Satu bulan berlalu..
Shima dan Cello terlibat perang dingin selama hampir sebulan. Devan dan Santi sudah kuwalahan dengan sikap adiknya yang diluar prediksi mbah dukun. Padahal setiap hari, Shima menyiapkan semua keperluan Cello mulai dari makan, minum pakaian hingga membersihkan rumah.
Selama sebulan pula, Kim tak nampak batang hidungnya. Entah kemana ia perginya ? Pulang kah? Atau sibuk dengan kerjaan? Atau sungkan dengan Devan dan Santi yang berada di rumah Cello.? Entah.
Sudah dari semalam Shima tidak enak badan, ia hanya menangis. Saat ditanya Santi, Shima mengaku jika sedang merindukan Ibunya. Santi memaklumi keadaan Shima. Terakhir kali Shima meninggalkan ibunya, hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja.
Hueeek
Cello muntah lagi pagi ini dan ini sudah terjadi selama empat hari. Hampir setiap mencium bau makanan, ia selalu mual. Cello pasti uring-uringan jika Santi atau Shima sedang memasak.
Pagi itu di ruang makan.
"Cello mana Shima? " Santi bertanya.
"Masih dikamar mbak" Jawab Shima
Cello akhirnya mau sekamar dengan Shima, setelah Devan mengancam indekos akan di berikan pada Shima jika Cello tidak mau berubah. Walaupun sekamar tapi hubungan mereka tetap begitu-begitu saja. Tidak ada adegan ni_nu ni_nu seperti pasangan lain yang terjadi pada mereka.
"Cello masih muntah? " Devan pun menanyakan kabar Cello.
"Masih Kak, malah lebih parah dari semalam"
"Setelah ini biar ku antar ke dokter" Devan memutuskan.
Shima dan Santi mengangguk setuju.
Selesai sarapan, Devan mengantar Cello ke klinik terdekat. Shima tidak ikut karena membantu Santi berkemas, karena nanti sore, Santi dan Devan berencana akan pulang ke kampung.
Pukul 11 siang, mobil Devan terdengar memasuki halaman rumah. Shima segera membuka pintu, dan mendapati Cello lemas dan dipapah Devan.
"Mas Cello sakit apa kak.? " Tanya Shima pada Devan dengan raut wajah khawatir.
"Kata Dokter hanya kurang istirahat. Tolong ambilkan obatnya. Tertinggal di dashboard mobil."
"Iya Kak. "
Devan meletakkan Cello di ranjangnya. Cello meringkuk dan terbaring lemas. Dari semalam, Cello tidak makan atau minum sama sekali. Wajar saja jika ia bertambah lemas.
"Mas Cello makan dulu ya, habis itu minum obat"
Cello hanya diam.
Shima menghembuskan nafasnya seraya ke dapur untuk mengambilkan makanan untuk Cello.
"Lihatlah Cello, istrimu sangat peduli kepadamu. Rubah sikapmu, belajarlah menerima Shima. Banyak orang yang menginginkan istri seperti Shima" Devan menasehati Cello.
"Tapi bukan aku orangnya" Ucap Cello tanpa menatap Devan.
'Shimaaaaaa'
Tiba-tiba terdengar suara teriakan Santi dari dapur. Devan segera berlari menuju ke arah sumber teriakan. Devan mendapati Santi sedang menolong Shima yang sudah tergeletak tak sadarkan diri.
Shima dilarikan ke IGD. Dokter dengan sigap memeriksa Shima. Setelah hampir setengah jam, Dokter pun keluar dari ruang IGD.
"Bagaimana Shima Dok.? " Tanya Santi khawatir.
"Menurut analisa saya, saudari Shima kemungkinan besar sedang hamil. Itu hanya analisa saya. Untuk lebih jelasnya akan saya rujuk ke dokter obgyn" Dokter menjelaskan.
Santi dan Devan terkejut tapi juga merasa bahagia. Namun di sudut hati Santi yang sebelah kiri, Santi agak iri dengan Shima yang sudah diberi kepercayaan oleh Tuhan. Sedangkan ia dan Devan sudah berumah tangga hampir 6 tahun, tapi belum memiliki keturunan.
Shima sudah di rujuk ke dokter Obgyn. Dokter Obgyn yang dibantu suster, sigap memasang alat USG dan bersiap untuk memeriksa Shima. Dokter menggeser alat tersebut ke perut bawah samping kiri Shima.
