Bab Lima Belas

Mama Kartini terkejut melihat kedatangan putranya dan Haura. Air mata tak bisa dia bendung lagi. Namun, wanita paruh baya itu langsung menghapusnya, tak ingin ada yang melihat. Rasa haru, dia rasakan karena akhirnya sang putra mau kembali seperti dulu. Lima tahun dia mengurungkan diri sejak meninggalnya sang papa.

"Mama masak apa?" tanya Kaisar. Tangannya tanpa sadar masih terus melingkar di pinggang sang istri.

Mama Kartini yang melihat itu jadi tersenyum. Dia bersyukur karena bisa memaksa keduanya menikah.

"Masak dendeng balado, udang saos Padang. Sup Iga dan sambal terasi. Ada juga lalapan," jawab Mama Kartini dengan semangat. Bi Imah yang berdiri di samping Mama Kartini ikut tersenyum melihat Kaisar yang telah mau ke dapur.

"Semua makanan kesukaanku," jawab Kaisar.

"Iya, Nak. Mama memang sengaja masak semua ini untuk menyambut pengantin baru," balas Mama Kartini lagi.

"Aku bantu ya, Ma," ujar Haura.

"Kamu temani Kaisar aja. Mama dan Bi Imah aja yang masak."

"Om Kaisar bisa duduk di sini aja," balas Haura.

Dahi Mama Kartini berkerut mendengar ucapan sang menantu. Dia merasa ada yang janggal mendengar panggilan Haura pada sang suami.

"Kenapa masih panggil Om? Kaisar sekarang sudah menjadi suami kamu. Seharusnya panggil Abang, Mas atau Kakak," ujar Mama Kartini.

Haura memandangi wajah suaminya itu. Kaisar tersenyum menanggapi.

"Aku harus panggil Om apa?" tanya Haura.

"Terserah kamu ...!" jawab Kaisar masih dengan tersenyum.

"Mas aja ya ...?" tanya Haura lagi.

"Bolehlah ... Kalau mau panggil sayang juga tak apa, apa lagi kalau panggilnya ayang beb," ujar Kaisar sambil bercanda.

Haura lalu mencubit pinggang Kaisar, membuat pria itu terkejut karena geli sehingga langsung memeluk istrinya. Mama Kartini yang melihat itu jadi tersenyum.

Sejak meninggalnya sang papa, baru sekarang dia melihat Kaisar bisa tertawa lepas lagi. Kemarin, dia bukan hanya kehilangan suami, tapi juga putranya karena sejak kejadian itu, Kaisar tak pernah mau berkumpul.

Saat tersadar mereka dalam posisi berpelukan, Kaisar lalu melepaskan segera. Dia berjalan ke arah meja makan dan menarik kursinya untuk duduk.

"Katanya mau bantu Mama masak, ayo cepat. Aku sudah tak sabar mau melahap semuanya!" seru Kaisar.

"Iya, ini aku mau bantu. Mas duduk manis aja. Jangan banyak tanya dan jangan banyak bicara!" balas Haura.

Haura lalu mendekati Mama Kartini dan membantunya memasak. Seperti perintah istrinya, dia hanya diam memandangi kedua wanita itu memasak. Sedangkan Melli masuk ke kamar dan mengadu pada suaminya mengenai ancaman Kaisar.

**

Setelah semua makanan siap dimasak, Mama Kartini lalu menatanya di meja. Dia lalu meminta bibi memanggil putra sulungnya Yusuf dan istrinya Melli.

Ketika sedang makan, tiba-tiba Yusuf bicara sesuatu yang membuat keadaan Kaisar kembali drop. Abang angkatnya itu menyinggung mengenai kematian sang ayah.

"Makanannya enak-enak, Ma. Aku jadi teringat papa. Dia paling suka dendeng balado ini," ucap Merry memulai obrolan.

"Hhmmm ...," jawab Mama Kartini hanya dengan berdehem.

Kaisar yang sedang lahap makan sempat menghentikan suapannya dan memandangi kakak iparnya itu. William yang tak tahu maksud ibunya hanya untuk menyindir sang oom ikutan bicara.

"Opa kalau makan dengan lauk dendeng, bisa lupa segalanya. Nasi aja semangkok habis buat sendiri. Jadi kangen Opa," ujar William.

"Kalau makan jangan bicara. Nanti bisa tersedak!" seru Mama Kartini mulai mengingatkan.

"Maaf, Oma. Aku hanya cuma ingin mengingatkan kebersamaan kita. Aku masih belum percaya jika Opa secepat ini pergi meninggalkan kita," jawab William dengan nada sendu.

Mama Kartini tampak menarik napas. Sedangkan Kaisar mulai tampak gelisah. Melli dan Yusuf yang memandang ke arah adiknya tampak tersenyum.

