DHIEN ~ Bab 16

Terbentuknya Trio Cebol.

......................

“Ninik, Tia izin petik buah jeruknya ya?”

“Masya Allah, ternyata yang datang ... gadis Sholehah, cantik, baik hati, kalem. Petik saja Tia! Se pohon-pohonya pun boleh, bila Meutia mau bawa pulang!”

“Is Ninik, Tia jadi malu dipuji selengkap tu. Tapi, memang betul kalau diri ini nyaris sempurna tak ada cela. Ini Tia ambilnya tak banyak kok, cuma satu karung saja ... biar sekalian dijual buat tambahan uang jajan!”

“Tak apa. Petik saja, Tia! Jangan sungkan-sungkan!”

“Alhamdulillah … ayok wee! Sudah diizinkan ni!”

Meutia membuka pagar dari kayu, masuk begitu saja setelah berdialog dengan dirinya sendiri.

Ayek menatap aneh pada sosok wanita yang sudah lebih dulu memilih buah jeruk hendak dipetik.

“Kita betulan tak salah pilih guru ‘kan? Mengapa yang satu ni, ada senget-sengetnya (miring)?” bisiknya begitu pelan.

“Tak tahu lah, lagipula sudah terlanjur juga! Lebih baik kita diam saja, daripada nanti disuruh-suruh nya lagi!” Danang menyahut, lalu ikut masuk ke perkebunan jeruk berbuah lebat.

“Lama-lama darah tinggi aku dibuat Meutia, Mala. Mau ditinggal kasihan, tapi bila di bawak bikin naik pitam!” Dhien memilih berjalan masuk ke bagian tengah di mana ada bangunan rumah panggung.

“Sepertinya Ninik dan Aki sedang tak ada dirumah, Dhien!” Mala memperhatikan pintu yang tertutup rapat, mereka memilih duduk pada undakan anak tangga.

“Palingan ke Desa sebelah, kita tunggu saja! Lagipula badan si paok Meutia dan para Kurcaci, masih basah.”

Tidak seberapa lama, terdengar suara motor memasuki pekarangan depan, sosok yang dinanti pun datang dengan mengendarai motor Astrea.

“Sudah lama, atau baru datang?” tanya wanita bersarung, baju kurung dan mengenakan songkok, umurnya kira-kira 40 tahunan.

“Baru saja, Nik!” Dhien berdiri serta menghampiri pasangan suami istri itu, membantu menurunkan goni yang diletakkan pada bagian tengah motor.

“Sepertinya saya mendengar suara si biang rusuh, apa nya ikut serta, Dhien?” tanya Aki, yang mengenakan celana bahan, kemeja serta peci. Umurnya juga sepantaran dengan sang istri.

“Sedang panen jeruk nya, tadi sudah izin dengan jin Qorin nya Aki dan Ninik.”

Sepasang suami istri itu hanya menggeleng kepala saja. Bila tentang Meutia tidak ada yang bisa mereka katakan, selain harus banyak-banyak beristighfar.

“Kalian sudah makan belum?”

“Belum, Nik!” jawab Dhien tidak malu, karena memang perutnya sangat lapar. Sedari pagi dirinya belum ada makan apapun, selain menelan air ludah.

“Mala!” Ninik memanggil salah satu muridnya. “Ini ada banyak nasi dari syukuran di Desa tetangga, bisa tak kau goreng?”

Mala mengambil ceting (bakul) nasi yang dibungkus plastik. “Hendak digoreng semua ni, Nik?”

“Iya. untuk bumbunya, cari saja di dapur serta halaman.”

"Bentar ... ku panggil dulu mereka! Biar ada gunanya, tak cuma merusuh saja bisanya!” Dhien berjalan mendekati barisan pohon jeruk manis berbuah lebat.

“Meutia! Kurcaci! Sini kalian!”

Munculnya sosok yang dipanggil, baju Meutia yang sudah setengah kering itu, penuh oleh buah jeruk, ciplukan. Ayek sendiri memegang satu janjang buah salak Sidempuan, sedangkan Rizal dan Danang bersama-sama membawa satu janjang kelapa muda.

“Tak tanggung-tanggung ya kalian merampok hasil bumi!” Dhien berkacak pinggang.

“Daripada Kak Dhien petantang-petenteng macam tukang palak, tolong gelar tikar di sini! Berat kali beban bawaan Tia, ni!” Meutia menghela napas panjang.

Bukan Dhien yang maju, tetapi Amala. Karena dia tahu pasti bakalan panjang ceritanya nanti. Mala menggelar tikar pandan di halaman rumah guru karate mereka.

