Bab 18: Serangan Pemburu Vampir (2)

Chapter 42: Pertempuran Besar

Angin malam berhembus pelan, membawa aroma besi yang samar dari gudang tua di ujung kota. Bangunan reyot itu berdiri di tengah rerumputan liar yang tumbuh tak terkendali, seolah dunia sudah lama melupakannya.

Alena mendarat dengan ringan di depan pintu besi berkarat, matanya yang merah menyala berkilat tajam dalam gelap. Keheningan mencekam menyelimuti tempat itu, namun ia merasakan kehadiran musuh yang sudah menunggunya di dalam.

Tanpa ragu, ia melangkah masuk. Udara di dalam gudang terasa lembab dan berbau apek. Gelap dan sunyi.

Klik!

Tiba-tiba, sorot lampu terang menyala, mengusir kegelapan dalam sekejap.

Di tengah ruangan, sebuah meja kayu dipenuhi botol whisky dan gelas kaca. Dua pria duduk santai di sana, seolah sedang menikmati malam tanpa beban.

Simon, pria berambut pirang dengan sorot mata penuh ambisi, meletakkan gelasnya dengan santai. Lukas, pria bertubuh kekar dengan bekas luka panjang di wajahnya, menyeringai sambil menggoyangkan gelas whisky di tangannya.

"Akhirnya kau datang," ujar Simon dengan nada puas.

Alena menyilangkan tangan, tersenyum sinis.

"Tentu saja. Tapi kalian tampak terlalu santai untuk dua orang yang akan mati malam ini."

Lukas tertawa terbahak.

"Kau percaya diri sekali, vampir kecil. Kami justru sudah menyiapkan kejutan untukmu."

Simon menatapnya tajam.

"Kau datang sendirian. Di mana pria itu?"

Alena terkekeh kecil.

"Bukan urusanmu. Aku di sini bukan untuk mengobrol. Yang bersembunyi, keluarlah. Aku bisa merasakan bau ketakutan kalian dari tadi."

Tap. Tap. Tap.

Dari bayangan gelap, tiga pria bertubuh kekar melangkah maju, masing-masing menggenggam belati perak yang berkilat dalam cahaya lampu.

Simon berdiri, menepuk tangannya perlahan.

"Kau memang vampir sejati, instingmu luar biasa. Tapi insting tak akan menyelamatkanmu dari ini."

Simon dan Lukas mengangkat senapan mereka, larasnya diarahkan lurus ke dada Alena.

"Peluru perak," ujar Simon dengan senyum licik.

"Mari kita lihat seberapa hebat kau melawan ini."

Alena tetap tenang, meskipun tubuhnya dikepung dari segala arah. Matanya menyapu ruangan, menghitung kemungkinan bertahan.

"Lima lawan satu?" ujarnya dengan nada mengejek.

"Cukup memalukan untuk kalian, bukan?"

Lukas mendengus.

"Jangan banyak bicara. Katakan rahasia darah vampir murni sekarang."

Alena mendongak, menatap mereka penuh penghinaan.

"Dan jika aku menolak?"

Simon menyeringai.

"Kami akan membuatmu menyesal."

Lukas terkekeh.

"Atau lebih baik lagi, kami akan memburu manusia itu dan keluarganya."

Mata Alena berkilat dingin. Tangannya mengepal.

"Coba saja."

Simon mengangkat tangannya.

"Bunuh dia..!"

Tiga pria bersenjata belati menerjang.

Alena melompat mundur, lalu mengayunkan tangannya ke udara.

Srett!

Gelombang energi merah menyapu ruangan, menghantam ketiga pria itu dengan kekuatan brutal. Mereka terpental menghantam dinding, merintih kesakitan.

Dor! Dor!

Simon dan Lukas menembak.

Alena menghindar dengan kecepatan luar biasa, melayang di udara, lalu mengayunkan tangan. Drum besi di sudut gudang melayang deras menghantam Lukas.

Brakk!

Lukas terhuyung mundur.

Sementara itu, Alena berputar di udara lalu melesat cepat menghantam dada Simon dengan satu pukulan telak.

Dukk!

