Episode 14 Pesan

Anindya yang seperti biasa berada di daftar membuatkan sarapan untuk suami yang memang tidak mendapatkan larangan apapun. Kavindra yang sudah siap-siap ingin ke kantor dan langsung menarik kursi untuk duduk.

"Kamu jadi pergi pagi ini?" tanya Kavindra.

"Iya," jawab Anindya yang meletakkan nasi goreng spesial yang seperti biasa untuk suaminya.

"Jika diberi kesempatan untuk pergi, maka jangan pulang lama-lama," ucap Kavindra memberikan pesan.

"Baik tuan. Sarapanlah!" ucap Anindya yang membuat Kavindra mengambil sendok dan memakan nasi goreng yang sudah cocok dengan lidahnya itu.

"Kamu kenapa berdiri?" tanya Kavindra melihat istrinya yang sejak tadi hanya berdiri di sampingnya.

"Mau menjadi pelayan yang hanya berdiri dan dia menungguku makan?" tanya Kavindra dengan satu alis terangkat. Anindya menggelengkan kepala.

"Kalau begitu duduk dan makan!" ucap Kavindra yang membuat Anindya mengangguk.

***

Anindya yang mendapatkan izin dari suaminya untuk berkunjung ke rumah Abi yang akhirnya Anindya tidak membuang kesempatan itu yang benar-benar langsung pergi dan seperti apa yang dikatakan Kavindra dia mengirim sopir untuk mendampingi istrinya.

Anindya yang membuatkan teh dan memberikan kepada Abi yang sedang berada di taman belakang rumah.

"Kamu tampak sehat sekali dan juga fresh. Apa suami kamu memperlakukan kamu dengan baik?" tanya Abi ketika melihat putrinya itu sudah duduk di depannya.

"Beliau tidak punya alasan untuk tidak memperlakukan Anindya buruk. Jadi selama pernikahan Anindya baik-baik saja dan diperlakukan dengan sangat baik," jawabnya yang memang apa adanya.

Karena belum ada sesuatu yang membuat Anindya merasa pernikahan itu seperti neraka. Walau terkadang Kavindra sering berbicara sedikit melenceng dan hal itu mungkin sudah menjadi kebiasaan Kavindra. Tetapi dirinya sama sekali tidak dibuat sulit.

"Alhamdulillah jika orang seperti dia bisa juga berbuat baik," sahut Abi yang sedikit merasa lega.

"Orang seperti dia? Apa Abi mengenal beliau dekat" tanya Anindya.

"Abi tidak terlalu mengenal dekat, tetapi semua orang pasti tahu siapa suami kamu," ucap Abi.

"Tetapi Anindya tidak mengetahui apapun tentang beliau dan jujur saja Anindya ingin mengetahui sedikit saja tentang beliau," ucapnya dengan jujur.

"Anindya kamu telah memilih jalan untuk menikah dengan dia tanpa kamu mengetahui siapa sebenarnya pria yang akan menjadi suami kamu. Jadi jika sekarang kamu sudah mengetahui siapa dia. Maka tidak ada yang perlu disesali dan anggaplah semua ini sudah menjadi ketentuan sang maha pencipta. Abi sudah berusaha untuk melarang kamu tidak menikah dengan dia, karena Abi juga menginginkan kamu mendapatkan suami yang bisa menjadi imam kamu," ucap Abi.

"Dari apa yang Abi bicarakan, sepertinya beliau bukanlah orang sembarangan. Apa begitu sangat menakutkan?" tanya Anindya.

"Dia memiliki banyak kuasa, tetapi di setiap semua yang diraih juga pasti dikelilingi orang-orang yang ingin menghancurkan dia. Anindya Abi meminta kepada kamu untuk tidak terlalu ikut campur dengan urusan dia. Abi tidak ingin kamu terlibat atas segala pekerjaannya," ucap Abi memberikan saran.

"Memang ada pekerjaan selain pengusaha tambang?" tanya Anindya yang memang sejak awal sangat penasaran.

"Entahlah! Abi juga tidak tahu. Tetapi dia dikelilingi banyak orang-orang yang ingin menjatuhkannya dan biasanya pengusaha seperti beliau juga sangat menganggap hal kecil jika adanya pertumpahan darah. Orang-orang seperti mereka sangat mudah melenyapkan nyawa seseorang jika sudah sangat mengganggu," ucap Abi.

"Terdengar begitu sangat menyeramkan Abi. Anindya jadi takut mendengarnya," ucapnya dengan tersenyum yang sebenarnya apa yang dia katakan hanya seloroh saja dan bahkan dia menanggapi dengan sangat santai dan tidak terlihat bahwa dia takut.

