Episode 16 Posisi Nila Terancam

Nila masih belum beranjak dari tempat tidur, semua kejadian kemarin membuatnya sangat lelah, ingin rasanya hari ini bermalas-malasan saja, tetapi notifikasi undangan rapat dengan para pemegang saham muncul.

“Tumben amat sih, para pemegang saham ingin rapat segala,” kata Nila yang mulai mengumpulkan semangatnya dan bangkit dari tempat tidur.

Perempuan itu kembali mengambil handphone, melihat bagaimana media sosial bergeliat setelah klarifikasi tersebut. Angin ternyata bukan berpihak kepada dirinya, sorotan dari publik justru mengarah kepadanya dan Alvin.

Dari akun @infoterbaru memposting berita mengenai kebohongan klarifikasi tersebut, mereka mengunggah Alvin sedang bersama Nila yang tertangkap kamera CCTV di beberapa tempat.

Lain lagi akun @curiperhatian, merepost postingan Alvin beberapa minggu yang lalu, di mana posisi berdiri Nila dan Alvin bersebelahan, ada lagi pose yang sama di berbagai tempat berbeda.

Komentar netizen kembali bermunculan, mereka menyebut semua yang dipost itu adalah hoax, tetapi beberapa mengaku pernah melihat keduanya jalan bersama.

“Kenapa jadi begini sih?” Kata Nila yang perasaannya mulai tak nyaman, sulit untuk bernapas, dan kepalanya sedikit pusing.

Nila kemudian menghubungi sekretarisnya dan meminta rapat ditunda, namun para pemegang saham sudah mewanti-wanti kalau rapat harus dilaksanakan hari ini, mereka tak mau ada alasan.

“Jangan-Jangan mereka kemakan berita-berita sampah ini,” Kata Nila yang berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi.

Perempuan itu mencoba untuk menenangkan diri dan berpikir bahwa semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Walau begitu, tubuhnya untuk berjalan sangat berat, seperti ada batu besar yang harus ia pikul.

“Ayo Nila, kamu bisa!” Kata perempuan itu yang kini mulai melaju menuju ke kantor.

Sementara itu, suasana kantor tampak ramai, para pemegang saham berjalan bak artis korea yang datang berkunjung, mereka saling berbisik mengenai pembahasan rapat kali ini, ada yang mengatakan, “Pokoknya harus ganti!”, terdengar pula suara, “Kinerjanya sangat baik, bagaimana kalau keputusan ini justru jadi boomerang,”

Bukan hanya para pemegang saham, beberapa karyawan tampak berkumpul menatap orang- orang penting tersebut, mereka bertanya satu sama lain, ada yang tahu, tetapi tidak sedikit pula menjadi bahan gosip.

“Katanya mau ada pimpinan baru,” kata salah seorang karyawan ke telinga karyawan lainnya,

“Masak…?” Jawabnya sambil mengernyitkan dahinya.

Suasana riuh itu tidak berlangsung lama, Nila datang dengan celana hitam, dan blazer warna hitam, serta tas merk brand lokal yang membuat penampilannya cantik luar biasa. Nila mencoba untuk tetap.tenang walau saat ini jantungnya seperti genderang, berdetak tak menentu.

Ruang rapat telah disiapkan sejak tadi pagi, satu gelas air putih dan camilan berupa kue sudah tersedia. Udara dingin langsung menyambut mereka, walau disertai dengan parfum aromatic, tetap saja memberikan perasaan tak nyaman bagi Nila.

Pemegang saham ada 5 orang, diantaranya ada lelaki paruh baya, 2 diantaranya masih muda usia 30an, dan dua lainnya perempuan. Mereka sudah duduk di tempat masing-masing, menatap Nila dengan wajah penuh keraguan.

“Baik, kita langsung saja mulai, kira-kira ada apa ya rapat sepagi ini?” Kata Nila yang memulai rapat tersebut.

“Begini Bu Nila, kami ingin mendengar langsung dari Ibu, soal pemberitaan kemarin,” Kata lelaki paruh baya yang menggunakan jas warna cokelat.

“Bukankah, sudah jelas ya, itu foto masa lalu, lalu apa.masalahnya?” kata Nila yang kakinya sulit untuk diam

“Kami mendengar kabar tak sedap dari klien mengenai berita tersebut,” Katanya lagi.

“Contohnya?” Tanya Nila mencoba memimpin keadaan.

“Ada beberapa klien ingin memutuskan kerja sama dengan kita,” Kata lelaki paruh baya yang menggunakan jas warna cokelat sambil minum airnya.

