DHIEN ~ Bab 04

Dhien ~ Wanita tangguh dengan hati teguh.

......................

Nek Blet seketika pingsan, dia tidak bisa menerima kabar duka ini.

Emak Inong melangkah gamang, seperti orang linglung kehilangan arah, air matanya sudah membasahi pipi.

Peti mati berwarna kayu itu digotong memasuki ruang tamu, tangisan Ayie terdengar histeris.

Kentongan dibunyikan, berita duka seketika tersiar di wilayah yang masih sepi bangunan rumah, dikarenakan masih awal pembukaan lahan.

“Emak!” Zulham yang belum mengerti, berlari ke arah ibunya.

Emak Inong menggendong Zulham, lalu masuk ke ruang tamu yang sudah ada beberapa orang, telinganya seolah berdenging, sama sekali tidak bisa mendengarkan percakapan sekitarnya, jiwanya seakan ikut tercabut bersama kepergian kekasih hatinya.

“Abang! Kau pergi berpamitan dengan badan segar bugar, lalu mengapa pulang hanya tinggal raga tanpa nyawa?!” Emak Inong tergugu memeluk peti mati suaminya, yang tidak diperbolehkan untuk dibuka lantaran kondisi almarhum Syamsul yang begitu memprihatinkan.

“Jangan sentuh anakku! Pergi kau pembawa sial!” Nek Blet yang sudah sadar menarik bahu menantunya, sampai Emak Inong terjengkang.

Zulham bertambah menangis kencang, kala melihat ibunya terlentang akibat dorongan sang nenek, dia membantu ibunya untuk bangun.

“Buk, dia suamiku! Tolong jangan halangi diri ini mengucapkan kalimat perpisahan!” pintanya memelas.

“Tak akan! Tahu begini, ku tentang mati-matian sewaktu dulu kalian hendak menikah! Dasar pembunuh kau Inong!” Nek Blet menuding wajah sembab wanita yang tengah hamil besar.

“Cukup! Tak elok bertengkar di depan orang yang sudah tiada!” Bapaknya Syamsul, menengahi.

“Duduk dengan saya saja!” Seorang ibu-ibu pelayat menarik tangan Emak Inong.

Setelah di sholati, jenazah Syamsul hendak dimakamkan.

Meskipun harus menjaga jarak, Emak Inong ikut mengantarkan ke peristirahatan terakhir, dia berjalan tanpa alas kaki sambil menggandeng tangan Zulham.

Tidak berselang lama, prosesi pemakaman singkat itu pun selesai, para pelayat kembali pulang ke rumah masing-masing, begitu juga dengan Nek Blet dan lainnya, baru setelahnya Emak Inong mendekati kuburan yang tanahnya masih basah.

"Assalamualaikum Bang! Semoga_” Emak Inong tidak dapat melanjutkan kata-katanya, dia menangis histeris seraya mengusap patok seadanya.

“Emak … Tak boyeh angis!” Zulham memeluk sisi samping sang ibu, berdua mereka sama-sama menangis.

‘Saya pulang dulu ya Bang! Ya Rabb, hamba mohon, tolong berikan tempat terindah bagi suami hamba, lapangkan lah kuburnya, sejatinya ia pria yang Sholeh dan penuh tanggung jawab.’

Emak Inong kembali berjalan pulang bersama dengan Zulham, mereka saling bergandengan tangan, begitu sampai di pagar bambu setinggi pinggang orang dewasa pekarangan rumah mertuanya, ia dikejutkan dengan teriakan menggelegar.

“Berhenti kau! Jangan pernah lagi menginjakkan kaki di rumah ini! Kau dan anak dalam kandunganmu tu betul-betul pembawa sial! Karena kalian, aku jadi kehilangan seorang Putra!” Nek Blet berkacak pinggang di teras rumah.

BUGH.

Ayie menjatuhkan satu kantong plastik besar yang berisi pakaian Emak Inong. “Pulang sana ke rumah mu! Kau bukan lagi seorang menantu, hanya Janda pembawa sial!”

Idris suami dari Ayie berusaha mengambil paksa Zulham.

“Emak!” Zulham meronta-ronta kala tangannya ditarik paksa sang paman.

Emak Inong berusaha tetap mempertahankan sang putra, tetapi dia kalah tenaga.

“Buk, tolong jangan pisahkan saya dengan Zulham!” Emak Inong berlutut di batas pekarangan, dia memohon, meminta kembali sang anak.

