DHIEN ~ Bab 19

......................

“Loo … loo, kok mati lampunya? Tadi sudah kau periksa belum minyak lampunya, Tia?” tanya Wahyuni di kegelapan malam berbintang tanpa bulan.

“Malas. Tia lagi tak enak hati, jadi enggan mengikuti skenario apalagi perintah!” Sosoknya memang tidak tampak, tetapi suaranya sudah menggambarkan kalau gadis nakal itu tengah mencebik.

“Astagfirullah, Nak! Macam mana nanti bila kau bersuami, Meutia? Apa Nya tak frustasi melihat tingkah mu ni?!” Nyak Zainab yang biasanya selalu sabar, kini mengelus dada.

“Semua ni gara-gara Abang! Bukannya diperbaiki, malah Samson hendak dijual! Macam mana Tia tak sedih cobak, Nyak.”

“Apa betul Abang hendak menjual motornya, Meutia? Tolong jangan terlalu keras kepadanya, Bang! Semenjak Wahyuni menikah dan tinggal jauh dari sini, hanya benda tu yang menemani Tia!” Amala berbisik begitu lirih.

Agam menghidupkan korek kayu, posisinya memunggungi lainnya, dan berhadapan dengan Nur Amala. ‘Masya Allah, sungguh cantik ciptaan-Mu ya Rabb.’

Mala yang terkejut otomatis menutup matanya, dia tidak menyadari sedang dipandangi, begitu mengerjap sudah kembali gelap lagi.

“Bang Agam sedang apa? Udah macam jaga lilin babi Ngepet saja! Kita gelap-gelapan, nya malah asik menghidupkan sebatang kayu korek api!” Meutia sudah bersiap berdiri, dia mau menghampiri abangnya.

Eheum.

Dhien berdehem, dia ngode Agam, beruntung mereka duduk pas di siku ruangan yang hanya ada dirinya, Amala, Dzikri dan kepala keluarga Siddiq.

“Duduk saja kau disana, Tia! Bergerak dirimu, bakalan terguling macam kapal terbalik barang-barang yang ada di atas tikar!” Dhien berseru cukup keras.

“Alhamdulillah!” Seru beberapa orang, kala Hasan membawa lampu petromak yang ada di dalam rumah Agam.

Kembali acara yang tertunda tadi dilanjutkan lagi, mereka menikmati menu lumayan mewah.

“Saya hanya menggertak saja, Nur! Agar Meutia lebih hati-hati dalam berkendara,” ucapnya lirih sekali, tentu saja Dhien dan Dzikri dapat mendengar.

“Modelan Meutia mana mempan digertak, Bang! Sedangkan kita takuti hantu saja langsung nya tantang. Apalagi cuma gertakan sambal, ya membal!” ucap Dhien, yang langsung disambut tawa lirih Mala serta Dzikri.

Dulu, saking nakalnya Meutia, mereka pernah mengurung gadis berumur 16 tahun itu di rumah tidak berpenghuni, dan mencoba menakuti. Bukannya takut, Meutia malah melempari orang yang menyamar jadi pocong, berakhir wajah salah satu anak buah Agam Siddiq memar-memar.

“Dhien … berikan padaku cepokak nya! Ini ikan terinya untuk kau saja!” Dzikri menyodorkan wadah makannya, meminta Dhien mengambil sambal teri cabai hijau yang sudah disisihkan di pinggir piring.

Dhien pun menurut, lalu memberikan sayur bulat berwarna hijau yang bagus untuk kesehatan mata itu kepada Dzikri. “Terima kasih.”

“Tumben kau ucap lembut? Biasanya selalu ngajak adu urat leher!” sindir Dzikri.

“Menyesal ku cakap manis, dasar Dzikri Paok!” Dhien menggerutu seraya memakan ikan teri.

‘Aku lebih suka kau bermulut pedas, daripada banyak diam dan berwajah muram. Kau tak pantas bersedih Dhien … kuharap kedepannya hanya ada binar bahagia di manik indah mata mu tu.’

“Mbak, pulang yuk! Ternyata Nyamuk nya lebih ganas, Autan pun tak mempan! Kulitku sudah bentol-bentol di keroyok mereka!” Nirma yang sedari tadi menggaruk lengan dan anggota badannya, tidak tahan lagi bila lebih lama disana.

“Kan … kan, apa kubilang! Pasti kau mengeluh seperti sudah-sudah!” cibir Meutia.

