DHIEN ~ Bab 12

Samson menabrak cagak kayu🔥

......................

“Bacok lah! Setelahnya, gantian kepala adik kau yang akan ku benturkan tembok!” Dhien menjadikan Suci seperti seorang sandera, rambutnya di jambak, dan kedua tangannya dipiting di belakang punggung.

Fikar menjadi ragu, apalagi melihat raut kesakitan adik semata wayangnya, dirinya gamang hendak maju atau mundur.

“Jangan coba-coba mengancam ku, Dhien! Kau tak bisa membayangkan apa yang bisa kulakukan!” geramnya, sampai giginya bergemeletuk.

Akhh.

Suci berteriak kesakitan, seakan kulit kepalanya seperti terlepas.

“Jangan gila kau, Dhien!” Ramlah histeris, badannya bergetar hebat, dia sampai bersandar pada dinding, apalagi melihat putrinya yang berkali-kali meringis menahan sakit, perutnya sendiri masih sakit akibat tendangan tadi .

“Aku gila?” Dhien tertawa sumbang. “Baru tahu nya? Padahal sudah sedari lama loo awak ni tak waras! Sungguh kasihan ku tengok kalian, niat mencari babu, tapi dapatnya malah wanita sinting macam aku!”

“Sekarang juga, kau jatuhkan talak 3 mu, Fikar! Sebelum habis kesabaran ku yang memang setipis kertas lembaran buku!” Dhien menatap nyalang sosok yang masih menggenggam erat parangnya.

“Tak akan! Kau harus merasakan neraka dunia dulu! Suci melawan lah, biar Abang tebas lehernya!” Fikar maju satu langkah, tetapi terganggu oleh suara ribut di luar sana.

Tin.

Tin.

“Turun Kak! Biar ku laga Kambing si Samson dengan cagak teras tu!” titahnya, setelah Amala turun, kembali dirinya berulah.

                            Samson.

“TOLONG! TOLONG! ADA PEMBANTAIAN! SI FIKAR KUMIS IKAN LEMBAT HENDAK MENGHABISI KAK DHIEN!”

Meutia berteriak, membunyikan klakson, lalu menggeber motornya, kemudian menekan habis pedal gas, sehingga motor bernama Samson itu melaju pesat dan … gerobak besi sisi kirinya menabrak tiang kayu, sebelum atap seng ambruk, secepat kilat dirinya melompat.

BUGH.

“Sakit juga ternyata ya!” dirinya sedikit mengadu, dikarenakan jatuhnya tidak estetik, niat hati ingin berguling-guling malah bagian depan dulu yang menghantam tanah.

“Kau tak apa, Tia?” Mala berlari, lalu membantu Meutia berdiri.

Kembali seruan meminta tolong itu saling bersahutan, padahal mereka belum tahu bagaimana keadaan di dalam sana, yang terpenting berteriak lah dulu.

“Ada apa?” Dua orang pemuda terlihat berlari mendekat.

“Itu, Kakak ku hendak digorok lehernya oleh si Fikar!” Meutia mengatakan dengan sangat menyakinkan, bersama mereka mendekati dapur Ramlah.

“Kau dengar? Wanita bersuara bak guntur tu, adalah adiknya Agam Siddiq. Laki-laki yang bila berminat mencalonkan menjadi Lurah bahkan Camat, pasti akan langsung terpilih serta menang telak! Bisa dibayangkan bukan, macam mana pengaruhnya!”

Fikar tentu tahu siapa sosok yang disebut oleh Dhien, apalagi posisinya saat ini sangat tidak menguntungkan, mau menjatuhkan goloknya, tetapi Suci masih dalam cengkeraman Dhien.

“Tinggal beberapa langkah lagi, mereka akan sampai sini! Jangan sampai aku membeberkan apa yang telah terjadi, dan berakhir kalian masuk bui! CEPAT FIKAR!”

“DHIEN BINTI SYAMSUL, MULAI SEKARANG KAU BUKAN LAGI ISTRIKU!!”

PRANG.

Fikar menjatuhkan parangnya.

BUGH.

Dhien mendorong Suci, sampai sosoknya tersungkur.

“Akh … Sakit!” raungnya mencoba bangkit.

“Alamak! Keren betul lah Kak Dhien tu. Belum ada 24 jam, sudah berhasil nya mengantongi dua status sekaligus. Dari seorang istri, sekarang menjadi menjanda!” Meutia sempat-sempatnya bertepuk tangan, melupakan rasa sakit pada bagian depan badannya.

