Bab Empat

"Maaf, Oma. Aku mengaku salah. Aku khilaf. Aku tak bisa menahan godaan," jawab William dengan nada rendah, nyaris tak terdengar.

"Khilaf apa doyan ...?" tanya Oma Kartini dengan suara yang mulai meninggi.

Haura tersenyum simpul melihat William yang tampak seperti anak kecil yang dimarahi karena kedapatan mencuri. Dia tak berani menatap atau pun memandangi wajah Oma maupun Haura.

"Aku janji tak akan melakukannya lagi, Oma. Maafkan aku, Oma," ucap William dengan suara bergetar.

Tiba-tiba Oma menggebrak meja. Bukan hanya William yang terkejut, tapi Haura juga. Gadis itu tak menyangka jika Oma Kartini bisa marah hingga demikian. Dia pikir wanita paruh baya itu akan bersikap lemah lembut.

"Apa kau kira dengan meminta maaf semua akan selesai?" tanya Oma Kartini dengan suara yang makin meninggi.

William tampak memainkan jemari tangannya. Tubuhnya gemetar. Sepertinya pria itu memang takut dengan Oma Kartini.

"Oma, aku tau aku salah. Semua sudah terjadi. Tak akan bisa dikembalikan lagi. Aku janji akan berubah. Katakan apa yang harus aku lakukan, apa aku harus putuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan Kayla? Jika itu yang Oma inginkan, pasti aku lakukan segera!" ucap William dengan suara pelan.

"Sudah tau salah, bukannya minta maaf. Kamu itu bersalah dengan Haura, bukan Oma. Minta maaflah dengan Haura!" seru Oma Kartini.

Tanpa berkata apa pun, William lalu mendekati Haura. Dia lalu berlutut dihadapan gadis itu. Mencoba meraih tangannya, tapi ditepis.

"Haura, aku minta maaf atas khilaf dan salahku. Aku janji tak akan mengulangi lagi perbuatanku pada Kayla. Aku akan melupakannya. Beri aku satu kali lagi kesempatan. Akan kita mulai lagi semuanya dari awal," ucap William dengan suara sendu agar Oma dan Haura percaya.

Tapi di luar dugaannya, gadis itu tetap tak mau memaafkan. Dia dengan lantangnya menjawab, "Semua kesalahanmu mungkin bisa aku maafkan, tapi untuk kembali denganmu, aku tak akan pernah mau. Kita akan tetap mengakhiri hubungan ini!" seru Haura.

Oma tampak terkejut mendengar ucapan Haura. Dia tahu berapa lama mereka pacaran. Tiga tahun bukan waktu yang singkat, tak mungkin rasa cinta itu langsung pudar.

"Kenapa kamu tak bisa memaafkan William, Haura? Bukankah William sudah berjanji tak akan mengulangi lagi. Biar Oma yang akan mengawasinya!" seru Oma Kartini.

Oma Kartini mendekati tempat duduk Haura,, menatap gadis itu dengan mata yang penuh harapan. "Haura, Sayang!," Oma Kartini berkata, dengan suara yang lembut dan penuh dengan kasih sayang. "Oma ingin meminta kamu untuk menerima William kembali. Oma tahu dia telah menyakiti hatimu, tapi Oma juga tahu bahwa dia sangat mencintaimu. Sebentar lagi pernikahan kalian, apakah semua akan dibatalkan?" tanya Oma dengan suara lembut.

Haura menatap Oma Kartini dengan rasa iba. Sebenarnya dia tak ingin mengecewakan wanita itu. Namun, bertahan, bukanlah solusi, "Oma, aku tidak bisa menerima William kembali," Haura berkata, dengan suara yang terasa berat. "Aku tidak bisa melupakan apa yang dia telah lakukan padaku, Oma. Menikah itu seumur hidup, lebih baik aku batalkan sekarang dari pada nanti sakit hati!'

Oma Kartini mengangguk tanda setuju dengan ucapan gadis itu. "Aku mengerti, Haura," Oma Kartini berkata. "Tapi aku ingin tahu, apa alasanmu yang sebenarnya untuk tidak menerima William kembali. Apakah ada sesuatu yang lebih dalam yang membuat kamu tidak bisa menerima dia kembali?"

Haura menatap Oma Kartini dengan tatapan kasih, tapi kemudian dia mengambil napas dalam-dalam dan berkata, "Oma, William telah menghamili sahabatku. Aku tidak bisa menerima dia kembali karena aku tidak bisa memaafkan apa yang telah mereka lakukan padaku!'