“Setahu saya belum ada yang seperti itu Pak,” Kata  Nila yang mulai menyilangkan kakinya.

Dua orang perempuan tampak saling berbisik, mereka sebenarnya mendukung keputusan penggantian, hanya saja tidak tahu siapa.yang harus menggantikan, sehingga sedari tadi hanya bisa kasak-kusuk tanpa mau berbicara.

“Ini masalah! Berita buruk itu akan berpengaruh ke kinerja perusahaan kita!” Kata Lelaki muda yang memakai kemeja batik.

“Maaf, Pak saya rasa bapak salah, kinerja perusahaan masih bagus, tidak ada penurunan saham juga!” Lawan Nila.

“Begini Bu Nila, kami mendengar ada proyek yang dibatalkan akibat pemberitaan ini.” Kata Lelaki paruh baya dengan jas cokelat.

“Kami tidak mau nanti merembet ke yang lain juga, “lanjutnya lagi.

“Mengenai pembatalan proyek memang benar, tetapi bukan karena berita ini,” Jawab Nila dengan nada cukup berat.

“Apapun alasannya kami ingin Anda mengundurkan diri!” Kata Lelaki jas cokelat.

“Tetapi, ini tidak adil dong pak! Saya sudah berjuang keras untuk perusahaan tetapi hanya karena berita seperti itu langsung di minta ganti?” Kata Nila

“Rasanya benar juga, pergantian pimpinan belum menjamin kinerja perusahaan akan lebih baik,” kata seorang perempuan yang mulai memberikan tanggapannya.

Rapat tersebut menjadi sangat alot, karena argumen masing-masing memberikan fakta kebenaran, apalagi kondisi perusahaan sedang dalam tren naik. Nila terus menonjolkan sisi tersebut agar posisinya sulit untuk digantikan.

“Baiklah begini saja, saya mau Ibu Nila memberikan klarifikasi ke publik agar semuanya jelas,” Kata lelaki muda menggunakan batik

“Maksud Bapak?” Tanya Nila yang matanya menyorot tajam.

“Ya bicara di depan publik kalau berita itu nggak benar, kalau tidak mau silahkan turun dari jabatan Anda,” kata lelaki itu lagi.

Dua perempuan kembali berbisik, kalau pemegang saham yang memakai batik itu memang tidak suka dengan Nila karena dia ingin memasukkan orang kepercayaannya diperusahaan ini. Berita itu memang sudah santer terdengar

“Pak, berita itu urusan pribadi saya, kenapa harus disangkut pautkan dengan urusan bisnis, bapak mau tanggung jawab kalau saya diganti performa menurun!” Kata Nila mencoba memegang kendali.

“Terserah Ibu, yang jelas kami sepakat untuk memberi waktu Ibu dua minggu,” Kata Lelaki berjas cokelat yang setelahnya mengirim pesan kepada Laksa, dan meminta lelaki itu memenuhi janjinya.

Rapat tersebut berakhir, di mana Nila diberi waktu dua minggu untuk memberikan klarifikasi. Perempuan itu sendiri sulit menolak karena keputusannya sudah bulat, alasan apapun sulit membatalkan hasil itu.

Semua pemegang saham meninggalkan ruang rapat. Nila masih disana, memegang kepalanya, dia tak habis pikir dengan keputusan itu, “ Kenapa masalahnya jadi rumit begini sih?”

Perempuan itu mulai panik dan berpikir ada dalang di balik semua ini, karena semuanya terasa janggal kalau dibilang kebetulan. Nila mencoba menelpon Alvin, karena teringat kejadian semalam hanya saja lelaki itu tidak mengangkat teleponnya, bahkan saat dia mengirim pesan, lelaki itu masih belum membalas walau sudah ditunggu selama lima menit.

“Ini lagi, kenapa ditelepon nggak jawab sih?” Geram Nila yang membanting handphonenya ke meja.

Hasil rapat menyebar dengan cepat, sepertinya setiap dinding itu mempunyai mata, telinga, dan mulut untuk berbicara. Seluruh kantor mengetahui keputusan itu, seperti biasa mereka membicarakannya di berbagai kesempatan.

Ada yang di dalam lift, pantry, ruang kerja, bahkan saat makan siang dan pulang. Beberapa grup whatsapp di berbagai divisi juga ikut membicarakannya, bahkan lebih menyasar ke arah pribadi yang membuat posisi Nila di perusahaan itu terancam.

