DHIEN ~ Bab 09

Dhien VS Burung Emprit nya Fikar 🔥.

......................

Fikar yang melihat sang istri begitu lahap mengunyah sepotong kentang, langsung ikutan makan, tidak ada lagi kecurigaan, yang ada nafsu atas bawahnya semakin membara. Perut kenyang, Burung pun harus senang.

“Enak ‘kan?” Dhien bertanya, seraya menatap biasa saja wajah laki-laki berkumis sedikit tebal, serta alis menukik tajam, mereka duduk di kursi kayu meja makan yang berukuran setengah meter.

“Lumayan … ekheg,” ucapnya sambil bersendawa.

‘Lumayan gundul kau! Habis tak bersisa sampai sebutir nasi pun kandas, bisa-bisanya kau kasih nilai tak sempurna. Dasar keturunan Beruk!’

“Ya ampun, aku melupakan sesuatu!” Dhien menepuk jidatnya, lalu bangkit dan berjalan ke meja dapur tanpa sekat.

“Kudengar dari Bik Ayie, kalau kau begitu menyukai usus dan brutu ( pantat) Ayam. Ini tadi aku pisahkan, karena takut di embat orang lain.” Dhien menaruh mangkuk plastik kecil di atas meja papan tanpa alas.

Tanpa berpikir panjang, dikarenakan memang bagian Ayam kesukaannya. Langsung saja Fikar melahapnya, sampai kuah santan menempel di kumisnya.

“Sekarang waktunya memakanmu, Dhien! Kau pilih di mana, kasur, dapur atau sumur pun jadi, biar abis tu langsung mandi dan tambah lagi!” Fikar hendak menarik tangan Dhien, tetapi malah menangkap angin.

“Kau mau Burungmu panas karena cabean? Sebab aku tak cuci tangan dan langsung memainkannya!” alibi Dhien, dia berdiri sedikit jauh dari jangkauan Fikar, sengaja makan tidak pakai sendok, biar memiliki alasan untuk mengulur waktu.

“Tunggu saja di tilam macam orang hamil tu!” tunjuknya pada amben yang terdapat tilam kapuk menggembung dibagian tengah, lalu dirinya ke belakang sambil membawa piring kotor.

“Ada apa ni? Mengapa rasanya bumi bergoyang?” Fikar mencoba menggelengkan kepalanya, sampai matanya melotot pun tetap saja ia merasa seperti berputar-putar.

BUGH.

Tubuh tinggi besar, mirip tukang jagal di rumah pemotongan hewan itu seketika ambruk, dia mulai meracau seperti orang mabuk.

“Ah Ni, Ma, Sa, Di, lubang kalian macam punya Lembu yang sudah los doll!” Fikar terus saja mengumpat, bahkan sekarang dirinya hanya mengenakan sempak, terlentang di tengah ranjang berderit, dengan perut sedikit membuncit dikarenakan kekenyangan.

Netra Dhien sama sekali tidak berkedip, menatap sosok Fikar yang seperti Mawas. Dhien berdiri pada pojokan ruangan tidak bersekat. Kedua tangannya terkepal erat dengan napas mulai memburu, amarah, sakit hati berkumpul menjadi satu.

“Kalian kira, trik murahan macam ni, bisa membuatku frustasi dan berakhir memilih mati! Setelah semua ni berakhir, target ku selanjutnya adalah kalian para manusia titisan Fir'aun!”

Dhien membelah buah kecubung yang dia sembunyikan pada plastik kresek. Kemudian mendekati Fikar, menaruh buah tadi di sisinya.

Tanpa ragu, Dhien membuka celana dalam berwarna putih milik laki-laki yang bertingkah seolah mencumbu seorang wanita.

“Ah ah ah … terus Lonte! Genjot yang kuat!”

“Ternyata Burung mu macam punya anak bayi Fikar! Kecil, pendek, bisa-bisanya banyak yang mau kau kawini!” Sambil menahan mual, Dhien mengoleskan bagian dalam buah kecubung di Emprit nya Fikar.

“Kita lihat sampai mana kau sanggup memuntahkan lahar berbau busuk tu!” Ucapnya seraya menatap jijik.

Fikar yang sedari tadi hanya bergumam dan meracau tidak jelas, sekarang mulai memainkan miliknya sendirian dikarenakan terasa gatal dan mulai berdiri, alam bawah sadarnya begitu aktif menampilkan banyaknya adegan ranjang yang pernah dilakukannya dengan para wanita bayaran.