“Macam mana aku tak mengeluh, Tia! Tak nya kau tengok, kulit ku sudah macam terkena ulat bulu!” Nirma masih saja menggaruk bagian lehernya.

Amala pun mengalah, sebenarnya dia segan karena tidak membantu mencuci peralatan makan yang kotor.

“Sudah tak apa. Pulang lah! Kasihan juga dengan Mak Syam, kalau kalian tinggal terlalu lama!”

Nyak Zainab membungkus beberapa kue dan ada juga nasi berserta lauknya. “Ini bawa pulang! Kue nya bisa untuk sarapan besok pagi, kalau nasinya langsung dimakan malam ini ya, biar tak basi!”

“Terima kasih ya, Nyak!” ucap dua bersaudara itu secara bersamaan, mereka datang tanpa sang ibu yang sedang tidak enak badan.

Tidak lama kemudian Dhien pamit pulang dengan Mak Inong, dia juga dibekali bontot yang sama seperti Amala.

***

Pagi hari.

“Dhien, kau hendak pergi kemana?” Emak Inong bertanya seraya memperhatikan sang anak.

“Pergi ngarit rumput, Mak!” jawabnya sambil mengenakan sepatu boots berwarna hitam.

“Mengapa bawa tas besar? Biasanya kalau pergi cari rumput, kau hanya membawa arit, karung dan tas pinggang!”

Dhien menggendong tas ransel yang sudah usang, lalu memperhatikan ibunya. “Hari ini agak jauh nyari pakan Kambing dan Lembu nya, Mak! Jadi, butuh bawa bekal lebih! Doakan sukses anakmu ngarit nya ya, Emak!”

Walaupun masih dipenuhi oleh tanda tanya besar, Mak Inong tetap menerima uluran tangan putrinya yang mau salim.

‘Apa sebenarnya yang direncanakan oleh putri hamba, ya Rabb?’

.

.

Hari sudah mulai beranjak siang, Dhien keluar dari tempat persembunyiannya. Dia hendak menyebrang jalan, tetapi terhenti kala melihat mobil kijang hendak lewat.

Sang sopir membuka kaca jendela mobil, sangat sopan dia mengajukan pertanyaan. “Kak, boleh kami bertanya? Tau tak, dimana rumahnya Bapak Abdul Siddiq?”

“Siapa kau?” Dhien menatap tajam sosok pria berkaos pas badan, berkulit bersih dan berwajah rupawan.

“ Perkenalkan, nama saya Ikram Rasyid.” Ikram menangkupkan kedua tangannya. “Ini teman saya, Yudi.”

Dhien hanya memperhatikan sekilas, sama sekali tidak tertarik berkenalan. “Kau mencari tempat tinggal Bapak Abdul Siddiq, atau rumah keluarganya?”

Tanpa berpikir terlebih dahulu, Ikram langsung menjawab. “Hunian Bapak Abdul Siddiq, Kak.”

“Lurus saja, jangan belok-belok! Nanti setelah ketemu lahan bekas pembakaran, kira-kira dua ratus meter dari sana ... kalian akan melihat sepasang pohon beringin besar di sebelah kanan, disitulah tempat tinggal Bapak Abdul Siddiq.”

“Betulan lurus terus, Kak? Tak ada kelokan atau persimpangan nya kah?” Yudi bertanya, sedikit terpesona oleh sosok Dhien yang terlihat berbeda dari wanita kota.

“Terserah kalian saja! Mau belok pun jadi, palingan cuma terjun bebas ke sungai.”

“Oh, maaf … kami tak tahu. Terima kasih banyak atas informasinya ya, Kak!” Ikram dan Yudi kembali menangkupkan telapak tangan, lalu mulai melajukan mobilnya.

Dhien mengedikkan kedua bahunya, tanda tidak peduli. Dirinya kembali memasuki area perkebunan karet, terus berjalan sampai bertemu padang rumput tanah lapang luas, dimana banyak kawanan Lembu yang sedang makan.

“Kalian menukar ku dengan dua ekor Kambing jantan. Jadi, jangan salahkan diri ini membalas berkali-kali lipat!” Dhien tersenyum culas, melepaskan tas ranselnya dan membuka resleting, mengambil tali tambang.