Oma Kartini terlihat sangat terkejut dan marah. "Apa?" Oma Kartini berkata, dengan suara yang keras dan marah. "William, kamu telah melakukan apa?"

William yang sedang berdiri berlutut langsung berdiri, terlihat sangat takut dan malu. "Oma, aku ... aku minta maaf," William berkata, dengan suara yang terputus-putus.

Tapi Oma Kartini tidak mau mendengarkan. Dia berjalan menuju William dan menamparnya dengan keras. "Kamu telah menyakiti hati Haura." Oma Kartini berkata, dengan suara yang keras dan marah. "Kamu tidak layak untuk menerima cinta dan kasih sayang dari orang lain."

Haura menatap Oma Kartini dengan mata yang terlihat sangat terkejut. Dia tidak pernah melihat Oma Kartini marah seperti itu sebelumnya. Tapi dia juga merasa lega karena Oma Kartini telah membelanya.

"Oma, terima kasih," Haura berkata, dengan suara yang masih terlihat sedih. "Aku sangat menghargai perhatianmu, Oma."

Oma Kartini menatap Haura dengan mata yang masih terlihat marah, tapi kemudian dia mengangguk. "Oma akan selalu ada untuk kamu, Haura," Oma Kartini berkata. "Oma akan selalu membela kamu dan membuat kamu merasa nyaman. William akan menyesali ini. Membuang berlian demi batu kali!"

"Oma, aku tak harus menikahi Kayla. Aku akan bertanggung jawab dengan anaknya. Aku masih bisa menikahi Haura," ujar William.

Tanpa dia duga, Oma kembali melayangkan satu tamparan ke wajah William. Dia tak habis mengerti dengan jalan pikiran cucunya itu.

"Jika pun Haura masih mau memaafkan kamu dan menerima kamu, tapi Oma yang akan melarangnya. Dia pantas mendapatkan pria yang lebih darimu!"

"Oma, semua orang sudah tau tentang acara pernikahanku yang akan di adakan dua minggu lagi. Apakah Oma tak akan malu jika semua dibatalkan?" tanya William dengan suara pelan.

"Lebih malu jika orang tua kamu telah menghamili anak orang dan tak mau bertanggung jawab. Sebaiknya kamu nikahi Kayla secepatnya, jangan buat malu keluarga!' seru Oma Kartini.

"Bagaimana dengan Haura, Oma?" tanya William.

"Dia akan tetap menikah. Pesta di keluarga ini akan tetap dilaksanakan, tapi bukan untukmu. Kau dan Kayla hanya pesta seadanya. Aku tak mau ada orang yang tau tentang kehamilan wanita itu!" seru Oma Kartini dengan suara tegas.

Haura yang mendengar jawaban dari Oma Kartini, tentu saja menjadi heran. Jika pernikahannya dengan William dibatalkan, lalu dengan siapa dia menikah, tanya Haura dalam hatinya.

"Dengan siapa Haura menikah, Oma?" tanya William. Pertanyaannya mewakili isi hati Haura.

"Haura akan menikah dengan Kaisar," jawab Oma Kartini dengan pasti.

"Om Kaisar, si bujang lapuk dari hutan itu? Apa kamu mau, Haura?" tanya William.

Terpopuler

Comments

nonsk2711

nonsk2711

nm nya pengkhianat/selingkuh gada kt maaf,sxpun itu terjadi bkln di ulang lg n lg krn selingkuh itu ibarat penyakit gada obat nya,syukur Haura di tunjukkan kelakuan William sblm nikah cb klo sdh menikah sakit nya tiada tara,bujang lapuk ga mslh drpd km William bermasalah 😬

2025-02-07

2

faridah ida

faridah ida

diih enak banget kalo seperti itu ,menang banyak di kamu itu mah William ../Hammer//Hammer/

2025-02-07

3

Marsiyah Minardi

Marsiyah Minardi

Pengkhianat memang cocoknya dengan sampah murahan
Mending Dengan Kaisar, Haura
Selingkuh itu penyakit yang akan berulang
Amit amit

