulang kerja sudah memarahi suami mu . Seharusnya kamu itu menyeduhkan minuman untuk suami mu " ucapan Ibu Billy tiba-tiba dari dalam dapur .

Billy tersentak dengan kedatangan ibunya yang tiba-tiba . Zea sudah biasa melihat ibunya yang tiba-tiba berada di rumahnya .

Zea kali ini tidak peduli lagi dengan perkataan ibu mertuanya . Zea lebih memilih untuk ke kamar .

Billy membiarkan saja Zea untuk ke kamarnya . Billy tudak ingin jika Ibunya mendengar pertengkaran mereka .

" Ibu , kapan Ibu datang ?"tanya Billy menghampiri Ibunya .

" Lihat istrimu . Dia pulang kerja mengomeli mu seperri itu . Sekarang malah pergi ke kamar . Tidak menghampiri Ibu . Dasar wanita tidak punya sopan santun " ucap Ibu Billy .

" Zea lelah bu . Biarkan dia istirahat dulu " ucap Billy .

" Kamu itu selalu saja membela istri mu itu . Besok kita pergi ke dokter kandungan . Apa ada masalah pada istri mu . Ibu ingin segera mendapat cucu . Siapa tahu istri mu itu mandul . Jika kita tidak memeriksakannya ke dokter . Kamu bisa menikah lagi atau bercerai dengannya . Ibu tidak mau memiliki mantu yang mandul " ucap Ibu Billy berbicara panjang lebar .

Zea yang baru saja akan turun untuk menyapa ibu mertuanya . Zea urungkan setelah mendengar ucapan ibu mertuanya . Air mata Zea luruh begitu saja . Sedari dulu Ibu mertua Zea tidak pernah menyukai Zea .

Dulu mungkin Zea akan cuek . Tapi Tapi suami yang Zea cintai ikut melukainya . Seorang yang Zea jadikan bahu untuk bersandar . Seseorang yang Zea gunakan untuk mengadu . Namun sekarang Billy sudah bukan Billy yang dulu .

Zea kali ini bangun lebih pagi . Zea memilih untuk joging di taman dekat rumahnya . Zea ingin melepaskan beban yang dia rasakan .

Tapi Zea lebih dulu menyiapkan sarapan untuk mertuanya . Zea tidak ingin lagi mendengar sindiran pedas dari ibu mertuanya .

Zea duduk sebentar dengan sebuah botol minuman . Pandangan Zea menerawang jauh . Apa yang harus Zea lakukan . Rasanya Zea sudah tidak tahu arah jalan untuk pulang .

Zea menggenggam erat botol itu hingga tak beraturan .

" Aku tidak akan menangis lagi " ucap Zea menguatkan dirinya sendiri .

Zea lalu melempar botol yang sudah remuk itu ke tempat sampah yang lumayan jauh darinya . Berharap botol itu busa masuk dengan lemparan Zea .

Bugh

Zea menutup mulutnya . Botol yang Zea lempar mengenai orang yang sedang berlari .

Pria itu berhenti lalu membuka penutup kepalanya . Menatap sekeliling taman mencari siapa yang telah melemparnya . Pandangan pria itu tertuju pada Zea yang juga tengah berdiri dan menatapnya . Zea nyengir kuda dan membungkuk meminta maaf .

Pria itu berjalan mendekati Zea . Pria dengan perawakan tegap dan tegas . Rahang yang kuat dan tatapan yang tajam . Membuat Zea menciut .

" Apa kamu mencoba untuk meraya ku ? " tanya pria itu .

Zea mengerutkan keningnya .

" Aku sudah bersuami . Untuk apa aku menggoda mu " ucap Zea jujur .

" Dasar pembohong . Aku sudah terbiasa dengan trik murahan seperti ini " ucap Pria itu .

" Jangan terlalu besar kepala Tuan . Jangan samakan aku dengan wanita pemuja mu itu " Zea lalu pergi .

" Oh ya aku minta maaf . Aku tidak sengaja melempar botol itu . Aku ingin membuang botol itu ke tempat sampah . Mungkin botol itu mengira kamu tempatnya " ucap Zea yang sudah terlanjur kesal .

" Tampan sih tapi tidak punya etika " ucap Zea .

Pria itu memandang Zea dati jauh . Dia justru tersenyum tipis mendengar ucapan Zea .

" Ayo pulang . Aku sudah lelah berkeliling di sini . Masih banyak pekerjaan yang menungguku " ucap seorang pria yang tak lain sahabat dari pria itu .

Pria itu masih terbayang wajah cantik Zea . Dan juga ucapan Zea yang mengganggunya . Tidak ada wanita yang mengumpatnya . Kali ini seorang Arron Zalano merasakan umpatan dari seorang gadis .

" Sedari tadi kau terus tersenyum. Apa kau sudah mulai gila ?" tanya teman Arron .

" Apa kamu mau ku pecat ?" tanya Arron .

" Ck . Dasar pria kaku " cibir temannya .

Arron lalu pulang ke kediaman orang tuanya . Rumah yang sudah cukup lama dia tinggalkan . Arron memilih belajar dan berbisnis di luar negeri .

Tapi kali ini kedua orang tua Arron memintanya untuk pulang . Dengan alasan Jack sakit .

" Apa kau hanya akan pulang jika mendengar anjing kesayangan mu ini mati Arron ?" tanya Ibu Arron .

" Ibu jangan terlalu berlebihan " ucap Arron lalu memeluk ibunya .

Ibu Amora lalu membalas pelukan putranya . Putra yang sangat dia rindukan .

" Kenapa ibu selalu mengomel . Ibu bisa saja pergi menemui ku " ucap Arron .

" Untuk apa ibu menemui mu . Kau anakku . Ya kau yang seharusnya menemui ku . Aku sudah melahirkan mu dan merawat mu . Apa ini balasan mu ?" tanya Ibu Amora

" Apa ibu tidak memasak sesuatu untuk ku ?" tanya Arron mengalihkan pembicaraan.

" Apa kau tidak menanyakan kabar Ayah mu ?" tanya Ayah Abraham .

" Sudahlah yah , jangan mengikuti jejak ibu " ucap Arron lalu memeluk sang Ayah .

Ayah Abraham tertawa mendengar ucapan Arron . Arron sangat tidak suka mendapat omelan dari ibunya .

" Mari kita makan bersama . Ibu mu sudah menyiapkan makanan kesukaanmu " Ayah Abraham merangkul Arron yang lebih tinggi darinya .

Arron lalu mengikuti langkah kaki ayahnya .

" Selamat pagi semua " teriak seorang gadis dari atas tangga .

" Selamat pagi kakak " teriak Aruna Zalano , adik Arron .

" Sudah lepaskan pelukan mu . Aku mau makan " ucap Arron .

" Kakak tidak merindukkan ku ibu " adu Aruna .

" Cukup Aruna . Ayo segera duduk dan makan " ucap Ibu Amora yang sangat langka . Biasanya dia akan mengikuti drama dari putrinya . Arron tersenyum kecil .

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!