DHIEN ~ Bab 05

Kami bernyawa, bukan hanya sekedar nama.

...----------------...

Ayek menuruni jalan sedikit menukik, anak laki-laki itu hanya mengenakan kaos singlet tidak berlengan, dan celana pendek, di lehernya tergantung ketapel terbuat dari ban karet, serta kompeng yang diikat dengan tali plastik berwarna merah muda, sebelah tangannya menyeret tali tambang kecil yang terdapat jerigen plastik.

"Sekarang sudah jelas ‘kan, apa yang kulakukan?!” hardik Dhien.

Ayek manggut-manggut, seraya menatap rumput tercabut se akar-akarnya. “Mana tahu Kak Dhien masih mirip adik tak pintar ku tu, yang di mana jongkok, disitulah nya berak.”

Dhien menarik napas panjang, menghadapi bocah ingusan dan cengeng ini memang membutuhkan kesabaran ekstra. “Kau hendak kemana? Mengapa mengomel terus muncung memble mu tu?”

Bertambah panjang saja bibir Ayek, kala dikatain ndower. “Tadi Mamak menyuruh belik barang, tapi aku lupa hendak belanja apa!”

“Lah, yang kau seret tu bukannya sudah jadi petunjuk mu!”

Ayek menatap ke belakang, lalu menepuk jidatnya. “Ini lah kalau ketika bayi cuma di kasih air tajin, besarnya jadi pelupa.”

"Alasannya teross! Bilang saja kalau kau memang tak pintar, alias Paok!” ucap Dhien begitu tega, saat melihat mata Ayek sudah berkaca-kaca. “Menangis lah! Berani kau meneteskan air mata, maka bersiaplah ku lempar batu!”

Anak laki-laki itu langsung menggeleng, cepat-cepat ngemut kompeng nya.

“Macam mana kau mau jadi kuat, baru ku gertak sedikit sudah mewek, Yek!” Dhien bersedekap dada.

"Mengompeng teros lah kau! Rontok semua nanti gigi mu, baru tahu rasa!" celetuknya lagi.

Ayek melepaskan kompeng nya. “Aku kan masih anak kecil, jadi wajarlah kalau cengeng dan masih ngompeng, lagi pula kata Mamak ku, kalau nanti giginya habis, bisa diganti dengan gigi Kambing.”

"Astaghfirullah." Dhien menggeleng kepala, dirinya kehabisan kata-kata.

“Kecil jari kelingking kau! Tinggi badan sudah melebihi anak seusia mu, tapi mental mengapa masih sependek Burung kau yang sering digigit Tengu!” cecar Dhien.

“Tak usah buka celana buluk kau tu! Masih sama nya kecilnya kacuk mu, bantat!” Lagi-lagi Dhien mengatai Ayek, dia sengaja melakukan hal itu, agar anak tetangganya ini menjadi sedikit kuat mentalnya.

“Kakak tega, tapi tak apa, aku terima! Sebab, sekarang Kak Dhien adalah guru ku!” Ayek menunduk hormat, tidak melihat kalau Dhien sudah menahan tawa agar tidak terbahak-bahak.

“Bagus! Sekarang kau cium tu jerigen, bau nya apa?”

Seperti anak penurut, Ayek langsung mengambil jerigen berwarna putih kecoklatan dengan berat 2 liter. “Bau minyak tanah.”

“Berarti kau disuruh beli minyak lampu!” balas Dhien.

Dahi Ayek mengernyit. “Tapi, seingat ku yang masih hilang timbul ni, kalau tak salah … Mamak cakap, belik 1 liter minyak makan.”

“Astaga! Paoknya kau, Yek! Paling bisa membuatku naik darah!” Dhien mengelus dada nya, mencoba bersabar padahal dia orang paling tidak sabaran.

“Kau mau keracunan, sebab makan sesuatu yang diolah dari minyak makan campur minyak lampu. Iya?!”

“Bisa ya ... macam tu, Kak?” tanyanya seperti orang tidak berdosa.

“Enyah kau, Yek!” Dhien mengacungkan parangnya, langsung saja Ayek lari tunggang-langgang sambil menarik tali tambang, dan ngempeng.

Selepas kepergian Ayek, Dhien duduk di kursi kayu teras rumah, membiarkan saja rumput yang tercabut agar terjemur sinar matahari, setelah kering baru di bakar.

