Chapter 17 : Tak Tahu Malu

Setelah kejadian duel itu, Ferisu menjadi sorotan utama di akademi. Seharusnya, dia mengikuti apa yang menjadi taruhan—serius dalam mengikuti pelajaran. Namun, seperti dugaan banyak orang, Ferisu tetap bermalas-malasan. Hal ini memicu lebih banyak ejekan dari para siswa.

"Benar-benar perusak janji! Bahkan setelah kalah, dia tidak mau berubah."

"Dia menghina arti duel yang suci!"

Bisikan-bisikan itu terus terdengar di setiap sudut akademi, membuat suasana kelas menjadi semakin tidak nyaman.

Erica yang duduk di samping Ferisu akhirnya tak bisa menahan diri lagi. "Kau ini benar-benar sampah, ya?" ucapnya dingin, tatapannya menusuk ke arah Ferisu yang sedang menyandarkan kepala di meja.

Ferisu hanya meliriknya dengan mata setengah terbuka, lalu memejamkan matanya kembali, seolah tak peduli.

"Kau sendiri yang membuat taruhan, tapi kau juga yang melanggarnya. Apa kau tidak malu?" Erica melanjutkan dengan nada penuh sindiran.

Ferisu tetap diam, memberikan reaksi yang sama seperti biasa—tidak ada.

Erica menghela napas berat, merasa frustrasi sekaligus bingung. Dia tahu Ferisu tidak bodoh. Bukti nyatanya adalah kejadian di kota beberapa waktu lalu, saat Ferisu melerai pertengkaran dua orang dan memberikan solusi yang tidak terpikirkan oleh orang lain. Jadi, apa sebenarnya yang direncanakan oleh tunangannya itu?

Di sisi lain, Licia terlihat lebih tenang meskipun hatinya sedikit terusik. Sebagai seseorang yang sering bersama Ferisu, dia tidak senang melihat ejekan-ejekan yang terus menghujani pangeran ketiga itu.

"Ferisu-sama," kata Licia lembut, mencoba menarik perhatiannya. "Apa Anda tidak ingin sedikit menjelaskan pada mereka? Mungkin mereka akan berhenti menghina jika tahu alasan Anda."

Ferisu menguap kecil, tampak tidak terganggu oleh apa yang terjadi di sekelilingnya. "Kenapa harus menjelaskan sesuatu yang tidak penting?" jawabnya santai, matanya tetap tertutup.

Licia tersenyum tipis mendengar jawaban itu. Baginya, itu khas Ferisu—selalu santai, bahkan di tengah badai kritik. Tapi di balik senyuman itu, Licia tidak bisa menghilangkan rasa ingin tahunya. Apa sebenarnya yang Ferisu pikirkan?

Sementara itu, Viana, yang diam-diam mengawasi dari kejauhan, merasa semakin frustrasi. "Apa dia sama sekali tidak punya rasa malu? Bahkan setelah kalah, dia tetap bersikap seperti ini," pikirnya. Namun, di sudut hatinya, ada secercah rasa penasaran yang terus mengusik.

Ferisu mungkin dianggap sampah oleh banyak orang, tetapi ada sesuatu tentang dirinya yang terasa berbeda—sesuatu yang membuat mereka yang memperhatikannya lebih lama mulai bertanya-tanya.

.

.

.

Bell istirahat berbunyi nyaring, membangunkan Ferisu dari tidur siangnya yang damai. Dengan gerakan santai, ia meregangkan tubuh, bangkit dari kursi, dan berjalan keluar kelas tanpa berkata apa-apa. Dua tunangannya, Erica dan Licia, segera mengikutinya, seperti biasa.

Tujuan mereka adalah kantin akademi, tempat mereka biasa makan siang di sudut paling pojok yang jarang dipakai orang lain. Namun, saat melewati lorong, keributan dari kelas 1-E menarik perhatian mereka.

"Rakyat jelata sepertimu berani melawanku?!" terdengar suara seorang siswa dengan nada marah.

Ferisu menghentikan langkahnya sejenak dan melirik ke arah pintu kelas 1-E. Tampak seorang siswa berambut pirang sedang menindas siswa lain berambut cokelat, sementara beberapa siswa lainnya hanya menonton tanpa berani bertindak. Si rambut pirang, yang tampaknya seorang bangsawan, terlihat dikelilingi oleh teman-temannya yang mendukung tindakannya.

Ferisu menghela napas panjang. "Huft, ribut sekali." Tanpa ragu, ia masuk ke kelas itu, menarik perhatian semua orang.