2025-02-07

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Bab Satu
3 Bab Dua
4 Bab Tiga
5 Bab Empat
6 Bab Lima
7 Bab Enam
8 Bab Tujuh
9 Bab Delapan
10 Bab Sembilan
11 Bab Sepuluh
12 Bab Sebelas
13 Bab Dua Belas
14 Bab Tiga Belas
15 Bab Empat Belas
16 Bab Lima Belas
17 Bab Enam Belas
18 Bab Tujuh Belas
19 Bab Sembilan Belas
20 Bab Sembilan Belas
21 Bab Dua Puluh
22 Bab Dua Puluh Satu
23 Bab Dua Puluh Dua
24 Bab Dua Puluh Tiga
25 Bab Dua Puluh Empat
26 Bab Dua Puluh Lima
27 Bab Dua Puluh Enam
28 Bab Dua Puluh Tujuh
29 Bab Dua Puluh Delapan
30 Bab Dua Puluh Sembilan
31 Bab Tiga Puluh
32 Bab Tiga Puluh Satu
33 Bab Tiga Puluh Dua
34 Bab Tiga Puluh Tiga
35 Bab Tiga Puluh Empat
36 Bab Tiga Puluh Lima
37 Bab Tiga Puluh Enam
38 Bab Tiga Puluh Tujuh
39 Bab Tiga Puluh Delapan
40 Bab Tiga Puluh Sembilan
41 Bab Empat Puluh
42 Bab Empat Puluh Satu
43 Bab Empat Puluh Dua
44 Bab Empat Puluh Tiga
45 Bab Empat Puluh Empat
46 Bab Empat Puluh Lima
47 Pengantin Pengganti Tanpa Nasab
48 Bab Empat Puluh Enam
49 Bab Empat Puluh Tujuh
50 Bab Empat Puluh Delapan
51 Bab Empat Puluh Sembilan
52 Bab Lima Puluh
53 Bab Lima Puluh Satu
54 Bab Lima Puluh Dua
55 Bab Lima Puluh Tiga
56 Bab Lima Puluh Empat
57 Bab Lima Puluh Lima
58 Bab Lima Puluh Enam
59 Bab Lima Puluh Tujuh
60 Bab Lima Puluh Delapan
61 Bab Lima Puluh Sembilan
62 Promo Novel
Episodes

Updated 62 Episodes

1
Prolog
2
Bab Satu
3
Bab Dua
4
Bab Tiga
5
Bab Empat
6
Bab Lima
7
Bab Enam
8
Bab Tujuh
9
Bab Delapan
10
Bab Sembilan
11
Bab Sepuluh
12
Bab Sebelas
13
Bab Dua Belas
14
Bab Tiga Belas
15
Bab Empat Belas
16
Bab Lima Belas
17
Bab Enam Belas
18
Bab Tujuh Belas
19
Bab Sembilan Belas
20
Bab Sembilan Belas
21
Bab Dua Puluh
22
Bab Dua Puluh Satu
23
Bab Dua Puluh Dua
24
Bab Dua Puluh Tiga
25
Bab Dua Puluh Empat
26
Bab Dua Puluh Lima
27
Bab Dua Puluh Enam
28
Bab Dua Puluh Tujuh
29
Bab Dua Puluh Delapan
30
Bab Dua Puluh Sembilan
31
Bab Tiga Puluh
32
Bab Tiga Puluh Satu
33
Bab Tiga Puluh Dua
34
Bab Tiga Puluh Tiga
35
Bab Tiga Puluh Empat
36
Bab Tiga Puluh Lima
37
Bab Tiga Puluh Enam
38
Bab Tiga Puluh Tujuh
39
Bab Tiga Puluh Delapan
40
Bab Tiga Puluh Sembilan
41
Bab Empat Puluh
42
Bab Empat Puluh Satu
43
Bab Empat Puluh Dua
44
Bab Empat Puluh Tiga
45
Bab Empat Puluh Empat
46
Bab Empat Puluh Lima
47
Pengantin Pengganti Tanpa Nasab
48
Bab Empat Puluh Enam
49
Bab Empat Puluh Tujuh
50
Bab Empat Puluh Delapan
51
Bab Empat Puluh Sembilan
52
Bab Lima Puluh
53
Bab Lima Puluh Satu
54
Bab Lima Puluh Dua
55
Bab Lima Puluh Tiga
56
Bab Lima Puluh Empat
57
Bab Lima Puluh Lima
58
Bab Lima Puluh Enam
59
Bab Lima Puluh Tujuh
60
Bab Lima Puluh Delapan
61
Bab Lima Puluh Sembilan
62
Promo Novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!