“Ninik, Aki … Alhamdulillah, Meutia tak rindu kalian! Cuma kangen petik buah saja.” Setelah meletakkan barangnya, Meutia mendekati gurunya.

“Kapan kau hendak latihan lagi, Tia?” tanya Aki seraya melinting daun tembakau.

“Jangan merokok Ki, nanti cepat dipanggil Yang Maha Kuasa! Kan, Tia juga yang merugi … tak dapat menikmati hasil panen lagi!”

“Astagfirullah.” Aki pun tidak jadi menghisap rokoknya.

“Tak mau Tia latihan lagi, sia-sia saja rasanya. Capek badan ni, tetap gagal membanting Kak Dhien! Malah awak yang dibantai nya terus!” Meutia duduk di tanah bawah rumah panggung.

“Niat kau karate tu, ingin memiliki ilmu bela diri agar bisa menjaga diri sendiri, atau melawan orang yang tak kau sukai, apa hanya sekedar ajang pamer, Tia?”

“Ketiganya benar, Ki!”

“Terserah kau, Tia!” Aki pergi menjauhi sosok gadis yang sering membuatnya menghela napas panjang.

“Wee para Kurcaci!" Dhien kembali berteriak.

"Janganlah panggil Kurcaci, Kak! Kami tak sekecil tu, lagipula belum juga tua dan berjenggot!” Ayek mengajukan protes, dia tidak suka dengan julukan kurcaci.

“Betul tu, Kak! Yang di buku cerita kan, Kurcaci tu sudah tua, jenggotnya pun panjangnya hampir mencapai tanah, mana keriput lagi kulitnya. Yang lain lah Kak!” Rizal ikut menimpali.

"Trio Cebol saja kalau macam tu! Cocok dengan kalian! Kecil, kurus, pendek, mana yang satu masih ngompeng lagi!” Meutia memberikan usul.

"Boleh lah, walaupun tetap jelek namanya!” sahut mereka dengan nada lesu.

"Apa? Hendak protes? Tak terima?!” Dhien menatap galak.

“Tak, kami menerimanya guru, Dhien! Terima kasih banyak atas nama indahnya!” Ayek menunduk hormat dengan diikuti lainnya, sedangkan Meutia dan Dhien sudah menahan tawa.

“Rizal, kau pergi ke kandang Ayam, ambil telur didalam tarangan (tempat Ayam bertelur)!” titah Dhien.

“Tapi, Kak. Kalau nanti awak diterkam induknya macam mana?”

“Ya tinggal lari, macam tu saja kau tak tahu!” timpal Meutia.

“Ayek. Kau petik daun seledri yang masih segar dan gemuk-gemuk! Terus, petik juga cabai rawit satu genggam!”

“Tapi, nanti telapak tanganku panas bila menggenggam cabai, Kak!” tolak Ayek, yang memang malas berurusan dengan bumbu pedas itu.

“Baru panas di tangan saja, sudah mengeluh kau! Macam mana bila Burung mu yang cabean? Pasti langsung menangis sambil mengompeng!” cibir Meutia, yang berdiri di dekat Dhien.

“Ini Kak!” Danang memberikan arang bekas kayu bakar, dan sobekan kardus mie, serta bambu kecil lumayan panjang yang sudah dibelah bagian ujungnya.

Bergegas Meutia menulis; SAMSON SEKARAT, BUTUH TINDAKAN DARURAT! TOLONG ANGKUT PELAN-PELAN, JANGAN SAMPAI NYA TAMBAH KESAKITAN!!!

“Kau lari lah ke tempat di mana Samson pingsan! Terus tancapkan bambu ini di tanah! Setelahnya segera berlari lagi kesini!” titah Meutia, biasanya pada waktu sore hari, pickup ataupun truck abangnya pasti ada melintasi wilayah Pertanian.

“Laa .. terus tugas Kak Meutia apa?” protes Ayek, dia masih belum melakukan bagiannya.

“Menyuruh kalian tu juga termasuk sebuah tugas! Tak nya kalian tengok, sedari tadi mulutku komat-kamit terus?!”

Begitulah hari itu dihabiskan dengan perdebatan, kebersamaan, serta kehangatan, satu bakul nasi goreng sederhana mereka santap ramai-ramai.

.

.

Dhien pulang ke rumahnya dengan jalan kaki sambil mendekap plastik di dada. Netranya memicing, dengan bibir tersenyum muak, menatap para titisan Fir'aun sudah menunggu nya di depan teras rumah.

