Bab 10 - Terpaksa Berbohong

"Ya, ada kenaikan. Tapi gak banyak, Bu."

"Jadi, gajimu yang sekarang berapa?"

"Nambah lima ratus ribu, Bu."

"Ah, masa gajimu cuma nambah lima ratus ribu sih Kar? Kan kantormu sekarang itu gede. Provider ternama di negeri ini masa kasih gaji karyawan segitu?" Bu Nanik merasa ragu dan tak percaya dengan ucapan Sekar. "Resti kerja di sana sudah dua tahun sejak kalian lulus kuliah, gak mungkin dia betah di sana kalau cuma gaji dua juta lima ratus ribu doang!" sambungnya.

"Setiap orang bekerja kan gak melulu karena cari gaji gede, Bu. Keluarga Resti kan orang berpunya. Dia pernah bilang ke Sekar kalau kerja cuma buat hiburan biar gak kelihatan nganggur di rumah yang cuma bengong saja. Jadi, ya Resti gak terlalu butuh gaji tinggi. Yang penting nyaman saat bekerja,"

Sekar terpaksa berbohong pada keluarganya perihal gajinya di PT. HALO. Bukan bermaksud membohongi kedua orang tuanya, tapi dirinya bertekad ingin menabung serta mewujudkan segala impiannya di masa depan dengan baik tanpa membebani orang tuanya di kemudian hari.

Jika perkara Resti, memang faktanya seperti itu karena sahabatnya tersebut yang mengatakan alasan bekerja pada Sekar. Resti kategori dari keluarga yang berpunya. Resti tak pernah memberi uang gajinya tiap bulan pada orang tua. Alhasil kerja hanya sekedar hiburan bukan mencari uang semata bagi Resti.

"Sekar masih masa percobaan, Bu. Nanti kalau lulus baru jadi karyawan kontrak. Doakan saja kenaikan gaji Sekar di kantor baru bisa cepat dan lancar,"

"Apa? Jadi kamu di situ belum karyawan tetap, Kar?"

"Belum, Bu."

"Gaji ketimbang naik cuma sedikit saja, eh ini malah turun level jadi karyawan kontrak. Mending di kantor lamamu gaji dua juta tapi karyawan tetap," ucap Bu Nanik.

"Tapi di sana kan sudah dua tahun ini gak ada kenaikan gaji, Bu. Kalau bertahan di sana terus, gimana ke depannya? Ujungnya Sekar gak maju-maju," jawab Sekar lirih.

"Cari kerja lain yang gajinya gede dan kamu jadi karyawan tetap. Kalau enggak, ya kamu daftar CPNS saja."

"Sekar kan udah sering coba CPNS tapi ya belum rezekinya di sana, Bu."

"Masa kamu daftar CPNS kalah sama Si Ucik sih, teman mainmu di kampung sini! Dia saja sekarang sudah jadi PNS di kota tetangga,"

Sekar memilih untuk diam dan tak menanggapi ucapan ibunya yang terakhir. Faktanya, teman Sekar yang bernama Ucik dan rumahnya masih satu RT itu memang diterima sebagai PNS hanya saja melalui jalur ordal bukan jalur langit.

Ibu kandung Ucik sendiri yang sempat mengatakan pada beberapa tetangga dekatnya dengan bangganya jika berhasil memasukkan anaknya lewat ordal. Sekar sudah tahu hal itu dari bibir Ucik sendiri.

Bukan rahasia umum lagi untuk hal seperti ini di sekitar kita. Ada uang dan punya koneksi, maka bisa diatur untuk berjalan sesuai keinginan kita.

"Sudah-sudah. Ibu pagi-pagi malah bahas gaji anak, eh terus melebar ke tetangga yang PNS. Rumput tetangga selalu hijau, Bu. Gak usah pedulikan tetangga mau ngapain. Yang penting kita syukuri saja apa yang ada di keluarga sendiri. Harusnya ibu doakan Sekar biar lancar kerjanya," tutur Pak Tresno.

"Ya, ibu penginnya Sekar itu kerja mapan Pak. Apa salahnya?"

"Gak salah, Bu. Cuma jangan menekan anak juga. Biarkan anak memilih jalan hidupnya sendiri. Yang penting halal dan pakai cara yang bersih biar berkah. Buat apa kaya dan jabatan mentereng kalau dari hasil yang gak halal. Apa ibu mau dikasih makan sama anak tapi uangnya gak halal?"

"Ya gak mau lah, Pak."

"Nah itu ibu paham. Bisa dosa nantinya," ucap Pak Tresno.

