Episode 16 Harus LDR.

Kavindra sekarang hanya melampiaskan hasratnya di bawah shower yang butuh kedinginan atas suhu tubuhnya yang begitu sangat panas akibat tidak jadi menyentuh istrinya. Salah sendiri yang tiba-tiba saja ingin berhenti di tengah jalan yang padahal Anindya saja tidak menolak sama sekali. Jadi Kavindra yang mencari penyakit sendiri.

Setelah tubuhnya sudah fresh dan kondisinya sudah cukup membaik yang akhirnya Kavindra keluar dari kamar mandi yang menggunakan kaos putih dan celana panjang berwarna hitam.

Anindya yang sudah kembali memakai piyama bagian luarnya yang ternyata dia belum tidur dan masih patuh saja berada di kamar itu dengan bersandar di kepala ranjang dan melihat ke arah Kavindra.

"Aku sudah begitu lama di kamar mandi dan kenapa kau belum tidur juga?" tanya Kavindra.

"Aku takut nanti jika sudah mengantuk dan bahkan tidur sebentar dan tuan menginginkan hal lain," jawabnya.

"Maksudmu?" tanya Kavindra dengan satu alis terangkat.

"Seperti apa yang terjadi tadi," ucap Anindya.

"Jangan terlalu percaya diri, tubuhmu tidak terlalu membuatku bernafsu," jawabnya dengan tersenyum miring yang padahal dia saja baru bisa keluar kamar mandi setelah melakukan pelampiasan pada diri sendiri.

Anindya tidak mengatakan apa-apa lagi dan Kavindra yang menyusul menaiki ranjang dan berada di samping istrinya dengan posisi yang sama bersandar di kepala ranjang.

Kavindra yang mengambil iPad dari atas meja di sebelahnya dan kepalanya menoleh ke arah Anindya yang ternyata sejak tadi memperhatikannya dan Anindya dengan cepat mengalihkan pandangannya.

"Ada apa? kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Kavindra yang membuat Anindya menggelengkan kepala. Dia entah mengapa malam-malam seperti ini bawaannya emosi.

"Lalu kenapa mencuri-curi perhatian seperti itu kepadaku. Tidurlah aku benar-benar sangat tidak punya waktu untuk bicara denganmu," ucap Kavindra dengan kesal.

"Aku akan kembali ke kamarku," ucap Anindya.

"Aku menyuruhmu untuk tidur di sini dan bukan ke kamarmu. Jadi tetaplah disini!" tegas Kavindra.

"Baiklah," jawab Anindya menurut saja dan dia sudah mulai membaringkan diri menarik selimut yang akhirnya perlahan dia tertidur yang sejak tadi menahan rasa mengantuk.

Kavindra menghela nafas dan melihat tablet tersebut yang ternyata melihat beberapa foto-foto gedung yang terbakar.

"Kenapa mereka tidak bisa mengatasi semua ini dan apa aku juga harus bergerak untuk menyelesaikan masalah ini," ucapnya dengan pelan yang terdengar begitu sangat kesal dan entah apa maksud foto-foto yang baru saja dia lihat.

"Ada-ada saja yang terjadi dan apa gunanya memiliki anak buah yang banyak jika mengatasi semua ini dia tidak berse," sekarang Kavindra mengoceh di dalam hati mengumpat sendiri, karena jika suaranya keras-keras maka sang istri bisa bangun.

****

Anindya yang seperti biasa pagi-pagi seperti ini yang sedang menyiapkan sarapan. Kavindra tidak bisa melarang Anindya karena itu keinginan dia. Kavindra yang sudah tampak rapi yang menuruni anak tangga. Kavindra yang langsung menduduki meja makan dengan nasi goreng yang sudah dihidangkan oleh sang istri.

Kavindra yang tidak mengatakan apa-apa yang langsung memakan nasi goreng tersebut. Dia sepertinya sangat menyukainya hanya saja pujian itu belum keluar dari mulutnya. Tetapi cara Kavindra menikmati makanan itu terlihat tidak ada masalah sama sekali.

"Kau hanya menonton ku sarapan dan kau sendiri tidak makan? Apa kau pikir aku anak kecil yang harus dipantau sarapan?" ucapnya dengan kesal saat Anindya hanya duduk saja di depannya.

"Iya-iya. Aku akan sarapan," ucapnya dengan santai yang juga mengambil nasi goreng tersebut.