"Jangan menganggap remeh Anindya. Abi tidak ingin kamu sampai kenapa-napa dan yang terpenting kamu harus menjaga keimanan kamu dan jangan rusak dengan cara apapun. Walau kamu telah menjadi istrinya. Patuh seorang istri memang ada pada suami. Tetapi kamu juga harus menjaga keimanan kamu," ucap Abi yang memberikan nasehat kepada putrinya itu.

Anindya tersenyum dan memegang kedua tangan yang sudah keriput itu dengan menatapnya begitu dalam.

"Tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Anindya akan berusaha untuk menjadi istri yang baik dan ketika kita menjadi baik, maka akan sangat sulit orang jahat memperlakukan kita dengan tidak baik," ucap Anindya

"Tidak semua Anindya apa yang kamu pikirkan masuk ke dalam pikiran orang lain dan termasuk orang seperti dia," ucap Abi.

"Abi. Bukankah beliau adalah menantu Abi. Jangan terus menjudge buruk beliau seperti itu. Mungkin Dia seorang rentenir yang sangat mudah meminjamkan banyak uang kepada pengusaha-pengusaha yang diambang kehancuran dan mengambil bunga yang terlalu tinggi. Tetapi bukankah setiap manusia memiliki sisi baik dan jika dia tidak baik, ya tidak mungkin memberikan keringanan kepada keluarga kita dan bahkan menghapuskan bunga jumlah yang cukup banyak. Sejahat apapun seseorang akan tetap memiliki sisi kebaikan walau hanya sedikit saja," ucap Anindya yang selalu berpikir positif.

"Selama pernikahan Anindya dengan beliau, Anindya tetap menjalankan ibadah Anindya seperti apa biasanya dan jika beliau orang yang jahat. Maka mungkin tidak akan mengijinkan Anindya melakukan hal itu dan selama ini Anindya beribadah secara terang-terangan dan bukan bersembunyi-sembunyi atau takut sesuatu," Anindya yang terus meyakinkan Abinya. Bahkan dia tidak ingin menjelekan suaminya sama sekali.

"Abi pasti akan berdoa untuk kamu dan juga untuk dia agar mendapatkan hidayah dan bisa terus memperlakukan kamu dengan baik," ucap Abi.

"Makasih Abi sudah mau melakukan hal itu," sahut Anindya dengan tersenyum.

Abi juga tersenyum yang sebenarnya dia tidak terlalu khawatir, karena kedatangan putrinya ke rumahnya juga terlihat baik-baik saja. Wajahnya begitu fresh dan tidak ada seperti orang yang tertekan batin.

Padahal putrinya baru saja dinikahi oleh pria yang sangat dia ragukan dan seharusnya orang seperti Kavindra tidak mudah memberikan izin dan nyatanya memberikan izin dan bahkan memberikan supir untuk mengantarkan putrinya pulang.

**

Anindya yang kembali berada di kamar Kavindra dengan dirinya yang seperti biasa memakai setelan piyama lengan panjang di atas mata kaki yang pasti di bagian dalamnya terlihat sangat seksi yang sama sekali belum pernah dilepaskan Kavindra dari tubuh itu.

Rambutnya digerai memanjang dengan aroma tubuhnya begitu sangat harum sekali. Anindya selalu mempersiapkan diri jika suaminya ingin menyentuhnya.

"Apa ini?" tanyanya ketika Kavindra amplop putih di atas tempat tidur.

"Apa yang kau minta," jawab Kavindra yang melonggarkan jasnya.

Anindya mengambil amplop tersebut dan membukanya yang ternyata terdapat sebuah surat. Anindya melihat ke arah suaminya yang sekarang sudah membuka kancing kerah bajunya dan juga kancing lengan tangannya.

Anindya membuka isi surat tersebut yang ternyata surat dari rumah sakit. Kavindra benar-benar melakukan tes sesuai dengan permintaan Anindya dan ternyata dia memang terbebas dari penyakit HIV dan tidak ada penyakit sama sekali di tubuhnya. Anindya melihat surat tersebut tampak tersenyum tipis.

"Kau puas?" tanya Kavindra yang langsung membuat senyum Anindya hilang.

"Alhamdulillah jika tuan terbebas dari penyakit. Kalau sudah seperti itu jangan lagi mendekati hal-hal yang bisa menimbulkan penyakit," jawabnya dengan santai.

"Alhamdulillah, Alhamdulillah," sahut Kavindra dengan nada mengejek.

"Jangan mempermainkan kata-kata syukur. Itu tidak baik," tegur Anindya pada suaminya yang mengejeknya.