Baru saja Dhien hendak masuk rumah, kembali dia mendengar Ayek bernyanyi tidak jelas.

“Dasar lagu tak nyambung. Masa habis potong Bebek Angsa, Nona minta dansa, apa hubungannya coba? Kan aneh! Tak tahu apa mereka, kalau Bebek ya Bebek, Angsa lain lagi jenisnya!”

"Sudahlah, Dhien!” Emak Inong yang ikut mendengarkan, mencoba menghalangi sang anak.

“Tak bisa dibiarkan, Mak!” Lalu, Dhien melangkah mendekati jalan umum.

“Mana minyak tanah yang kau beli, Yek?”

“Kan, kan … gara-gara Kakak, permen rokok ku jadi kegigit!” Ayek kembali hendak menangis kala permen mirip rokok itu tinggal separuh.

“Kau disuruh beli apa, lain pula yang kau bawa. Habislah kau nanti, kalau sampai Mamak mu mengamuk!” Dhien mencoba menakuti.

“Tak lah! Bukan salah ku, sebab jerigennya hilang entah kemana.” Ayek kembali mengunyah permennya yang masih tersisa.

“Membual saja kau! Lalu buntut mu tu, kalau bukan jerigen apa namanya?!”

Ayek langsung melihat ke belakang badannya, yang mana ada jerigen, ternyata talinya ia kalungkan jadi satu bersama antek-anteknya.

“Ayek! Sebenarnya kau pergi belik minyak lampu, atau melayat! Mengapa lama betul?!” Teriakan ibunya Ayek terdengar sangat nyaring.

“Habislah aku, Kak! Tak mau pulang lah diri ini!” Bukan kembali ke huniannya, Ayek malah bersembunyi di dalam rumah Dhien.

***

Hari pun berlalu, serta minggu berganti, tiba saatnya Dhien hendak dipersunting oleh Fikar, pemuda dari kampung Pertanian.

Kabar pernikahan mendadak Dhien sudah tersebar luas, banyak mulut yang mempertanyakan alasannya, tidak sedikit pula yang menuding kalau Dhien hamil di luar nikah.

Amala yang baru pulang dari menderes getah, langsung pergi ke rumah sahabatnya, dia membawa sesuatu dalam kantong kresek berwarna hitam.

“Dhien!” panggilnya.

“Ya, aku di dapur Mala!”

Mala pergi ke arah dapur, ternyata Dhien dan Emak Inong sedang mengupas kulit buah pinang, Mala ikut berjongkok.

“Ini aku bawa yang kau pinta.” Mala membuka ikatan plastik.“Cukup segini 'kan? Bila tak, biar ku petik lebih banyak lagi! Semoga saja langsung beda alam nya nanti!”

Dhien mengambil alih plastik hitam itu, lalu mengeluarkan isinya di atas karung yang sudah dipotong bagian sisinya agar terbentang lebar.

"Sudah cukup ni, Mala! Terima kasih ya," ucapnya haru, menatap hangat wajah teduh Nur Amala.

“Apa betulan manjur? Daun dan buah kecubung tu, Dhien?” Emak Inong bertanya dengan wajah cemas.

Dhien tersenyum menyakinkan, tangannya menekan buah kecubung yang terasa seperti berduri tajam kala digenggam. “Pasti Mak! Sebelumnya Dhien sudah pernah bertanya pada guru karate, beliau bercerita banyak tentang manfaatnya.”

Meskipun belum sepenuhnya percaya, Emak Inong tetap mengangguk sebagai bentuk menyemangati. Ya, dirinya seratus persen mendukung semua rencana Dhien, sudah saatnya mereka tidak lagi tunduk pada si pemberi luka.

Dhien sendiri memilih jujur kepada ibunya, tidak ada yang ditutupi, semua itu sebagai bentuk menghargai dan menganggap bahwa Emak Inong sebagai sosok begitu istimewa.

“Sudah cukup kita tak dianggap ada, kini saatnya untuk membebaskan diri dan membuktikan bila kita makhluk bernyawa yang sangat berharga!” ucap Dhien dengan sorot mata begitu dingin.

Dhien sadar diri kalau menghadapi Fikar, tidak cukup hanya mengandalkan tenaga saja, harus juga menggunakan strategi yang matang.

.

.

“Kau tampung darahnya, Mala! Semakin banyak malah tambah bagus!”

