Episode 10 Marah Tapi Di Turuti Juga.

"Jadi apa yang saya lakukan itu adalah yang saya sukai dan saya sangat berharap tuan tidak melarang saya untuk melakukan itu," ucap Anindya yang tidak mendapatkan respon dari Kavindra hanya melihat saja ke arah Kavindra.

"Aku sama sekali tidak suka jika kau berbicara kepadaku tanpa memperlihatkan wajahmu," ucap Kavindra yang sepertinya sudah terhipnotis oleh wajah istrinya dan hanya ingin terus melihat wajah itu tanpa harus ditutup-tutupi.

"Saya akan melakukan hal itu jika tuan memenuhi syarat yang saya berikan," sahut Anindya.

"Apa kau tidak bisa hidup tanpa syarat hah! Aku sudah menikahimu dan bukankah kau sendiri yang mengatakan jika suami istri memperlihatkan wajahnya itu bukanlah suatu dosa, bahkan sekalipun kau telanjang di depanku itu juga bukan dosa!" kesalnya yang pagi-pagi sudah terpancing emosi dan sampai mengeluarkan kata-kata vulgar.

Anindya harus istighfar dengan semua kata-kata itu.

"Bukan seperti itu maksud saya," sahut Anindya.

"Lalu apalagi yang kau inginkan dan syarat apa lagi yang kau inginkan?" tanya Kavindra dengan menekan suaranya.

"Saya di rumah juga tidak memakai cadar. Karena di rumah tidak ada pelayan pria atau pria yang berada di luar tidak diperbolehkan masuk begitu saja ke dalam rumah tanpa mendapatkan izin dari Bibi. Jadi jika ingin melihat saya tanpa menggunakan cadar. Maka jangan biarkan ada laki-laki di dalam rumah ini," ucapnya dengan penuh permintaan.

Kavindra menyergah nafas mendengar permintaan istrinya.

"Sekarang kau benar-benar memerintahku," sahutnya.

"Saya hanya ingin pernikahan yang sebentar ini tetap menjadi berkah dan saya berharap tuan bisa menghargai saya sebagai seorang wanita dan bukan hanya dengan menghargai dengan jumlah uang yang tuan miliki," ucapnya lagi.

Kavindra benar-benar sangat tertampar dengan semua perkataan istrinya.

"Astaga! Apa semua ini?" Kavindra memijat kepalanya yang semakin berat.

Dia memilih untuk mencicipi masakan sang istri, mungkin saja sudah capek menghadapi Anindya yang banyak permintaan dan permintaan itu pasti diiringi dengan ceramah.

Kavindra sepertinya cocok saja dengan masakannya yang tidak ada respon sama sekali atau mungkin Kavindra yang lapar ditambah dengan ocehan istrinya.

Anindya tampak tersenyum tipis yang melihat suaminya memakan masakannya untuk yang pertama kali.

"Baiklah mulai sekarang tidak akan ada pelayan pria di rumah ini lagi. Siapapun itu tidak akan boleh masuk tanpa seizin dari ku" tegas Kavindra yang selalu merasa bukan dirinya yang sangat mudah menuruti permintaan Anindya.

"Terima kasih," ucap Anindya yang merasa tenang.

"Ada lagi yang kau inginkan?" tanya Kavindra.

"Saya ingin tuan memberikan surat kesehatan," ucapnya.

Kavindra menghentikan makannya yang melihat serius ke arah istrinya.

"Apa maksud mu? Apa kau pikir aku penyakitan hah jadi kau takut tertular virus di rumah ini," sahutnya dengan kesal yang sekarang rasanya ingin memakan piring itu saja.

"Bukan begitu. Tadi malam tuan mengatakan bahwa tuan sudah sangat terbiasa menjalin hubungan intim dengan wanita dan bahkan banyak wanita. Saya hanya tidak ingin tertular oleh apapun. Jadi saya ingin tuan memberikan surat kesehatan bahwa tuan tidak menderita HIV," ucap Anindya.

Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk

Kavindra langsung tersedak makanan tersebut yang membuat Anindya buru-buru menggeserkan air putih dengan wajahnya yang juga panik.

"Kau benar-benar gila!" umpat Kavindra yang sudah tidak habis pikir dengan semua perkataan istrinya.

"Minumlah dulu! baru berbicara nanti tenggorokan tuan terluka,"

"Jadi kau berpikir jika aku penderita HIV?" tanyanya setelah minuman itu masuk ke dalam tenggorokannya dan sedikit membuat tenggorokannya lega.

"Saya bukan bermaksud menuduh, tetapi alangkah baiknya mencegah sebelum semuanya terjadi," jawab Anindya.