Tubuh Simon terlempar, darah menyembur dari mulutnya saat tubuhnya membentur dinding.

"Brengsek… serang dia!!" teriaknya.

Pria pertama menerjang, tapi Alena menyambutnya dengan tendangan ke perut.

"Guaaahh!!"

Tubuhnya terlempar, menghantam lantai dan tak lagi bergerak.

Pria kedua berusaha menyerang, tapi Alena mengangkat tangannya.

"Ghh.. aakhh..!!"

Tubuh pria itu terangkat ke udara oleh kekuatan tak terlihat. Dia menggapai-gapai, kakinya meronta, matanya membelalak ketakutan… lalu tubuhnya terkulai, nyawanya lenyap.

Tiba-tiba..

Srett!

Belati perak menggores punggung Alena.

"Aaaahhh!!"

Alena terhuyung, rasa terbakar menyebar dari luka di punggungnya.

Saat ia berbalik,

Doorr!

Sebuah peluru perak menghantam punggungnya.

Alena terjatuh ke lantai, darah menetes dari bibirnya.

Luka dipunggungnya memerah karena darah.

Simon dan Lukas berjalan mendekat, masih menggenggam senapan mereka.

"Butuh banyak usaha untuk menjatuhkanmu," kata Simon dengan napas berat. "Tapi ini sepadan."

Lukas menyeringai.

"Sekarang katakan, apa rahasia darah itu?"

Alena, meski kesakitan, justru tersenyum kecil. Ia merasakan sesuatu. Kehadiran yang sangat familiar.

Simon menyipitkan mata.

"Apa yang kau tertawakan?"

Sebelum Alena menjawab,

BRAK!!

Dinding gudang runtuh.

Dari balik reruntuhan, seorang pria berdiri dengan kepalan tangan yang masih mengepulkan debu dan mengeluarkan api.

Matanya dipenuhi amarah.

Alena yang melihat, tersenyum lega.

"Alberd.." lirihnya pelan.

Simon dan Lukas mengangkat senapan mereka.

Tapi sebelum mereka sempat menembak, Alberd melesat seperti kilat, menerjang mereka dengan kecepatan yang mustahil terlihat.

Brakk!!

Sebuah tendangan menghantam Lukas, membuatnya terpental menghantam dinding.

Setengah detik kemudian Alberd memukul Simon hingga membuatnya terseret di lantai.

Pria terakhir yang melukai Alena mencoba melarikan diri, dengan wajah ketakutan dan tubuh gemetar, tapi..

Clek.

Alberd menangkapnya. Satu tangan mencengkeram leher pria itu, mengangkat tubuhnya ke udara.

Pria itu meronta… sebelum akhirnya diam tak bernyawa.

Alberd bergegas ke Alena, merangkulnya dengan hati-hati.

"Alena…" suaranya bergetar. "Maaf… aku terlambat."

Alena mengangkat tangannya, menyentuh wajahnya.

"Tidak, Alberd… kau datang tepat waktu."

Air mata jatuh dari sudut mata Alberd.

Dengan kekuatannya dia mencoba memulihkan luka dipunggung Alena.

Tapi Simon dan Lukas, meski terluka, masih bisa berdiri.

"Kalian masih sempat bermesraan?" Lukas menyeringai penuh darah. "Sayang sekali, ini akan jadi momen terakhir kalian."

Mereka berjalan terhuyung lalu mengangkat senapannya.

Dor! Dor! Dor!

Alberd berdiri di depan Alena.

Cahaya emas meledak dari tubuhnya, membentuk barier pelindung. Semua peluru yang melesat berjatuhan ketika menyentuh barier itu.

"Alena… sekarang!" teriaknya

Alena mengangkat tangannya, mengerahkan seluruh kekuatan terakhirnya.

Sebuah ledakan energi merah melesat, menghantam Simon dan Lukas dengan kekuatan luar biasa.

Dinding gudang runtuh.

Simon mati seketika. Lukas terhuyung, memuntahkan darah, lalu melarikan diri.

Alena jatuh ke pelukan Alberd, pingsan.

Alberd menggendongnya erat, lalu melangkah pergi, meninggalkan neraka yang telah mereka hancurkan.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!