Episode 17 Rindu Dalam Gengsi

"Talitha? apa dia salah satu pelayan di rumah ini?" tanya Anindya yang memang baru mendengar nama itu.

"Dia asisten pribadiku yang sudah lama bekerja bersamaku, dia wanita yang tadi muncul saat kita sarapan," jawab Kavindra dan akhirnya Anindya tahu juga siapa wanita itu dan walau dia tadi berpura-pura tidak ingin mengetahuinya dan padahal sangat penasaran.

"Jika asisten pribadi tuan dan bukankah seharusnya ikut dengan tuan dan kenapa malah mengawasiku?" tanya Anindya.

"Apa kau tidak bisa berhenti untuk tidak bertanya apapun kepadaku hah! Anindya setiap aku menyuruhmu untuk ini dan itu berhentilah bertanya. Mau dia ikut denganku atau mengawasimu semua itu adalah ketentuanku dan kau dengarkan saja apa yang aku katakan dan jangan membuat ulah!" tegas Kavindra.

"Hanya bertanya saja dan apa yang salah," sahut Anindya.

"Jadi kau tidak mempermasalahkan jika aku akan membawa asisten wanita ikut bersamaku, satu pesawat bersamaku, satu tempat tinggal bersamaku dan satu kamar bersamaku?" tanya Kavindra yang membuat Anindya terdiam.

"Kau baru saja meminta syarat kepadaku, jika selagi kau masih menjadi istriku maka aku tidak boleh berhubungan dengan wanita manapun," ucap Kavindra.

"Tuan tahu apa yang salah dan yang benar. Jadi jangan meminta saran seperti itu kepada saya," jawab Anindya yang membuat Kavindra mendengus kasar.

"Sudahlah! aku tidak ingin membahas apapun tentang Thalita bersamamu yang terpenting kau dengarkan semua yang aku katakan!" tegas Kavindra

"Baiklah! tidak perlu menekan suara hanya ingin membicarakan itu saja. Jadi bagaimana apa saya perlu menyiapkan pakaian tuan atau tuan menyiapkan sendiri?" tanya Anindya.

"Aku bisa melakukannya sendiri dan berhenti seolah menjadi istri yang apa-apa harus menyiapkan segala keperluanku," ucap Kavindra.

"Baiklah!" sahut Anindya yang lebih baik mengatakan iya saja daripada suaminya itu semakin banyak kata-kata yang membuatnya juga pasti sakit mendengarnya.

Kavindra yang tidak mengatakan apa-apa lagi yang langsung keluar dari kamar tersebut.

"Jadi itu asisten pribadinya. Tetapi kali ini asistennya berbeda dengan yang lain dan terlihat wanita itu jauh lebih tegas dan sepertinya tidak ada jarak diantara mereka berdua. Karena Wanita itu berbicara selayaknya wanita biasa dan tidak ada majikan dan juga bawahan," ucapnya yang tiba-tiba saja penasaran dengan wanita yang bernama Talitha

Anindya hanya menghela nafas yang berusaha untuk tidak peduli dan harus mengingat apa kata Abinya. Jika dia tidak perlu mencampuri semua urusan Kavindra mungkin saja sedikit berbahaya.

Karena sang suami akan ke Luar Negri yang membuat Anindya turut mengantarkan suaminya dengan memakai cadarnya. Anindya melihat bagaimana suaminya itu yang bergegas ingin pergi dan sementara sopir yang tampak memasukkan koper Kavindra ke dalam bagasi.

"Apa semuanya sudah beres?" tanya Kavindra.

"Sudah tuan," jawab pria itu.

"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu. Thalita yang mengatur semua ketentuan di rumah ini dan kamu kontrol semua anak buahku dan jaga dia agar tidak pergi!" titah Kavindra melihat kearah Anindya yang sejak tadi diam saja.

"Jika ada sesuatu kabari secepatnya," ucap Kavindra.

"Baiklah!" sahut Tatlitha.

"Aku pergi!" dengan dinginnya Kavindra berpamitan pada sang istri.

Anindya mengulurkan tangannya yang membuat Kavindra bingung dengan dahi mengkerut. Karena tangannya tidak juga disambut yang membuat Anindya bergerak sendiri mengambil tangan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya itu.

Kavindra sungguh tidak percaya jika hal itu akan terjadi dan bahkan membuat dia bengong, Talitha tiba-tiba saja ingin tertawa dan saat Kavindra menyadari hal itu langsung mengubah ekspresi Thalita menjadi datar.

"Kau pikir ada yang lucu," ucapnya dengan kesal.

"Tuan hati-hati," ucap Anindya dengan lembut.