"Tetap saja kau punya pikiran jika aku menderita HIV. Kau dengarkan aku Anindya. Aku bukan laki-laki yang bodoh yang tidak tahu kesehatan dan bagaimana penyakit itu sangat berbahaya. Walau aku tidur dengan berbagi wanita, tetapi aku selalu memakai pengaman dan aku tahu apa yang harus aku lakukan!" tegasnya yang benar-benar sangat emosi menghadapi Anindya.

Anindya hanya menghela nafas dengan semua kata-kata baru yang dia dapatkan karena sudah menikah. Dia bahkan tidak paham apa itu pengaman.

"Kau sepertinya menikah denganku hanya ingin buatku mati mendadak, setiap saat yang membuatku kesal dengan kepalaku semakin sakit," ucap Kavindra kesal.

"Kau jangan pernah mengaturku dan segala ketentuan aku yang memutuskan mau aku menyentuhmu tanpa memberikan surat kesehatan dan bebas HIV itu adalah urusan ku," ucap Kavindra yang berdiri dari tempat duduknya yang sudah tidak mood lagi melanjutkan sarapannya.

"Tapi saya wanita yang sehat dan apa tuan tidak akan merasa berdosa jika sampai menularkan penyakit seperti itu kepada wanita yang sama sekali tidak memiliki penyakit apapun?" ucapnya lagi

"Anindya kau bisa diam jangan terus berbicara hah! kepala ku sakit mendengarmu terus berbicara!" kesalnya dengan emosi yang langsung pergi meninggalkan meja makan.

"Kenapa beliau terus saja marah-marah dan padahal aku hanya meminta surat kesehatan dan apa itu sebuah kesalahan. Jika dia merasa memang sehat dan tanpa terjangkit penyakit HIV dan seharusnya dia tidak perlu marah seperti itu," ucap Anindya dengan menghela nafas.

"Tapi sepertinya nasi goreng yang aku buat cocok pada lidahnya. Kalau begitu lain kali aku akan membuatkan nasi goreng yang sama," ucapnya dengan tersenyum merasa senang.

****

Kavindra yang sekarang berada di ruang tamu dengan banyaknya pelayan di rumah tersebut dan juga bodyguard di luar yang sekarang masuk ke dalam rumahnya.

"Aku memerintahkan kepada kalian semua mulai sekarang laki-laki tidak diizinkan masuk ke dalam rumah ini, tidak diizinkan berada di area dalam rumah baik di dalam kolam renang dan juga taman belakang. Kalian hanya boleh berjaga di depan dan juga di bagian pagar belakang rumah tanpa harus masuk ke dalam rumah!" tegas Kavindra yang ternyata langsung memberikan perintah sesuai dengan apa yang diinginkan istrinya.

Mereka semua saling melihat dan pasti merasa heran jika tidak ada yang berada di dalam rumah.

"Ada apa? Apa ingin protes?" tanya Kavindra.

"Tidak tuan!" jawab mereka semua dengan serentak.

"Laksanakan tugas yang aku perintahkan dan jika ada yang melihatku masuk rumah maka itu terakhir dia bekerja di rumah ini!" tegas Kavindra.

"Baik tuan!" sahut mereka semua.

Kavindra memerintahkan untuk bubar dan hanya menyisahkan satu asisten yang selama ini sangat dia percaya.

"Apa jadwal pekerjaanku hari ini banyak?" tanya Kavindra.

"Ada ketemuan dengan klien pukul 03.00 sore," jawab pria tersebut.

"Kalau begitu kamu atur jadwal untuk berjanji dengan Dokter Ardi," ucap Kavindra.

"Tuan ingin melakukan pemeriksaan kesehatan?" tanya pria itu.

"Iya. Kesehatan agar membuktikan kepada wanita itu jika aku sama sekali tidak terjangkit HIV seperti apa yang telah dia pikirkan," batin Kavindra yang benar-benar emosi dan lagi-lagi semua itu karena kekesalannya kepada istri yang sangat meragukannya.

Kavindra lagi-lagi juga merasa dirinya sangat bodoh yang bisa-bisanya menuruti semua permintaan Anindya, ya Karena penasaran dengan Anindya dia sudah menikahi Anindya dan ternyata pernikahan itu justru menjerat dirinya.

Bagaimana tidak, baru satu hari saja dia sudah mendapat sekali banyak kata-kata baru yang terus saja bicara sana-sini dan Anindya juga meminta banyak syarat dalam pernikahan mereka.

Bahkan dengan sangat entengnya Anindya menyuruh Kavindra untuk memeriksakan tes kesehatan agar dirinya tidak terjangkit penyakit, semua itu adalah singgungan. Kavindra hanya memijat kepala yang semakin berat yang tidak tahu bagaimana selanjutnya hubungan mereka.