"Ma, maklum saja kalau William masih terus mengingat opanya. Dia'kan cucu kesayangan Opa. Bagaimana bisa dia melupakan begitu saja kepergian Opa-nya yang begitu mendadak. Kalau saja hari itu Papa tak bertengkar dengan Kaisar, mungkin masih ada papa di samping kita," ujar Yusuf kembali memancing obrolan.

"Sudahlah, Yusuf. Bisa nggak kalau makan jangan bicara. Semua sudah menjadi takdir Tuhan. Kamu harus percaya dengan kehendak Allah!" seru Mama Kartini.

Tangan Kaisar mulai gemetar. Dia teringat dengan pertengkarannya siang itu. Ketika itu mereka memang habis makan siang. Haura yang tak tahu apa-apa menjadi heran melihat perubahan sikap suaminya yang tiba-tiba diam.

"Mas, kamu kenapa?" tanya Haura saat melihat keringat dingin membasahi tubuh suaminya.

"Aku yang membuat papa meninggal. Semua karena aku," ucap Kaisar pelan.

"Kenapa kamu bicara begitu, Mas?" tanya Haura lagi.

"Aku jahat, aku yang menyebabkan papa meninggal. Aku jahat ...," teriak Kaisar.

Kaisar lalu menghentikan makannya. Dia menarik rambutnya dengan keras karena kepala yang terasa sangat sakit.

"Aku yang menyebabkan papa meninggal," ucap Kaisar sambil terus menarik rambutnya.

Mama Kartini menghentikan suapannya dan langsung berdiri. Dia mendekati sang putra.

"Sayang, semua sudah takdir. Bukan kamu yang salah," ucap Mama Kartini.

Kaisar tak peduli dengan ucapannya mama Kartini. Dia terus menarik rambutnya. Tubuhnya tampak sangat gemetar.

Kaisar lalu berdiri dan terus saja menarik rambutnya dengan keras, seolah ingin mencabutnya. Dia lalu mendekati dinding dan ingin membentur kepalanya. Mama Kartini langsung memeluk putranya dan menangis.

"Sayang, bukan salahmu, Nak. Papa pergi karena memang sudah menjadi kehendak Allah," ucap Mama Kartini.

"Aku yang membuat papa meninggal," ucap Kaisar lagi. Dia terus mengatakan itu berulang kali.

"Haura, tolong ambilkan obat yang ada di dalam tas kecil yang selalu Kaisar bawa," ucap Mama Kartini.

"Baik, Ma," jawab Haura. Dia lalu berlari menuju kamar di lantai atas. Teringat tentang sang suami yang suka minum obat.

Sementara itu, Kaisar kembali mencoba ingin membentur kepalanya yang terasa sangat pusing.

"Yusuf, tolong bawa adikmu ke kamar!" perintah Mama Kartini.

Melli dan Yusuf tampak tersenyum. Dia lalu berdiri dan mendekati Kaisar. Menarik lengan Kaisar dan mengajaknya ke kamar. Mama Kartini lalu mengambil minum.

Dalam kamar Yusuf kembali mengingatkan Kaisar tentang kepergian papa mereka.

"Semua salahmu, Kaisar. Seandainya kamu tak bertengkar dengan papa, pasti beliau masih hidup!" seru Yusuf.

Kaisar langsung melepaskan pegangan tangan Yusuf di lengannya. Dia lalu berlari ke kamar mandi dan membentur kepalanya. Darah segar mengalir dari dahinya.

Mama dan Haura yang masuk ke kamar langsung histeris melihat keadaan Kaisar.

"Kaisar ...," teriak Mama Kartini dan segera memeluk putranya dengan erat.

Terpopuler

Comments

mbok Darmi

mbok Darmi

mama kartini udah salah mungut anak angkat yusuf ternyata racun berbisa mereka berdua suami istri kompak bgt pengen ngancurin kaisar dan merebut semua harta warisan nya yg bisa mengendalikan kaisar saat ini hanya Haura gasken haura buat kaisar nyaman dan terlindungi dgn adanya kamu semoga trauma kaisar bisa sembuh

2025-02-13

10

nonsk2711

nonsk2711

udh dh bongkar sj klo Yusuf tuh anak angkat yg gtau diri biar semua orang tau termasuk William aplg Haura atau Melli jg gtau ttg sapa Yusuf,mm Kartini salah ngambil anak angkat yg scr tdk lgsg menusuk dr blkg,klo keadaan Kaisar begitu trs kasian mm Kartini tdk ada yg melindungi plngn anak angkat itu memojokkan nya krn sllu membela n melindungi Kaisar.

