DHIEN ~ Bab 10

Aku menunggu talak terakhir darimu Fikar.

......................

Dhien membuka tutup botol minyak urang aring yang isinya tidak lagi minyak rambut, tetapi darah Ayam, tangannya menggenggam garpu dengan begitu kuat agar jemarinya tidak bergetar hebat, lalu menuang cairan pekat itu di atas garpu.

“Dasar Bangsat kau Fikar, buat susah diri ini saja! Karena mu, aku jadi jijik melihat milik lelaki, ternyata cuma mirip sepotong es mambo dengan dua telur dipenuhi bulu macam mie keriting!”

Dhien menunduk, menahan napas dikarenakan tidak tahan mencium cairan putih yang nyaris berkerak pada paha Fikar. Kemudian mengoleskan darah Ayam pada ujung Emprit bertopi, begitu juga paha bagian dalam.

“Lagaknya macam ahli bercinta, baru 5 kali pelepasan dengan gaya berbeda sudah keok macam ikan buntal habis kenak mata kail! Kau rasakan ini!” Tanpa memiliki rasa kasihan, Dhien menusukkan ujung garpu pada Burung yang sudah layu, menekan sedikit kuat sampai meninggalkan bekas seperti cap gigi.

Fikar sama sekali tidak terganggu apalagi merasakan sakit, tidurnya begitu lelap sampai mendengkur sedikit keras.

Setelah menyelesaikan misi terakhir, Dhien membereskan barang bukti, menyimpan kembali di tempat tersembunyi, yaitu plastik kresek hitam yang berisi 3 potong bajunya.

Untuk menyempurnakan skenarionya, Dhien mengambil dua uang koin, lalu menjepitkan di kulit lehernya sampai ke belahan dada, seolah dirinya benar-benar dicumbu oleh Fikar.

Malam pun merangkak naik, jarum jam panjang bergerak setiap detiknya, Dhien sama sekali tidak tidur, dia takut bila menutup mata, si Fikar terbangun.

“Ya Rabb, maafkan hamba, yang enggan melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri, memanipulasi malam pertama demi tetap mempertahankan kesucian ini. Namun, sungguh hati hamba tak ikhlas bila di gauli oleh laki-laki yang hanya ingin menjadikan diri ini sebagai pemuas nafsu sekaligus babu saja!” Dhien memeluk kedua lututnya, dia duduk di kursi kayu.

“Dhien! Ku ceraikan kau!” Fikar terduduk dengan keadaan tanpa busana, tangannya menuding Dhien, tetapi tatapannya seperti kosong, kemudian dia menghempaskan tubuhnya kembali di atas tilam.

Dhien nyaris jatuh terjungkal, begitu terkejut melihat kelakuan Fikar yang sepertinya sedang mengigau.

“Kau dengar tadi kan, Nyamuk? Laki-laki gila tu menjatuhkan talak padaku, berarti sah ya, sebab ada kalian yang asik berdengung di dekat telingaku!” Dhien bergumam lirih sambil mengibaskan selendangnya guna mengusir nyamuk.

***

Sayup-sayup, Dhien mendengar suara adzan yang disusul oleh ayam berkokok nyaring saling sahut-sahutan, pertanda sudah masuk waktu subuh.

Wanita yang semalam suntuk tidak tidur itu, menghela napas panjang, lalu beranjak dari bangku, mengambil peralatan mandinya di dalam plastik, Dhien pergi ke sumur yang berada di belakang rumah ini.

.

.

Sementara itu.

Fikar menggeliat, mencoba membuka matanya yang berat, rasa pusing masih begitu menggelayuti kepalanya.

“Jam berapa ni? Mengapa rasanya begitu pening?” Tangannya menekan kapuk tilam agar bisa bangun, begitu sudah duduk, dirinya menatap sekeliling, baru setelahnya melihat dirinya sendiri yang masih bugil.

“Hsstt … perihnya, kau kenapa Kalajengking? tanyanya seraya melihat ke bawah. "Lah, siapa yang mematuk mu sampai berlubang macam ni?” seru nya histeris.

“Darah? Yang putih ini apa? Masa iya banyak kali aku menyemprot rumput ….” Matanya melotot sempurna, samar-samar mengingat kalau semalam sepertinya dia sudah meniduri seorang wanita.

