Episode 8 Malam Yang Gugup

Anindya tidak merespon apapun yang dikatakan Kavindra yang terserah bagaimana suaminya itu berbicara.

"Kenapa Nona! Kau benar-benar sangat kecewa dengan semua ini?" tanya Kavindra dengan kedua alisnya terangkat.

"Saya sama sekali tidak memikirkan apapun dan mau seperti apapun kamarnya itu tidaklah penting. Hiasan dalam kamar pengantin hanyalah sebuah tradisi atau kebiasaan yang sudah ada sejak dulu. Zaman sekarang juga kebanyakan pasangan tidak ingin melakukan hal itu. Karena karakter manusia berbeda-beda ada yang menyukai dan ada yang tidak menyukai," jawab Anindya yang sangat bijak menanggapi.

"Kamu benar sekali, bukankah yang terpenting bagaimana kau patuh saat berada dalam kuasaku. Bagaimana pelayananmu kepadaku atau aku yang harus melayanimu," bisik Kavindra yang membuat Anindya merinding dan bahkan dia hendak mundur.

"Jangan terlalu gugup! Malam ini kau akan menjadi milikku," ucapnya yang terus saja menatap seolah ingin menerkam.

"Lalu apa setelah itu hutang Abi saya akan lunas?" tanya Anindya yang memang hanya menomorsatukan hutang dan membutuhkan kejelasan atas kesepakatan mereka berdua sebelumnya.

Kavindra merespon dengan tersenyum miring.

"Jadi sejak tadi akad pernikahan yang kau pikirkan hanyalah tentang hutang saja," sahut Kavindra dengan mengendus tersenyum miring.

"Bukan seperti itu! Aku hanya ingin segala sesuatu apa yang telah dilaksanakan sudah jelas," jawab Anindya.

"Nona! Aku awalnya menawarkan hal yang mudah kepadamu dan kau membuat menjadi sangat sulit. Jika saja kau setuju tidur denganku satu Malam. Maka hutang Abi mu akan lunas dengan sangat mudah. Tetapi karena kamu membuat semuanya dengan sangat sulit. Maka semua itu tidak mudah," jawab Kavindra.

"Apa maksud nya. Apa Anda ingin mengingkari janji?" tanya Anindya

"Jangan panik seperti itu. Aku sama sekali tidak ingin mengingkari janji. Aku juga bukan tipe laki-laki yang suka ingkar janji dan apalagi hanya perkara uang yang nilainya tidak seberapa. Apa yang aku katakan adalah kebenaran dan tidak ada kebohongan di dalamnya," jawabnya.

Kavindra menghela nafas dan melipat kedua tangannya di dadanya yang menatap Anindya begitu dalam dengan ujung bibirnya yang tampak tersenyum.

"Karena kau sudah menjadi istriku yang artinya kau tidak bisa dipakai hanya satu kali saja. Kau sudah menjadi milikku tanpa batas dan terserah aku mau berapa kali bercinta denganmu. Jika aku sudah bosan kepadamu dan sudah tidak menginginkanmu. Maka aku akan mengembalikan mu dan saat itu juga hutang-hutang Abi mu akan lunas," ucap Kavindra yang tiba-tiba saja mengubah peraturan.

"Apa ketentuan yang aku buat membuatmu keberatan?" tanya Kavindra yang tidak mendapatkan respon apapun dari Anindya.

"Tidak!" jawab Anindya dengan sangat tenang.

"Saya sudah menjadi istri tuan dan apapun yang tuan inginkan dari saya adalah hak tuan. Tetapi saya tetap ingin adanya kesepakatan untuk pelunasan hutang. Agar Saya tidak dirugikan dalam hal ini. Karena sudah sangat jelas bahwa adanya pernikahan ini karena semua permasalahan itu," jawab Anindya.

Kavindra mengendus nafas kasar, "kau tetap saja sangat takut jika aku mengingkari janji," sinisnya.

"Baiklah! Aku memaklumi rasa kekhawatiranmu dan aku akan menuruti apa yang kau katakan. Hutang sebesar 17 Miliar akan berkurang sedikit demi sedikit dengan bagaimana kau melayaniku," ucap Kavindra.

"Apa di mata dia aku adalah seorang pelacur," batin Anindya yang sebenarnya merasa sakit hati akan kata-kata Kavindra.

Tetapi sejak awal dia mengenal pria itu yang memang sudah terdengar dari pembicaraannya, bahwa dia memang laki-laki yang suka berbicara asal keluar saja dari mulutnya tanpa berpikir.