"Benarkah! ceramah terus," jawabnya dengan kesal yang kembali di gurui sang istri.

Bersambung ......

Terpopuler

Comments

Maulina Akmalia

Maulina Akmalia

ceramahi suamimu biar mendapat hidayah

2025-03-23

0

Kalsum

Kalsum

awas looo entr bucin sm istri🤣🤣

2025-03-14

0

🌷💚SITI.R💚🌷

🌷💚SITI.R💚🌷

🤣🤣🤣🤣 semangaat anin

2025-03-07

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 Apa Yang Terjadi.
2 Episode 2 Membuka Cadar
3 Episode 3 Persyaratan Konyol.
4 Episode 4 Meminta Syrat
5 Episode 5 Datang Melamar.
6 Episode 6 Pernikahan.
7 Episode 7 Pertama Kali Di Rumahnya.
8 Episode 8 Malam Yang Gugup
9 Episode 9 Godaan Suami.
10 Episode 10 Ternyata Gagal.
11 Episode 10 Marah Tapi Di Turuti Juga.
12 Episode 12 Menemani Suami.
13 Episode 13 Panas
14 Episode 14 Pesan
15 Episode 16 Gagal Lagi.
16 Episode 16 Harus LDR.
17 Episode 17 Rindu Dalam Gengsi
18 Episode 18 Amarah.
19 Episode 19 Perintah Mengakhiri
20 Episode 20 Tidak Bisa Melayani.
21 Episode 21 Merawat Penuh Ketulusan.
22 Episode 22 Mengajak Pergi.
23 Episode 23 Ini Pasti Cemburu.
24 Episode 24 Permintaan Lagi.
25 Episode 25 Mulai Bucin.
26 Episode 26 Ternyata Menunggu.
27 Episode 27 Fatal.
28 Episode 28 Amarah Tidak Terkendali
29 Episode 29 Jangan Sampai.
30 Episode 30 Mengajak.
31 Episode 30 Milan
32 Episode 32 Memperlihatkan Kenyataan.
33 Episode 33 Insiden Mengerikan.
34 Episode 34 Tidak Mungkin Pergi.
35 Episode 35 Jangan Menyuruhku Untuk Pergi.
36 Episode 36 Intens
37 Episode 37 Keintiman
38 Episode 38 Semakin Romantis.
39 Episode 38 Janji Bersama...
40 Episode 40 Menenangkan.
41 Episode 41 Pilihan.
42 Episode 42 Kenapa Harus Seperti Ini.
43 Episode 43 Tidak Ada Yang Di Sembunyikan.
44 Episode 44 Ancaman.
45 Episode 45 Izin
46 Episode 46 Kesepian.
47 Episode 47 Perasaan Yang Tidak Enak.
48 Episode 48 Tampak Tidak Sabaraha.
49 Episode 49 Istriku
50 Episode Menyedihkan.
51 Episode 51 Penyesalan.
52 Episode 52 Dendam
53 Episode 53 Tidak Berlaku.
54 Episode 54. Akhirnya Sadar.
55 Episode 55 Rasa Ketakutan.
56 Episode 56 Menegangkan.
57 Episode 57 Pembicaraan.
58 Episode 58 Hal Mencengangkan.
59 Episode 59 Perasaan Tidak Enak.
60 Episode 60 Kejadian
61 Episode 61 Ngidam Aneh.
62 Episode 62
63 Episode 63 Hal Terberat.
64 Episode 64 Adanya Pertentangan.
65 Episode 65 Penggeledahan.
66 Episode 66 Desakan.
67 Episode 67 Apa Itu.
68 Episode 68 Seperti Ada Ikatan.
69 Episode 69 Mengejutkan.
70 Episode 70 Kecelakaan.
71 Episode 71 Sengit.
72 Episode 72 Semakin Jelas.
73 Episode 73 Akhirnya Tahu.
74 Episode 74 Dia Anakku.
75 Episode 75 Masa Lalu Yang Terbongkar.
76 Episode 76 Serasa Berpisah.
77 Episode 77 Hancur
78 Episode 78 Masalah.
79 Episode 79 Jebakan
80 Episode 80 Insiden
81 Episode 81 Pertumpahan Darah.
82 Episode 82 Apa Ada Kesempatan.
83 Episode 83 Haru.
84 Episode 84 Tidak Ikhlas.
85 Episode 85 Jeruji Besi
86 Episode 86 Pertemuan Menyedihkan
87 Episode 82 Keputusan Pengadilan.
88 Episode 88 Keputusan Yang Tepat.
89 Episode 89 Perjuangan.
90 Episode 90 Walau Bahagia Sementara.