Setelah selesai membungkus bekalnya, Sekar berpamitan untuk berangkat kerja. Hari ini dirinya hanya membawa bekal mie goreng instan dan telur mata sapi.

Dikarenakan Sekar masih masa OJT, maka ia belum mendapatkan jatah makan siang dari kantornya. Jatah makan siang khusus diberikan pada karyawan kontrak dan tetap saja.

Pukul 07.00 WIB motor matic Sekar melaju dari rumahnya menuju gedung PT. HALO yang berada di tengah kota Surabaya. Operasional bagian Call center berada di lantai 12 yakni lantai paling atas sendiri di gedung tersebut. Sedangkan lantai paling bawah yakni gerai milik PT. HALO dan sebuah minimarket. Di bagian tengah khusus ruangan para petinggi, HRD, keuangan, serta back office.

Sekar masuk pukul delapan pagi. Ia sengaja berangkat lebih awal karena jarak tempuh dari rumah ke kantor barunya itu sekitar tiga puluh menit jika berkendara. Alasan lain karena Sekar juga ingin mempelajari beberapa hal di kantor untuk persiapan hari pertama bekerja. Datang lebih awal bukankah lebih baik daripada terlambat.

Jujur masih ada rasa gugup yang melanda dirinya. Walaupun ketika training yang lalu, ia sudah bertemu pelanggan melalui udara untuk beberapa menit dan berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti. Akan tetapi, ketika bekerja pasti atmosfer serta ritme akan beda dibandingkan sewaktu training.

☘️☘️

Saat ini Sekar sudah berada di jalan raya. Ia membawa motornya dengan kecepatan sedang. Tiba-tiba ada petugas berseragam coklat menghentikan laju motornya dan menyuruh Sekar untuk menepi.

Sekar pun menuruti perintah polisi lalu-lintas tersebut. Lalu, Sekar membuka kaca helmnya.

"Selamat pagi, Mbak. Anda baru saja melanggar rambu-rambu lalu lintas," ucap polisi tersebut dengan ramah namun terlihat tegas.

"Memangnya saya melanggar apa, Pak?"

"Lampu lalu lintas tadi merah dan Anda tetap lanjut jalan bukan berhenti," jawab si polisi yang berjenis kela_min laki-laki.

"Tadi saya lihat lampunya masih kuning bukan merah, Pak. Otomatis ya saya masih jalan lah. Perempatan ini kan jaraknya sangat lebar. Dari sana lampu masih kuning terus pas saya di tengah jalan belum sampai ke sisi seberang sini misal mendadak merah, apa saya harus berhenti di tengah perempatan?" cecar Sekar tak terima dituduh melanggar lalu-lintas.

"Ya bisa-bisa saya ketabrak dari arah lain yang lampunya baru menyala hijau dong, Pak. Gimana sih, Bapak?!" seru Sekar. "Ya mana saya tahu kalau di tengah jalan perempatan mendadak lampunya berubah dengan cepat dari kuning ke merah," sambungnya.

"Boleh tunjukkan SIM dan STNK motornya?" pinta sang polisi.

"Boleh, Pak." Sekar kemudian memberikan apa yang diminta oleh polisi tersebut.

"Ayo kita masuk ke pos polisi di sana. Kita duduk di dalam,"

"Loh mau apa, Pak? Kan saya gak salah loh," tolak Sekar.

"Lebih baik bicara sambil duduk di dalam pos," saran sang polisi.

"Saya buru-buru mau kerja nih, Pak."

"Ayo, saya tunggu. Daripada SIM dan STNK nya gak balik!" ancamnya.

Seketika...

Bersambung...

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

Sukhana Ana lestari

Sukhana Ana lestari

Knp bu.. masalah buat ibu..?? itu semua krn ibu..!! si bungsu ibu harus nya sedikit lebih malah di perlakukan tdk adil sm ibu... malah di rongrong terus.. mungkin ibu bilang bodoh krn Sekar lebih memilih jd krywn kontrak drpd krywn tetap.. semua krn uang.. supaya bisa menabung untuk ms depan.. apa bs menjamin ms depan Sekar anak bungsu ibu.. dia di jadikan sapi perah sm ibu & anak laki juga mantu ibu yg tersayang.. udah deh bu Nanik yg terhormat jngn kebanyakan drama.. SEBEL AING MAH SM IBU..!!😡😡

2025-02-24

1

Sukhana Ana lestari

Sukhana Ana lestari

Good Sekar akooh suka prinsip hidupmu nduk.. gpp sedikit gk jujur masalah gaji.. itu juga dimi mengikis sifat ibumu supaya gk se.mena² sm kamu.. akooh tau kamu anak baik baik.. walaupun di perlakukan tdk adil sm ibu & kaka juga iparmu.. biar bagaimanapun kamu harus memikirkan sama depanmu good idea sekar sedikit berbohong sm ibumu gk masalah.. ttp sehat & semangat agar semala masa percobaan kamu sukses & lancar sampe teken kontrak.. Aamiin 🤲🏻