"Hmmmm!" jawabannya dengan deheman.

"Kalau begitu aku pergi dulu!" Kavindra yang sedikit salah tingkah yang memilih untuk memasuki mobil walau dia terus saja melihat Thalita yang terus ingin tertawa.

Anindya menunggu mobil suaminya keluar dari area gerbang dan akhirnya sudah keluar yang membuat para penjaga menutup pintu gerbang. Anindya melihat ke arah Thalita.

"Membutuhkan sesuatu?" tanya Thalita yang membuat Anindya menggelengkan kepala.

"Kalau begitu masuklah dan istirahat," ucap Thalita Anindya hanya mengangguk dan langsung pergi.

"Ternyata orang seperti Kavindra bisa juga membuat keluarga," ucap Thalitha yang masih merasa lucu dengan apa yang terjadi di depannya yang mungkin juga tidak dia duga jika Kavindra tampak patuh pada seorang wanita.

****

Anindya sudah beberapa hari ditinggal oleh suaminya dan jangan harap jika ada kabar-kabaran antara mereka berdua. Anindya juga tidak menanyakan kabar Kavindra seperti apa dan begitu juga dengan Kavindra.

Anindya merasa tidak bermasalah jika terus berada di rumah dan lagi pula dia baru juga menemui Abinya dan tidak ada rencana untuk pulang ke rumah.

Anindya hanya menjalani hari-harinya di rumah Kavindra yang ternyata sangat nyaman dan tidak ada yang mengganggu dia atau yang membuatnya risih. Karena walau tidak ada Kavindra peraturan di rumah itu tetap yang tidak boleh ada laki-laki masuk ke dalam.

Walau seperti itu Anindya jarang sekali keluar dari kamar, dia kebanyakan menghabiskan waktu di dalam kamar dengan beribadah dan membaca Alquran agar hafalannya tidak hilang.

Sama seperti saat ini yang mana suara merdunya diperdengarkan di rumah tersebut yang pasti setiap pelayan yang melewati kamarnya tampak tersentuh dan rasanya Ingin cepat-cepat tobat. Anindya memang bukan tipe wanita yang suka menegur, hanya mencoba untuk memberikan contoh yang baik.

Tok-tok-tok-tok.

Suara ketukan pintu di kamarnya membuat Anindya menghentikan membaca Alquran tersebut dan mengakhirinya yang menutup Alquran itu. Kemudian dia berdiri dan membuka pintu.

"Ada apa, Bi?" tanyanya dengan begitu lembut.

"Nona Maaf jika saya mengganggu ibadah Nona. Makan malam sudah siap," ucap Bibi.

"Begitu, Kah. Lain kali Bibi tidak perlu mengingatkan saya untuk makan malam. Saya tahu jadwal makan malam dan pasti akan turun sendiri. Jangan memperbanyak pekerjaan yang capek-capek datang ke kamar saya," ucap Anindya.

"Nona bisa mengatakan seperti itu, tetapi saya yang akan berhadapan dengan tuan Kavindra," ucap Bibi dengan gugup.

"Beliau tidak ada di sini, apa yang harus dikhawatirkan?" tanya Anindya.

"Walau tidak ada. Tetapi setiap jam pasti menghubungi saya dan mempertanyakan hal yang sama," ucap Bibi.

"Menghubungi!" sahut Anindya. Bibi menganggukkan kepala.

"Jadi beliau sering berkomunikasi dengan Bibi?" tanya Anindya memastikan sekali lagi.

"Benar, Nona. Tetapi Nona jangan salah paham dulu. Soalnya tuan menghubungi saya juga mempertanyakan semua tentang Nona," jawab Bibi.

"Apa beliau yang memastikan jika saya tidak pergi dari rumah ini dan beliau sangat takut kalau saya pergi diam-diam?" tanya Anindya.

"Bukan Nona. Tentang itu tuan Kavindra bahkan tidak pernah mempertanyakan hal itu. Beliau lebih mempertanyakan apa Nona sudah makan, lalu apa Nona nyaman dan apa ada orang yang masuk," ucap Bibi.

Anindya speechless mendengar kata-kata Bibi. Setau dia Kavindra adalah pria yang sangat cuek, sangat dingin dan sepertinya tidak peka dengan sekitar dan tanpa dia duga ternyata Kavindra memberikan perhatian kepadanya.

"Baiklah Nona. Kalau begitu Nona makanlah agar nanti ketika tuan Kavindra menelpon saya, saya sudah mendapatkan jawabannya. Saya permisi!" ucap Bibi menundukkan kepala dan langsung pergi.