2025-02-13

2

Ninik

Ninik

mama Kartini terlalu melindungi Yusuf usir aja sih dia cuma anak pungut yg tak tau diri dia sebenernya iri karna warisan jatuh ke tangan kaisar dia senang kalau kaisar depresi karna otomatis yg mengelola perusaan dia dan jg Wiliam kalau aku anak pungut kaya gitu dah tak lepas LG masa harus ngorbanin anak kandung demi anak pungut jadi esmosi diriku

2025-02-13

2

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Bab Satu
3 Bab Dua
4 Bab Tiga
5 Bab Empat
6 Bab Lima
7 Bab Enam
8 Bab Tujuh
9 Bab Delapan
10 Bab Sembilan
11 Bab Sepuluh
12 Bab Sebelas
13 Bab Dua Belas
14 Bab Tiga Belas
15 Bab Empat Belas
16 Bab Lima Belas
17 Bab Enam Belas
18 Bab Tujuh Belas
19 Bab Sembilan Belas
20 Bab Sembilan Belas
21 Bab Dua Puluh
22 Bab Dua Puluh Satu
23 Bab Dua Puluh Dua
24 Bab Dua Puluh Tiga
25 Bab Dua Puluh Empat
26 Bab Dua Puluh Lima
27 Bab Dua Puluh Enam
28 Bab Dua Puluh Tujuh
29 Bab Dua Puluh Delapan
30 Bab Dua Puluh Sembilan
31 Bab Tiga Puluh
32 Bab Tiga Puluh Satu
33 Bab Tiga Puluh Dua
34 Bab Tiga Puluh Tiga
35 Bab Tiga Puluh Empat
36 Bab Tiga Puluh Lima
37 Bab Tiga Puluh Enam
38 Bab Tiga Puluh Tujuh
39 Bab Tiga Puluh Delapan
40 Bab Tiga Puluh Sembilan
41 Bab Empat Puluh
42 Bab Empat Puluh Satu
43 Bab Empat Puluh Dua
44 Bab Empat Puluh Tiga
45 Bab Empat Puluh Empat
46 Bab Empat Puluh Lima
47 Pengantin Pengganti Tanpa Nasab
48 Bab Empat Puluh Enam
49 Bab Empat Puluh Tujuh
50 Bab Empat Puluh Delapan
51 Bab Empat Puluh Sembilan
52 Bab Lima Puluh
53 Bab Lima Puluh Satu
54 Bab Lima Puluh Dua
55 Bab Lima Puluh Tiga
56 Bab Lima Puluh Empat
57 Bab Lima Puluh Lima
58 Bab Lima Puluh Enam
59 Bab Lima Puluh Tujuh
60 Bab Lima Puluh Delapan
61 Bab Lima Puluh Sembilan
62 Promo Novel
Episodes

Updated 62 Episodes

1
Prolog
2
Bab Satu
3
Bab Dua
4
Bab Tiga
5
Bab Empat
6
Bab Lima
7
Bab Enam
8
Bab Tujuh
9
Bab Delapan
10
Bab Sembilan
11
Bab Sepuluh
12
Bab Sebelas
13
Bab Dua Belas
14
Bab Tiga Belas
15
Bab Empat Belas
16
Bab Lima Belas
17
Bab Enam Belas
18
Bab Tujuh Belas
19
Bab Sembilan Belas
20
Bab Sembilan Belas
21
Bab Dua Puluh
22
Bab Dua Puluh Satu
23
Bab Dua Puluh Dua
24
Bab Dua Puluh Tiga
25
Bab Dua Puluh Empat
26
Bab Dua Puluh Lima
27
Bab Dua Puluh Enam
28
Bab Dua Puluh Tujuh
29
Bab Dua Puluh Delapan
30
Bab Dua Puluh Sembilan
31
Bab Tiga Puluh
32
Bab Tiga Puluh Satu
33
Bab Tiga Puluh Dua
34
Bab Tiga Puluh Tiga
35
Bab Tiga Puluh Empat
36
Bab Tiga Puluh Lima
37
Bab Tiga Puluh Enam
38
Bab Tiga Puluh Tujuh
39
Bab Tiga Puluh Delapan
40
Bab Tiga Puluh Sembilan
41
Bab Empat Puluh
42
Bab Empat Puluh Satu
43
Bab Empat Puluh Dua
44
Bab Empat Puluh Tiga
45
Bab Empat Puluh Empat
46
Bab Empat Puluh Lima
47
Pengantin Pengganti Tanpa Nasab
48
Bab Empat Puluh Enam
49
Bab Empat Puluh Tujuh
50
Bab Empat Puluh Delapan
51
Bab Empat Puluh Sembilan
52
Bab Lima Puluh
53
Bab Lima Puluh Satu
54
Bab Lima Puluh Dua
55
Bab Lima Puluh Tiga
56
Bab Lima Puluh Empat
57
Bab Lima Puluh Lima
58
Bab Lima Puluh Enam
59
Bab Lima Puluh Tujuh
60
Bab Lima Puluh Delapan
61
Bab Lima Puluh Sembilan
62
Promo Novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!