"Aku sangat tidak suka melihat dirimu bercadar di depanku seperti ini. Jadi bukalah!" ucap Kavindra yang sudah mulai memerintahkan.

Anindya yang ternyata dengan mudah menurut tanpa ada keraguan sama sekali, mungkin karena memang sudah suaminya dan apa yang harus dia khawatirkan.

Anindya yang melepas cadar itu dan lagi-lagi Kavindra harus dibuat takjub dengan kecantikan yang natural itu, walau wajahnya tertutup sejak tadi, tapi kecantikan itu mampu menyejukkan hati yang membuat matanya tidak berhenti berkedip.

"Buka jilbabmu?" ucap Kavindra yang semakin penasaran dengan Anindya.

"Apa tuan ingin melakukannya sekarang?" tanya Anindya.

"Kenapa? Kau tidak sabaran?" tanya Kavindra.

"Izinkan saya untuk sholat isya sebentar. Walau sholat isya memiliki waktu yang sangat panjang, tetapi alangkah baiknya dikerjakan terlebih dahulu," jawab Anindya.

"Huhhhhhh, selalu saja membawa-bawa agama!" kesal Kavindra dengan membuang nafas berat.

"Maaf tuan! jika itu sedikit mengganggu tuan. Tetapi itu juga merupakan kewajiban saya," ucap Anindya.

Tok-tok-tok-tok.

"Masuk!" titah Kavindra.

Bibi memasuki kamar tersebut dengan membawa paper bag.

"Ini yang tuan minta," ucap Bibi.

"Berikan kepadanya!" titah Kavindra yang membuat Bibi menurut saja.

Akhirnya memberikan paper bag tersebut keadaan Anindya dan Anindya juga mengambilnya yang melihat istrinya dan terlihat seperti pakaian.

"Bawa dia ke kamarku setelah dia melakukan apa yang dia inginkan," titah Kavindra.

"Baik tuan," ucap Bibi.

"Kau dengarkan aku! Jangan mencari Alasan ini dan itu untuk melakukan tugasmu. Aku memberikanmu kesempatan. Jadi gunakan dengan baik!" tegas Kavindra.

Anindya hanya menganggukkan kepala.

"Paka pakaian yang aku berikan dan turuti apapun yang dikatakan Bibi," lanjut Kavindra dan lagi-lagi Anindya hanya mengangguk yang menurut saja.

Kavindra yang tidak banyak bicara dan langsung keluar dari kamar tersebut yang akan menunggu istrinya di kamarnya. Anindya yang terlihat menghela nafas.

"Saya ingin bersih-bersih dan juga melaksanakan sholat. Bibi bisa keluar dan saya akan datang sendiri ke kamar beliau," ucap Anindya yang memang tidak ingin merepotkan siapapun.

"Apa Nona yakin?" tanya Bibi yang sudah mendapatkan perintah dan tidak mungkin melanggar perintah dari Kavindra.

"Saya bukan anak kecil dan bisa melakukan sendiri. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kamu kembalilah," ucap Anindya yang membuat Bibi menganggukkan kepala.

Dia menurut saja dan lalu keluar dari kamar tersebut yang juga tidak ingin mengganggu privasi Anindya.

"Anindya tenanglah! Apa yang kamu lakukan bukanlah sebuah dosa. Kamu hanya menjalankan tugas sebagai seorang istri yang memberikan hak suami dan semua itu bukanlah suatu kesalahan, tapi justru jika kamu ikhlas melakukannya, maka akan dibalas oleh Allah dengan pahala yang sangat besar," ucapnya dengan meyakinkan diri sendiri.

Syarat pernikahan yang dia minta memang untuk menghindari zina. Anindya yang sangat taat dengan agamanya dan tidak mungkin mengorbankan diri dengan dosa yang begitu besar dan ketika ada pilihan kenapa dia tidak melakukannya.

***

Setelah membersihkan diri dan juga sholat Anindya yang langsung keluar dari kamar. Tetapi Anindya tidak memakai pakaian yang di berikan Kavindra. Dia tetap memakai pakaian dengan baju busana muslim berwarna coklat dan bahkan memakai cadar.

"Aku benar-benar tidak percaya jika tuan Kavindra memiliki istri yang sangat agamis sekali. Kalian bisa melihat pakaiannya yang tertutup dan bahkan memakai cadar yang tidak memperlihatkan wajahnya," Anindya menghentikan langkahnya ketika menoleh ke arah beberapa pelayan di rumah tersebut yang ternyata sedang membicarakannya.