"Ini baru permulaan, kedepannya akan banyak kejutan lagi! Ah … senangnya, mengapa tak dari dulu saja aku melakukan hal gila macam ni.” Dirinya sudah selesai menyimpul tali tambang, berjalan tenang mendekati Lembu incarannya.

.

.

Sementara di tempat lain.

“Ini lahan bekas pembakarannya, berarti tinggal sekitar dua ratus meter lagi ‘kan, Yud?” Ikram bertanya sambil memperhatikan tempat dimana Meutia terlempar dan guling-guling lalu mandi abu.

“Betul. Tapi, mengapa tak ada satupun rumah?” Yudi terlihat bingung.

“Ikram itu pohon beringin nya! Lantas, dimana rumah nya …?”

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Tika Karina

Tika Karina

apakah Dhien menunjukkan rumah peristirahatan terakhir Pak Abdul Shiddiq? 😅

Astaghfirullah itu yang kasih bintang satu.. maksudnya apa ya?

kakak semangat ya.. hanya bisa kasih kakak semangat 🥰😘

2025-02-14

23

Mommy'ySnowy 💕

Mommy'ySnowy 💕

s dhien ngsih unjuk rmh peristirahatn trakhir bpk abdul siddik,,y bner lah,,hunian alm kn emng d balik pohon beringin../Joyful//Joyful//Joyful//Facepalm/ entah s ikram gk tau klo bpknya tia udh alm...

