DHIEN ~ Bab 17

Hanya karena perkara Burung Dzikri, lantas kau membenci, dasar Bodoh.

....................

Winda mundur teratur, jelas dirinya takut, Dhien bukan lawannya bila adu jotos.

“Memalukan! Gaya menantang, tapi baru didekati langsung menciut nyalimu! Terkadang aku suka heran dengan kau, Win! Berpendidikan, bahkan calon perawat … tapi, mengapa bisa iri dengki dengan aku si Wanita Pembawa Sial ni?”

“Atau jangan-jangan selama ini kau hanya pura-pura bahagia? Bergaya bak wanita kota demi menutupi rasa tak percaya diri, ayo jawab, Win! Jangan pandainya cuma memutar balikkan fakta, serta merengek macam anak Kambing tak disusui induknya!” Dhien tetap maju, sedikitpun tidak gentar.

Tubuh Winda bergetar halus, dadanya kembang kempis, antara takut serta emosi menjadi satu.

“Karena kau! Laki-laki yang kucintai enggan menatap diri ni! Nya hanya memandangmu saja, sedikitpun tak peduli padaku! Padahal kau hanyalah butiran debu!”

Dhien berhenti, matanya menyipit, lalu tertawa sumbang. “Oh … ternyata macam tu! Hanya karena Burung si Dzikri, kau lantas membenci. Dasar Bodoh! Kalau suka ya usaha! Bukannya malah menyalahkan orang lain, bila perlu pergi ke dukun sana!”

Senyum Dhien semakin lebar kala melihat raut masam wajah Winda. “Ternyata awak lebih hebat daripada dukun ya, Win. Tanpa melakukan apapun, sudah berhasil membuat laki-laki idaman mu takluk. Apa jadinya bila nanti ku ladeni perasaannya, ku terima cintanya, bisa-bisa rumah sakit jiwa ketambahan satu pasien gila!”

Jari telunjuk Winda bergetar menuding wajah Dhien. “Jangan berani kau mendekati si Dzikri! Nya hanya milikku seorang! Lagipula mana lah mau laki-laki berpendidikan serta mapan macam nya tu, menikahi wanita seperti kau ni! Janda terhina, satu hari nikah sudah dicerai. Setelah dikawini langsung ditinggalkan!”

“Oh … ya?” Dhien menaikkan sebelah alisnya. “Semakin kau ketakutan, semakin ku tertantang!”

“Dhien sini kau!” Nek Blet meneriaki cucu tidak dianggapnya, sekaligus menghentikan perdebatan di bawah pohon kelapa.

Dhien mengambil lagi plastik berisi buku nikah serta baju nya, berjalan tenang mendekati sosok Nek Blet, Zulham, Ayie, Indri dan Idris.

‘Niat betul para Hama ni hendak mengeroyok ku.’

“Tak perlu teriak-teriak macam Kerbau hendak disembelih, Nek! Berbicara lembut pun aku tetap mendengar suara cempreng mu tu!”

“Inong! Kau tengok hasil didikan mu ni! Kurang ajar, tak punya sopan santun! Datang bukannya salam malah mengatai ku!” Nek Blet menatap nyalang sosok Emak Inong, yang duduk tenang di bangku bawah pohon asam Jawa.

Dhien yang memang seharian ini sudah banyak mengalami kejadian menjijikan sampai nyaris celaka, tentu saja hatinya tidak baik-baik saja, serta emosinya sudah di ubun-ubun kepala.

“Bila diriku tak punya adab, lalu apa nak Nenek cakap tentang anak durhaka terhadap ibunya sendiri! Tak mau mengakui, enggan menghormati, sampai berani nya mencaci maki sosok yang telah melahirkan dirinya ke dunia ni! Coba kasih paham, sebutan apa yang pantas untuk Zulham?”

Zulham tertohok, tetapi hanya di permukaan saja. Sedangkan yang lainnya terdiam tanpa mampu menjawab apalagi membantah.

“Mengapa membawa-bawa namaku? Disini kau lah yang berulah, membuat malu, bisanya cuma memberikan aib bagi keluarga Ayah!” Zulham tidak terima, dia menatap sinis adik kandungnya.

“Keluarga? Tak salah cakap kah kau, Zulham? Kalian tu lebih pantas disebut Jahanam daripada saudara! Bisanya hanya menyakiti, mengancam serta memanfaatkan ku saja!” Dhien melirik sinis satu persatu anggota keluarga bapaknya.