"Dalam pikiranku. Istri seorang tuan Kavindra itu wanita sexi dengan pakaian yang terbuka dan ternyata di luar dugaan. Saya tidak percaya jika tuan Kavindra bisa mendapatkan istri yang seperti itu. Jangankan memikirkan untuk memiliki istri dan bahkan saya tidak percaya jika seorang tuan Kavindra punya pikiran untuk menikah," sahut yang satunya.

Bersambung......

Terpopuler

Comments

🌷💚SITI.R💚🌷

🌷💚SITI.R💚🌷

smg aja kavindra bkn seorang casanova

2025-03-06

1

Astrid valleria.s.

Astrid valleria.s.

lanjut Thor

2025-02-05

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 Apa Yang Terjadi.
2 Episode 2 Membuka Cadar
3 Episode 3 Persyaratan Konyol.
4 Episode 4 Meminta Syrat
5 Episode 5 Datang Melamar.
6 Episode 6 Pernikahan.
7 Episode 7 Pertama Kali Di Rumahnya.
8 Episode 8 Malam Yang Gugup
9 Episode 9 Godaan Suami.
10 Episode 10 Ternyata Gagal.
11 Episode 10 Marah Tapi Di Turuti Juga.
12 Episode 12 Menemani Suami.
13 Episode 13 Panas
14 Episode 14 Pesan
15 Episode 16 Gagal Lagi.
16 Episode 16 Harus LDR.
17 Episode 17 Rindu Dalam Gengsi
18 Episode 18 Amarah.
19 Episode 19 Perintah Mengakhiri
20 Episode 20 Tidak Bisa Melayani.
21 Episode 21 Merawat Penuh Ketulusan.
22 Episode 22 Mengajak Pergi.
23 Episode 23 Ini Pasti Cemburu.
24 Episode 24 Permintaan Lagi.
25 Episode 25 Mulai Bucin.
26 Episode 26 Ternyata Menunggu.
27 Episode 27 Fatal.
28 Episode 28 Amarah Tidak Terkendali
29 Episode 29 Jangan Sampai.
30 Episode 30 Mengajak.
31 Episode 30 Milan
32 Episode 32 Memperlihatkan Kenyataan.
33 Episode 33 Insiden Mengerikan.
34 Episode 34 Tidak Mungkin Pergi.
35 Episode 35 Jangan Menyuruhku Untuk Pergi.
36 Episode 36 Intens
37 Episode 37 Keintiman
38 Episode 38 Semakin Romantis.
39 Episode 38 Janji Bersama...
40 Episode 40 Menenangkan.
41 Episode 41 Pilihan.
42 Episode 42 Kenapa Harus Seperti Ini.
43 Episode 43 Tidak Ada Yang Di Sembunyikan.
44 Episode 44 Ancaman.
45 Episode 45 Izin
46 Episode 46 Kesepian.
47 Episode 47 Perasaan Yang Tidak Enak.
48 Episode 48 Tampak Tidak Sabaraha.
49 Episode 49 Istriku
50 Episode Menyedihkan.
51 Episode 51 Penyesalan.
52 Episode 52 Dendam
53 Episode 53 Tidak Berlaku.
54 Episode 54. Akhirnya Sadar.
55 Episode 55 Rasa Ketakutan.
56 Episode 56 Menegangkan.
57 Episode 57 Pembicaraan.
58 Episode 58 Hal Mencengangkan.
59 Episode 59 Perasaan Tidak Enak.
60 Episode 60 Kejadian
61 Episode 61 Ngidam Aneh.
62 Episode 62
63 Episode 63 Hal Terberat.
64 Episode 64 Adanya Pertentangan.
65 Episode 65 Penggeledahan.
66 Episode 66 Desakan.
67 Episode 67 Apa Itu.
68 Episode 68 Seperti Ada Ikatan.
69 Episode 69 Mengejutkan.
70 Episode 70 Kecelakaan.
71 Episode 71 Sengit.
72 Episode 72 Semakin Jelas.
73 Episode 73 Akhirnya Tahu.
74 Episode 74 Dia Anakku.
75 Episode 75 Masa Lalu Yang Terbongkar.
76 Episode 76 Serasa Berpisah.
77 Episode 77 Hancur
78 Episode 78 Masalah.
79 Episode 79 Jebakan
80 Episode 80 Insiden
81 Episode 81 Pertumpahan Darah.
82 Episode 82 Apa Ada Kesempatan.
83 Episode 83 Haru.
84 Episode 84 Tidak Ikhlas.
85 Episode 85 Jeruji Besi
86 Episode 86 Pertemuan Menyedihkan
87 Episode 82 Keputusan Pengadilan.