Padahal Anindya meminta syarat agar tidak ada pria di dalam rumah itu yang justru hanya memberikan keuntungan kepada Kavindra yang memiliki hak sepenuhnya kuasa atas istrinya dan orang lain tidak boleh melihat wajah istrinya.

Bersambung.....

Terpopuler

Comments

Dhafitha Fitha Fitha

Dhafitha Fitha Fitha

wkwkwkwkwkkw astaghfirullah sumpah di buat ngakak dari atas ... trnyata sekejam kejam nya Kevin ada sisih konyol nya

2025-03-23

0

Rita Riau

Rita Riau

ha-ha-ha,,, ternyata istri mu lebih pintar dari mu Kavindra,,,

2025-03-17

1

Maulina Akmalia

Maulina Akmalia

saya membaca novel ini ketawa terus ceritanya menggemaskan

2025-03-22

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 Apa Yang Terjadi.
2 Episode 2 Membuka Cadar
3 Episode 3 Persyaratan Konyol.
4 Episode 4 Meminta Syrat
5 Episode 5 Datang Melamar.
6 Episode 6 Pernikahan.
7 Episode 7 Pertama Kali Di Rumahnya.
8 Episode 8 Malam Yang Gugup
9 Episode 9 Godaan Suami.
10 Episode 10 Ternyata Gagal.
11 Episode 10 Marah Tapi Di Turuti Juga.
12 Episode 12 Menemani Suami.
13 Episode 13 Panas
14 Episode 14 Pesan
15 Episode 16 Gagal Lagi.
16 Episode 16 Harus LDR.
17 Episode 17 Rindu Dalam Gengsi
18 Episode 18 Amarah.
19 Episode 19 Perintah Mengakhiri
20 Episode 20 Tidak Bisa Melayani.
21 Episode 21 Merawat Penuh Ketulusan.
22 Episode 22 Mengajak Pergi.
23 Episode 23 Ini Pasti Cemburu.
24 Episode 24 Permintaan Lagi.
25 Episode 25 Mulai Bucin.
26 Episode 26 Ternyata Menunggu.
27 Episode 27 Fatal.
28 Episode 28 Amarah Tidak Terkendali
29 Episode 29 Jangan Sampai.
30 Episode 30 Mengajak.
31 Episode 30 Milan
32 Episode 32 Memperlihatkan Kenyataan.
33 Episode 33 Insiden Mengerikan.
34 Episode 34 Tidak Mungkin Pergi.
35 Episode 35 Jangan Menyuruhku Untuk Pergi.
36 Episode 36 Intens
37 Episode 37 Keintiman
38 Episode 38 Semakin Romantis.
39 Episode 38 Janji Bersama...
40 Episode 40 Menenangkan.
41 Episode 41 Pilihan.
42 Episode 42 Kenapa Harus Seperti Ini.
43 Episode 43 Tidak Ada Yang Di Sembunyikan.
44 Episode 44 Ancaman.
45 Episode 45 Izin
46 Episode 46 Kesepian.
47 Episode 47 Perasaan Yang Tidak Enak.
48 Episode 48 Tampak Tidak Sabaraha.
49 Episode 49 Istriku
50 Episode Menyedihkan.
51 Episode 51 Penyesalan.
52 Episode 52 Dendam
53 Episode 53 Tidak Berlaku.
54 Episode 54. Akhirnya Sadar.
55 Episode 55 Rasa Ketakutan.
56 Episode 56 Menegangkan.
57 Episode 57 Pembicaraan.
58 Episode 58 Hal Mencengangkan.
59 Episode 59 Perasaan Tidak Enak.
60 Episode 60 Kejadian
61 Episode 61 Ngidam Aneh.
62 Episode 62
63 Episode 63 Hal Terberat.
64 Episode 64 Adanya Pertentangan.
65 Episode 65 Penggeledahan.
66 Episode 66 Desakan.
67 Episode 67 Apa Itu.
68 Episode 68 Seperti Ada Ikatan.
69 Episode 69 Mengejutkan.
70 Episode 70 Kecelakaan.
71 Episode 71 Sengit.
72 Episode 72 Semakin Jelas.
73 Episode 73 Akhirnya Tahu.
74 Episode 74 Dia Anakku.
75 Episode 75 Masa Lalu Yang Terbongkar.
76 Episode 76 Serasa Berpisah.
77 Episode 77 Hancur
78 Episode 78 Masalah.
79 Episode 79 Jebakan
80 Episode 80 Insiden
81 Episode 81 Pertumpahan Darah.
82 Episode 82 Apa Ada Kesempatan.
83 Episode 83 Haru.
84 Episode 84 Tidak Ikhlas.
85 Episode 85 Jeruji Besi
86 Episode 86 Pertemuan Menyedihkan