Dhien membalik kursi kayu meja makan menjadi menghadap si Fikar, ia duduk tenang dengan mata terbuka lebar, menatap lekat bagaimana sosok suami yang tidak diinginkan nya itu tengah berkawin dengan tangannya sendiri.

“Ah … Aku sampai!” serunya seraya memuntahkan cairan di atas pahanya sendiri.

“Satu!” Dhien menghitung pelepasan si Fikar, seperti yang dikatakan guru karate nya, bila seorang laki-laki mengoleskan buah kecubung pada Burungnya sendiri, maka tidak cukup satu kali ejakulasi, setidaknya sampai 3 kali, baru dirinya berhenti.

Mengonsumsi Kecubung, baik itu akar, batang, daun sampai buahnya, efeknya begitu dahsyat, bagi yang tidak pintar mengolahnya bisa keracunan. Selain itu, kecubung juga dapat membuat seseorang seperti berhalusinasi, dan buahnya dapat membuat burung laki-laki ereksi berakhir ejakulasi.

Dhien bukanlah gadis lugu yang tidak tahu menahu soal hal tabu, berbaur dengan orang-orang culas, jahat, membuatnya harus tetap waspada dan selalu mencari celah untuk membalas setiap kesakitan, ketidakadilan dirinya dan juga sang ibu.

“Dua!” hitungnya dengan raut wajah seperti orang hendak muntah, di hadapannya, si Fikar kembali memuntahkan lahar, sampai kedua pahanya bergetar dengan posisi duduk, mata terpejam.

“Dhien! Habis kau kali ini … ha ha ha! Kau lihat kan? Seberapa gagahnya aku dalam menunggangi mu!” racaunya seraya menungging, kepala terbenam di bantal, sebelah tangan berada di selangkangannya sendiri.

Di balik dinding papan tidak di ketam, dalam kegelapan malam tanpa bintang, dua sosok wanita tersenyum puas, mengira Dhien sudah kehilangan mahkotanya, lalu mereka melangkah diam-diam menjauhi rumah yang sebenarnya adalah gudang.

.

.

“Mampus kau Dhien! Sekarang betul-betul hina dirimu, tak ada lagi hal berharga yang tersisa!” Bibir Winda menyunggingkan senyum culas, dia dan Suci baru saja pulang dari menguping malam pertama Dhien.

“Win, sebetulnya apa yang membuatmu begitu membenci Dhien? Bukankah sedari nya bayi sudah tak diinginkan serta telah diasingkan dari keluarga kalian?” tanya Suci seraya menatap Winda. Mereka sedang berada di teras rumah Ramlah, yang bercahaya kan lampu petromak.

“Karenanya, Dzikri tak pernah menganggap diri ini ada, selalu Dhien yang ia tatap. Segala hal yang kulakukan untuk menarik perhatian pemuda tu, tak ada satupun yang berhasil membuatnya berpaling ke arah ku, melirik saja nya enggan!”

“Kau masih menyukai Dzikri? Kukira sudah tak lagi. Bukankah sekarang dirimu telah memiliki kekasih?”

“Para pemuda tu hanya selingan mengisi kekosongan dikala aku belum berhasil memikat hati Dzikri,” jawab Winda.

“Kau juga, selagi si Rani masih betah di ibukota, gunakan kesempatan yang ada untuk mendekati bang Agam. Bila perlu pergilah ke dukun, pasang susuk atau apa kek, biar nya terpikat berakhir terjerat!”

Bibir suci mencebik. “Macam mana nak mendekatinya, bila masih ada si Meutia gila tu! Galak kali nya jadi orang.”

***

Hening, senyap, hanya ada suara jangkrik malam. Dhien masih duduk di tempatnya, netranya tidak lagi setajam tadi, tetapi sayu bahkan berkaca-kaca.

“Ayah … Dhien lelah, bolehkah menyerah saja?” adu nya pilu.

“Sungguh diri ini letih Yah. Hidup hanya untuk waspada agar tak masuk perangkap mereka! Ayah … Dhien rindu! Tak bisakah sekali saja datang ke mimpi putrimu ni!” pintanya pilu.

Dhien menangis tergugu, sampai bahunya berguncang, kedua tangannya menekan paha agar kakinya berhenti bergetar hebat, dia tidaklah setangguh yang orang kira, terkadang bisa begitu lemah sampai tidak berdaya.