Episodes
1 Episode 1 Kepalsuan
2 Episode 2 Motif Abu-Abu Laksa
3 Episode 3 Manipulasi
4 Episode 4 Semesta Mendukung
5 Episode 5 Mengejar Bom Waktu
6 Episode 6 Viral
7 Episode 7 Romansa Media Sosial
8 Episode 8 Konferensi Pers
9 Episode 9 Alibi Sempurna
10 Episode 10 Kedatangan Adwin
11 Episode 11 Tanggung Jawab dan Ego
12 Episode 12 Rahasia Ibu Kandhi
13 Episode 13 Sebelum Bertemu
14 Episode 14 Dania Melawan
15 Episode 15 Pinta Ibu Kandhi
16 Episode 16 Posisi Nila Terancam
17 Episode 17 Motivasi Tersembunyi Pak Dhanu
18 Episode 18 Puzzle yang Hilang Telah Ditemukan
19 Episodw 19 Keluarga Bahagia
20 Episode 20 Kerja Sama
21 Episode 21 Upaya Nila
22 Episode 22 Sisi Manusiawi Alvin
23 Episode 23 Ragu
24 Episode 24 Berdamai Dengan Keadaan
25 Episode 25 Mungkin Bercerai Lebih Baik
26 Episode 26 Pak Dhanu Vs Nila
27 Episode 27 Kawan Atau Lawan?
28 Episode 28 Masa Lalu Nila
29 Episode 29 Pertama Kali Bertemu
30 Episode 30 Kejujuran Dalam Kebohongan
31 Episode 31 Berpisah
32 Episode 32 Lawan Atau Kawan
33 Episode 33 Pemetaan Masalah
34 Episode 34 Belum Ikhlas
35 Episode 35 Kehancuran Nila
36 Episode 36 Tanggung Jawab
37 Episode 37 Chaos
38 Episode 38 Melawan
39 Episode 39 Siasat Laksa
40 Episode 40 Kisah Pak Dhanu
41 Episode 41 Siasat Nila
42 Episode 42 Negosiasi Berjalan Sukses
43 Episode 43 Memori Ibu dan Anak Part 1
44 Episode 44 Memori Ibu dan Anak Part 2
45 Episode 45 Kontrak Kerja Sama
46 Episode 46 Kesuburan
47 Episode 47 Rencana Awal Alvin
Episodes

Updated 47 Episodes

1
Episode 1 Kepalsuan
2
Episode 2 Motif Abu-Abu Laksa
3
Episode 3 Manipulasi
4
Episode 4 Semesta Mendukung
5
Episode 5 Mengejar Bom Waktu
6
Episode 6 Viral
7
Episode 7 Romansa Media Sosial
8
Episode 8 Konferensi Pers
9
Episode 9 Alibi Sempurna
10
Episode 10 Kedatangan Adwin
11
Episode 11 Tanggung Jawab dan Ego
12
Episode 12 Rahasia Ibu Kandhi
13
Episode 13 Sebelum Bertemu
14
Episode 14 Dania Melawan
15
Episode 15 Pinta Ibu Kandhi
16
Episode 16 Posisi Nila Terancam
17
Episode 17 Motivasi Tersembunyi Pak Dhanu
18
Episode 18 Puzzle yang Hilang Telah Ditemukan
19
Episodw 19 Keluarga Bahagia
20
Episode 20 Kerja Sama
21
Episode 21 Upaya Nila
22
Episode 22 Sisi Manusiawi Alvin
23
Episode 23 Ragu
24
Episode 24 Berdamai Dengan Keadaan
25
Episode 25 Mungkin Bercerai Lebih Baik
26
Episode 26 Pak Dhanu Vs Nila
27
Episode 27 Kawan Atau Lawan?
28
Episode 28 Masa Lalu Nila
29
Episode 29 Pertama Kali Bertemu
30
Episode 30 Kejujuran Dalam Kebohongan
31
Episode 31 Berpisah
32
Episode 32 Lawan Atau Kawan
33
Episode 33 Pemetaan Masalah
34
Episode 34 Belum Ikhlas
35
Episode 35 Kehancuran Nila
36
Episode 36 Tanggung Jawab
37
Episode 37 Chaos
38
Episode 38 Melawan
39
Episode 39 Siasat Laksa
40
Episode 40 Kisah Pak Dhanu
41
Episode 41 Siasat Nila
42
Episode 42 Negosiasi Berjalan Sukses
43
Episode 43 Memori Ibu dan Anak Part 1
44
Episode 44 Memori Ibu dan Anak Part 2
45
Episode 45 Kontrak Kerja Sama
46
Episode 46 Kesuburan
47
Episode 47 Rencana Awal Alvin

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!