87 Episode 82 Keputusan Pengadilan.
88 Episode 88 Keputusan Yang Tepat.
89 Episode 89 Perjuangan.
90 Episode 90 Walau Bahagia Sementara.
91 Episode 91 Udara Bebas
92 Episode 92 Harus Sabar
93 Bab 93
94 Episode 94 Rasa Kecewa.
95 Episode 95 Posisi Sulit.
96 Episode 96 Penegasan.
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Episode 1 Apa Yang Terjadi.
2
Episode 2 Membuka Cadar
3
Episode 3 Persyaratan Konyol.
4
Episode 4 Meminta Syrat
5
Episode 5 Datang Melamar.
6
Episode 6 Pernikahan.
7
Episode 7 Pertama Kali Di Rumahnya.
8
Episode 8 Malam Yang Gugup
9
Episode 9 Godaan Suami.
10
Episode 10 Ternyata Gagal.
11
Episode 10 Marah Tapi Di Turuti Juga.
12
Episode 12 Menemani Suami.
13
Episode 13 Panas
14
Episode 14 Pesan
15
Episode 16 Gagal Lagi.
16
Episode 16 Harus LDR.
17
Episode 17 Rindu Dalam Gengsi
18
Episode 18 Amarah.
19
Episode 19 Perintah Mengakhiri
20
Episode 20 Tidak Bisa Melayani.
21
Episode 21 Merawat Penuh Ketulusan.
22
Episode 22 Mengajak Pergi.
23
Episode 23 Ini Pasti Cemburu.
24
Episode 24 Permintaan Lagi.
25
Episode 25 Mulai Bucin.
26
Episode 26 Ternyata Menunggu.
27
Episode 27 Fatal.
28
Episode 28 Amarah Tidak Terkendali
29
Episode 29 Jangan Sampai.
30
Episode 30 Mengajak.
31
Episode 30 Milan
32
Episode 32 Memperlihatkan Kenyataan.
33
Episode 33 Insiden Mengerikan.
34
Episode 34 Tidak Mungkin Pergi.
35
Episode 35 Jangan Menyuruhku Untuk Pergi.
36
Episode 36 Intens
37
Episode 37 Keintiman
38
Episode 38 Semakin Romantis.
39
Episode 38 Janji Bersama...
40
Episode 40 Menenangkan.
41
Episode 41 Pilihan.
42
Episode 42 Kenapa Harus Seperti Ini.
43
Episode 43 Tidak Ada Yang Di Sembunyikan.
44
Episode 44 Ancaman.
45
Episode 45 Izin
46
Episode 46 Kesepian.
47
Episode 47 Perasaan Yang Tidak Enak.
48
Episode 48 Tampak Tidak Sabaraha.
49
Episode 49 Istriku
50
Episode Menyedihkan.
51
Episode 51 Penyesalan.
52
Episode 52 Dendam
53
Episode 53 Tidak Berlaku.
54
Episode 54. Akhirnya Sadar.
55
Episode 55 Rasa Ketakutan.
56
Episode 56 Menegangkan.
57
Episode 57 Pembicaraan.
58
Episode 58 Hal Mencengangkan.
59
Episode 59 Perasaan Tidak Enak.
60
Episode 60 Kejadian
61
Episode 61 Ngidam Aneh.
62
Episode 62
63
Episode 63 Hal Terberat.
64
Episode 64 Adanya Pertentangan.
65
Episode 65 Penggeledahan.
66
Episode 66 Desakan.
67
Episode 67 Apa Itu.
68
Episode 68 Seperti Ada Ikatan.
69
Episode 69 Mengejutkan.
70
Episode 70 Kecelakaan.
71
Episode 71 Sengit.
72
Episode 72 Semakin Jelas.
73
Episode 73 Akhirnya Tahu.
74
Episode 74 Dia Anakku.
75
Episode 75 Masa Lalu Yang Terbongkar.
76
Episode 76 Serasa Berpisah.
77
Episode 77 Hancur
78
Episode 78 Masalah.
79
Episode 79 Jebakan
80
Episode 80 Insiden
81
Episode 81 Pertumpahan Darah.
82
Episode 82 Apa Ada Kesempatan.
83
Episode 83 Haru.
84
Episode 84 Tidak Ikhlas.
85
Episode 85 Jeruji Besi
86
Episode 86 Pertemuan Menyedihkan
87
Episode 82 Keputusan Pengadilan.
88
Episode 88 Keputusan Yang Tepat.
89
Episode 89 Perjuangan.
90
Episode 90 Walau Bahagia Sementara.
91
Episode 91 Udara Bebas
92
Episode 92 Harus Sabar
93
Bab 93
94
Episode 94 Rasa Kecewa.
95
Episode 95 Posisi Sulit.
96
Episode 96 Penegasan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!