Kavindra menghela nafas dan hendak mengambil telur mata sapi yang memang Anindya menyediakan dua telur mata sapi dan telur dadar. Tetapi saat ingin mengambil telur tersebut ternyata bersamaan dengan Anindya dengan tangan mereka berdua yang bertemu di atas telor itu dan mereka berdua saling melihat satu sama lain.

Saling menatap begitu dalam dan tak apa yang mereka pikirkan? yang mungkin saja beriringan dengan jantung berdebar dengan kencang dengan begitu saja.

Sampai beberapa detik yang akhirnya Anindya mengambil terlebih dahulu telur tersebut dan ternyata bukan ke piringnya yang melainkan ke piring Kavindra.

Kavindra yang tiba-tiba saja menelan salivanya. Entah kenapa dia tiba-tiba saja mendadak begitu sangat gugup dan terlihat membuang nafas perlahan ke depan.

Sementara Anindya hanya bersikap santai saja yang justru suaminya tampak salah tingkah.

"Nyonya tuan masih sarapan!" fokus mereka berdua teralih ketika mendengar suara salah satu pelayan dan ternyata terlihat seorang wanita yang memakai setelan berjas berwarna hitam dengan rambutnya yang dikucir satu.

Wanita tinggi tersebut yang berjalan dengan sangat elegan dan dari wajahnya terlihat begitu sangat tegas dan dingin.

"Aku sudah berada di sini dan kamu tidak perlu mengikutiku lagi. Aku juga sudah tahu kalau dia sedang sarapan," ucap wanita itu.

Pelayan tersebut menundukkan kepala dan langsung berlalu. Anindya perhatikan wanita tersebut yang dia tidak tahu siapa itu.

"Ada apa?" tanya Kavindra.

"Ada hal penting yang harus aku bicarakan padamu," jawab wanita itu.

"Apa kau tidak melihat jika aku masih makan," sahut Kavindra.

"Tapi ini penting dan ini bersangkutan dengan email yang aku perlihatkan tadi malam," ucapnya dengan wajah yang tampak serius.

Mata Kavindra melihat ke arah Anindya yang ternyata tidak terlalu peduli dengan pembicaraan mereka berdua dan dia bahkan melanjutkan sarapannya.

"Aku akan menemuimu di ruang kerjaku," ucap Kavindra.

Wanita itu menundukkan kepala dan langsung berlalu.

Kavindra terlihat buru-buru menyiapkan sarapannya dan dia juga sedikit gelisah dan entah apa yang membuat dia tiba-tiba saja tidak tenang.

"Kamu tidak mempertanyakan siapa dia?" tanya Kavindra.

Anindya menggeleng dengan mudah, "kenapa juga harus mempertanyakan siapa dia dan bukankah itu urusan kalian berdua," jawab Anindya yang selalu saja tenang.

"Baguslah! memang kau tidak perlu mencampuri urusanku dan tidak perlu tahu apa-apa," ucap Kavindra yang tidak direspon sama sekali oleh Anindya.

Setelah Kavindra menyelesaikan sarapan itu yang akhirnya Kavindra terdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi yang membuat Anindya melihat kepergian suaminya itu.

"Bukankah dia sering mengatakan banyak berhubungan dengan wanita dan mungkin saja itu salah satu wanitanya. Lalu untuk apa juga aku bertanya?" ucap Anindya dengan menghela nafas yang merasa tidak peduli.

***

Anindya yang berada di dalam kamarnya yang bersandar di kepala ranjang yang terlihat membaca buku dan tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka yang ternyata suaminya memasuki kamarnya.

"Kamu tidak berangkat kerja?" tanya Anindya

"Aku akan ke Milan untuk beberapa hari. Kamu tetap berada di rumah dan bukan berarti jika aku tidak ada di rumah dan kamu boleh pulang seenaknya," ucap Kavindra.

"Apa aku perlu menyiapkan pakaian tuan?" tanya Anindya.

"Kamu sepertinya begitu sangat senang sekali ketika aku ingin ke Luar Negeri. Apa kamu akan merasa bebas jika tidak ada aku?" tanya Kavindra dengan cepat sensitif.

"Apa ekspresiku memperlihatkan bahwa aku begitu sangat senang?" Anindya yang kembali mempertanyakan hal itu.

"Ada saja jawabannya," sahut Kavindra yang sangat kesal menghadapi istrinya.

"Ingat selama aku berada di Luar Negri. Kau tidak boleh kemana-mana dan ketika melakukan apapun harus meminta izin padaku. Talitha akan mengawasimu dan jika kau menginginkan sesuatu maka tanyalah padanya," ucap Kavindra yang memberikan banyak saran kepada istrinya itu.