Amala sama sekali tidak menanggapi, ekspresi wajahnya begitu datar, menatap Dhien yang juga memandangnya, bersamaan mereka menyunggingkan senyum samar penuh kepuasan.

"Tolong panggilkan Pak RT, ataupun RW!” pintanya pada salah satu pemuda yang langsung diiyakan.

“Tapi, bisa minta bantuannya dulu tak? Tolong matikan mesin si Samson, biar nya tak meraung-raung lagi.” Meutia memasang mimik lemah, agar dikasihani.

“Baik.” Pemuda tadi bergegas, menjalankan tugasnya.

“Wuihh … sempak siapa ni?” netra Meutia memicing, menatap celana dalam berwarna putih campur noda merah.

Roh Suci seolah dicabut paksa, napasnya tersengal-sengal, wajahnya memerah menahan malu yang luar biasa, dirinya berlari hendak mengambil celana dalamnya, tetapi ….

Meutia menyangkutkan benda segitiga itu pada ujung kayu bakar berujung hitam. “Jorok betul! Lebih rajin Monyet ku dalam membersihkan diri!”

“Kembalikan, Meutia!” tentu dirinya tidak berhasil meraih, dikarenakan Meutia meninggikan kayu tadi, menjadikan sempak Suci layaknya bendera.

“Nama 'Suci' tu tak pantas kau sandang, harusnya 'Najis' yang paling benar, sesuai dengan kepribadian dan kelakuan tak terpuji mu!”

“Njelei tenan og. Dasar kemproh! Ayu-ayu, tapi ora ngutek!” hina pemuda lainnya, yang sedari tadi hanya memperhatikan.

Meutia menjatuhkan kayu dan celana, lalu menatap si pemuda. “Apa artinya tu?”

“Sini!” Mala merentangkan kedua tangannya, Dhien langsung masuk dalam dekapannya. “Sedikit lagi, semua pasti akan berlalu!”

“Terima kasih! Tanpa kau, mungkin ….”

“Sudah, jangan diteruskan!” Mala mengusap punggung Dhien, mereka saling berbisik.

“Nanti dulu lah berpelukan nya! Tia masih penasaran ni. Mas suasa, atau mas-masan ... apa artinya?” masih saja dirinya menuntut jawaban, tidak menghiraukan wajah Suci yang sudah seperti warna tomat busuk.

“Artinya; menjijikan sekali, dasar jorok, cantik-cantik tapi ndak punya otak,” beritahu sosok tadi.

“Bukannya tak ada otak, cuma letaknya saja yang jungkir balik, bukan di kepala tetapi mata kaki!” hina Meutia.

“Cukup! Kalian tak berhak merendahkan putriku!” teriak Ramlah.

“Tak perlu bersusah payah merendahkan putrimu, Bik. Nya sendiri sudah ahli menjatuhkan martabat serta harga dirinya!” balas Amala.

"Mamak.” Suci mendekat dan langsung memeluk ibunya, mencari pembelaan.

“Lagaknya hendak menggaet Abang ku, baru digertak sedikit sudah mengadu, langsung berlakon macam orang paling tersakiti,” cibir Meutia.

***

Pak RT, dua pemuda dan juga lainnya, duduk di lantai beralaskan tikar di ruang tamu Ramlah.

“Apa betul, bila Fikar sudah menjatuhkan talak 3 kepada engkau, Dhien?” tanya pak RT.

“Ya.”

“Kapan dan di mana, sewaktu dia mengatakan hal tersebut?”

“Pertama; pada malam saat nya menggauli saya.”

“Kedua; pagi hari dikarenakan dia merasa tak puas, sebab tak bisa lagi membedakan mana mana wanita halal dan terlarang baginya.”

“Terakhir; beberapa waktu lalu, dipicu oleh Suci yang memaksa diri ini mencuci celana bekas haid nya!”

“Astagfirullah.” Pak RT dan kedua pemuda tadi geleng-geleng kepala.

“Tutup mulut mu, Dhien!” Fikar begitu malu, tidak menyangka kalau wanita ini membeberkan sedetail itu.

“Apa kau tak malu, membuka aib dirimu sendiri?!” hardik Ramlah, yang duduk berseberangan dengan Dhien.

Dhien menatap angkuh wajah mantan ibu mertuanya. “Bukan aib ku, tetapi milik kalian! Jadi, mengapa malu.”

Suci dan Ramlah bersamaan mengepalkan tangan.