2025-02-24

2

🎀⍣⃝ꉣꉣNurrul P.❀∂я

🎀⍣⃝ꉣꉣNurrul P.❀∂я

pak polisi lagi lapar, mau cari sarapan dulu ... 🤭😀😀

2025-02-24

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Sebuah Curhatan
2 Bab 2 - Depresi
3 Bab 3 - Panggilan Interview
4 Bab 4 - Tes Seleksi
5 Bab 5 - Diterima
6 Bab 6 - Training Kerja
7 Bab 7 - Generasi Sandwich
8 Bab 8 - Perkara Kue
9 Bab 9 - Agen Call Center
10 Bab 10 - Terpaksa Berbohong
11 Bab 11 - Antipati
12 Bab 12 - Hari Pertama Kerja
13 Bab 13 - Pelanggan Pertama
14 Bab 14 - Informasi Lomba
15 Bab 15 - Tandem
16 Bab 16 - Mulut Tetangga
17 Bab 17 - Ajakan ke Pesta Militer
18 Bab 18 - Tak Sengaja Bertemu Kembali
19 Bab 19 - Diam-Diam Mengintai
20 Bab 20 - Adab Lebih Tinggi dari Ilmu
21 Bab 21 - Sepatu Oh Sepatu
22 Bab 22 - Kabar Duka
23 Bab 23 - Menuai Hasil (Sekar)
24 Bab 24 - Sebuah Kehangatan di Pagi Hari
25 Bab 25 - Menuju Acara Kopdar (Kopi Darat)
26 Bab 26 - Terpojok
27 Bab 27 - Drama Per-Sepatuan
28 Bab 28 - Kondisi Angga
29 Bab 29 - Kakak vs Adik
30 Bab 30 - Boncengan Berdua
31 Bab 31 - Berbicara Empat Mata
32 Bab 32 - Pindah Dinas
33 Bab 33 - Kemarahan Sekar
34 Bab 34 - Menemui Mbak Angel (Team Leader)
35 Bab 35 - Reward Spesial
36 Bab 36 - Pergi ke Bali
37 Bab 37 - Bertemu Kembali
38 Bab 38 - Polgan (Polisi Ganteng)
39 Bab 39 - Sepatu Baru
40 Bab 40 - Hari Ulang Tahun
41 Bab 41 - Mantan Terindah (Cinta Pertama)
42 Bab 42 - Ingin CLBK
43 Bab 43 - Perlahan Menjauh
44 Bab 44 - Kembali ke Surabaya
45 Bab 45 - Asuransi Satu Miliar
46 Bab 46 - Sepucuk Surat
47 Bab 47 - Beli Emas
48 Bab 48 - Tak Menduga
49 Bab 49 - Mulai Terkuak
50 Bab 50 - Tipu Daya Menantu Kesayangan
51 Bab 51 - Pergi
52 Bab 52 - Jadi Anak Kosan
53 Bab 53 - Sebuah Nasehat Berujung Perdebatan
54 Bab 54 - Buka Blokir
55 Bab 55 - Amazing Love
56 Bab 56 - Rumah Yuni Setelah Renovasi
57 Bab 57 - Saldoku Semakin Menyala (Yuni)
58 Bab 58 - Utang Menumpuk
59 Bab 59 - Rumah Baru Sekar
60 Bab 60 - Menjadi Kandidat Terpilih
61 Bab 61 - Care (Peduli atau Empati)
62 Bab 62 - Gali Lubang Tutup Lubang (Utang)
63 Bab 63 - Lomba Best CS Segera Dimulai
64 Bab 64 - Hari Perlombaan
65 Bab 65 - Meminta Doa dari Orang Tua
66 Bab 66 - Motto Hidup (Sekar)
67 Bab 67 - Tiba-Tiba Muncul
68 Bab 68 - Kembali ke Hotel
69 Bab 69 - Perubahan Angga
70 Bab 70 - Seragam Cokelat vs Pohon Jambu Bersejarah
71 Bab 71 - Sebuah Wejangan
72 Bab 72 - Briefing Khusus
73 Bab 73 - Antara Sepatu, Cinta dan Panggilan Sayang
74 Bab 74 - Persiapan Puncak Lomba Best CS
75 Bab 75 - Pengumuman Pemenang Lomba Best CS
76 Bab 76 - Penyerahan Hadiah Lomba Best CS
77 Sekedar Coretan
78 Bab 77 - Pulang ke Surabaya
79 Bab 78 - Wall of Fame
80 Bab 79 - Si Enggak Famous