Bersambung.....

Terpopuler

Comments

👀 calon mayit 👀

👀 calon mayit 👀

yah.... LDR....

2025-03-13

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 Apa Yang Terjadi.
2 Episode 2 Membuka Cadar
3 Episode 3 Persyaratan Konyol.
4 Episode 4 Meminta Syrat
5 Episode 5 Datang Melamar.
6 Episode 6 Pernikahan.
7 Episode 7 Pertama Kali Di Rumahnya.
8 Episode 8 Malam Yang Gugup
9 Episode 9 Godaan Suami.
10 Episode 10 Ternyata Gagal.
11 Episode 10 Marah Tapi Di Turuti Juga.
12 Episode 12 Menemani Suami.
13 Episode 13 Panas
14 Episode 14 Pesan
15 Episode 16 Gagal Lagi.
16 Episode 16 Harus LDR.
17 Episode 17 Rindu Dalam Gengsi
18 Episode 18 Amarah.
19 Episode 19 Perintah Mengakhiri
20 Episode 20 Tidak Bisa Melayani.
21 Episode 21 Merawat Penuh Ketulusan.
22 Episode 22 Mengajak Pergi.
23 Episode 23 Ini Pasti Cemburu.
24 Episode 24 Permintaan Lagi.
25 Episode 25 Mulai Bucin.
26 Episode 26 Ternyata Menunggu.
27 Episode 27 Fatal.
28 Episode 28 Amarah Tidak Terkendali
29 Episode 29 Jangan Sampai.
30 Episode 30 Mengajak.
31 Episode 30 Milan
32 Episode 32 Memperlihatkan Kenyataan.
33 Episode 33 Insiden Mengerikan.
34 Episode 34 Tidak Mungkin Pergi.
35 Episode 35 Jangan Menyuruhku Untuk Pergi.
36 Episode 36 Intens
37 Episode 37 Keintiman
38 Episode 38 Semakin Romantis.
39 Episode 38 Janji Bersama...
40 Episode 40 Menenangkan.
41 Episode 41 Pilihan.
42 Episode 42 Kenapa Harus Seperti Ini.
43 Episode 43 Tidak Ada Yang Di Sembunyikan.
44 Episode 44 Ancaman.
45 Episode 45 Izin
46 Episode 46 Kesepian.
47 Episode 47 Perasaan Yang Tidak Enak.
48 Episode 48 Tampak Tidak Sabaraha.
49 Episode 49 Istriku
50 Episode Menyedihkan.
51 Episode 51 Penyesalan.
52 Episode 52 Dendam
53 Episode 53 Tidak Berlaku.
54 Episode 54. Akhirnya Sadar.
55 Episode 55 Rasa Ketakutan.
56 Episode 56 Menegangkan.
57 Episode 57 Pembicaraan.
58 Episode 58 Hal Mencengangkan.
59 Episode 59 Perasaan Tidak Enak.
60 Episode 60 Kejadian
61 Episode 61 Ngidam Aneh.
62 Episode 62
63 Episode 63 Hal Terberat.
64 Episode 64 Adanya Pertentangan.
65 Episode 65 Penggeledahan.
66 Episode 66 Desakan.
67 Episode 67 Apa Itu.
68 Episode 68 Seperti Ada Ikatan.
69 Episode 69 Mengejutkan.
70 Episode 70 Kecelakaan.
71 Episode 71 Sengit.
72 Episode 72 Semakin Jelas.
73 Episode 73 Akhirnya Tahu.
74 Episode 74 Dia Anakku.
75 Episode 75 Masa Lalu Yang Terbongkar.
76 Episode 76 Serasa Berpisah.
77 Episode 77 Hancur
78 Episode 78 Masalah.
79 Episode 79 Jebakan
80 Episode 80 Insiden
81 Episode 81 Pertumpahan Darah.
82 Episode 82 Apa Ada Kesempatan.
83 Episode 83 Haru.
84 Episode 84 Tidak Ikhlas.
85 Episode 85 Jeruji Besi
86 Episode 86 Pertemuan Menyedihkan
87 Episode 82 Keputusan Pengadilan.
88 Episode 88 Keputusan Yang Tepat.
89 Episode 89 Perjuangan.
90 Episode 90 Walau Bahagia Sementara.
91 Episode 91 Udara Bebas
92 Episode 92 Harus Sabar
93 Bab 93
94 Episode 94 Rasa Kecewa.
95 Episode 95 Posisi Sulit.
