Bel istirahat sekolah berbunyi,Akmal duduk sendiri di kantin pesantren memandangi foto yang ia pegang.Dari jauh teman-teman Akmal melihat Akmal dan menghampirinya.
"Halo bro ,bengong aja. "Firman.
"Iya ,mikirin apa sih?. "Ali.
"Aku ruh Akmal mikir opo."Udin
"Hah? emang aku mikir apa?. "Akmal dengan nada kaget.
"Mikirin ayah mu kan Mal, yang sakit itu."Udin
Seketika Akmal terdiam matanya berkaca-kaca memandangi foto yang terus ia pegang. Teman-teman Akmal menyadari bahwa Akmal bersedih Firman memukul lengan Udin.
"Akmal, emangnya ayah kamu itu sakit apa sih."Firman.
"Ayah ku, punya riwayat penyakit jantung."Akmal menundukkan kepalanya.
Seketika teman² Akmal terdiam dan saling pandang.
"Ya sudah Mal, kamu berdoa aja buat ayah kamu."Ali.
"Iyo Mal, aku karo konco-konco pasti bakal bantu sampean."Udin.
"Makasih ya, .....Eh aku baru ingat ustadz suruh ngasih ini ke Azmi sama Aban."Akmal menunjukkan sebuah surat kepada tiga temannya.
"Kasih nanti aja lewat mas Ahkam sama mas Muhklis."Ali.
"Ya udah aku kasih nanti."Akmal.
Terlihat seorang ustadzah yang merupakan guru di Ma melangkah mendekati Akmal.
"Akmal kapan kamu mau bayar spp kamu ?sudah 3 bulan kamu belum bayar."Ustadzah.
"Secepatnya ustadzah saya akan telepon orang tua saya."Akmal.
"Baik ,ditunggu ya."ustadzah.
"Iya ustadzah."Akmal.
Ustadzah itu mengucap salam dan akhirnya pergi meninggalkan Akmal. Melihat Akmal yang menunduk bersedih Firman menepuk pundak Akmal menyemangatinya hingga Akmal tersenyum.
Di sisi lain Azmi, Aban, dan Rifki sedang asyik nongkrong di sebuah tempat duduk yang berada di depan kelas. Zakir yang melihat Azmi ,segera mengajak kedua temannya menghampiri Azmi.
"Azmi gk ke kantin nih."Zakir.
"Baru aja selesai."ucap Azmi.
"Ikut aku yuk."Zakir.
Azmi memandang Aban dan Rifki yang kompak menggelengkan kepala mereka.
"Emm gk bisa ."jawab Azmi singkat.
"Kenapa sih Mi, susah banget kita kan cuman pengen temenan sama kamu."Helmi.
"Terus, temenannya sama Azmi aja sama kita enggak."Aban dengan wajah malas memandang Zakir dan kedua temannya.
Zakir semakin panas terus menatap Azmi dan berpikir apa yang akan ia lakukan hingga Zakir melihat dahi Azmi yang masih lebam dan juga seorang santri yang asyik memainkan bola basketnya ,terbesit rencana jahat di pikiran Zakir.
"Azmi, kita main basket yuk tanding bentar aja setahu aku kamu jago main basket."Zakir.
"Hah? siapa bilang aku jago masukkin bola ke ring aja aku belum pernah."Azmi.
"Ooo salah ya, tapi gk papa kita main bentar kalau kamu menang aku janji gk akan ngejahilin kamu."Zakir.
"Jangan mau Mi, kamu kan gk jago main bola basket."Aban.
"Benar Mi, waktu itu aja kamu pernah cedera ingat gak."Rifki.
Seketika Azmi mengingat kejadian dimana tangan Azmi yang kram akibat ingin memasukkan bola ke ring hingga akhirnya Azmi terjatuh.
"Ayo dong Mi, main sekali ini aja."Zakir.
"Bilang aja takut ya kan Azmi."Helmi.
Azmi memandang Zakir dan kedua teman Azmi terus menggelengkan kepalanya.
"Ya udah aku mau kita tanding."Azmi.
"Siip ini baru Azmi, yuk."ajak Zakir.
Azmi berdiri hendak mengikuti Zakir ,Aban yang tidak suka menarik tangan Azmi.
"Mi, kok kamu mau sih. "Aban.
"Udah tenang aja cuman tanding gini kok."Azmi.
Azmi menerima tantangan dari Zakir walau sudah dilarang oleh kedua temannya. Zakir meminjam bola basket yang dimainkan oleh salah satu santri. Santri itu memberikannya dan mulailah mereka bertanding.
Azmi memang tidak jago bermain basket ia hanya tau bermain bola biasa, suara dukungan dari santri lain terdengar dari telinganya termasuk suara Aban dan Rifki walau mereka tidak yakin Azmi akan menang. Tetapi bukan ring tujuan Zakir tapi malah dahi Azmi yang lebam Zakir semakin mendekati Azmi dan....