“Dhien? Apa betul yang ku tusuk sampai muncrat-muncrat air ni, adalah miliknya? Tapi, mengapa rasanya biasanya saja? Padahal dirinya masih perawan, kalau tak, darimana datangnya darah ni?” Fikar mencoba mengingat lebih keras lagi, tetapi sama sekali tidak membuahkan hasil.

“Kemana dia?” Fikar mengambil celana nya yang terletak di samping bantal, lalu mencoba berdiri, tetapi gagal dikarenakan masih sempoyongan seperti orang mabuk, berakhir ia mengenakan celana dalam sambil tiduran.

“Mabuk apa aku sebenarnya ni? Kalau miras tak mungkin sampai segini parah!” Dirinya kembali duduk pada dipan, netranya mendapati Dhien yang baru masuk dalam keadaan rambut basah.

“Hei Lonte! Sini kau! Apa betul semalam kita kawin?” tanyanya yang masih meragukan tentang semalam.

Dhien melangkah pelan, mengikis habis jarak sampai hanya tinggal selangkah dari Fikar yang masih tidak mengenakan baju.

“Kalau tak main, lalu ingus kering di paha mu itu apa? Dan kerak merah pekat tu, apa masih belum cukup membuktikan apa yang telah terjadi semalam?”

Fikar masih tidak percaya, tetapi bingung sendiri kala ingin menyangkal, hanya saja dia merasa banyak yang janggal, kembali dirinya bangkit dan kali ini berhasil walaupun masih ditopang pinggiran dipan.

“Ku kira rasamu sempit, ternyata sama saja dengan para Lonte di luaran sana! Longgar, Becek dan Berbau! Dasar Wanita Pembawa Sial!!” Fikar mencemooh habis istrinya.

“Bukan aku yang salah, sebab kaulah laki-laki pertama yang menjamah diri ini! Mungkin saja, Tuhan … telah mencabut rasa nikmat mu dikarenakan terlalu sering kau bermaksiat! Ibarat kata, seekor Anjing betina pun akan sama rasanya bila kau kawini, Fikar!”

PLAK.

“Ku ceraikan kau, Dhien!” Tangannya terasa kebas dikarenakan kuatnya dia menampar, netranya menatap nyalang pada Dhien.

“Ku tunggu talak terakhir darimu wahai laki-laki calon penghuni neraka!” Dhien menatap berani, netranya sama sekali tidak bergetar, padahal pipinya terasa perih.

Telapak tangan besar itu kembali hendak terayun lagi, tetapi ….

BUGH.

“Argh … Telor ku Peccah! Sialan kau, Lonte!” Dirinya sampai berjingkat-jingkat sembari memegangi selangkangannya.

“Cukup sekali kau menyakiti fisikku! Tak ada lain kali apalagi berulangkali!” sosok cantik dengan tubuh molek itu berbalik, melangkah santai meninggalkan sang suami yang menjerit kesakitan akibat dia tendang buah zakarnya.

Dhien membalikkan badannya, menatap lekat pada laki-laki yang masih merintih menahan sakit. “Kau ingat baik-baik ni, Fikar! Bila masih jua ingin menyakitiku, bersiaplah telur puyuh mu tu ku pukul menggunakan batu sampai nya pecah!”

BRAK.

"Nya orang apa Setan? Mengapa kejam betul! Sakitnya bukan main, Sialan kau Dhien! Udah macam malaikat pencabut nyawa saja dirimu tu!” Perlahan dirinya terduduk lagi, burungnya terasa begitu berdenyut, sampai kepalanya pun ikut nyut-nyutan.

.

.

"Wah wah … mentang-mentang pengantin baru, jadi sesuka hati bangun paginya! Tak nya kau tengok bila matahari sudah bersinar, Dhien?” Ramlah menghardik sang menantu.

“Alhamdulillah, mataku masih sehat, sehingga tak kesulitan melihat betapa cerahnya hari ini,” jawab Dhien begitu santai.

Tatapan Ramlah seperti hendak memakan orang hidup-hidup. “Kalau sudah tahu, mengapa kau masih asik berdiri di situ! Harusnya langsung masuk rumah utama dan mulai bersih-bersih!”

“Ibu mertua tak salah menyuruh ku?” Tunjuknya pada diri sendiri.