“Astaga! Kau sudah tak tertolong lagi, Dhien! Mulutmu busuk, penuh kata-kata tak beradab, kelakuan mu pun sama jeleknya! Ayahmu pasti menangis di alam sana, melihat putrinya tak bermoral, tega menyakiti neneknya sendiri yang tak lain ibu dari Ayah mu, Dhien!” Ayie bersuara lantang.

“Trik mu tu tak lagi mempan, Bik! Bila dulu kau menyerang mental ku dengan menakuti serta mematahkan semangat diri ini, maka sekarang kukatakan dengan lantang ‘PERCUMA’!”

“Ayah adalah sosok bijaksana, hanya saja dia terlahir dari rahim yang salah dan hidup dalam naungan atap keluarga Durjana! Pasti nya menderita melihat kalian mendzalimi istri serta anaknya!”

Dhien mundur satu langkah, terlebih dahulu memandang hangat sang ibu, lalu menatap sinis para orang pemberi luka

"Bila suatu hari nanti sukses telah tergenggam, orang pertama yang akan ku tendang adalah kalian! Sampai Tersungkur, Terjungkal dan bahkan Terguling-guling pun tak kan pernah ku merasa kasihan! CAMKAN TU!!”

“Tak usah banyak cakap kau, Dhien! Mimpimu terlalu tinggi, padahal hanya anak desa tak berpendidikan, mana Pembawa Sial lagi!” Idris yang sedari tadi diam, ikut bersuara.

“Laki-laki modal Kuntul mana paham! Tahu nya cuma mengekor binik dan keluarganya agar tak ditendang! Harusnya Paman ganti nama menjadi Indris!” Dhien mencibir habis, membuat wajah Idris memerah.

Nek Blet yang sudah sangat emosi menjadi berteriak, andai ini dirumahnya, sudah pasti dia akan menggunakan kekerasan. “Dhien! Kembalikan surat pembelian tanah dan rumah ni!”

Belum sempat Dhien menanggapi sudah disela suara lantang seorang wanita.

“Rumah ini sudah saya beli!” Wahyuni tidak datang seorang diri, disebelahnya berdiri sang suami, Hasan.

Keterkejutan itu menyergap semua orang, tidak terkecuali!

Dhien sendiri mengernyitkan kening. 'Mengapa bukan Pakcik ataupun Makcik, orang suruhan bang Agam?'

***

Sebelumnya.

“Dhien sekarang bukan lagi seorang gadis, sebelumnya sudah bersuami dan baru saja bercerai. Status nya tu begitu rawan mengundang para manusia bermulut tajam! Kalau kita tak hati-hati, akan bertambah banyak orang yang mencaci maki nya!” Agam menatap Dzikri, Wahyuni dan juga Hasan.

“Yang paling pas menolong nya saat ni hanya kau, Yun! selain kalian bersahabat, statusmu sebagai menantu Pak camat juga patut diperhitungkan! Apalagi ada Hasan, maka tak akan berani mereka menghardik apalagi mencoba melawan!” sambungnya lagi.

Dzikri yang semula keukeuh ingin maju membela serta menolong Dhien, seketika terduduk kembali pada sofa ruang tamu rumah Agam Siddiq.

Kini dirinya menyadari mengapa sosok Agam Siddiq begitu disegani, laki-laki panutannya ini selalu hati-hati dalam bersikap serta bertindak, pintar membaca situasi, dan sabar menanti waktu yang tepat.

.

.

Di sinilah Wahyuni sekarang, berhadapan dengan para orang tamak.

“Mana buktinya bila kalian lah yang membeli rumah ni?” tanya Nek Blet dengan nada tidak sekeras tadi.

Emak Inong berdiri, mendekati ibu mertuanya serta lainnya.

“Ini kwitansi bermaterai sah yang ada cap jempol Emak Inong, serta surat pembeliannya sedang kami proses balik nama agar bersertifikat resmi, bukan lagi AJB (Akta Jual Beli).” Hasan mengeluarkan secarik kertas.

Gigi Nek Blet bergemeletuk, napasnya menjadi pendek-pendek, matanya menatap nyalang wajah Emak Inong. “Kau licik betul, Inong!”

“Saya belajar dari, Ibuk. Puluhan tahun diperlakukan semena-mena, memilih tetap diam bukan berarti akan terus tutup mulut, tapi hanya menunggu waktu yang tepat saja! Rumah ini memang hak Dhien, sudah sepatutnya diberikan kepadanya, tapi_”

“Ibuk dan lainnya begitu serakah, masih juga ingin menguasai harta tak seberapa. Daripada jadi rebutan, bukankah lebih baik dijual saja? Uangnya bisa buat membiayai cita-cita Dhien yang ingin jadi dukun manten!”