88 Episode 88 Keputusan Yang Tepat.
89 Episode 89 Perjuangan.
90 Episode 90 Walau Bahagia Sementara.
91 Episode 91 Udara Bebas
92 Episode 92 Harus Sabar
93 Bab 93
94 Episode 94 Rasa Kecewa.
95 Episode 95 Posisi Sulit.
96 Episode 96 Penegasan.
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Episode 1 Apa Yang Terjadi.
2
Episode 2 Membuka Cadar
3
Episode 3 Persyaratan Konyol.
4
Episode 4 Meminta Syrat
5
Episode 5 Datang Melamar.
6
Episode 6 Pernikahan.
7
Episode 7 Pertama Kali Di Rumahnya.
8
Episode 8 Malam Yang Gugup
9
Episode 9 Godaan Suami.
10
Episode 10 Ternyata Gagal.
11
Episode 10 Marah Tapi Di Turuti Juga.
12
Episode 12 Menemani Suami.
13
Episode 13 Panas
14
Episode 14 Pesan
15
Episode 16 Gagal Lagi.
16
Episode 16 Harus LDR.
17
Episode 17 Rindu Dalam Gengsi
18
Episode 18 Amarah.
19
Episode 19 Perintah Mengakhiri
20
Episode 20 Tidak Bisa Melayani.
21
Episode 21 Merawat Penuh Ketulusan.
22
Episode 22 Mengajak Pergi.
23
Episode 23 Ini Pasti Cemburu.
24
Episode 24 Permintaan Lagi.
25
Episode 25 Mulai Bucin.
26
Episode 26 Ternyata Menunggu.
27
Episode 27 Fatal.
28
Episode 28 Amarah Tidak Terkendali
29
Episode 29 Jangan Sampai.
30
Episode 30 Mengajak.
31
Episode 30 Milan
32
Episode 32 Memperlihatkan Kenyataan.
33
Episode 33 Insiden Mengerikan.
34
Episode 34 Tidak Mungkin Pergi.
35
Episode 35 Jangan Menyuruhku Untuk Pergi.
36
Episode 36 Intens
37
Episode 37 Keintiman
38
Episode 38 Semakin Romantis.
39
Episode 38 Janji Bersama...
40
Episode 40 Menenangkan.
41
Episode 41 Pilihan.
42
Episode 42 Kenapa Harus Seperti Ini.
43
Episode 43 Tidak Ada Yang Di Sembunyikan.
44
Episode 44 Ancaman.
45
Episode 45 Izin
46
Episode 46 Kesepian.
47
Episode 47 Perasaan Yang Tidak Enak.
48
Episode 48 Tampak Tidak Sabaraha.
49
Episode 49 Istriku
50
Episode Menyedihkan.
51
Episode 51 Penyesalan.
52
Episode 52 Dendam
53
Episode 53 Tidak Berlaku.
54
Episode 54. Akhirnya Sadar.
55
Episode 55 Rasa Ketakutan.
56
Episode 56 Menegangkan.
57
Episode 57 Pembicaraan.
58
Episode 58 Hal Mencengangkan.
59
Episode 59 Perasaan Tidak Enak.
60
Episode 60 Kejadian
61
Episode 61 Ngidam Aneh.
62
Episode 62
63
Episode 63 Hal Terberat.
64
Episode 64 Adanya Pertentangan.
65
Episode 65 Penggeledahan.
66
Episode 66 Desakan.
67
Episode 67 Apa Itu.
68
Episode 68 Seperti Ada Ikatan.
69
Episode 69 Mengejutkan.
70
Episode 70 Kecelakaan.
71
Episode 71 Sengit.
72
Episode 72 Semakin Jelas.
73
Episode 73 Akhirnya Tahu.
74
Episode 74 Dia Anakku.
75
Episode 75 Masa Lalu Yang Terbongkar.
76
Episode 76 Serasa Berpisah.
77
Episode 77 Hancur
78
Episode 78 Masalah.
79
Episode 79 Jebakan
80
Episode 80 Insiden
81
Episode 81 Pertumpahan Darah.
82
Episode 82 Apa Ada Kesempatan.
83
Episode 83 Haru.
84
Episode 84 Tidak Ikhlas.
85
Episode 85 Jeruji Besi
86
Episode 86 Pertemuan Menyedihkan
87
Episode 82 Keputusan Pengadilan.
88
Episode 88 Keputusan Yang Tepat.
89
Episode 89 Perjuangan.
90
Episode 90 Walau Bahagia Sementara.
91
Episode 91 Udara Bebas
92
Episode 92 Harus Sabar
93
Bab 93
94
Episode 94 Rasa Kecewa.
95
Episode 95 Posisi Sulit.
96
Episode 96 Penegasan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!