“Tak boleh putus asa Dhien! Kau harus kuat, bila menyerah, bagaimana nasib Emak nanti!” katanya menyemangati diri sendiri, mengusap kasar air matanya, lalu berusaha berdiri dan mulai menyelesaikan misi terakhirnya.

Tertatih kaki Dhien melangkah di lantai masih tanah, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan petak berdinding papan berserabut kasar, menatap dipan reot tidak ber kelambu, hanya ada tilam tipis berkain usang, meja dapur tidak layak pakai, dan hanya ada satu penerangan lampu teplok yang disangkutkan pada paku dinding.

“Niat kali kalian hendak menyiksa ku! Besok atau lusa, siap-siap saja mendengar kabar menggemparkan! Aku harap jantung mu kuat ya Nenek calon penghuni neraka!”

.

.

“Hei Lonte! Sini kau! Apa betul semalam kita kawin …?”

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Yana Phung

Yana Phung

jadi penasaran pas ending gamala yg jd calonnya zikri
masa iya si Winda,, nggak ikhlas banget diriku 😭😭😭

2025-02-09

1

SasSya

SasSya

Winda ini nanti yg jdinya di peristri dzikri za kak author
dan berakhir cerai
atau wanita yg lainnya? 🤔

2025-02-09

4

jawir

jawir

Oh di cerita mala winda ama rani yg pegawai pukesmas itu ya
Oh jd itu gunanya kecubung buat Dhien ,ya ya jd itu alasannya dia masih suci....persembahan buat Dzikri