81 Bab 80 - Selalu Bisa Diandalkan
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Bab 1 - Sebuah Curhatan
2
Bab 2 - Depresi
3
Bab 3 - Panggilan Interview
4
Bab 4 - Tes Seleksi
5
Bab 5 - Diterima
6
Bab 6 - Training Kerja
7
Bab 7 - Generasi Sandwich
8
Bab 8 - Perkara Kue
9
Bab 9 - Agen Call Center
10
Bab 10 - Terpaksa Berbohong
11
Bab 11 - Antipati
12
Bab 12 - Hari Pertama Kerja
13
Bab 13 - Pelanggan Pertama
14
Bab 14 - Informasi Lomba
15
Bab 15 - Tandem
16
Bab 16 - Mulut Tetangga
17
Bab 17 - Ajakan ke Pesta Militer
18
Bab 18 - Tak Sengaja Bertemu Kembali
19
Bab 19 - Diam-Diam Mengintai
20
Bab 20 - Adab Lebih Tinggi dari Ilmu
21
Bab 21 - Sepatu Oh Sepatu
22
Bab 22 - Kabar Duka
23
Bab 23 - Menuai Hasil (Sekar)
24
Bab 24 - Sebuah Kehangatan di Pagi Hari
25
Bab 25 - Menuju Acara Kopdar (Kopi Darat)
26
Bab 26 - Terpojok
27
Bab 27 - Drama Per-Sepatuan
28
Bab 28 - Kondisi Angga
29
Bab 29 - Kakak vs Adik
30
Bab 30 - Boncengan Berdua
31
Bab 31 - Berbicara Empat Mata
32
Bab 32 - Pindah Dinas
33
Bab 33 - Kemarahan Sekar
34
Bab 34 - Menemui Mbak Angel (Team Leader)
35
Bab 35 - Reward Spesial
36
Bab 36 - Pergi ke Bali
37
Bab 37 - Bertemu Kembali
38
Bab 38 - Polgan (Polisi Ganteng)
39
Bab 39 - Sepatu Baru
40
Bab 40 - Hari Ulang Tahun
41
Bab 41 - Mantan Terindah (Cinta Pertama)
42
Bab 42 - Ingin CLBK
43
Bab 43 - Perlahan Menjauh
44
Bab 44 - Kembali ke Surabaya
45
Bab 45 - Asuransi Satu Miliar
46
Bab 46 - Sepucuk Surat
47
Bab 47 - Beli Emas
48
Bab 48 - Tak Menduga
49
Bab 49 - Mulai Terkuak
50
Bab 50 - Tipu Daya Menantu Kesayangan
51
Bab 51 - Pergi
52
Bab 52 - Jadi Anak Kosan
53
Bab 53 - Sebuah Nasehat Berujung Perdebatan
54
Bab 54 - Buka Blokir
55
Bab 55 - Amazing Love
56
Bab 56 - Rumah Yuni Setelah Renovasi
57
Bab 57 - Saldoku Semakin Menyala (Yuni)
58
Bab 58 - Utang Menumpuk
59
Bab 59 - Rumah Baru Sekar
60
Bab 60 - Menjadi Kandidat Terpilih
61
Bab 61 - Care (Peduli atau Empati)
62
Bab 62 - Gali Lubang Tutup Lubang (Utang)
63
Bab 63 - Lomba Best CS Segera Dimulai
64
Bab 64 - Hari Perlombaan
65
Bab 65 - Meminta Doa dari Orang Tua
66
Bab 66 - Motto Hidup (Sekar)
67
Bab 67 - Tiba-Tiba Muncul
68
Bab 68 - Kembali ke Hotel
69
Bab 69 - Perubahan Angga
70
Bab 70 - Seragam Cokelat vs Pohon Jambu Bersejarah
71
Bab 71 - Sebuah Wejangan
72
Bab 72 - Briefing Khusus
73
Bab 73 - Antara Sepatu, Cinta dan Panggilan Sayang
74
Bab 74 - Persiapan Puncak Lomba Best CS
75
Bab 75 - Pengumuman Pemenang Lomba Best CS
76
Bab 76 - Penyerahan Hadiah Lomba Best CS
77
Sekedar Coretan
78
Bab 77 - Pulang ke Surabaya
79
Bab 78 - Wall of Fame
80
Bab 79 - Si Enggak Famous
81
Bab 80 - Selalu Bisa Diandalkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!