Brondong Gila,Bulan

Brondong Gila,Bulan

Aluna

"Kak, kak Luna, pacaran yuk!" teriak seorang anak laki-laki berseragam merah putih, dengan ingus meler kehijauan dan ada bekas yang mengering di pipinya.

Matanya berbinar menatap Luna dengan memelas.

"Lo siapa sih? mana orang tua lo?" tanya Luna dengan tatapan jijik krena anak itu terus mengusap ingus yang seolah tak berhenti keluar dari lubang hidungnya.

"Jadi pacar aku yuk Kak!" Anak kecil itu mengapai ujung kemeja Aluna tapi dengan cepat Aluna menepisnya, Namun dengan cepat pula tangan kecil kotor itu kembali mencengkeram ujung kemejanya.

"Lo tuh siapa? Bocil gila ya, dateng-datang ngajak gue pacaran!" sentak Aluna tidak sabar, bukan dia bermaksud kasar tapi sedari tadi anak ini selalu mengikuti kemana Aluna berjalan, meski Aluna

sudah mengusirnya secara halus tetap saja dia mengekor dan mengatakan hal yang sama.

Demi Tuhan Aluna sangat frustasi dengan Bocah ingusan ini.

"Aku pacar kak Aluna, aku pacar kak Aluna!Aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!"

Aluna berlari menjauh, tapi bocil ingusan seperti magnet yang menempel.

"Pergi! lepasin baju gue!"

"Aku pacar kak Aluna, aku pacar kak Aluna!Aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!"

Aluna terus berlari dengan cepat sampai.

Brugh

Aluna tersandung dan terjatuh. Melihat itu, anak dengan ingus berwarna hijau yang belepotan itu menyeringai dan mendekatkan wajahnya ke wajah Aluna.

"Aku pacar kak Aluna, aku pacar kak Aluna!Aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!aku pacar kak Aluna!"

Tiba-tiba ribuan bocil datang dari segala penjuru mengerubungi Aluna dengan mengumamkan hal yang sama.

"Hua ...! diem, berisik!" Aluna menutup kedua telinga.

tok

tok

"Luna ... Luna ... kenapa kok teriak-teriak? Ada apa Lun? Luna?!"

Aluna terjingkat, matanya seketika terbuka, keringat dingin membasahi kening gadis berusia sembilan belas tahun itu. Nafasnya memburu seperti di kejar singa di padang sahara.

"Astaga untung cuma mimpi," gumam Aluna dengan tangan memegangi jantungnya yang berdegup sangat kencang gara-gara mimpi sialan itu.

"Luna ...Aluna...!"

"Aluna nggak apa-apa Bu, ada cicak aja tadi luna jadi kaget!" teriak Aluna yang masih belum bergerak sama sekali dari tempat tidur.

"Ya sudah, kamu udah mandi kan? udah siang lho, katanya ada kelas pagi."

"Iya!" sahut Aluna lagi.

"Sial gara-gara bocil sialan gue telat bangun, lagian bocil siapa sih itu. Hobi banget gangguin mimpi gue."

Gadis berpiyama warna pink pucat berbahan satin itu mengeliatkan tubuhnya,sedikit merenggangkan otot setelah tidur yang tidak begitu lama. Aluna harus begadang menyiapkan materi untuk simulasi sidangnya siang ini, dan sialnya tidur yang hanya beberapa jam itu malah diganggu bocah ingusan.

Dengan langkah yang masih sedikit gontai Aluna berjalan ke arah kamar mandi. Tidak butuh waktu lama untuk gadis bermayang panjang berwarna coklat terang itu untuk membersihkan dirinya. Setelah memakai blazer warna hitam dengan kemeja warna putih tulang, rok midi pendek, scarft warna biru tua yang dia ikatkan di kerah kemeja, dan heels yang tidak begitu tinggi menjadi pilihan Aluna. Gambut yang tadinya tergerai ia gelung rapi tapi tetap menyisakan helaian yang membingkai wajahnya.

Setelah semua siap Aluna pun turun dengan menenteng tasnya.

"Selamat pagi!" ucap Aluna sedikit keras.

"Pagi, cantik banget putri Ayah," puji Evan yang sudah duduk di meja makan sambil menikmati kopinya.

"Iya dong, kan bibitnya jug cantik. Iya kan Bu," sahut Aluna sambil menarik kursi untuk bergabung di meja makan.

Calista hanya mengangguk, ia sibuk mengoles selai di roti tawar untuk sarapan kedua anaknya.

"Luga mau yang coklat Bu," ujar Luga yang duduk di samping sang ayah.

"Iya, ini udah kok." Calista meletakan dua lembar roti yang sudah beroleskan selai coklat untuk putranya.

"Kok cuma Luga, Ayah juga mau," ujar Evan dengan nada manja.

"Dih Ayah, udah tua juga manja," sindir Luga sambil mengigit roti miliknya.

"Wajar ayah manja sama istri," Evan berkata sambil melirik tajam anak laki-lakinya yang sudah remaja itu.