96 Episode 96 Penegasan.
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Episode 1 Apa Yang Terjadi.
2
Episode 2 Membuka Cadar
3
Episode 3 Persyaratan Konyol.
4
Episode 4 Meminta Syrat
5
Episode 5 Datang Melamar.
6
Episode 6 Pernikahan.
7
Episode 7 Pertama Kali Di Rumahnya.
8
Episode 8 Malam Yang Gugup
9
Episode 9 Godaan Suami.
10
Episode 10 Ternyata Gagal.
11
Episode 10 Marah Tapi Di Turuti Juga.
12
Episode 12 Menemani Suami.
13
Episode 13 Panas
14
Episode 14 Pesan
15
Episode 16 Gagal Lagi.
16
Episode 16 Harus LDR.
17
Episode 17 Rindu Dalam Gengsi
18
Episode 18 Amarah.
19
Episode 19 Perintah Mengakhiri
20
Episode 20 Tidak Bisa Melayani.
21
Episode 21 Merawat Penuh Ketulusan.
22
Episode 22 Mengajak Pergi.
23
Episode 23 Ini Pasti Cemburu.
24
Episode 24 Permintaan Lagi.
25
Episode 25 Mulai Bucin.
26
Episode 26 Ternyata Menunggu.
27
Episode 27 Fatal.
28
Episode 28 Amarah Tidak Terkendali
29
Episode 29 Jangan Sampai.
30
Episode 30 Mengajak.
31
Episode 30 Milan
32
Episode 32 Memperlihatkan Kenyataan.
33
Episode 33 Insiden Mengerikan.
34
Episode 34 Tidak Mungkin Pergi.
35
Episode 35 Jangan Menyuruhku Untuk Pergi.
36
Episode 36 Intens
37
Episode 37 Keintiman
38
Episode 38 Semakin Romantis.
39
Episode 38 Janji Bersama...
40
Episode 40 Menenangkan.
41
Episode 41 Pilihan.
42
Episode 42 Kenapa Harus Seperti Ini.
43
Episode 43 Tidak Ada Yang Di Sembunyikan.
44
Episode 44 Ancaman.
45
Episode 45 Izin
46
Episode 46 Kesepian.
47
Episode 47 Perasaan Yang Tidak Enak.
48
Episode 48 Tampak Tidak Sabaraha.
49
Episode 49 Istriku
50
Episode Menyedihkan.
51
Episode 51 Penyesalan.
52
Episode 52 Dendam
53
Episode 53 Tidak Berlaku.
54
Episode 54. Akhirnya Sadar.
55
Episode 55 Rasa Ketakutan.
56
Episode 56 Menegangkan.
57
Episode 57 Pembicaraan.
58
Episode 58 Hal Mencengangkan.
59
Episode 59 Perasaan Tidak Enak.
60
Episode 60 Kejadian
61
Episode 61 Ngidam Aneh.
62
Episode 62
63
Episode 63 Hal Terberat.
64
Episode 64 Adanya Pertentangan.
65
Episode 65 Penggeledahan.
66
Episode 66 Desakan.
67
Episode 67 Apa Itu.
68
Episode 68 Seperti Ada Ikatan.
69
Episode 69 Mengejutkan.
70
Episode 70 Kecelakaan.
71
Episode 71 Sengit.
72
Episode 72 Semakin Jelas.
73
Episode 73 Akhirnya Tahu.
74
Episode 74 Dia Anakku.
75
Episode 75 Masa Lalu Yang Terbongkar.
76
Episode 76 Serasa Berpisah.
77
Episode 77 Hancur
78
Episode 78 Masalah.
79
Episode 79 Jebakan
80
Episode 80 Insiden
81
Episode 81 Pertumpahan Darah.
82
Episode 82 Apa Ada Kesempatan.
83
Episode 83 Haru.
84
Episode 84 Tidak Ikhlas.
85
Episode 85 Jeruji Besi
86
Episode 86 Pertemuan Menyedihkan
87
Episode 82 Keputusan Pengadilan.
88
Episode 88 Keputusan Yang Tepat.
89
Episode 89 Perjuangan.
90
Episode 90 Walau Bahagia Sementara.
91
Episode 91 Udara Bebas
92
Episode 92 Harus Sabar
93
Bab 93
94
Episode 94 Rasa Kecewa.
95
Episode 95 Posisi Sulit.
96
Episode 96 Penegasan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!