"Aah selamat Bu, ini kantung janinnya sudah terlihat ya. Diperkirakan janin berusia 4 minggu. Semuanya bagus ya bu. Makan makanan yang sehat ya. Ibunya juga harus bahagia supaya dedeknya ikut bahagia. Nanti akan saya resepkan obat. " Dokter tersebut panjang lebar menjelaskan.
Jantung Shima bagai diremas kuat. Antara senang, sedih dan bercampur takut.
Setelah Shima dinyatakan boleh pulang, Santi dengan siaga menggandeng tangan Shima.
"Jalannya pelan-pelan saja Shima. Apa perlu di gendong mas Devan sampai ke mobil.?"
"Ee.. Eeh tidak usah mbak. Aku bisa jalan kok. Aku gak papa cuma agak lemes"
"Ya udah tapi hati-hati ya. Kamu pengen apa Shima? Kamu ngidam apa.? "
"Belum mbak, tapi nanti pulangnya boleh gak mampir ke resto sana? Aku pengen nasi goreng yang viral di Tik-tik Shima menunjuk sebrang jalan rumah sakit.
"Boleh, tapi kita take a way saja ya. Kasihan Cello, tadi juga belum sempat makan. " Ucap Santi dan mengelus rambut Shima.
"Iya mbak. Terima kasih ya mbak, mbak baik banget sama aku" Ucap Shima dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama" Santi tersenyum tulus.
Akhirnya mereka mampir ke 'Resto Pulang pasti Kenyang' yang viral di aplikasi Tik-tik. Devan dan Santi yang memesan ke dalam sedangkan Shima tetap di dalam mobil.
Dari kejauhan Shima melihat Kim dengan sigap melayani para tamu. Dengan celana hitam, kaos hitam, topi hitam dan apron putih, Kim tampak lebih cool dibandingkan saat bersama Shima dulu yang cengengesan dan pernah membuat Shima pingsan.
'Apa Mas Kim bekerja di sini? Pantas saja, tidak pernah datang ke rumah. Atau mas Kim juga sungkan saat tahu aku ini istrinya Mas Cello' Batin Shima.
Saat mengingat kehamilannya, Shima kembali merasa was-was dengan Cello. Melihat perangainya selama ini, yang tidak pernah baik pada Shima, mau kah Cello menerima bayinya?
Tak lama, Santi dan Devan berjalan menuju mobil mereka.
"Eeh.. Kok cepet mbak? " Shima terheran.
"Rejeki dedek bayi. Saat mas-mas yang itu lihat aku sama Mas Devan mesen, langsung di buatin dulu" Santi tersenyum dan menunjuk ke arah Kim.
"Kok bisa.? "
"Waktu di tanya mau pesan apa mbak? Mbak bilang nasi goreng seafood 4 take away karena adik saya lagi ngidam. Eehh malah di bikinin dulu. Terus lagi, waktu mau bayar, dia bilang gak usah, katanya buat adik mbak aja yang lagi ngidam" Ucap Santi cekikikan.
"Mbak inget sama mas-mas itu.? "
"Emang siapa.? "
"Dia kan Mas Kim. Yang dulu ikut ke kantor polisi"
"Oohh.. Pantes kaya pernah lihat. "
Mobil terus melaju dan akhirnya mereka sampai rumah.
Cello yang terbaring lemas di ruang tamu, makin mual saat mencium bau nasi goreng yang di bawa kakaknya. Cello memilih berbaring di sofa ruang tamu karena mual saat mencium bau AC di kamarnya.
"Bau apaan kak? Busuk banget sih baunya? " Cello merengek seperti anak kecil.
"Hidungmu kali Cell yang busuk. Shima lagi ngidam nasi goreng seafood, kamu mau nggak.? Devan menawari.
Santi dan Shima ke dapur untuk menyiapkan nasi goreng mereka. Sedangkan Devan dan Cello, memilih duduk di ruang tamu.
Mendengar kata ngidam membuat Cello makin pening. Kepalanya seolah berputar mengelilingi kompleks. Sangat pusing.
" Shima ngidam? " Cicit Cello.
"Iya. Beruntung kamu langsung dikasih keturunan. Gak kaya kakak, udah hampir 6 tahun tapi belum dikasih juga. " Devan menunduk.
Santi dan Devan sudah lama menantikan kehadiran buah hati tapi sampai saat ini, Tuhan belum menitipkan malaikat kecil untuk mereka.
"Shima hamil.? " Tanya Cello sekali lagi.
"Kupingmu apa bud*g sih Cell.? Tanya Devan geregetan.
" Emang Shima hamil anak siapa.? "
Shima yang mendengar ucapan Cello, shock hingga menjatuhkan nasi dan piring yang hendak di berikan kepada Cello.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments