DHIEN ~ Bab 07

Sudah mirip Lutung, mata keranjang lagi.

...----------------...

Sosok gadis baru memasuki usia dewasa itu, berlari kecil menghampiri Amala dan Dhien yang sedang berada di pojok samping rumah Emak Inong.

Dhien dan Amala saling melirik, lalu menarik napas panjang, adanya si periang ini tentu saja akan menambah beban pikiran.

“Assalamualaikum wahai Makhluk Ciptaan Tuhan yang masih bernapas.” Sapanya seraya menjatuhkan tas selempangnya begitu saja di atas tanah.

“Walaikumsalam,” jawab Dhien dan Amala serempak sedikit tidak semangat.

“Sudah bagus-bagus kau di Ibu kota sana, dan Desa kita ni menjadi aman damai sentosa selama kepergian mu. Namun, mengapa pakai acara pulang segala kau, Meutia!” Dhien yang sedang mencabuti bulu Ayam, mencibir Meutia, adik dari sahabatnya.

“Iss … Kakak ni, jahat betul cakapnya! Tahu tak Kak_”

“Tak!” sahut Dhien cepat.

“Ya Rabb, kasihan kali lah nasib Tia ni, padahal begitu turun dari mobil bututnya Bang Agam, langsung berlari ke sini. Tapi, bukannya disambut hangat malah langsung diajak bergaduh!” ucapnya mendramatisir keadaan, dengan raut sengaja dibuat memelas.

Bukannya kasihan, Dhien bertambah mencemooh. “Bersyukurlah memiliki kendaraan roda empat, cobak kau lihat lainnya! Kemana-mana nyeker mereka.”

Meutia ikutan duduk di atas batu kerikil. “Bukannya tak bersyukur, tapi siapa yang senang bila naik mobil saat menanjak bukit akan berbunyi macam ni … grok grok grok, udah kayak Babi ngorok saja, begitu penurunan langsung mencicit nya seperti Tikus hendak dimakan Ular sawah!”

Amala langsung tertawa, lain halnya dengan Dhien yang semakin kesal.

“Ya tetap saja kau beruntung, Tia! Tak perlu berpanas-panasan, tinggal duduk tenang di kursi penumpang!”

“Kalau yang mengemudi Bang Agam atau suaminya Kak Wahyuni, ya masih mending lah. Tapi, ini … Kakek-kakek yang bunyi tarikan napasnya sampai terdengar ke kampung sebelah, mana lajunya lebih cepat Siput lagi!” gerutunya tidak berkesudahan.

“Senangnya dalam hati, setelah setengah tahun berjuang sampai titik darah penghabisan, akhirnya Tia pulang kampung jua.” Meutia tanpa risih langsung rebahan, tas nya tadi dibuat bantalan, dia yang sedang libur semester, memutuskan pulang ke rumah ibunya, daripada tetap tinggal di kost-an khusus wanita.

“Lagak kau berjuang, udah macam Pahlawan saja! Padahal aslinya tukang tidurnya dirimu tu!” Dhien mulai memotong Ayam menjadi bagian-bagian kecil.

Meutia memiringkan kepalanya, menatap tidak suka pada Dhien. “Ck … gini-gini, Tia calon guru loo, Kak. Apa tak Pahlawan tanpa tanda jasa tu namanya?”

"Pada saat awal mengambil jurusan tu, aku rasa kepalamu habis terbentur, Tia. Kau tu lebih pantas menjadi tukang Jagal Lembu atau Kambing di rumah pemotongan daging, daripada menjadi seorang pengajar!”

“Tak nya kau ingat dulu, berapa banyak anak kecil yang menangis akibat ulah ajaib mu tu! Belum lagi ada yang kena sawan lantaran kau takuti menggunakan baju macam Kuntilanak!” sambung Dhien tanpa ampun.

Amala yang sedari tadi menyimak, kini tertawa terbahak-bahak, Meutia pun ikutan terpingkal-pingkal.

“Ya Allah, sakit perut Tia, Kak! Tapi, bukan salah diri ini sih, anak kecil tu saja yang imannya sangat lemah, jadi mudah dirasuki makhluk halus,” kilahnya tidak masuk akal.

“Bukan dia yang lemah iman, tapi kau sendiri kehilangan akal alias tak waras.” Dhien berdiri sambil berkacak pinggang.

Meutia bangkit dan ikutan berdiri, menepuk-nepuk bokongnya agar debu hilang, netranya memandang sekitar lalu fokus pada Dhien.

“Kakak betulan mau nikah, atau cuma main kawin-kawinan? Mengapa tak ada teratak yang terpasang, lalu … kuku Kakak pun masih berwarna putih.” Keningnya Meutia mengernyit dalam, hatinya dipenuhi oleh tanda tanya.

"Anggap saja hendak main rumah-rumahan,” jawab Dhien asal, lalu berjalan memasuki dapur, Meutia mengikuti dari belakang.

“Alhamdulillah lah, terselamatkan uang jajan Tia, sebab tak perlu beli kado.”

“Emak! Anak mu pulang loo ni, mengapa tak di sambut dengan tari Tor-tor ataupun Saman?” Meutia memeluk Emak Inong dari belakang.

“Tak juga berubah anak bungsu Emak ni, masih saja manja serta kekanakan.” Emak Inong yang sedang mengulek bumbu, mencium lengan Meutia yang tertutup kemeja longgar.

“Mau berubah macam mana, Mak?” tanyanya, duduk di amben berhadapan dengan Emak Inong.

“Siapa tahu, di kota sana kau telah menemukan sosok laki-laki yang baik hati dan langsung hendak meminang, jadi status mu tak lagi gadis, tapi seorang istri.”

“Mana ada yang tahan dengan Meutia, Mak! Baru beberapa jam duduk berdua, sudah pasti kabur tu laki-laki, apalagi hidup seatap, langsung kejang-kejang mungkin dirinya menghadapi sifat Meutia yang macam petasan banting!” sela Dhien.

Meutia memanyunkan bibirnya. “Pasti ada lah, sosok pria yang memiliki kesabaran sedalam Palung Mariana, terus isi kantongnya setebal buku catatan pahala, Tia!”

“Apa pulak cakap pahala, kau tu keberatan dosa! Makanya tak bisa gemuk badanmu. Makan banyak pun tetap saja cungkring!” ejek Dhien, yang sengaja mengalihkan perhatian Meutia, sebab Amala sedang melakukan hal rahasia.

Perdebatan itupun masih terus berlanjut, sampai di mana jarum jam berdenting tepat di pukul 11.

***

Tikar sudah di gelar, piring berisi kue dadar, lapis, dan bolu pisang, berjajar rapi. Ceret teh serta gelas pun ikut meramaikan ruangan tidak seberapa luas itu.

Di tengah-tengah ruangan, terdapat meja kayu pendek yang hanya dilapisi kain jarik.

Pak penghulu juga sudah datang bersama pak RT setempat, mereka duduk bersandar pada dinding tembok.

“Assalamualaikum!”

Mendengar sapaan itu, dada Emak Inong langsung bergemuruh, dia begitu mengenali salah satu pemilik suara yang dulu selalu membentak dirinya.

“Walaikumsalam!” Meutia yang menyambut, wajahnya dipaksa tersenyum hambar.

Nek Blet, dan para antek-anteknya memasuki bangunan rumah kecil Emak Inong, di belakang mereka ada calon mempelai laki-laki bersama ibunya, dan Suci, adik perempuan nya Fikar.

Para wanita duduk di sisi dalam bagian ruangan bersebelahan dengan dapur, dan laki-laki dekat pintu masuk rumah.

“Assalamualaikum!” sapa suara lain yang terdengar dalam dan tegas.

“Bang Agam, Nak Dzikri … mari duduk dekat kami!” ucap pak RT, mempersilahkan dua sosok pria yang salah satunya begitu disegani.

Agam Siddiq dan juga Dzikri Ramadhan, terlihat begitu rupawan, dengan mengenakan kain sarung, peci, dan baju koko.

Kedatangan dua sosok pria tampan dan tentu saja mapan itu, berhasil membuat dua gadis tersipu-sipu malu, netra mereka asik mencuri pandang yang sama sekali tidak ditanggapi.

Fikar yang mengenakan kemeja putih polos berlengan panjang, serta celana bahan hitam, terlihat sudah menjabat tangan pak penghulu yang telah siap memimpin ijab kabul, disebelah mereka ada Zulham yang menjadi wali untuk adiknya.

“Saya terima nikah dan kahwinnya Dhien binti Syamsul, dengan mahar 500 rupiah dibayar tunai!”