"Ya kan tapi sekarang Ibunya, Luga. Jadi ya harus lebih manjain luga," sahut Luga dengan senyum tengilnya.

"Tidak bisa begitu, Ayah kenal lebih dulu dari pada kamu, kamu itu nggak ada apa-apanya kalau dibandingin sama ayah."

"Ayah itu harus ngalah sama anaknya..."

"Kenapa harus ngalah, Ayah kan belahan jiwanya Ibu, patner senang susahnya Ibu, kalau kamu mah apa," potong Evan dengan senyum mengejek.

"Luga tuh...

Calista mengerutkan kening, memijit pelipisnya dengan kuat.

"Udah-udah, Ibu pusing kalau kalian ribut kayak gini!" potong calista yang sudah jengah dengan pedebatan yang tidak berujung itu.

"Sekarang cepat habiskan sarapannya!"

"Iya Bu."

"Siap Sayang," jawab Evan dengan senyum menggoda, Calista hanya merespon dengan helaan nafas panjang. Bapak dua anak ini benar-benar tidak mau mengalah sedikitpun.

Luga dan Evan akhirnya diam dan menikmati sarapan mereka masing-masing dengan tenang. Dan sejak tadi Aluna malah sibuk dengan ponselnya sambil sesekali mengigit roti tawar berselai stoberi sama seperti sang Ibu.

"Luna, ponselnya di taruh dulu. Habiskan dulu rotinya," tegur Calista dengan lembut.

"Aluna," ulang Evan karena anak gadisnya itu tidak merespon saat Ibunya menegur.

"Emh iya, Maaf ayah." Aluna menghentikan sejenak jari yang sedari tadi terus bergerak mengulir materi di layar ponsel.

"Nanggung Bu, luna sambil hafalin materi soalnya," jawa Aluna tanpa mengalihkan pandangannya pada benda pipih dengan casing kucing itu.

Calista tidak mengatakan apa-apa lagi, dia sudah sangat hafal dengan sifat Aluna yang entah kenapa lebih mirip Papa Adrian daripada Evan. Aluna sangat perfecsionis dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Dengan cepat Aluna memasukan roti yang tersisa separuh ke mulut saat mendengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumah mereka.

"Luna, berangkat dulu ya." Aluna bangkit mencium pipi sang ayah dan ibunya secara bergantian dan saat giliran luga, Aluna memberikan sentilan kecil di kening adik tampannya itu.

"Makan mulu kayak kambing," goda Aluna.

"Emang kambing, kan Lo kakaknya kambing!" sahut Luga kesal.

"Aluna cepat berangkat gih, jangan godain adiknya terus," tegur Calista yang disambut gelak tawa oleh gadis itu.

"ALUNA REYNATA!" teriak Luga kakaknya dengan sengaja mengacak-acak rambut yang sudah ia tata rapi dengan pomade.

Aluna hanya tertawa sambil berlari keluar menghindari amukan Luga. Gadis itu segera menghampiri mobil berwarna merah yang terparkir di halamannya.

"Buset, lo apain si Luga sampe teriak-teriak begitu?" tanya seorang pria yang sepantaran dengan Aluna.

"Gue acak-acak rambutnya," jawab Aluna dengan tawa lebar.

"Tengil banget Lo jadi kakak," sahut seorang gadis dengan wajah yang hampir sama dengan pria yng sedang menyetir.

"Heheee .. lumayan buat naikin mood gue pagi ini."

"Serah Lo dah Lun."

William mulai menyalakan mesin mobil kesayangannya. Kuda besi beroda empat itu mulai melaju meninggalkan halaman keluarga Wijaya, membawa mereka ke Nolite university.

Sepanjang perjalanan Aluna memilih fokus untuk mempelajari materinya, sementara dua temannya yang notabenya kakak beradik itu juga sibuk dengan dunia mereka sendiri. Wiliam fokus memperhatikan jalanan Kota KertaKarta yang sibuk dan cukup macet di pagi hari, sementara Wilona melakukan hal yang sama dengan Aluna, sibuk dengan benda elekronik pipih mereka.

Tak butuh waktu lama andai jalan tidak begitu macet. Namun, mereka beruntung bisa sampai tepat sebelum kelas mereka dimulai. Wiliam memarkirkan mobilnya dengan sempurna sebelum mereka turun.

"Pulang nanti Lo nebeng lagi atau gimana?" Tanya Wiliam saat Aluna turun dari mobilnya.

"Liat ntar deh Will, gue nggak tau sidangnya kelar jam berapa nanti," sahut Aluna cepat.

"Oke, ntar hubungi gue. Jangan sampai lupa, kalau nggak mau gue tinggal."

Aluna hanya mengacungkan jempol sebelum berjalan cepat ke arah gedung FH. Begitu pula William dan Willona, mereka segera ke kelas mereka masing-masing.