"Buammmmm"...Lemparan bola basket yang sangat keras terkena tepat di dahi Azmi hingga Azmi terjatuh kepalanya terbentur ke tanah yang terdapat beberapa batu kecil cukup tajam menusuk tepat di dahi Azmi yang lebam.
Zakir merasa sangat senang, sementara Azmi terjatuh dan merasa sangat kesakitan ia memegangi dahinya.Aban dan Rifki segera menghampiri Azmi tidak ada ustadz yang melihat kejadian itu .Para santri menyoraki Azmi yang menyaksikan mereka bermain.
"Sini Mi, kamu gk papa kan?."Aban membantu Azmi berdiri.
"Cemen banget sih jadi orang."Zakir.
"Heh Zakir ,kamu sengaja kan udah tau Azmi memang gk jago main ginian."Rifki.
"Bukan salah aku lagian Azminya aja yang sok-sok an."Zakir.
"Zakir benar-benar kamu ."Aban terlihat sangat marah ingin mendekati Zakir.
"Ban, udahlah gk usah ditanggappin kita pergi aja."Azmi.
"Tapi Azmi ,mereka ini..."Aban
"Udah Ban, Ki, yuk"Azmi melangkah perlahan meninggalkan Zakir. Aban menatap Zakir tajam hingga akhirnya pergi mengejar Azmi.
Seorang santri yang merupakan senior di Mts menghampiri Zakir yang terus merasa senang.
"Heh.Aku tau kamu sengaja kenak in dahi Azmi bukan masukkin bola basket itu ke ring."santri senior.
"Tau apa sih kamu kak. "Zakir membela dirinya.
"Perbuatan kamu itu jahat tau gk ,untung tuh anak kepalanya gk bocor. "santri senior.
"Udahlah ,ini urusan aku kakak gk usah ikut campur."Zakir pergi meninggalkan kakak kelas itu.
"Malah pergi dikasih tau juga ,astagfirullah mudah-mudahan Azmi gk kenapa-napa."santri itu melangkah pergi.
Azmi duduk melepas pecinya ,memegangi dahinya ia merasa sangat kesakitan. Aban dan Rifki berusaha mengobati Azmi tetapi Azmi terus menunduk enggan di obati.
Zakir menghampiri Azmi bersama kedua temannya.
"Ya elah ,masih sakit ya Mi, maaf habisnya kamu lemah sih."Zakir.
Azmi yang sedari tadi berusaha untuk sabar sudah tidak tahan dan tidak bisa mengendalikan emosinya pada Zakir. Dengan tatapan tajam Azmi memegang kerah baju Zakir.
"Dari tadi aku udah tahan kesabaran aku tapi ,aku udah gk bisa sabar, mau kamu apa sih."Azmi emosinya menjadi-jadi.
Aban dan Rifki berusaha menghentikan Azmi begitu juga dengan Helmi dan Sihin
"Azmi sabar Mi,"Aban.
"Enggak Ban, aku gak bisa sabar orang kayak dia bakal terus ngelunjak."Azmi.
"Selow dong Mi,"Zakir ketakutan melihat wajah Azmi dan dahi Azmi yang mengeluarkan darah.
Semua santri yang lain hanya menonton kejadian itu .
Ustadz Ridwan melihat kejadian itu dan mempercepat langkahnya menghampiri Azmi yang hendak memukul wajah Zakir dan berusaha dihentikan oleh Aban dan Rifki.
"Azmi, tunggu!."ustadz Ridwan.
Seketika Azmi menoleh dan menghadap ke arah ustadz. Sedangkan, Zakir girang merasa tertolong atas kedatangan ustadz Ridwan.
"Ada apa ini? kalian malah berantem ingat ini pesantren dan kalian santri, yang lain bubar."ustadz Ridwan menyuruh santri lain bubar.
"Azmi, kamu kenapa? dahi kamu kok berdarah, sini ustadz lihat."ustadz Ridwan menolehkan kepala Azmi kepada dirinya.
"Astagfirullah, Kenapa bisa begini?." tanya ustadz Ridwan melepas pelan kepala Azmi yang ia pegang.
"Zakir ustadz, dia ngelempar bola basket keras banget padahal dahi Azmi memang sudah lebam."Aban.
"Zakir, lagi-lagi kamu buat masalah."ustadz Ridwan dengan nada sedikit tinggi
"Ma... Maaf ustadz saya ngelemparnya pelan kok Azminya aja lemah."Zakir.
"Bohong ustadz kalau pelan Azmi gk mungkin jatuh kepalanya Azmi juga kebentur ke tanah ustadz."Rifki.
"Zakir, Azmi kalian ikut ustadz."ustadz Ridwan.
Zakir dan Azmi saling bertatapan sinis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 240 Episodes
Comments
Supartini
gemes aku sama zakir
2021-04-16
0
ᴛɪᴅᴀᴋ ᴀᴅᴀ
Fighting Niken😉
2020-09-26
0
Ahmad
like
next
2020-09-25
0