“Bagaimana saksi?”

“Sah!”

“Sah!”

“Sah!”

“Alhamdulillah!”

‘Astaghfirullah. Bagaimana bisa Kak Dhien mau dinikahi laki-laki mirip Lutung tu, udah jelek, mata keranjang lagi! Tak ada bagus-bagusnya, cuma menang bergigi putih, itupun sedikit maju_!'

'Lihatlah kumisnya yang macam Ikan Lembat. Apa jangan-jangan … Kak Dhien di guna-guna ya?’ batin Meutia begitu berisik, sampai tidak menyadari sosok pengantin wanita sudah duduk bersanding dengan suaminya.

.

.

Dhien berjinjit, mencium sisi leher suaminya, lalu membisikkan sesuatu yang berhasil membuat Fikar meremas bokong sang istri.

.

.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Upil Mercon

Upil Mercon

duit 500 gambar orang utan itu waktu jamanku dulu gede banget,, bisa beli apel merah kalo ada 3lembar 😅
apalah dayaku ini hanya mampu makan apel ijo kecil² 😁

2025-03-03

2

Amy

Amy

koreksi ijab qabul kakak author, tetap pake nama ayah, jgn pake almarhum

2025-02-08

1

aliifa afida

aliifa afida

lanjut thor... semangat ... tak tunggu up nya yaaa/Heart//Heart//Heart//Heart//Good/