Emak Inong meremas tangan putrinya, mencari kekuatan dibalik sikap tenangnya. Ini kali kedua dirinya membangkang, setelah sebelumnya selalu mengalah.

“Semuanya sudah jelas. Kamilah pemilik tanah beserta bangunan rumah ni! Kalau kalian tetap tak terima, silahkan bila ingin melapor ke pihak berwajib!” Hasan berkata tegas tidak terbantahkan.

Nek Blet menarik kasar lengan Emak Inong sampai terlepas dari genggaman Dhien, lalu secepat mungkin dirinya hendak melayangkan satu tamparan keras

PLAK.

PLAK.

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Whatea Sala

Whatea Sala

Begini lah cara nya manusia bersikap,jangan hanya diam dan menangis saat harga diri di injak injak,saya bosan baca cerita yang menggambarkan kelemahan seseorang,yang seharusnya melawan saat orang lain memperlakukan kita tidak sepantasnya.dalam cerita ini banyak sekali Rasa..yaitu bahagia..lucu..dan bangga saat karakter Dhien bisa melawan..bisa melindungi ibunya, tanpa pandang bulu dan siapapun itu tetap di lawan, ya tentunya untuk menjaga dirinya agar tetap waras.

2025-02-14

7

Tika Karina

Tika Karina

Masya Allah ada Abang Agam🥰 selalu kagum sama Abang Agam... 🥰

sepertinya yang ditampar itu Nek Blet ya kak? memang pantes ditampar itu mulut nya.. Astaghfirullah 😄 walaupun orang tua tapi kalo begitu kelakuannya tak pantas dihormati..

2025-02-14

1

Triana Mustafa

Triana Mustafa

Dhien menjadi tameng buat Mak Inong ...g mungkin kalau Dhien menampar tua Bangka...berabe