“Anggap saja si Zulham pengganti anakku yang kau bunuh!” ucap Nek Blet, lalu masuk ke dalam rumah dan membanting pintu.

Emak Inong tidak mengindahkan larangan tadi, dia berjalan dan menggedor-gedor pintu rumah ibu mertuanya. Suara tangis Zulham masih terdengar memekakkan gendang telinga.

Hari sudah semakin beranjak sore, tetapi Emak Inong tetap keukeuh berdiri sambil mengetuk pintu rumah. “Buk, kembalikan Zulham!”

Sekuat apapun dia berteriak sampai suaranya serak, tetap saja pintu terkunci itu tidak dibukakan.

Tetangga Nek Blet tidak sampai hati melihat sosok Emak Inong yang begitu memprihatinkan, perut besar, baju kumal, wajah sembab. Dia datang memberikan bantuan dengan mengantarkan Emak Inong pulang ke rumahnya di desa Jamur Luobok.

***

Di sinilah sosok wanita hamil tua itu, hidup sebatang kara di rumah peninggalan sang suami yang masih belum layak huni, lantai tanah, dinding papan, serta jendela karung beras bulog.

“Assalamualaikum ….”

"Walaikumsalam!” jawab Emak Inong sambil membuka pintu.

“Boleh kami masuk?” tanya dua sosok wanita yang sama-sama tengah mengandung.

“Mari masuk ... Nyak Zainab, Mak Syam!”

Tetangga Emak Inong datang dengan membawa barang terbungkus kardus mie instan.

“Maaf sebelumnya, bukan maksud kami hendak menyinggung perasaan Emak Inong, hanya saja ingin saling tolong-menolong sesama tetangga,” ucap Nyak Zainab.

“Ini ada pakaian serta perlengkapan bayi, untuk si Adek. Mohon diterima ya, Emak Inong!” sambung Mak Syam.

“Masya Allah. Terima kasih banyak, jujur saya belum punya baju bayi barang sebiji pun!” Emak Inong nyaris bersimpuh hendak mengucapkan beribu terima kasih.

“Tak boleh macam ni!” Nyak Zainab menggenggam tangan tetangganya.

Hari pun terlewati dengan begitu berat bagi Emak Inong, dipisahkan dari sang putra, ditinggal untuk selamanya oleh suami tercinta, kini dia berjuang bertaruh nyawa demi melahirkan anak kedua.

Dengan dibantu oleh dukun bayi, Emak Inong berhasil melahirkan seorang bayi perempuan nan cantik.

“Nak … Emak namai engkau ‘Dhien’, sesuai keinginan Ayah mu bila memiliki seorang anak perempuan!” ucap lirih Emak Inong seraya mengecup pipi kemerahan bayinya.

‘Sayang ... bila nanti anak kita perempuan, Abang ingin menamai nya ‘Dhien’, yang artinya Wanita tangguh berhati teguh.’

Sedari bayi, Dhien sudah diajak berjuang bersama ibunya, di gendong belakang kala sang ibu mencangkul tanah keras, diletakkan dalam kardus besar tanpa tutup sewaktu Emak Inong menjadi buruh cuci dan bersih-bersih di rumah Nyak Zainab.

KILAS BALIK SELESAI.

.

.

“Betulkan kalau Dhien tu wanita penurut? Cocok bila dijadikan pembantu gratisan?” tanya Ramlah calon ibu mertua Dhien.

Nek Blet dan Ayie saling pandang, lalu Nek Blet yang menjawab. “Tentulah, mana mungkin dia melawan! Sebab, ibunya sering sakit-sakitan, pasti nya tak mau menambah beban pikiran Inong!”

Ramlah manggut-manggut, lalu tersenyum culas. “Baguslah, tak payah ku upah orang lagi kalau macam ni ceritanya.”

Berakhir kesepakatan itu diterima oleh kedua belah pihak. Ramlah memberikan dua ekor Kambing jantan, sedangkan Nek Blet menjual sang cucu tidak di anggapnya, Dhien.

***

“Macam mana pulak bisa macam ni, baru sepuluh langkah sudah lupa lagi! Ini pasti gara-gara Mamak yang ngasih air tajin, bukannya susu!”

Dhien yang sedang mencabut rumput halaman rumahnya, mengernyitkan dahi kala mendengar suara cempreng, lalu dia berdiri.

“HEI KELENG!!”

Anak laki-laki berumur 8 tahun itu melongok kan kepalanya, dikarenakan rumah Dhien berada di bawah bukit tidak begitu menanjak. “Sedang apa Kakak disitu? Berak kah?”