“Semuanya sudah jelas, talak tiga telah dijatuhkan. Sekarang Fikar dan Dhien bukan lagi pasangan suami istri, diharamkan bersentuhan apalagi sampai melakukan penyatuan. Mengenai urusan perceraian secara negara, itu hak kalian kapan mau diurusnya, tetapi alangkah baiknya ya secepatnya!” beritahu pak RT yang sekaligus seorang ustadz di kampung Pertanian.

Semuanya sudah berakhir, Fikar kini seorang duda, dan Dhien janda. Pernikahan mereka hanya bertahan kurang dari 24 jam saja.

.

.

“Hei Kurcaci! Jangan lari kalian Wee!”

“Jangan gila kau, Meutia! Mala, cepat lompat, Mala!!”

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Jeng Ining

Jeng Ining

haaahhh kok iso? mreka penggemar novel esssek² kah, atw novel yg kek gimana🤔🤔🤔, pdhl mah novel gamala tuh meski cerita setting kampung tp brasa real loh kita bacanya, ga ush banyak mikir krn cacat logika, penjabarannya mudh dimengerti dn ga banyak typo jg

2025-02-11

48

Putu Suciptawati

Putu Suciptawati

waduh kok tega ya? blokir aja thu mereka yg ngasi taying rendah... emang dikira gampang nulis? kalo ga suka tinggal left aja apa susahnya jangan menjatuhkan karya orang kain... unt kak thor tetap semangat/Good/ msh banyak kok yg suka ceritamu. ceritanya lain dari yg lain yg menceritakan CEO model, selingkuh dsb itu mah sdh biasa..ini bener2 beda.. aku salut sama kak thor....

2025-02-11

4

Mommy'ySnowy 💕

Mommy'ySnowy 💕

ubur ubur ikan lele,, janda kembNg nii lee.. /Chuckle/
tp org2 pda tau'y udh jebol ats pngakuan dhien sndiri sma s winda dn so suci yg ngintip... siapa yg sangka,, nii nti suami dhien msa depan psti akn trkejot d ksh surprise...😁