"Kenapa tidak langsung menelponku dan bertanya kepadaku saja? kenapa harus melalui Bibi!" batin Anindya yang sepertinya ingin ditelepon secara langsung oleh suaminya, mungkin saja dia sedikit merindukan suaminya.

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

👀 calon mayit 👀

👀 calon mayit 👀

ckk..... mulai cintaaahhh... tapi banyak gengsi nya....

2025-03-13

1

🌷💚SITI.R💚🌷

🌷💚SITI.R💚🌷

kan dia ga tau no hp jamu anin

2025-03-07

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 Apa Yang Terjadi.
2 Episode 2 Membuka Cadar
3 Episode 3 Persyaratan Konyol.
4 Episode 4 Meminta Syrat
5 Episode 5 Datang Melamar.
6 Episode 6 Pernikahan.
7 Episode 7 Pertama Kali Di Rumahnya.
8 Episode 8 Malam Yang Gugup
9 Episode 9 Godaan Suami.
10 Episode 10 Ternyata Gagal.
11 Episode 10 Marah Tapi Di Turuti Juga.
12 Episode 12 Menemani Suami.
13 Episode 13 Panas
14 Episode 14 Pesan
15 Episode 16 Gagal Lagi.
16 Episode 16 Harus LDR.
17 Episode 17 Rindu Dalam Gengsi
18 Episode 18 Amarah.
19 Episode 19 Perintah Mengakhiri
20 Episode 20 Tidak Bisa Melayani.
21 Episode 21 Merawat Penuh Ketulusan.
22 Episode 22 Mengajak Pergi.
23 Episode 23 Ini Pasti Cemburu.
24 Episode 24 Permintaan Lagi.
25 Episode 25 Mulai Bucin.
26 Episode 26 Ternyata Menunggu.
27 Episode 27 Fatal.
28 Episode 28 Amarah Tidak Terkendali
29 Episode 29 Jangan Sampai.
30 Episode 30 Mengajak.
31 Episode 30 Milan
32 Episode 32 Memperlihatkan Kenyataan.
33 Episode 33 Insiden Mengerikan.
34 Episode 34 Tidak Mungkin Pergi.
35 Episode 35 Jangan Menyuruhku Untuk Pergi.
36 Episode 36 Intens
37 Episode 37 Keintiman
38 Episode 38 Semakin Romantis.
39 Episode 38 Janji Bersama...
40 Episode 40 Menenangkan.
41 Episode 41 Pilihan.
42 Episode 42 Kenapa Harus Seperti Ini.
43 Episode 43 Tidak Ada Yang Di Sembunyikan.
44 Episode 44 Ancaman.
45 Episode 45 Izin
46 Episode 46 Kesepian.
47 Episode 47 Perasaan Yang Tidak Enak.
48 Episode 48 Tampak Tidak Sabaraha.
49 Episode 49 Istriku
50 Episode Menyedihkan.
51 Episode 51 Penyesalan.
52 Episode 52 Dendam
53 Episode 53 Tidak Berlaku.
54 Episode 54. Akhirnya Sadar.
55 Episode 55 Rasa Ketakutan.
56 Episode 56 Menegangkan.
57 Episode 57 Pembicaraan.
58 Episode 58 Hal Mencengangkan.
59 Episode 59 Perasaan Tidak Enak.
60 Episode 60 Kejadian
61 Episode 61 Ngidam Aneh.
62 Episode 62
63 Episode 63 Hal Terberat.
64 Episode 64 Adanya Pertentangan.
65 Episode 65 Penggeledahan.
66 Episode 66 Desakan.
67 Episode 67 Apa Itu.
68 Episode 68 Seperti Ada Ikatan.
69 Episode 69 Mengejutkan.
70 Episode 70 Kecelakaan.
71 Episode 71 Sengit.
72 Episode 72 Semakin Jelas.
73 Episode 73 Akhirnya Tahu.
74 Episode 74 Dia Anakku.
75 Episode 75 Masa Lalu Yang Terbongkar.
76 Episode 76 Serasa Berpisah.
77 Episode 77 Hancur
78 Episode 78 Masalah.
79 Episode 79 Jebakan
80 Episode 80 Insiden
81 Episode 81 Pertumpahan Darah.
82 Episode 82 Apa Ada Kesempatan.
83 Episode 83 Haru.
84 Episode 84 Tidak Ikhlas.
85 Episode 85 Jeruji Besi
86 Episode 86 Pertemuan Menyedihkan
87 Episode 82 Keputusan Pengadilan.
88 Episode 88 Keputusan Yang Tepat.
89 Episode 89 Perjuangan.