Dhien berkacak pinggang, menatap nyalang. “Kalau tak mau parang ni melayang, sini kau, Ayek!!”

.

.

"Cukup segini 'kan, Dhien? Bila tak, biar ku petik lebih banyak lagi! Semoga saja langsung beda alam nya nanti!"

.

.

Bersambung.

Siapa yang sudah tak sabar ketemu salah satu anggota Trio Cebol?😆

Sebelum masuk ke inti, kita sedikit senang-senang dulu, biar nggak spaneng menghadapi keluarga titisan Fir'aun 🤣

Bila berkenan, tolong klik permintaan updatenya ya Kak🙏🥰

Terpopuler

Comments

valent

valent

saya orang lubuk pakam kak , bacanya sambil dalam hati pake logat medan wkwkwkwkwk, lama ngga ada bacaan yg kyk gini , terakhir baca karyanya kak juskelapa

2025-03-26

1

🍁ɴᷠɪͥʟͤᴜᷝᴅͣ❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ

🍁ɴᷠɪͥʟͤᴜᷝᴅͣ❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ

ini mertua masa depanku ternyata emang udah baik dari dulu , untung ada nyak Zaenab sama Mak Syam yang peduli ke emak inong

2025-02-09

1

🍁ɴᷠɪͥʟͤᴜᷝᴅͣ❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ

🍁ɴᷠɪͥʟͤᴜᷝᴅͣ❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ

lahh dikira nya kamu tuhan gitu tau kalo anakmu batal merantau jelas masih hidup, sadar nenek namanya takdir bukan salah Mak inong