“Tak takut apa kalau nanti rumahmu jadi ketiban sial? konon katanya si tua Blet, bila aku pulang dari bertamu di rumahnya, pasti tak lama kemudian datanglah beberapa ekor hewan sekaligus, bukan cuma tu saja! Duit nya pun ikutan hilang.”

“Dengan semua kesialan tu, apa Ibu mertua tak takut …?”

.

.

“Assalamualaikum!”

“Walaikumsalam. Ada perlu apa, Nur …?”

.

.

Bersambung.

Selamat ketemu hari Senin lagi Kakak🥰

Selamat beraktifitas, semoga hari-hari kita selalu diberikan kebaikan, kesehatan, kelancaran dan kebahagiaan ... Aamiin 🤲 🥰

Terpopuler

Comments

Yana Phung

Yana Phung

heh cuma sehari usia pernikahan dhien??

2025-02-10

1

Mommy'ySnowy 💕

Mommy'ySnowy 💕

klo kau brtndng krmh utama pd akhirnya d dtangkn hewan tuu rmh brarti kau asli gurunya s keleng yg cita2nya jd dukun papi ngepet dhien.../Joyful/

2025-02-10

3

Reni

Reni

behhhh keren Dhien satu tamparan dibalas satu tendangan kenapa g diinjek sekalian tu telur Dhien 😅😂🤣
mau memperbudak Dhien 🤔🤔🤔 yg ada darah tinggi ntar naik pesat Mak Ramlah 😅😂🤣