“Ya ampun! Baru sehari nikah, sudah jadi Janda. Pasti anak dalam kandungan mu tu bukan milik si Fikar, makanya langsung diceraikan dirimu! Benar begitu ‘kan, Dhien?” Winda menghadang langkah sepupunya.

“Betul, Win. Ini anak Bapak kau! Siap-siap ya punya Mamak tiri macam aku. Harap waspada, agar tak mati sia-sia!” Dhien begitu tenang menghadapi sepupunya.

“Kau!” Winda menuding wajah Dhien, hatinya begitu meradang.

“Apa? Ck … beraninya cuma main keroyokan, bersembunyi di balik punggung Nenek titisan Fir'aun! Kalau bernyali, sini lawan aku!” Dhien menggulung lengan baju panjangnya, menjatuhkan plastik di atas tanah, dia maju mengikis jarak.

"Mau apa kau, Dhien ..?!"

.

.

“Dhien! Kembalikan surat pembelian tanah yang tempo hari kau rebut paksa!” Nek Blet, berteriak nyaring.

“Rumah ni, sudah saya beli!”

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

jumirah slavina

jumirah slavina

ya ampunnnnnn Thorrrrr.. Thorrrrr,....

Aku kira tuh Nenek ketempelan jd memuji Muti....

🤣🤣🤣🤣🤣🤣/Facepalm//Facepalm/

2025-03-27

2

SR.Yuni

SR.Yuni

Kelakuannya tak seindah namannya ...hahahah....oh astaga meutia waktu bayi apa ketukar kau ya di puskesmas 🤦🤦random kali kelakuanmu

2025-02-13

4

Jamilah Dwi

Jamilah Dwi

titisan firaun, titisan mak lampir, titisan gerandong, titisan buto ijo
🤣🤣🤣
ayo tambahin titisan apa lagi 🤣🤣🤣