"Ya Rabb, tolong lindungi permata hati hamba! Lancarkan lah setiap rencana yang hendak ia lakukan! Tutuplah mata serta insting mereka, agar tak menyadari kalau hendak diakali!"

.

.

Bersambung.

Kak, saya mau nanya ... udah berasa macam acara mamah Dedeh aja✌️😊

Kalau saya sisipkan foto, nggak menganggu konsentrasi yang baca 'kan?

Soalnya belajar dari GAMALA, ternyata banyak juga yang belum tahu, misal buah apa atau apa gitu. Jadi, tak sisipkan foto sekalian di sini.

Terpopuler

Comments

Wulhan Agustyna Ismail

Wulhan Agustyna Ismail

ceritanya bagus thour, tapi bisakah pakai bahasa Indonesia saja, tidak usah pakai bahasa daerah, karena jujur thour aku ga ngerti bahasanya 🙏

2025-02-27

3

Akbar Razaq

Akbar Razaq

Tanaman kecubung aku tahu bahkan aku buat mainan.Tanaman jarak juga yg geyahnya buat mainan juga ygbseperti busa buat balon balon melayang.

2025-02-14

1

Uthie

Uthie

Nahh...itu lebih bagus Thor 👍🤩

biar buat kepahaman juga bagi yg lainnya 👍🤗🤗

kalau saya sihh tau buah Kecubung itu 👍😁😁

Alhamdulillah dulu masa kecil cukup dengan pengalaman melihat sekitar yg ada.. dan juga pengalaman berkesan dengan segala hal 😁