2025-02-08

1

lihat semua
Episodes
1 DHIEN ~ Bab 01
2 DHIEN ~ Bab 02
3 DHIEN ~ Bab 03
4 DHIEN ~ Bab 04
5 DHIEN ~ Bab 05
6 DHIEN ~ Bab 06
7 DHIEN ~ Bab 07
8 DHIEN ~ Bab 08
9 DHIEN ~ Bab 09
10 DHIEN ~ Bab 10
11 DHIEN ~ Bab 11
12 DHIEN ~ Bab 12
13 DHIEN ~ Bab 13
14 DHIEN ~ Bab 14
15 DHIEN ~ Bab 15
16 DHIEN ~ Bab 16
17 DHIEN ~ Bab 17
18 DHIEN ~ Bab 18
19 DHIEN ~ Bab 19
20 DHIEN ~ Bab 20
21 DHIEN ~ Bab 21
22 DHIEN ~ Bab 22
23 DHIEN ~ Bab 23
24 DHIEN ~ Bab 24
25 DHIEN ~ Bab 25
26 DHIEN ~ Bab 26
27 DHIEN ~ Bab 27
28 DHIEN ~ Bab 28
29 DHIEN ~ Bab 29
30 DHIEN ~ Bab 30
31 DHIEN ~ Bab 31
32 DHIEN ~ Bab 32
33 DHIEN ~ Bab 33
34 DHIEN ~ Bab 34
35 DHIEN ~ Bab 35
36 DHIEN ~ Bab 36
37 DHIEN ~ Bab 37
38 DHIEN ~ Bab 38
39 DHIEN ~ Bab 39
40 DHIEN ~ Bab 40
41 DHIEN ~ Bab 41
42 DHIEN ~ Bab 42
43 DHIEN ~ Bab 43
44 DHIEN ~ 44
45 DHIEN ~ Bab 45
46 DHIEN ~ Bab 46
47 DHIEN ~ Bab 47
48 DHIEN ~ Bab 48
49 DHIEN ~ Bab 49
50 DHIEN ~ Bab 50
51 DHIEN ~ Bab 51
52 DHIEN ~ Bab 52
53 DHIEN ~ Bab 53
54 DHIEN ~ Bab 54
55 DHIEN ~ Bab 55
56 DHIEN ~ Bab 56
57 DHIEN ~ Bab 57
58 DHIEN ~ Bab 58
59 DHIEN ~ Bab 59
60 DHIEN ~ Bab 60
61 DHIEN ~ Bab 61
62 DHIEN ~ Bab 62
63 DHIEN ~ Bab 63
64 DHIEN ~ Bab 64
65 DHIEN ~ Bab 65
66 DHIEN ~ Bab 66
67 DHIEN ~ Bab 67
68 DHIEN ~ Bab 68
69 DHIEN ~ Bab 69
70 DHIEN ~ Bab 70.
71 DHIEN ~ Bab 71
72 DHIEN ~ Bab 72
73 DHIEN ~ Bab 73
74 DHIEN ~ Bab 74
75 DHIEN ~ Bab 75
76 DHIEN ~ Bab 76
77 DHIEN ~ Bab 77
78 DHIEN ~ Bab 78
79 DHIEN ~ Bab 79
80 DHIEN ~ Bab 80
81 DHIEN ~ Bab 81
82 DHIEN ~ Bab 82
83 DHIEN ~ Bab 83
84 DHIEN ~ Bab 84
85 DHIEN ~ Bab 85
86 DHIEN ~ Bab 86
87 DHIEN ~ Bab 87
88 DHIEN ~ Bab 88
89 DHIEN ~ Bab 89
90 DHIEN ~ Bab 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
DHIEN ~ Bab 01
2
DHIEN ~ Bab 02
3
DHIEN ~ Bab 03
4
DHIEN ~ Bab 04
5
DHIEN ~ Bab 05
6
DHIEN ~ Bab 06
7
DHIEN ~ Bab 07
8
DHIEN ~ Bab 08
9
DHIEN ~ Bab 09
10
DHIEN ~ Bab 10
11
DHIEN ~ Bab 11
12
DHIEN ~ Bab 12
13
DHIEN ~ Bab 13
14
DHIEN ~ Bab 14
15
DHIEN ~ Bab 15
16
DHIEN ~ Bab 16
17
DHIEN ~ Bab 17
18
DHIEN ~ Bab 18
19
DHIEN ~ Bab 19
20
DHIEN ~ Bab 20
21
DHIEN ~ Bab 21
22
DHIEN ~ Bab 22
23
DHIEN ~ Bab 23
24
DHIEN ~ Bab 24
25
DHIEN ~ Bab 25
26
DHIEN ~ Bab 26
27
DHIEN ~ Bab 27
28
DHIEN ~ Bab 28
29
DHIEN ~ Bab 29
30
DHIEN ~ Bab 30
31
DHIEN ~ Bab 31
32
DHIEN ~ Bab 32
33
DHIEN ~ Bab 33
34
DHIEN ~ Bab 34
35
DHIEN ~ Bab 35
36
DHIEN ~ Bab 36
37
DHIEN ~ Bab 37
38
DHIEN ~ Bab 38
39
DHIEN ~ Bab 39
40
DHIEN ~ Bab 40
41
DHIEN ~ Bab 41
42
DHIEN ~ Bab 42
43
DHIEN ~ Bab 43
44
DHIEN ~ 44
45
DHIEN ~ Bab 45
46
DHIEN ~ Bab 46
47
DHIEN ~ Bab 47
48
DHIEN ~ Bab 48
49
DHIEN ~ Bab 49
50
DHIEN ~ Bab 50
51
DHIEN ~ Bab 51
52
DHIEN ~ Bab 52
53
DHIEN ~ Bab 53
54
DHIEN ~ Bab 54
55
DHIEN ~ Bab 55
56
DHIEN ~ Bab 56
57
DHIEN ~ Bab 57
58
DHIEN ~ Bab 58
59
DHIEN ~ Bab 59
60
DHIEN ~ Bab 60
61
DHIEN ~ Bab 61
62
DHIEN ~ Bab 62
63
DHIEN ~ Bab 63
64
DHIEN ~ Bab 64
65
DHIEN ~ Bab 65
66
DHIEN ~ Bab 66
67
DHIEN ~ Bab 67
68
DHIEN ~ Bab 68
69
DHIEN ~ Bab 69
70
DHIEN ~ Bab 70.
71
DHIEN ~ Bab 71
72
DHIEN ~ Bab 72
73
DHIEN ~ Bab 73
74
DHIEN ~ Bab 74
75
DHIEN ~ Bab 75
76
DHIEN ~ Bab 76
77
DHIEN ~ Bab 77
78
DHIEN ~ Bab 78
79
DHIEN ~ Bab 79
80
DHIEN ~ Bab 80
81
DHIEN ~ Bab 81
82
DHIEN ~ Bab 82
83
DHIEN ~ Bab 83
84
DHIEN ~ Bab 84
85
DHIEN ~ Bab 85
86
DHIEN ~ Bab 86
87
DHIEN ~ Bab 87
88
DHIEN ~ Bab 88
89
DHIEN ~ Bab 89
90
DHIEN ~ Bab 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!