91 Episode 91 Udara Bebas
92 Episode 92 Harus Sabar
93 Bab 93
94 Episode 94 Rasa Kecewa.
95 Episode 95 Posisi Sulit.
96 Episode 96 Penegasan.
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Episode 1 Apa Yang Terjadi.
2
Episode 2 Membuka Cadar
3
Episode 3 Persyaratan Konyol.
4
Episode 4 Meminta Syrat
5
Episode 5 Datang Melamar.
6
Episode 6 Pernikahan.
7
Episode 7 Pertama Kali Di Rumahnya.
8
Episode 8 Malam Yang Gugup
9
Episode 9 Godaan Suami.
10
Episode 10 Ternyata Gagal.
11
Episode 10 Marah Tapi Di Turuti Juga.
12
Episode 12 Menemani Suami.
13
Episode 13 Panas
14
Episode 14 Pesan
15
Episode 16 Gagal Lagi.
16
Episode 16 Harus LDR.
17
Episode 17 Rindu Dalam Gengsi
18
Episode 18 Amarah.
19
Episode 19 Perintah Mengakhiri
20
Episode 20 Tidak Bisa Melayani.
21
Episode 21 Merawat Penuh Ketulusan.
22
Episode 22 Mengajak Pergi.
23
Episode 23 Ini Pasti Cemburu.
24
Episode 24 Permintaan Lagi.
25
Episode 25 Mulai Bucin.
26
Episode 26 Ternyata Menunggu.
27
Episode 27 Fatal.
28
Episode 28 Amarah Tidak Terkendali
29
Episode 29 Jangan Sampai.
30
Episode 30 Mengajak.
31
Episode 30 Milan
32
Episode 32 Memperlihatkan Kenyataan.
33
Episode 33 Insiden Mengerikan.
34
Episode 34 Tidak Mungkin Pergi.
35
Episode 35 Jangan Menyuruhku Untuk Pergi.
36
Episode 36 Intens
37
Episode 37 Keintiman
38
Episode 38 Semakin Romantis.
39
Episode 38 Janji Bersama...
40
Episode 40 Menenangkan.
41
Episode 41 Pilihan.
42
Episode 42 Kenapa Harus Seperti Ini.
43
Episode 43 Tidak Ada Yang Di Sembunyikan.
44
Episode 44 Ancaman.
45
Episode 45 Izin
46
Episode 46 Kesepian.
47
Episode 47 Perasaan Yang Tidak Enak.
48
Episode 48 Tampak Tidak Sabaraha.
49
Episode 49 Istriku
50
Episode Menyedihkan.
51
Episode 51 Penyesalan.
52
Episode 52 Dendam
53
Episode 53 Tidak Berlaku.
54
Episode 54. Akhirnya Sadar.
55
Episode 55 Rasa Ketakutan.
56
Episode 56 Menegangkan.
57
Episode 57 Pembicaraan.
58
Episode 58 Hal Mencengangkan.
59
Episode 59 Perasaan Tidak Enak.
60
Episode 60 Kejadian
61
Episode 61 Ngidam Aneh.
62
Episode 62
63
Episode 63 Hal Terberat.
64
Episode 64 Adanya Pertentangan.
65
Episode 65 Penggeledahan.
66
Episode 66 Desakan.
67
Episode 67 Apa Itu.
68
Episode 68 Seperti Ada Ikatan.
69
Episode 69 Mengejutkan.
70
Episode 70 Kecelakaan.
71
Episode 71 Sengit.
72
Episode 72 Semakin Jelas.
73
Episode 73 Akhirnya Tahu.
74
Episode 74 Dia Anakku.
75
Episode 75 Masa Lalu Yang Terbongkar.
76
Episode 76 Serasa Berpisah.
77
Episode 77 Hancur
78
Episode 78 Masalah.
79
Episode 79 Jebakan
80
Episode 80 Insiden
81
Episode 81 Pertumpahan Darah.
82
Episode 82 Apa Ada Kesempatan.
83
Episode 83 Haru.
84
Episode 84 Tidak Ikhlas.
85
Episode 85 Jeruji Besi
86
Episode 86 Pertemuan Menyedihkan
87
Episode 82 Keputusan Pengadilan.
88
Episode 88 Keputusan Yang Tepat.
89
Episode 89 Perjuangan.
90
Episode 90 Walau Bahagia Sementara.
91
Episode 91 Udara Bebas
92
Episode 92 Harus Sabar
93
Bab 93
94
Episode 94 Rasa Kecewa.
95
Episode 95 Posisi Sulit.
96
Episode 96 Penegasan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!