2025-02-07

1

lihat semua
Episodes
1 DHIEN ~ Bab 01
2 DHIEN ~ Bab 02
3 DHIEN ~ Bab 03
4 DHIEN ~ Bab 04
5 DHIEN ~ Bab 05
6 DHIEN ~ Bab 06
7 DHIEN ~ Bab 07
8 DHIEN ~ Bab 08
9 DHIEN ~ Bab 09
10 DHIEN ~ Bab 10
11 DHIEN ~ Bab 11
12 DHIEN ~ Bab 12
13 DHIEN ~ Bab 13
14 DHIEN ~ Bab 14
15 DHIEN ~ Bab 15
16 DHIEN ~ Bab 16
17 DHIEN ~ Bab 17
18 DHIEN ~ Bab 18
19 DHIEN ~ Bab 19
20 DHIEN ~ Bab 20
21 DHIEN ~ Bab 21
22 DHIEN ~ Bab 22
23 DHIEN ~ Bab 23
24 DHIEN ~ Bab 24
25 DHIEN ~ Bab 25
26 DHIEN ~ Bab 26
27 DHIEN ~ Bab 27
28 DHIEN ~ Bab 28
29 DHIEN ~ Bab 29
30 DHIEN ~ Bab 30
31 DHIEN ~ Bab 31
32 DHIEN ~ Bab 32
33 DHIEN ~ Bab 33
34 DHIEN ~ Bab 34
35 DHIEN ~ Bab 35
36 DHIEN ~ Bab 36
37 DHIEN ~ Bab 37
38 DHIEN ~ Bab 38
39 DHIEN ~ Bab 39
40 DHIEN ~ Bab 40
41 DHIEN ~ Bab 41
42 DHIEN ~ Bab 42
43 DHIEN ~ Bab 43
44 DHIEN ~ 44
45 DHIEN ~ Bab 45
46 DHIEN ~ Bab 46
47 DHIEN ~ Bab 47
48 DHIEN ~ Bab 48
49 DHIEN ~ Bab 49
50 DHIEN ~ Bab 50
51 DHIEN ~ Bab 51
52 DHIEN ~ Bab 52
53 DHIEN ~ Bab 53
54 DHIEN ~ Bab 54
55 DHIEN ~ Bab 55
56 DHIEN ~ Bab 56
57 DHIEN ~ Bab 57
58 DHIEN ~ Bab 58
59 DHIEN ~ Bab 59
60 DHIEN ~ Bab 60
61 DHIEN ~ Bab 61
62 DHIEN ~ Bab 62
63 DHIEN ~ Bab 63
64 DHIEN ~ Bab 64
65 DHIEN ~ Bab 65
66 DHIEN ~ Bab 66
67 DHIEN ~ Bab 67
68 DHIEN ~ Bab 68
69 DHIEN ~ Bab 69
70 DHIEN ~ Bab 70.
71 DHIEN ~ Bab 71
72 DHIEN ~ Bab 72
73 DHIEN ~ Bab 73
74 DHIEN ~ Bab 74
75 DHIEN ~ Bab 75
76 DHIEN ~ Bab 76
77 DHIEN ~ Bab 77
78 DHIEN ~ Bab 78
79 DHIEN ~ Bab 79
80 DHIEN ~ Bab 80
81 DHIEN ~ Bab 81
82 DHIEN ~ Bab 82
83 DHIEN ~ Bab 83
84 DHIEN ~ Bab 84
85 DHIEN ~ Bab 85
86 DHIEN ~ Bab 86
87 DHIEN ~ Bab 87
88 DHIEN ~ Bab 88
89 DHIEN ~ Bab 89
90 DHIEN ~ Bab 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
DHIEN ~ Bab 01
2
DHIEN ~ Bab 02
3
DHIEN ~ Bab 03
4
DHIEN ~ Bab 04
5
DHIEN ~ Bab 05
6
DHIEN ~ Bab 06
7
DHIEN ~ Bab 07
8
DHIEN ~ Bab 08
9
DHIEN ~ Bab 09
10
DHIEN ~ Bab 10
11
DHIEN ~ Bab 11
12
DHIEN ~ Bab 12
13
DHIEN ~ Bab 13
14
DHIEN ~ Bab 14
15
DHIEN ~ Bab 15
16
DHIEN ~ Bab 16
17
DHIEN ~ Bab 17
18
DHIEN ~ Bab 18
19
DHIEN ~ Bab 19
20
DHIEN ~ Bab 20
21
DHIEN ~ Bab 21
22
DHIEN ~ Bab 22
23
DHIEN ~ Bab 23
24
DHIEN ~ Bab 24
25
DHIEN ~ Bab 25
26
DHIEN ~ Bab 26
27
DHIEN ~ Bab 27
28
DHIEN ~ Bab 28
29
DHIEN ~ Bab 29
30
DHIEN ~ Bab 30
31
DHIEN ~ Bab 31
32
DHIEN ~ Bab 32
33
DHIEN ~ Bab 33
34
DHIEN ~ Bab 34
35
DHIEN ~ Bab 35
36
DHIEN ~ Bab 36
37
DHIEN ~ Bab 37
38
DHIEN ~ Bab 38
39
DHIEN ~ Bab 39
40
DHIEN ~ Bab 40
41
DHIEN ~ Bab 41
42
DHIEN ~ Bab 42
43
DHIEN ~ Bab 43
44
DHIEN ~ 44
45
DHIEN ~ Bab 45
46
DHIEN ~ Bab 46
47
DHIEN ~ Bab 47
48
DHIEN ~ Bab 48
49
DHIEN ~ Bab 49
50
DHIEN ~ Bab 50
51
DHIEN ~ Bab 51
52
DHIEN ~ Bab 52
53
DHIEN ~ Bab 53
54
DHIEN ~ Bab 54
55
DHIEN ~ Bab 55
56
DHIEN ~ Bab 56
57
DHIEN ~ Bab 57
58
DHIEN ~ Bab 58
59
DHIEN ~ Bab 59
60
DHIEN ~ Bab 60
61
DHIEN ~ Bab 61
62
DHIEN ~ Bab 62
63
DHIEN ~ Bab 63
64
DHIEN ~ Bab 64
65
DHIEN ~ Bab 65
66
DHIEN ~ Bab 66
67
DHIEN ~ Bab 67
68
DHIEN ~ Bab 68
69
DHIEN ~ Bab 69
70
DHIEN ~ Bab 70.
71
DHIEN ~ Bab 71
72
DHIEN ~ Bab 72
73
DHIEN ~ Bab 73
74
DHIEN ~ Bab 74
75
DHIEN ~ Bab 75
76
DHIEN ~ Bab 76
77
DHIEN ~ Bab 77
78
DHIEN ~ Bab 78
79
DHIEN ~ Bab 79
80
DHIEN ~ Bab 80
81
DHIEN ~ Bab 81
82
DHIEN ~ Bab 82
83
DHIEN ~ Bab 83
84
DHIEN ~ Bab 84
85
DHIEN ~ Bab 85
86
DHIEN ~ Bab 86
87
DHIEN ~ Bab 87
88
DHIEN ~ Bab 88
89
DHIEN ~ Bab 89
90
DHIEN ~ Bab 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!