90 Episode 90 Walau Bahagia Sementara.
91 Episode 91 Udara Bebas
92 Episode 92 Harus Sabar
93 Bab 93
94 Episode 94 Rasa Kecewa.
95 Episode 95 Posisi Sulit.
96 Episode 96 Penegasan.
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Episode 1 Apa Yang Terjadi.
2
Episode 2 Membuka Cadar
3
Episode 3 Persyaratan Konyol.
4
Episode 4 Meminta Syrat
5
Episode 5 Datang Melamar.
6
Episode 6 Pernikahan.
7
Episode 7 Pertama Kali Di Rumahnya.
8
Episode 8 Malam Yang Gugup
9
Episode 9 Godaan Suami.
10
Episode 10 Ternyata Gagal.
11
Episode 10 Marah Tapi Di Turuti Juga.
12
Episode 12 Menemani Suami.
13
Episode 13 Panas
14
Episode 14 Pesan
15
Episode 16 Gagal Lagi.
16
Episode 16 Harus LDR.
17
Episode 17 Rindu Dalam Gengsi
18
Episode 18 Amarah.
19
Episode 19 Perintah Mengakhiri
20
Episode 20 Tidak Bisa Melayani.
21
Episode 21 Merawat Penuh Ketulusan.
22
Episode 22 Mengajak Pergi.
23
Episode 23 Ini Pasti Cemburu.
24
Episode 24 Permintaan Lagi.
25
Episode 25 Mulai Bucin.
26
Episode 26 Ternyata Menunggu.
27
Episode 27 Fatal.
28
Episode 28 Amarah Tidak Terkendali
29
Episode 29 Jangan Sampai.
30
Episode 30 Mengajak.
31
Episode 30 Milan
32
Episode 32 Memperlihatkan Kenyataan.
33
Episode 33 Insiden Mengerikan.
34
Episode 34 Tidak Mungkin Pergi.
35
Episode 35 Jangan Menyuruhku Untuk Pergi.
36
Episode 36 Intens
37
Episode 37 Keintiman
38
Episode 38 Semakin Romantis.
39
Episode 38 Janji Bersama...
40
Episode 40 Menenangkan.
41
Episode 41 Pilihan.
42
Episode 42 Kenapa Harus Seperti Ini.
43
Episode 43 Tidak Ada Yang Di Sembunyikan.
44
Episode 44 Ancaman.
45
Episode 45 Izin
46
Episode 46 Kesepian.
47
Episode 47 Perasaan Yang Tidak Enak.
48
Episode 48 Tampak Tidak Sabaraha.
49
Episode 49 Istriku
50
Episode Menyedihkan.
51
Episode 51 Penyesalan.
52
Episode 52 Dendam
53
Episode 53 Tidak Berlaku.
54
Episode 54. Akhirnya Sadar.
55
Episode 55 Rasa Ketakutan.
56
Episode 56 Menegangkan.
57
Episode 57 Pembicaraan.
58
Episode 58 Hal Mencengangkan.
59
Episode 59 Perasaan Tidak Enak.
60
Episode 60 Kejadian
61
Episode 61 Ngidam Aneh.
62
Episode 62
63
Episode 63 Hal Terberat.
64
Episode 64 Adanya Pertentangan.
65
Episode 65 Penggeledahan.
66
Episode 66 Desakan.
67
Episode 67 Apa Itu.
68
Episode 68 Seperti Ada Ikatan.
69
Episode 69 Mengejutkan.
70
Episode 70 Kecelakaan.
71
Episode 71 Sengit.
72
Episode 72 Semakin Jelas.
73
Episode 73 Akhirnya Tahu.
74
Episode 74 Dia Anakku.
75
Episode 75 Masa Lalu Yang Terbongkar.
76
Episode 76 Serasa Berpisah.
77
Episode 77 Hancur
78
Episode 78 Masalah.
79
Episode 79 Jebakan
80
Episode 80 Insiden
81
Episode 81 Pertumpahan Darah.
82
Episode 82 Apa Ada Kesempatan.
83
Episode 83 Haru.
84
Episode 84 Tidak Ikhlas.
85
Episode 85 Jeruji Besi
86
Episode 86 Pertemuan Menyedihkan
87
Episode 82 Keputusan Pengadilan.
88
Episode 88 Keputusan Yang Tepat.
89
Episode 89 Perjuangan.
90
Episode 90 Walau Bahagia Sementara.
91
Episode 91 Udara Bebas
92
Episode 92 Harus Sabar
93
Bab 93
94
Episode 94 Rasa Kecewa.
95
Episode 95 Posisi Sulit.
96
Episode 96 Penegasan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!