2025-02-09

1

lihat semua
Episodes
1 DHIEN ~ Bab 01
2 DHIEN ~ Bab 02
3 DHIEN ~ Bab 03
4 DHIEN ~ Bab 04
5 DHIEN ~ Bab 05
6 DHIEN ~ Bab 06
7 DHIEN ~ Bab 07
8 DHIEN ~ Bab 08
9 DHIEN ~ Bab 09
10 DHIEN ~ Bab 10
11 DHIEN ~ Bab 11
12 DHIEN ~ Bab 12
13 DHIEN ~ Bab 13
14 DHIEN ~ Bab 14
15 DHIEN ~ Bab 15
16 DHIEN ~ Bab 16
17 DHIEN ~ Bab 17
18 DHIEN ~ Bab 18
19 DHIEN ~ Bab 19
20 DHIEN ~ Bab 20
21 DHIEN ~ Bab 21
22 DHIEN ~ Bab 22
23 DHIEN ~ Bab 23
24 DHIEN ~ Bab 24
25 DHIEN ~ Bab 25
26 DHIEN ~ Bab 26
27 DHIEN ~ Bab 27
28 DHIEN ~ Bab 28
29 DHIEN ~ Bab 29
30 DHIEN ~ Bab 30
31 DHIEN ~ Bab 31
32 DHIEN ~ Bab 32
33 DHIEN ~ Bab 33
34 DHIEN ~ Bab 34
35 DHIEN ~ Bab 35
36 DHIEN ~ Bab 36
37 DHIEN ~ Bab 37
38 DHIEN ~ Bab 38
39 DHIEN ~ Bab 39
40 DHIEN ~ Bab 40
41 DHIEN ~ Bab 41
42 DHIEN ~ Bab 42
43 DHIEN ~ Bab 43
44 DHIEN ~ 44
45 DHIEN ~ Bab 45
46 DHIEN ~ Bab 46
47 DHIEN ~ Bab 47
48 DHIEN ~ Bab 48
49 DHIEN ~ Bab 49
50 DHIEN ~ Bab 50
51 DHIEN ~ Bab 51
52 DHIEN ~ Bab 52
53 DHIEN ~ Bab 53
54 DHIEN ~ Bab 54
55 DHIEN ~ Bab 55
56 DHIEN ~ Bab 56
57 DHIEN ~ Bab 57
58 DHIEN ~ Bab 58
59 DHIEN ~ Bab 59
60 DHIEN ~ Bab 60
61 DHIEN ~ Bab 61
62 DHIEN ~ Bab 62
63 DHIEN ~ Bab 63
64 DHIEN ~ Bab 64
65 DHIEN ~ Bab 65
66 DHIEN ~ Bab 66
67 DHIEN ~ Bab 67
68 DHIEN ~ Bab 68
69 DHIEN ~ Bab 69
70 DHIEN ~ Bab 70.
71 DHIEN ~ Bab 71
72 DHIEN ~ Bab 72
73 DHIEN ~ Bab 73
74 DHIEN ~ Bab 74
75 DHIEN ~ Bab 75
76 DHIEN ~ Bab 76
77 DHIEN ~ Bab 77
78 DHIEN ~ Bab 78
79 DHIEN ~ Bab 79
80 DHIEN ~ Bab 80
81 DHIEN ~ Bab 81
82 DHIEN ~ Bab 82
83 DHIEN ~ Bab 83
84 DHIEN ~ Bab 84
85 DHIEN ~ Bab 85
86 DHIEN ~ Bab 86
87 DHIEN ~ Bab 87
88 DHIEN ~ Bab 88
89 DHIEN ~ Bab 89
90 DHIEN ~ Bab 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
DHIEN ~ Bab 01
2
DHIEN ~ Bab 02
3
DHIEN ~ Bab 03
4
DHIEN ~ Bab 04
5
DHIEN ~ Bab 05
6
DHIEN ~ Bab 06
7
DHIEN ~ Bab 07
8
DHIEN ~ Bab 08
9
DHIEN ~ Bab 09
10
DHIEN ~ Bab 10
11
DHIEN ~ Bab 11
12
DHIEN ~ Bab 12
13
DHIEN ~ Bab 13
14
DHIEN ~ Bab 14
15
DHIEN ~ Bab 15
16
DHIEN ~ Bab 16
17
DHIEN ~ Bab 17
18
DHIEN ~ Bab 18
19
DHIEN ~ Bab 19
20
DHIEN ~ Bab 20
21
DHIEN ~ Bab 21
22
DHIEN ~ Bab 22
23
DHIEN ~ Bab 23
24
DHIEN ~ Bab 24
25
DHIEN ~ Bab 25
26
DHIEN ~ Bab 26
27
DHIEN ~ Bab 27
28
DHIEN ~ Bab 28
29
DHIEN ~ Bab 29
30
DHIEN ~ Bab 30
31
DHIEN ~ Bab 31
32
DHIEN ~ Bab 32
33
DHIEN ~ Bab 33
34
DHIEN ~ Bab 34
35
DHIEN ~ Bab 35
36
DHIEN ~ Bab 36
37
DHIEN ~ Bab 37
38
DHIEN ~ Bab 38
39
DHIEN ~ Bab 39
40
DHIEN ~ Bab 40
41
DHIEN ~ Bab 41
42
DHIEN ~ Bab 42
43
DHIEN ~ Bab 43
44
DHIEN ~ 44
45
DHIEN ~ Bab 45
46
DHIEN ~ Bab 46
47
DHIEN ~ Bab 47
48
DHIEN ~ Bab 48
49
DHIEN ~ Bab 49
50
DHIEN ~ Bab 50
51
DHIEN ~ Bab 51
52
DHIEN ~ Bab 52
53
DHIEN ~ Bab 53
54
DHIEN ~ Bab 54
55
DHIEN ~ Bab 55
56
DHIEN ~ Bab 56
57
DHIEN ~ Bab 57
58
DHIEN ~ Bab 58
59
DHIEN ~ Bab 59
60
DHIEN ~ Bab 60
61
DHIEN ~ Bab 61
62
DHIEN ~ Bab 62
63
DHIEN ~ Bab 63
64
DHIEN ~ Bab 64
65
DHIEN ~ Bab 65
66
DHIEN ~ Bab 66
67
DHIEN ~ Bab 67
68
DHIEN ~ Bab 68
69
DHIEN ~ Bab 69
70
DHIEN ~ Bab 70.
71
DHIEN ~ Bab 71
72
DHIEN ~ Bab 72
73
DHIEN ~ Bab 73
74
DHIEN ~ Bab 74
75
DHIEN ~ Bab 75
76
DHIEN ~ Bab 76
77
DHIEN ~ Bab 77
78
DHIEN ~ Bab 78
79
DHIEN ~ Bab 79
80
DHIEN ~ Bab 80
81
DHIEN ~ Bab 81
82
DHIEN ~ Bab 82
83
DHIEN ~ Bab 83
84
DHIEN ~ Bab 84
85
DHIEN ~ Bab 85
86
DHIEN ~ Bab 86
87
DHIEN ~ Bab 87
88
DHIEN ~ Bab 88
89
DHIEN ~ Bab 89
90
DHIEN ~ Bab 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!