2025-02-13

1

lihat semua
Episodes
1 DHIEN ~ Bab 01
2 DHIEN ~ Bab 02
3 DHIEN ~ Bab 03
4 DHIEN ~ Bab 04
5 DHIEN ~ Bab 05
6 DHIEN ~ Bab 06
7 DHIEN ~ Bab 07
8 DHIEN ~ Bab 08
9 DHIEN ~ Bab 09
10 DHIEN ~ Bab 10
11 DHIEN ~ Bab 11
12 DHIEN ~ Bab 12
13 DHIEN ~ Bab 13
14 DHIEN ~ Bab 14
15 DHIEN ~ Bab 15
16 DHIEN ~ Bab 16
17 DHIEN ~ Bab 17
18 DHIEN ~ Bab 18
19 DHIEN ~ Bab 19
20 DHIEN ~ Bab 20
21 DHIEN ~ Bab 21
22 DHIEN ~ Bab 22
23 DHIEN ~ Bab 23
24 DHIEN ~ Bab 24
25 DHIEN ~ Bab 25
26 DHIEN ~ Bab 26
27 DHIEN ~ Bab 27
28 DHIEN ~ Bab 28
29 DHIEN ~ Bab 29
30 DHIEN ~ Bab 30
31 DHIEN ~ Bab 31
32 DHIEN ~ Bab 32
33 DHIEN ~ Bab 33
34 DHIEN ~ Bab 34
35 DHIEN ~ Bab 35
36 DHIEN ~ Bab 36
37 DHIEN ~ Bab 37
38 DHIEN ~ Bab 38
39 DHIEN ~ Bab 39
40 DHIEN ~ Bab 40
41 DHIEN ~ Bab 41
42 DHIEN ~ Bab 42
43 DHIEN ~ Bab 43
44 DHIEN ~ 44
45 DHIEN ~ Bab 45
46 DHIEN ~ Bab 46
47 DHIEN ~ Bab 47
48 DHIEN ~ Bab 48
49 DHIEN ~ Bab 49
50 DHIEN ~ Bab 50
51 DHIEN ~ Bab 51
52 DHIEN ~ Bab 52
53 DHIEN ~ Bab 53
54 DHIEN ~ Bab 54
55 DHIEN ~ Bab 55
56 DHIEN ~ Bab 56
57 DHIEN ~ Bab 57
58 DHIEN ~ Bab 58
59 DHIEN ~ Bab 59
60 DHIEN ~ Bab 60
61 DHIEN ~ Bab 61
62 DHIEN ~ Bab 62
63 DHIEN ~ Bab 63
64 DHIEN ~ Bab 64
65 DHIEN ~ Bab 65
66 DHIEN ~ Bab 66
67 DHIEN ~ Bab 67
68 DHIEN ~ Bab 68
69 DHIEN ~ Bab 69
70 DHIEN ~ Bab 70.
71 DHIEN ~ Bab 71
72 DHIEN ~ Bab 72
73 DHIEN ~ Bab 73
74 DHIEN ~ Bab 74
75 DHIEN ~ Bab 75
76 DHIEN ~ Bab 76
77 DHIEN ~ Bab 77
78 DHIEN ~ Bab 78
79 DHIEN ~ Bab 79
80 DHIEN ~ Bab 80
81 DHIEN ~ Bab 81
82 DHIEN ~ Bab 82
83 DHIEN ~ Bab 83
84 DHIEN ~ Bab 84
85 DHIEN ~ Bab 85
86 DHIEN ~ Bab 86
87 DHIEN ~ Bab 87
88 DHIEN ~ Bab 88
89 DHIEN ~ Bab 89
90 DHIEN ~ Bab 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
DHIEN ~ Bab 01
2
DHIEN ~ Bab 02
3
DHIEN ~ Bab 03
4
DHIEN ~ Bab 04
5
DHIEN ~ Bab 05
6
DHIEN ~ Bab 06
7
DHIEN ~ Bab 07
8
DHIEN ~ Bab 08
9
DHIEN ~ Bab 09
10
DHIEN ~ Bab 10
11
DHIEN ~ Bab 11
12
DHIEN ~ Bab 12
13
DHIEN ~ Bab 13
14
DHIEN ~ Bab 14
15
DHIEN ~ Bab 15
16
DHIEN ~ Bab 16
17
DHIEN ~ Bab 17
18
DHIEN ~ Bab 18
19
DHIEN ~ Bab 19
20
DHIEN ~ Bab 20
21
DHIEN ~ Bab 21
22
DHIEN ~ Bab 22
23
DHIEN ~ Bab 23
24
DHIEN ~ Bab 24
25
DHIEN ~ Bab 25
26
DHIEN ~ Bab 26
27
DHIEN ~ Bab 27
28
DHIEN ~ Bab 28
29
DHIEN ~ Bab 29
30
DHIEN ~ Bab 30
31
DHIEN ~ Bab 31
32
DHIEN ~ Bab 32
33
DHIEN ~ Bab 33
34
DHIEN ~ Bab 34
35
DHIEN ~ Bab 35
36
DHIEN ~ Bab 36
37
DHIEN ~ Bab 37
38
DHIEN ~ Bab 38
39
DHIEN ~ Bab 39
40
DHIEN ~ Bab 40
41
DHIEN ~ Bab 41
42
DHIEN ~ Bab 42
43
DHIEN ~ Bab 43
44
DHIEN ~ 44
45
DHIEN ~ Bab 45
46
DHIEN ~ Bab 46
47
DHIEN ~ Bab 47
48
DHIEN ~ Bab 48
49
DHIEN ~ Bab 49
50
DHIEN ~ Bab 50
51
DHIEN ~ Bab 51
52
DHIEN ~ Bab 52
53
DHIEN ~ Bab 53
54
DHIEN ~ Bab 54
55
DHIEN ~ Bab 55
56
DHIEN ~ Bab 56
57
DHIEN ~ Bab 57
58
DHIEN ~ Bab 58
59
DHIEN ~ Bab 59
60
DHIEN ~ Bab 60
61
DHIEN ~ Bab 61
62
DHIEN ~ Bab 62
63
DHIEN ~ Bab 63
64
DHIEN ~ Bab 64
65
DHIEN ~ Bab 65
66
DHIEN ~ Bab 66
67
DHIEN ~ Bab 67
68
DHIEN ~ Bab 68
69
DHIEN ~ Bab 69
70
DHIEN ~ Bab 70.
71
DHIEN ~ Bab 71
72
DHIEN ~ Bab 72
73
DHIEN ~ Bab 73
74
DHIEN ~ Bab 74
75
DHIEN ~ Bab 75
76
DHIEN ~ Bab 76
77
DHIEN ~ Bab 77
78
DHIEN ~ Bab 78
79
DHIEN ~ Bab 79
80
DHIEN ~ Bab 80
81
DHIEN ~ Bab 81
82
DHIEN ~ Bab 82
83
DHIEN ~ Bab 83
84
DHIEN ~ Bab 84
85
DHIEN ~ Bab 85
86
DHIEN ~ Bab 86
87
DHIEN ~ Bab 87
88
DHIEN ~ Bab 88
89
DHIEN ~ Bab 89
90
DHIEN ~ Bab 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!