Terpopuler

Comments

SusiVikers

SusiVikers

ya ampun Luna mimpi nya di kejar sama bocah ingusan /Facepalm//Facepalm/ untung aja ya cuma mimpi kalo nyata beuhh gmna ya reaksi Luna? kayaknya bakal lebih parah deh reaksinya dari yg di mimpi /Facepalm//Facepalm/
aish jahil amat sih lun sama luga, padahal dah bergaya tuh pake Pomade rambutnya ehh malah di acak² /Facepalm//Facepalm/

2025-02-25

5

Rysa

Rysa

lucu banget sih....bisa sawan si luna sama kata kata bocil ingus ijo yang ngaku ngaku pacar luna....
nih bocil siapa ya .....
sumpah deh w bayangin tuh muka bocil dengan ingus ijo yang di gosok gosok ke kiri kanan dan jadi bekerak /Facepalm//Facepalm/

2025-02-25

3

Ismi99

Ismi99

ya ampun aku kira beneran ternyata cuman mimpi mana di kejar" sama bocah ingusan di tembak pula🤣
kesemsem pengen ada yg nyatain cinta apa gimana Kun sampe kebawa mimpi segala eh yg masuk mimpi bocah kecil ingusan🤣🤣

2025-02-25

3

lihat semua
Episodes
1 Aluna
2 Kacau
3 Lha Pacar!!!!
4 Sial
5 Kakak cantikku
6 Berita Menffess
7 Traktir
8 Pandangan pertama
9 Memaksa
10 Tidak bergerak
11 Bantuan
12 Risau
13 Menjenguk
14 Demam?
15 Gatel?
16 Aluna
17 Aka
18 Peringatan
19 Tidak menyerah
20 Wira
21 Om Hail
22 keras kepala
23 Usaha Cakra part 1
24 Belum pantas
25 Aneh
26 Diluar nalar
27 Muak
28 Asupan buat ayang
29 sempit
30 Berebut restu
31 Sidang
32 Enggak bakal
33 Bercerita
34 Saran
35 "Iya aku mau."
36 Usul
37 Rasa yang sama
38 Jatah khusus
39 Sial
40 Si boxer merah
41 Body shamming!
42 Sakit
43 Takut
44 Berhenti Ka!
45 Perjaka ting-ting
46 Sadar
47 Hampir
48 Lagi?
49 Ayah ...
50 Drama!
51 Serius?
52 Cepat!
53 Pulang
54 Balon?
55 Adeen Cakra
56 Hilang
57 Hilang2
58 Pulang
59 Pagi
60 Om Bhanu
61 Menerima
62 Tumbuh bersama
63 Mama
64 Lapar
65 Bertahan
66 Ada lewat rasa
67 Bertemu
68 Nasi goreng
69 Kesenjangan sosial
70 Bukan soal mobil
71 Masih ada esok
72 Lembur pagi
73 Bersama
74 Ojek Tinta
75 Runyam
76 Chef
77 Lupa?
78 Baikan?
79 Berita
80 Mencari tahu
81 Eyang
82 Kosong
83 Melawan
84 Melawan2
85 Terungkap 1
86 Caos
87 Terungkap 2
88 Pulang
89 My Moon
90 Sejarah si botol beruang
91 Last
92 Promosi
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Aluna
2
Kacau
3
Lha Pacar!!!!
4
Sial
5
Kakak cantikku
6
Berita Menffess
7
Traktir
8
Pandangan pertama
9
Memaksa
10
Tidak bergerak
11
Bantuan
12
Risau
13
Menjenguk
14
Demam?
15
Gatel?
16
Aluna
17
Aka
18
Peringatan
19
Tidak menyerah
20
Wira
21
Om Hail
22
keras kepala
23
Usaha Cakra part 1
24
Belum pantas
25
Aneh
26
Diluar nalar
27
Muak
28
Asupan buat ayang
29
sempit
30
Berebut restu
31
Sidang
32
Enggak bakal
33
Bercerita
34
Saran
35
"Iya aku mau."
36
Usul
37
Rasa yang sama
38
Jatah khusus
39
Sial
40
Si boxer merah
41
Body shamming!
42
Sakit
43
Takut
44
Berhenti Ka!
45
Perjaka ting-ting
46
Sadar
47
Hampir
48
Lagi?
49
Ayah ...
50
Drama!
51
Serius?
52
Cepat!
53
Pulang
54
Balon?
55
Adeen Cakra
56
Hilang
57
Hilang2
58
Pulang
59
Pagi
60
Om Bhanu
61
Menerima
62
Tumbuh bersama
63
Mama
64
Lapar
65
Bertahan
66
Ada lewat rasa
67
Bertemu
68
Nasi goreng
69
Kesenjangan sosial
70
Bukan soal mobil
71
Masih ada esok
72
Lembur pagi
73
Bersama
74
Ojek Tinta
75
Runyam
76
Chef
77
Lupa?
78
Baikan?
79
Berita
80
Mencari tahu
81
Eyang
82
Kosong
83
Melawan
84
Melawan2
85
Terungkap 1
86
Caos
87
Terungkap 2
88
Pulang
89
My Moon
90
Sejarah si botol beruang
91
Last
92
Promosi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!