Azmi dan Zakir dibawa ke ruang ustadz. Banyak santri yang mengintip dari jendela melihat itu ustadz Ridwan segera menyuruh mereka masuk kelas. Azmi dan Zakir saling tatap sinis. Ada beberapa ustadz juga disitu.
"Ridwan kenapa mereka? ."tanya salah satu ustadz.
"Biasalah anak-anak sukanya berantem."ujar ustadz Ridwan memandang Azmi dan Zakir yang menunduk.Melihat darah yang terus keluar dari dahi Azmi yang terus Azmi pegangi ustadz Ridwan merasa tidak tega.
"Azmi, kamu ikut ustadz dulu."ustadz Ridwan.
"Cuman saya Ustadz dia, maksud saya Zakir tidak ustadz."Azmi menunjuk Zakir yang tersenyum.
"Bukan begitu kita bersihkan dulu luka kamu baru setelah itu ustadz tetap memberi kamu dan Zakir hukuman."ustadz.
"Iya ustadz."Azmi.
Ustadz Ridwan mengajak Azmi ke uks yang tidak jauh dari kantor guru.
Azmi duduk dan diobati ustadz Ridwan.Azmi coba menahan rasa sakitnya dengan memejamkan matanya dan meringis kesakitan. Dengan cepat ustadz Ridwan mengobati Azmi dan memberi hansaplas pada dahi Azmi.
"Sudah ayo,"Azmi.
"Ustadz,mmm gak masuk kelas ustadz kan sudah jam masuk."Azmi.
Ustadz Ridwan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 11.00.
"Gampang itu ,ustadz suruh ustadz yang lainnya untuk mengajar ,juga sudah pelajaran terakhir. "ustadz Ridwan.
"Baik ustadz."Azmi pasrah.
Ustadz Ridwan mengajak kembali Azmi ke kantor guru sesampainya terlihat Zakir yang dari tadi menunggu.Azmi duduk di samping Zakir dengan wajah malas memandang Zakir.Ustadz Ridwan meminta salah satu ustadz yang sedang santai untuk mengajar kelasnya, ustadz itupun mau. Ustadz Ridwan kembali membahas hukuman untuk Azmi dan Zakir.
"Ustadz mau nanya, Zakir kamu merasa bersalah tidak sama Azmi ."ustadz Ridwan.
Zakir menatap Azmi yang asyik memainkan jari-jari tangannya enggan menatap Zakir.
"Iya ustadz, saya merasa bersalah. " jawab Zakir terpaksa.
"Bagus ,minta maaf cepat sama Azmi."ustadz Ridwan.
"Azmi aku minta maaf ."Zakir menghadapkan wajahnya ke arah Azmi yang menatap tajam dirinya.
"Azmi."ustadz Ridwan memanggil nama Azmi yang masih enggan berjabat tangan dengan Zakir.
"Saya mau sih ustadz ,maaffin Zakir tapi dia harus janji gk bakal ngejahilin saya lagi, gimana Kir."Azmi.
"Zakir kamu janji tidak akan buat Azmi celaka lagi."ustadz Ridwan.
"Emmmm..... Iya saya janji ustadz"Zakir
"Bagus ,ayo kalian berjabat tangan"ustadz Ridwan.
Azmi akhirnya mau memberikan tangannya pada Zakir yang memasang wajah tidak enak padanya sedangkan Azmi tersenyum manis.
"Ishhh apaan sih Azmi sampai kapan pun aku gk akan pernah berhenti ngerjain kamu."Zakir didalam hati dengan senyuman terpaksa ia berikan kepada Azmi.
"Kalau Azmi ,kamu merasa bersalah sama Zakir sudah narik kerah bajunya Zakir."ustadz Ridwan.
"Tidak ustadz."jawab Azmi tegas.
"Tidak? mengapa? ."ustadz Ridwan.
"Karena saya korban ustadz, saya juga tidak bersalah Zakir yang nyelakain saya."jawab Azmi tegas membuat Zakir menatapnya sinis.
Ustadz Ridwan menganggukkan kepalanya beberapa kali dan tersenyum pada Azmi.
"Baik, baik, ya sudah ustadz akan tetap menghukum kalian supaya adil ustadz minta Zakir kamu berdiri mengucap tasbih sampai adzan duhur sedangkan,Azmi kamu boleh duduk memperhatikan Zakir tapi, kamu juga baca tasbih sampai adzan duhur"ustadz Ridwan.
"Baik ustadz ."jawab Azmi dan Zakir bersamaan.
"Coba gimana bacaan tasbih?".ustadz Ridwan.
"Subhanallah, alhamdulillah, walaailaha'il Allah,wallahu akbar."jawab Azmi sedangkan, Zakir menjawab terbata-bata mengikuti Azmi.
"Bagus ,sekarang kalian pakai kalung ini."ustadz Ridwan mengeluarkan kalung dari kardus yang bersikan tulisan "Saya sedang dihukum ustadz atas kesalahan saya".