2025-02-10

1

lihat semua
Episodes
1 DHIEN ~ Bab 01
2 DHIEN ~ Bab 02
3 DHIEN ~ Bab 03
4 DHIEN ~ Bab 04
5 DHIEN ~ Bab 05
6 DHIEN ~ Bab 06
7 DHIEN ~ Bab 07
8 DHIEN ~ Bab 08
9 DHIEN ~ Bab 09
10 DHIEN ~ Bab 10
11 DHIEN ~ Bab 11
12 DHIEN ~ Bab 12
13 DHIEN ~ Bab 13
14 DHIEN ~ Bab 14
15 DHIEN ~ Bab 15
16 DHIEN ~ Bab 16
17 DHIEN ~ Bab 17
18 DHIEN ~ Bab 18
19 DHIEN ~ Bab 19
20 DHIEN ~ Bab 20
21 DHIEN ~ Bab 21
22 DHIEN ~ Bab 22
23 DHIEN ~ Bab 23
24 DHIEN ~ Bab 24
25 DHIEN ~ Bab 25
26 DHIEN ~ Bab 26
27 DHIEN ~ Bab 27
28 DHIEN ~ Bab 28
29 DHIEN ~ Bab 29
30 DHIEN ~ Bab 30
31 DHIEN ~ Bab 31
32 DHIEN ~ Bab 32
33 DHIEN ~ Bab 33
34 DHIEN ~ Bab 34
35 DHIEN ~ Bab 35
36 DHIEN ~ Bab 36
37 DHIEN ~ Bab 37
38 DHIEN ~ Bab 38
39 DHIEN ~ Bab 39
40 DHIEN ~ Bab 40
41 DHIEN ~ Bab 41
42 DHIEN ~ Bab 42
43 DHIEN ~ Bab 43
44 DHIEN ~ 44
45 DHIEN ~ Bab 45
46 DHIEN ~ Bab 46
47 DHIEN ~ Bab 47
48 DHIEN ~ Bab 48
49 DHIEN ~ Bab 49
50 DHIEN ~ Bab 50
51 DHIEN ~ Bab 51
52 DHIEN ~ Bab 52
53 DHIEN ~ Bab 53
54 DHIEN ~ Bab 54
55 DHIEN ~ Bab 55
56 DHIEN ~ Bab 56
57 DHIEN ~ Bab 57
58 DHIEN ~ Bab 58
59 DHIEN ~ Bab 59
60 DHIEN ~ Bab 60
61 DHIEN ~ Bab 61
62 DHIEN ~ Bab 62
63 DHIEN ~ Bab 63
64 DHIEN ~ Bab 64
65 DHIEN ~ Bab 65
66 DHIEN ~ Bab 66
67 DHIEN ~ Bab 67
68 DHIEN ~ Bab 68
69 DHIEN ~ Bab 69
70 DHIEN ~ Bab 70.
71 DHIEN ~ Bab 71
72 DHIEN ~ Bab 72
73 DHIEN ~ Bab 73
74 DHIEN ~ Bab 74
75 DHIEN ~ Bab 75
76 DHIEN ~ Bab 76
77 DHIEN ~ Bab 77
78 DHIEN ~ Bab 78
79 DHIEN ~ Bab 79
80 DHIEN ~ Bab 80
81 DHIEN ~ Bab 81
82 DHIEN ~ Bab 82
83 DHIEN ~ Bab 83
84 DHIEN ~ Bab 84
85 DHIEN ~ Bab 85
86 DHIEN ~ Bab 86
87 DHIEN ~ Bab 87
88 DHIEN ~ Bab 88
89 DHIEN ~ Bab 89
90 DHIEN ~ Bab 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
DHIEN ~ Bab 01
2
DHIEN ~ Bab 02
3
DHIEN ~ Bab 03
4
DHIEN ~ Bab 04
5
DHIEN ~ Bab 05
6
DHIEN ~ Bab 06
7
DHIEN ~ Bab 07
8
DHIEN ~ Bab 08
9
DHIEN ~ Bab 09
10
DHIEN ~ Bab 10
11
DHIEN ~ Bab 11
12
DHIEN ~ Bab 12
13
DHIEN ~ Bab 13
14
DHIEN ~ Bab 14
15
DHIEN ~ Bab 15
16
DHIEN ~ Bab 16
17
DHIEN ~ Bab 17
18
DHIEN ~ Bab 18
19
DHIEN ~ Bab 19
20
DHIEN ~ Bab 20
21
DHIEN ~ Bab 21
22
DHIEN ~ Bab 22
23
DHIEN ~ Bab 23
24
DHIEN ~ Bab 24
25
DHIEN ~ Bab 25
26
DHIEN ~ Bab 26
27
DHIEN ~ Bab 27
28
DHIEN ~ Bab 28
29
DHIEN ~ Bab 29
30
DHIEN ~ Bab 30
31
DHIEN ~ Bab 31
32
DHIEN ~ Bab 32
33
DHIEN ~ Bab 33
34
DHIEN ~ Bab 34
35
DHIEN ~ Bab 35
36
DHIEN ~ Bab 36
37
DHIEN ~ Bab 37
38
DHIEN ~ Bab 38
39
DHIEN ~ Bab 39
40
DHIEN ~ Bab 40
41
DHIEN ~ Bab 41
42
DHIEN ~ Bab 42
43
DHIEN ~ Bab 43
44
DHIEN ~ 44
45
DHIEN ~ Bab 45
46
DHIEN ~ Bab 46
47
DHIEN ~ Bab 47
48
DHIEN ~ Bab 48
49
DHIEN ~ Bab 49
50
DHIEN ~ Bab 50
51
DHIEN ~ Bab 51
52
DHIEN ~ Bab 52
53
DHIEN ~ Bab 53
54
DHIEN ~ Bab 54
55
DHIEN ~ Bab 55
56
DHIEN ~ Bab 56
57
DHIEN ~ Bab 57
58
DHIEN ~ Bab 58
59
DHIEN ~ Bab 59
60
DHIEN ~ Bab 60
61
DHIEN ~ Bab 61
62
DHIEN ~ Bab 62
63
DHIEN ~ Bab 63
64
DHIEN ~ Bab 64
65
DHIEN ~ Bab 65
66
DHIEN ~ Bab 66
67
DHIEN ~ Bab 67
68
DHIEN ~ Bab 68
69
DHIEN ~ Bab 69
70
DHIEN ~ Bab 70.
71
DHIEN ~ Bab 71
72
DHIEN ~ Bab 72
73
DHIEN ~ Bab 73
74
DHIEN ~ Bab 74
75
DHIEN ~ Bab 75
76
DHIEN ~ Bab 76
77
DHIEN ~ Bab 77
78
DHIEN ~ Bab 78
79
DHIEN ~ Bab 79
80
DHIEN ~ Bab 80
81
DHIEN ~ Bab 81
82
DHIEN ~ Bab 82
83
DHIEN ~ Bab 83
84
DHIEN ~ Bab 84
85
DHIEN ~ Bab 85
86
DHIEN ~ Bab 86
87
DHIEN ~ Bab 87
88
DHIEN ~ Bab 88
89
DHIEN ~ Bab 89
90
DHIEN ~ Bab 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!