2025-02-14

2

Mommy'ySnowy 💕

Mommy'ySnowy 💕

agam lg menikmati keindahan d suasana romantis ini,udhh jngan ganggu.../Chuckle/

2025-02-14

2

lihat semua
Episodes
1 DHIEN ~ Bab 01
2 DHIEN ~ Bab 02
3 DHIEN ~ Bab 03
4 DHIEN ~ Bab 04
5 DHIEN ~ Bab 05
6 DHIEN ~ Bab 06
7 DHIEN ~ Bab 07
8 DHIEN ~ Bab 08
9 DHIEN ~ Bab 09
10 DHIEN ~ Bab 10
11 DHIEN ~ Bab 11
12 DHIEN ~ Bab 12
13 DHIEN ~ Bab 13
14 DHIEN ~ Bab 14
15 DHIEN ~ Bab 15
16 DHIEN ~ Bab 16
17 DHIEN ~ Bab 17
18 DHIEN ~ Bab 18
19 DHIEN ~ Bab 19
20 DHIEN ~ Bab 20
21 DHIEN ~ Bab 21
22 DHIEN ~ Bab 22
23 DHIEN ~ Bab 23
24 DHIEN ~ Bab 24
25 DHIEN ~ Bab 25
26 DHIEN ~ Bab 26
27 DHIEN ~ Bab 27
28 DHIEN ~ Bab 28
29 DHIEN ~ Bab 29
30 DHIEN ~ Bab 30
31 DHIEN ~ Bab 31
32 DHIEN ~ Bab 32
33 DHIEN ~ Bab 33
34 DHIEN ~ Bab 34
35 DHIEN ~ Bab 35
36 DHIEN ~ Bab 36
37 DHIEN ~ Bab 37
38 DHIEN ~ Bab 38
39 DHIEN ~ Bab 39
40 DHIEN ~ Bab 40
41 DHIEN ~ Bab 41
42 DHIEN ~ Bab 42
43 DHIEN ~ Bab 43
44 DHIEN ~ 44
45 DHIEN ~ Bab 45
46 DHIEN ~ Bab 46
47 DHIEN ~ Bab 47
48 DHIEN ~ Bab 48
49 DHIEN ~ Bab 49
50 DHIEN ~ Bab 50
51 DHIEN ~ Bab 51
52 DHIEN ~ Bab 52
53 DHIEN ~ Bab 53
54 DHIEN ~ Bab 54
55 DHIEN ~ Bab 55
56 DHIEN ~ Bab 56
57 DHIEN ~ Bab 57
58 DHIEN ~ Bab 58
59 DHIEN ~ Bab 59
60 DHIEN ~ Bab 60
61 DHIEN ~ Bab 61
62 DHIEN ~ Bab 62
63 DHIEN ~ Bab 63
64 DHIEN ~ Bab 64
65 DHIEN ~ Bab 65
66 DHIEN ~ Bab 66
67 DHIEN ~ Bab 67
68 DHIEN ~ Bab 68
69 DHIEN ~ Bab 69
70 DHIEN ~ Bab 70.
71 DHIEN ~ Bab 71
72 DHIEN ~ Bab 72
73 DHIEN ~ Bab 73
74 DHIEN ~ Bab 74
75 DHIEN ~ Bab 75
76 DHIEN ~ Bab 76
77 DHIEN ~ Bab 77
78 DHIEN ~ Bab 78
79 DHIEN ~ Bab 79
80 DHIEN ~ Bab 80
81 DHIEN ~ Bab 81
82 DHIEN ~ Bab 82
83 DHIEN ~ Bab 83
84 DHIEN ~ Bab 84
85 DHIEN ~ Bab 85
86 DHIEN ~ Bab 86
87 DHIEN ~ Bab 87
88 DHIEN ~ Bab 88
89 DHIEN ~ Bab 89
90 DHIEN ~ Bab 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
DHIEN ~ Bab 01
2
DHIEN ~ Bab 02
3
DHIEN ~ Bab 03
4
DHIEN ~ Bab 04
5
DHIEN ~ Bab 05
6
DHIEN ~ Bab 06
7
DHIEN ~ Bab 07
8
DHIEN ~ Bab 08
9
DHIEN ~ Bab 09
10
DHIEN ~ Bab 10
11
DHIEN ~ Bab 11
12
DHIEN ~ Bab 12
13
DHIEN ~ Bab 13
14
DHIEN ~ Bab 14
15
DHIEN ~ Bab 15
16
DHIEN ~ Bab 16
17
DHIEN ~ Bab 17
18
DHIEN ~ Bab 18
19
DHIEN ~ Bab 19
20
DHIEN ~ Bab 20
21
DHIEN ~ Bab 21
22
DHIEN ~ Bab 22
23
DHIEN ~ Bab 23
24
DHIEN ~ Bab 24
25
DHIEN ~ Bab 25
26
DHIEN ~ Bab 26
27
DHIEN ~ Bab 27
28
DHIEN ~ Bab 28
29
DHIEN ~ Bab 29
30
DHIEN ~ Bab 30
31
DHIEN ~ Bab 31
32
DHIEN ~ Bab 32
33
DHIEN ~ Bab 33
34
DHIEN ~ Bab 34
35
DHIEN ~ Bab 35
36
DHIEN ~ Bab 36
37
DHIEN ~ Bab 37
38
DHIEN ~ Bab 38
39
DHIEN ~ Bab 39
40
DHIEN ~ Bab 40
41
DHIEN ~ Bab 41
42
DHIEN ~ Bab 42
43
DHIEN ~ Bab 43
44
DHIEN ~ 44
45
DHIEN ~ Bab 45
46
DHIEN ~ Bab 46
47
DHIEN ~ Bab 47
48
DHIEN ~ Bab 48
49
DHIEN ~ Bab 49
50
DHIEN ~ Bab 50
51
DHIEN ~ Bab 51
52
DHIEN ~ Bab 52
53
DHIEN ~ Bab 53
54
DHIEN ~ Bab 54
55
DHIEN ~ Bab 55
56
DHIEN ~ Bab 56
57
DHIEN ~ Bab 57
58
DHIEN ~ Bab 58
59
DHIEN ~ Bab 59
60
DHIEN ~ Bab 60
61
DHIEN ~ Bab 61
62
DHIEN ~ Bab 62
63
DHIEN ~ Bab 63
64
DHIEN ~ Bab 64
65
DHIEN ~ Bab 65
66
DHIEN ~ Bab 66
67
DHIEN ~ Bab 67
68
DHIEN ~ Bab 68
69
DHIEN ~ Bab 69
70
DHIEN ~ Bab 70.
71
DHIEN ~ Bab 71
72
DHIEN ~ Bab 72
73
DHIEN ~ Bab 73
74
DHIEN ~ Bab 74
75
DHIEN ~ Bab 75
76
DHIEN ~ Bab 76
77
DHIEN ~ Bab 77
78
DHIEN ~ Bab 78
79
DHIEN ~ Bab 79
80
DHIEN ~ Bab 80
81
DHIEN ~ Bab 81
82
DHIEN ~ Bab 82
83
DHIEN ~ Bab 83
84
DHIEN ~ Bab 84
85
DHIEN ~ Bab 85
86
DHIEN ~ Bab 86
87
DHIEN ~ Bab 87
88
DHIEN ~ Bab 88
89
DHIEN ~ Bab 89
90
DHIEN ~ Bab 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!