2025-02-10

1

lihat semua
Episodes
1 DHIEN ~ Bab 01
2 DHIEN ~ Bab 02
3 DHIEN ~ Bab 03
4 DHIEN ~ Bab 04
5 DHIEN ~ Bab 05
6 DHIEN ~ Bab 06
7 DHIEN ~ Bab 07
8 DHIEN ~ Bab 08
9 DHIEN ~ Bab 09
10 DHIEN ~ Bab 10
11 DHIEN ~ Bab 11
12 DHIEN ~ Bab 12
13 DHIEN ~ Bab 13
14 DHIEN ~ Bab 14
15 DHIEN ~ Bab 15
16 DHIEN ~ Bab 16
17 DHIEN ~ Bab 17
18 DHIEN ~ Bab 18
19 DHIEN ~ Bab 19
20 DHIEN ~ Bab 20
21 DHIEN ~ Bab 21
22 DHIEN ~ Bab 22
23 DHIEN ~ Bab 23
24 DHIEN ~ Bab 24
25 DHIEN ~ Bab 25
26 DHIEN ~ Bab 26
27 DHIEN ~ Bab 27
28 DHIEN ~ Bab 28
29 DHIEN ~ Bab 29
30 DHIEN ~ Bab 30
31 DHIEN ~ Bab 31
32 DHIEN ~ Bab 32
33 DHIEN ~ Bab 33
34 DHIEN ~ Bab 34
35 DHIEN ~ Bab 35
36 DHIEN ~ Bab 36
37 DHIEN ~ Bab 37
38 DHIEN ~ Bab 38
39 DHIEN ~ Bab 39
40 DHIEN ~ Bab 40
41 DHIEN ~ Bab 41
42 DHIEN ~ Bab 42
43 DHIEN ~ Bab 43
44 DHIEN ~ 44
45 DHIEN ~ Bab 45
46 DHIEN ~ Bab 46
47 DHIEN ~ Bab 47
48 DHIEN ~ Bab 48
49 DHIEN ~ Bab 49
50 DHIEN ~ Bab 50
51 DHIEN ~ Bab 51
52 DHIEN ~ Bab 52
53 DHIEN ~ Bab 53
54 DHIEN ~ Bab 54
55 DHIEN ~ Bab 55
56 DHIEN ~ Bab 56
57 DHIEN ~ Bab 57
58 DHIEN ~ Bab 58
59 DHIEN ~ Bab 59
60 DHIEN ~ Bab 60
61 DHIEN ~ Bab 61
62 DHIEN ~ Bab 62
63 DHIEN ~ Bab 63
64 DHIEN ~ Bab 64
65 DHIEN ~ Bab 65
66 DHIEN ~ Bab 66
67 DHIEN ~ Bab 67
68 DHIEN ~ Bab 68
69 DHIEN ~ Bab 69
70 DHIEN ~ Bab 70.
71 DHIEN ~ Bab 71
72 DHIEN ~ Bab 72
73 DHIEN ~ Bab 73
74 DHIEN ~ Bab 74
75 DHIEN ~ Bab 75
76 DHIEN ~ Bab 76
77 DHIEN ~ Bab 77
78 DHIEN ~ Bab 78
79 DHIEN ~ Bab 79
80 DHIEN ~ Bab 80
81 DHIEN ~ Bab 81
82 DHIEN ~ Bab 82
83 DHIEN ~ Bab 83
84 DHIEN ~ Bab 84
85 DHIEN ~ Bab 85
86 DHIEN ~ Bab 86
87 DHIEN ~ Bab 87
88 DHIEN ~ Bab 88
89 DHIEN ~ Bab 89
90 DHIEN ~ Bab 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
DHIEN ~ Bab 01
2
DHIEN ~ Bab 02
3
DHIEN ~ Bab 03
4
DHIEN ~ Bab 04
5
DHIEN ~ Bab 05
6
DHIEN ~ Bab 06
7
DHIEN ~ Bab 07
8
DHIEN ~ Bab 08
9
DHIEN ~ Bab 09
10
DHIEN ~ Bab 10
11
DHIEN ~ Bab 11
12
DHIEN ~ Bab 12
13
DHIEN ~ Bab 13
14
DHIEN ~ Bab 14
15
DHIEN ~ Bab 15
16
DHIEN ~ Bab 16
17
DHIEN ~ Bab 17
18
DHIEN ~ Bab 18
19
DHIEN ~ Bab 19
20
DHIEN ~ Bab 20
21
DHIEN ~ Bab 21
22
DHIEN ~ Bab 22
23
DHIEN ~ Bab 23
24
DHIEN ~ Bab 24
25
DHIEN ~ Bab 25
26
DHIEN ~ Bab 26
27
DHIEN ~ Bab 27
28
DHIEN ~ Bab 28
29
DHIEN ~ Bab 29
30
DHIEN ~ Bab 30
31
DHIEN ~ Bab 31
32
DHIEN ~ Bab 32
33
DHIEN ~ Bab 33
34
DHIEN ~ Bab 34
35
DHIEN ~ Bab 35
36
DHIEN ~ Bab 36
37
DHIEN ~ Bab 37
38
DHIEN ~ Bab 38
39
DHIEN ~ Bab 39
40
DHIEN ~ Bab 40
41
DHIEN ~ Bab 41
42
DHIEN ~ Bab 42
43
DHIEN ~ Bab 43
44
DHIEN ~ 44
45
DHIEN ~ Bab 45
46
DHIEN ~ Bab 46
47
DHIEN ~ Bab 47
48
DHIEN ~ Bab 48
49
DHIEN ~ Bab 49
50
DHIEN ~ Bab 50
51
DHIEN ~ Bab 51
52
DHIEN ~ Bab 52
53
DHIEN ~ Bab 53
54
DHIEN ~ Bab 54
55
DHIEN ~ Bab 55
56
DHIEN ~ Bab 56
57
DHIEN ~ Bab 57
58
DHIEN ~ Bab 58
59
DHIEN ~ Bab 59
60
DHIEN ~ Bab 60
61
DHIEN ~ Bab 61
62
DHIEN ~ Bab 62
63
DHIEN ~ Bab 63
64
DHIEN ~ Bab 64
65
DHIEN ~ Bab 65
66
DHIEN ~ Bab 66
67
DHIEN ~ Bab 67
68
DHIEN ~ Bab 68
69
DHIEN ~ Bab 69
70
DHIEN ~ Bab 70.
71
DHIEN ~ Bab 71
72
DHIEN ~ Bab 72
73
DHIEN ~ Bab 73
74
DHIEN ~ Bab 74
75
DHIEN ~ Bab 75
76
DHIEN ~ Bab 76
77
DHIEN ~ Bab 77
78
DHIEN ~ Bab 78
79
DHIEN ~ Bab 79
80
DHIEN ~ Bab 80
81
DHIEN ~ Bab 81
82
DHIEN ~ Bab 82
83
DHIEN ~ Bab 83
84
DHIEN ~ Bab 84
85
DHIEN ~ Bab 85
86
DHIEN ~ Bab 86
87
DHIEN ~ Bab 87
88
DHIEN ~ Bab 88
89
DHIEN ~ Bab 89
90
DHIEN ~ Bab 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!