2025-02-14

1

lihat semua
Episodes
1 DHIEN ~ Bab 01
2 DHIEN ~ Bab 02
3 DHIEN ~ Bab 03
4 DHIEN ~ Bab 04
5 DHIEN ~ Bab 05
6 DHIEN ~ Bab 06
7 DHIEN ~ Bab 07
8 DHIEN ~ Bab 08
9 DHIEN ~ Bab 09
10 DHIEN ~ Bab 10
11 DHIEN ~ Bab 11
12 DHIEN ~ Bab 12
13 DHIEN ~ Bab 13
14 DHIEN ~ Bab 14
15 DHIEN ~ Bab 15
16 DHIEN ~ Bab 16
17 DHIEN ~ Bab 17
18 DHIEN ~ Bab 18
19 DHIEN ~ Bab 19
20 DHIEN ~ Bab 20
21 DHIEN ~ Bab 21
22 DHIEN ~ Bab 22
23 DHIEN ~ Bab 23
24 DHIEN ~ Bab 24
25 DHIEN ~ Bab 25
26 DHIEN ~ Bab 26
27 DHIEN ~ Bab 27
28 DHIEN ~ Bab 28
29 DHIEN ~ Bab 29
30 DHIEN ~ Bab 30
31 DHIEN ~ Bab 31
32 DHIEN ~ Bab 32
33 DHIEN ~ Bab 33
34 DHIEN ~ Bab 34
35 DHIEN ~ Bab 35
36 DHIEN ~ Bab 36
37 DHIEN ~ Bab 37
38 DHIEN ~ Bab 38
39 DHIEN ~ Bab 39
40 DHIEN ~ Bab 40
41 DHIEN ~ Bab 41
42 DHIEN ~ Bab 42
43 DHIEN ~ Bab 43
44 DHIEN ~ 44
45 DHIEN ~ Bab 45
46 DHIEN ~ Bab 46
47 DHIEN ~ Bab 47
48 DHIEN ~ Bab 48
49 DHIEN ~ Bab 49
50 DHIEN ~ Bab 50
51 DHIEN ~ Bab 51
52 DHIEN ~ Bab 52
53 DHIEN ~ Bab 53
54 DHIEN ~ Bab 54
55 DHIEN ~ Bab 55
56 DHIEN ~ Bab 56
57 DHIEN ~ Bab 57
58 DHIEN ~ Bab 58
59 DHIEN ~ Bab 59
60 DHIEN ~ Bab 60
61 DHIEN ~ Bab 61
62 DHIEN ~ Bab 62
63 DHIEN ~ Bab 63
64 DHIEN ~ Bab 64
65 DHIEN ~ Bab 65
66 DHIEN ~ Bab 66
67 DHIEN ~ Bab 67
68 DHIEN ~ Bab 68
69 DHIEN ~ Bab 69
70 DHIEN ~ Bab 70.
71 DHIEN ~ Bab 71
72 DHIEN ~ Bab 72
73 DHIEN ~ Bab 73
74 DHIEN ~ Bab 74
75 DHIEN ~ Bab 75
76 DHIEN ~ Bab 76
77 DHIEN ~ Bab 77
78 DHIEN ~ Bab 78
79 DHIEN ~ Bab 79
80 DHIEN ~ Bab 80
81 DHIEN ~ Bab 81
82 DHIEN ~ Bab 82
83 DHIEN ~ Bab 83
84 DHIEN ~ Bab 84
85 DHIEN ~ Bab 85
86 DHIEN ~ Bab 86
87 DHIEN ~ Bab 87
88 DHIEN ~ Bab 88
89 DHIEN ~ Bab 89
90 DHIEN ~ Bab 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
DHIEN ~ Bab 01
2
DHIEN ~ Bab 02
3
DHIEN ~ Bab 03
4
DHIEN ~ Bab 04
5
DHIEN ~ Bab 05
6
DHIEN ~ Bab 06
7
DHIEN ~ Bab 07
8
DHIEN ~ Bab 08
9
DHIEN ~ Bab 09
10
DHIEN ~ Bab 10
11
DHIEN ~ Bab 11
12
DHIEN ~ Bab 12
13
DHIEN ~ Bab 13
14
DHIEN ~ Bab 14
15
DHIEN ~ Bab 15
16
DHIEN ~ Bab 16
17
DHIEN ~ Bab 17
18
DHIEN ~ Bab 18
19
DHIEN ~ Bab 19
20
DHIEN ~ Bab 20
21
DHIEN ~ Bab 21
22
DHIEN ~ Bab 22
23
DHIEN ~ Bab 23
24
DHIEN ~ Bab 24
25
DHIEN ~ Bab 25
26
DHIEN ~ Bab 26
27
DHIEN ~ Bab 27
28
DHIEN ~ Bab 28
29
DHIEN ~ Bab 29
30
DHIEN ~ Bab 30
31
DHIEN ~ Bab 31
32
DHIEN ~ Bab 32
33
DHIEN ~ Bab 33
34
DHIEN ~ Bab 34
35
DHIEN ~ Bab 35
36
DHIEN ~ Bab 36
37
DHIEN ~ Bab 37
38
DHIEN ~ Bab 38
39
DHIEN ~ Bab 39
40
DHIEN ~ Bab 40
41
DHIEN ~ Bab 41
42
DHIEN ~ Bab 42
43
DHIEN ~ Bab 43
44
DHIEN ~ 44
45
DHIEN ~ Bab 45
46
DHIEN ~ Bab 46
47
DHIEN ~ Bab 47
48
DHIEN ~ Bab 48
49
DHIEN ~ Bab 49
50
DHIEN ~ Bab 50
51
DHIEN ~ Bab 51
52
DHIEN ~ Bab 52
53
DHIEN ~ Bab 53
54
DHIEN ~ Bab 54
55
DHIEN ~ Bab 55
56
DHIEN ~ Bab 56
57
DHIEN ~ Bab 57
58
DHIEN ~ Bab 58
59
DHIEN ~ Bab 59
60
DHIEN ~ Bab 60
61
DHIEN ~ Bab 61
62
DHIEN ~ Bab 62
63
DHIEN ~ Bab 63
64
DHIEN ~ Bab 64
65
DHIEN ~ Bab 65
66
DHIEN ~ Bab 66
67
DHIEN ~ Bab 67
68
DHIEN ~ Bab 68
69
DHIEN ~ Bab 69
70
DHIEN ~ Bab 70.
71
DHIEN ~ Bab 71
72
DHIEN ~ Bab 72
73
DHIEN ~ Bab 73
74
DHIEN ~ Bab 74
75
DHIEN ~ Bab 75
76
DHIEN ~ Bab 76
77
DHIEN ~ Bab 77
78
DHIEN ~ Bab 78
79
DHIEN ~ Bab 79
80
DHIEN ~ Bab 80
81
DHIEN ~ Bab 81
82
DHIEN ~ Bab 82
83
DHIEN ~ Bab 83
84
DHIEN ~ Bab 84
85
DHIEN ~ Bab 85
86
DHIEN ~ Bab 86
87
DHIEN ~ Bab 87
88
DHIEN ~ Bab 88
89
DHIEN ~ Bab 89
90
DHIEN ~ Bab 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!