2025-02-11

3

lihat semua
Episodes
1 DHIEN ~ Bab 01
2 DHIEN ~ Bab 02
3 DHIEN ~ Bab 03
4 DHIEN ~ Bab 04
5 DHIEN ~ Bab 05
6 DHIEN ~ Bab 06
7 DHIEN ~ Bab 07
8 DHIEN ~ Bab 08
9 DHIEN ~ Bab 09
10 DHIEN ~ Bab 10
11 DHIEN ~ Bab 11
12 DHIEN ~ Bab 12
13 DHIEN ~ Bab 13
14 DHIEN ~ Bab 14
15 DHIEN ~ Bab 15
16 DHIEN ~ Bab 16
17 DHIEN ~ Bab 17
18 DHIEN ~ Bab 18
19 DHIEN ~ Bab 19
20 DHIEN ~ Bab 20
21 DHIEN ~ Bab 21
22 DHIEN ~ Bab 22
23 DHIEN ~ Bab 23
24 DHIEN ~ Bab 24
25 DHIEN ~ Bab 25
26 DHIEN ~ Bab 26
27 DHIEN ~ Bab 27
28 DHIEN ~ Bab 28
29 DHIEN ~ Bab 29
30 DHIEN ~ Bab 30
31 DHIEN ~ Bab 31
32 DHIEN ~ Bab 32
33 DHIEN ~ Bab 33
34 DHIEN ~ Bab 34
35 DHIEN ~ Bab 35
36 DHIEN ~ Bab 36
37 DHIEN ~ Bab 37
38 DHIEN ~ Bab 38
39 DHIEN ~ Bab 39
40 DHIEN ~ Bab 40
41 DHIEN ~ Bab 41
42 DHIEN ~ Bab 42
43 DHIEN ~ Bab 43
44 DHIEN ~ 44
45 DHIEN ~ Bab 45
46 DHIEN ~ Bab 46
47 DHIEN ~ Bab 47
48 DHIEN ~ Bab 48
49 DHIEN ~ Bab 49
50 DHIEN ~ Bab 50
51 DHIEN ~ Bab 51
52 DHIEN ~ Bab 52
53 DHIEN ~ Bab 53
54 DHIEN ~ Bab 54
55 DHIEN ~ Bab 55
56 DHIEN ~ Bab 56
57 DHIEN ~ Bab 57
58 DHIEN ~ Bab 58
59 DHIEN ~ Bab 59
60 DHIEN ~ Bab 60
61 DHIEN ~ Bab 61
62 DHIEN ~ Bab 62
63 DHIEN ~ Bab 63
64 DHIEN ~ Bab 64
65 DHIEN ~ Bab 65
66 DHIEN ~ Bab 66
67 DHIEN ~ Bab 67
68 DHIEN ~ Bab 68
69 DHIEN ~ Bab 69
70 DHIEN ~ Bab 70.
71 DHIEN ~ Bab 71
72 DHIEN ~ Bab 72
73 DHIEN ~ Bab 73
74 DHIEN ~ Bab 74
75 DHIEN ~ Bab 75
76 DHIEN ~ Bab 76
77 DHIEN ~ Bab 77
78 DHIEN ~ Bab 78
79 DHIEN ~ Bab 79
80 DHIEN ~ Bab 80
81 DHIEN ~ Bab 81
82 DHIEN ~ Bab 82
83 DHIEN ~ Bab 83
84 DHIEN ~ Bab 84
85 DHIEN ~ Bab 85
86 DHIEN ~ Bab 86
87 DHIEN ~ Bab 87
88 DHIEN ~ Bab 88
89 DHIEN ~ Bab 89
90 DHIEN ~ Bab 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
DHIEN ~ Bab 01
2
DHIEN ~ Bab 02
3
DHIEN ~ Bab 03
4
DHIEN ~ Bab 04
5
DHIEN ~ Bab 05
6
DHIEN ~ Bab 06
7
DHIEN ~ Bab 07
8
DHIEN ~ Bab 08
9
DHIEN ~ Bab 09
10
DHIEN ~ Bab 10
11
DHIEN ~ Bab 11
12
DHIEN ~ Bab 12
13
DHIEN ~ Bab 13
14
DHIEN ~ Bab 14
15
DHIEN ~ Bab 15
16
DHIEN ~ Bab 16
17
DHIEN ~ Bab 17
18
DHIEN ~ Bab 18
19
DHIEN ~ Bab 19
20
DHIEN ~ Bab 20
21
DHIEN ~ Bab 21
22
DHIEN ~ Bab 22
23
DHIEN ~ Bab 23
24
DHIEN ~ Bab 24
25
DHIEN ~ Bab 25
26
DHIEN ~ Bab 26
27
DHIEN ~ Bab 27
28
DHIEN ~ Bab 28
29
DHIEN ~ Bab 29
30
DHIEN ~ Bab 30
31
DHIEN ~ Bab 31
32
DHIEN ~ Bab 32
33
DHIEN ~ Bab 33
34
DHIEN ~ Bab 34
35
DHIEN ~ Bab 35
36
DHIEN ~ Bab 36
37
DHIEN ~ Bab 37
38
DHIEN ~ Bab 38
39
DHIEN ~ Bab 39
40
DHIEN ~ Bab 40
41
DHIEN ~ Bab 41
42
DHIEN ~ Bab 42
43
DHIEN ~ Bab 43
44
DHIEN ~ 44
45
DHIEN ~ Bab 45
46
DHIEN ~ Bab 46
47
DHIEN ~ Bab 47
48
DHIEN ~ Bab 48
49
DHIEN ~ Bab 49
50
DHIEN ~ Bab 50
51
DHIEN ~ Bab 51
52
DHIEN ~ Bab 52
53
DHIEN ~ Bab 53
54
DHIEN ~ Bab 54
55
DHIEN ~ Bab 55
56
DHIEN ~ Bab 56
57
DHIEN ~ Bab 57
58
DHIEN ~ Bab 58
59
DHIEN ~ Bab 59
60
DHIEN ~ Bab 60
61
DHIEN ~ Bab 61
62
DHIEN ~ Bab 62
63
DHIEN ~ Bab 63
64
DHIEN ~ Bab 64
65
DHIEN ~ Bab 65
66
DHIEN ~ Bab 66
67
DHIEN ~ Bab 67
68
DHIEN ~ Bab 68
69
DHIEN ~ Bab 69
70
DHIEN ~ Bab 70.
71
DHIEN ~ Bab 71
72
DHIEN ~ Bab 72
73
DHIEN ~ Bab 73
74
DHIEN ~ Bab 74
75
DHIEN ~ Bab 75
76
DHIEN ~ Bab 76
77
DHIEN ~ Bab 77
78
DHIEN ~ Bab 78
79
DHIEN ~ Bab 79
80
DHIEN ~ Bab 80
81
DHIEN ~ Bab 81
82
DHIEN ~ Bab 82
83
DHIEN ~ Bab 83
84
DHIEN ~ Bab 84
85
DHIEN ~ Bab 85
86
DHIEN ~ Bab 86
87
DHIEN ~ Bab 87
88
DHIEN ~ Bab 88
89
DHIEN ~ Bab 89
90
DHIEN ~ Bab 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!