"Ustadz harus pakai itu ustadz , kan malu ustadz."Zakir.
"Sudah,ustadz biasa menghukum santri pakai kalung ini ayo pakai."ustadz Ridwan menyodongkan kalung itu.
Dengan cepat Azmi memakai kalung itu di lehernya. Zakir tercengang memandang Azmi yang sangat percaya diri.
"Zakir ,ayo pakai."ustadz Ridwan.
Zakir perlahan memakai kalung itu. Ustadz menyuruh mereka pergi di depan kelas mereka .Hari semakin panas Zakir sudah letih ia iri melihat Azmi yang duduk sembari membaca tasbih dengan suara lantang dan sangat percaya diri. Zakir mencoba duduk di sebelah Azmi mengetahui itu Azmi segera melebarkan tempat duduknya menghalangi Zakir agar tidak bisa duduk.
"Azmi, kamu gk malu apa dilihatin banyak orang tuh."Zakir.
Azmi tidak menjawab dan terus membaca tasbih dengan keras.
"Eh Azmi, bagi dong tempat duduknya aku capek."keluh Zakir mengusap keringatnya yang mulai membasahi dahinya.
Seketika ustadz Ridwan melihat Azmi dan Zakir dari jauh dan segera menghampiri mereka.
"Zakir ,kok kamu malah ribut sih baca tasbihnya ." sentak ustadz Ridwan.
"Iya ustadz masa dari tadi Zakir minta duduk disebelah saya ustadz."Azmi.
"Ayo Zakir, berdiri dan baca tasbih sampai adzan duhur."ustadz Ridwan.
"Iya ustadz."jawab ***** menunduk.
Zakir memandang Azmi yang tersenyum lebar kepada dirinya.
"Gak usah senyum-senyum kamu Mi,"Zakir.
"Biarin ,senyum aku kan manis"Azmi.
"Udah lanjutin tuh, bacaan tasbih Mu"Zakir.
Azmi melanjutkan bacaan tasbihnya begitu juga dengan Zakir yang berdiri di bawah teriknya matahari.
Banyak santri yang menonton mereka dari jendela kelas. Tetapi Azmi tetap pd dan semakin mengeraskan suaranya lain halnya dengan Zakir yang menunduk malu.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi para santri banyak yang berkeluaran dari kelas mereka masing-masing. Mereka mentertawai Azmi dan Zakir yang memakai kalung bertulis "Saya sedang dihukum oleh ustadz karena kesalahan saya". Tetapi Azmi tetap cuek tidak menghiraukan mereka.
Aban, Rifki, dan kedua teman Zakir segera menghampiri Azmi dan Zakir.
"Azmi, kamu dihukum juga."Aban.
Azmi mengangguk sembari membaca tasbih. Tidak lama kemudian adzan duhur berkumandang dari Masjid pesantren terdengar jelas suara Ahkam yang mengumandangkan adzan.
"Alhamdulillah mas Ahkam baik banget."Azmi melepas kalung kardus itu diikuti oleh Zakir.
Mereka menjawab adzan bersama hingga selesai dan membaca doa sesudah adzan.
Azmi melangkah menuju kantor guru.
"Azmi, tungguin dong."Zakir mengejar Azmi yang sudah berjalan jauh.
Aban dan Rifki saling pandang.
"Hin,si Zakir tumben minta tunggu sama Azmi."Helmi.
"Udah baikan mungkin."ucap Sihin.
"Gak mungkin, Zakir kan benci banget sama Azmi."Aban.
"Iya tuh benar itu tidak mungkin terjadi."Rifki.
Helmi dan Sihin terdiam mereka duduk menunggu Azmi dan Zakir.
Sementara Azmi dan Zakir berdiri di depan pintu kantor menunggu ustadz Ridwan yang sedang berbincang.
"Azmi ,Zakir, ayo masuk."ustadz Ridwan.
Azmi dan Zakir mengangguk dan masuk duduk di hadapan ustadz Ridwan.
"Ini ustadz kalungnya, kami sudah bisa pulang kan."Azmi memberikan kalung kardusnya begitu juga dengan Zakir.
"Iya ,kalian boleh pulang tapi ingat setelah ini jangan bertengkar sesama muslim kalian harus rukun dong jangan malah sering berantem mengerti Azmi, Zakir."ustadz Ridwan.
"Iya ustadz mengerti."Azmi.
"Iya ustadz saya juga mengerti."Zakir.
Azmi dan Zakir menyalam tangan ustadz dan mengucap salam ustadz Ridwan menjawab salam mereka. Azmi dan Zakir melangkah bersama menuju teman² nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 240 Episodes
Comments
Ikhsan bns
mungkin helmi,sihin,aban,rifki itu mereka baikan tapi azmi ama zakir doang yang punya masalh🗿
2022-02-06
1
Ferly Ina
10 Like meluncur thor
2021-02-26
1
Little Peony
Semangat selalu thor ❤️❤️
2020-12-20
0