"Apa yang terjadi?" tanyanya dengan nada datar sembari menguap, matanya perlahan menyapu seluruh ruangan, mencoba memahami situasinya.

Para siswa rakyat jelata yang berada di sana langsung bergumam pelan. "Pangeran..."

Sementara itu, siswa pirang menatap Ferisu dengan tajam, terlihat tidak senang. "Apa yang kau inginkan?!" bentaknya dengan nada emosional.

Erica, yang masih berada di lorong, menghela napas panjang. "Kenapa dia tiba-tiba mau ikut campur urusan orang lain?" gumamnya heran.

Licia hanya tersenyum kecil. "Yah, ini Ferisu-sama. Dia selalu sulit ditebak," sahutnya sembari melangkah masuk ke dalam kelas bersama Erica.

"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" Ferisu mengulangi pertanyaannya. Matanya singkat bertemu dengan siswa rakyat jelata yang sedang ditindas. Tatapan Ferisu tampak dingin, namun penuh arti.

Si siswa rakyat jelata, yang tampaknya sedikit terkejut, akhirnya menjawab. "Dia memaksa Lucy untuk ikut dengannya! Aku mencoba untuk menghentikannya, tapi—"

Belum selesai siswa itu menjelaskan, si rambut pirang, yang disebut Lucius Lambert, merapalkan mantra sihir. Lingkaran sihir bercahaya mulai muncul di depannya, siap untuk menyerang siswa rakyat jelata tersebut.

Namun, sebelum mantra itu sempat diluncurkan, Ferisu dengan gerakan santai merogoh saku bajunya, mengeluarkan pena, dan melemparkannya. Pena itu melesat dengan cepat, menghancurkan lingkaran sihir Lucius hingga lenyap seketika.

"Apa kau berniat menyerangnya dengan sihir?" Nada suara Ferisu berubah tajam dan serius, menatap langsung ke arah Lucius.

Lucius tersentak. "Aku—"

Belum sempat dia menjawab, Erica maju dengan langkah tegas, memotong pembicaraan. "Lucius Lambert! Apa kau pikir aku akan diam saja melihat tindakan seperti ini?" ucapnya dengan nada dingin, matanya menatap tajam ke arah Lucius.

"E-Erica-sama?!" Lucius tampak panik, wajahnya memucat.

"Pelanggaran dalam penggunaan sihir terhadap sesama siswa, serta tindakan penindasan terhadap murid lain..." Erica menambahkan dengan nada tajam. "Aku bisa melaporkan ini langsung kepada kepala sekolah dan bahkan mengirim surat kepada ayahmu. Kau tahu akibatnya, kan? Kau mungkin akan dikeluarkan dari akademi ini."

Lucius terdiam, tidak mampu membalas. Wajahnya menunduk, menunjukkan rasa takut dan malu. Teman-temannya, yang tadi mendukungnya, perlahan mundur, tidak berani ikut campur.

Sementara itu, Ferisu hanya menatap kejadian itu dengan ekspresi datar. "Kalau sudah selesai, aku lapar. Erica, Licia, ayo kita makan siang," ujarnya santai sebelum berbalik keluar dari kelas, seolah kejadian barusan bukanlah sesuatu yang besar.

Erica menggeleng pelan, sedikit kesal. "Benar-benar tidak bisa ditebak."

Licia tersenyum kecil, mengikuti langkah Ferisu. "Tapi, entah bagaimana, itu yang membuatnya menarik, bukan?"

Para siswa di kelas 1-E hanya bisa terdiam, masih terkejut dengan kejadian barusan. Beberapa di antaranya mulai melihat Ferisu dengan sudut pandang yang berbeda. Mungkin, di balik sikap malasnya, ada sisi lain dari Pangeran Ketiga ini yang layak diperhatikan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...----------------...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Saat di kantin, Ferisu, Licia, dan Erica menikmati makan siang mereka di sudut ruangan yang sepi, seperti biasa. Suasana tenang itu tiba-tiba berubah ketika dua orang siswa dari kelas 1-E mendatangi mereka dengan ekspresi gugup.

Salah satunya adalah siswa berambut cokelat yang sebelumnya ditindas di kelas 1-E, sementara yang lainnya adalah seorang gadis berambut pirang yang tampak canggung namun sopan.

"Pe-permisi... Pangeran, soal kejadian barusan... Saya benar-benar berterima kasih!" ucap si rambut cokelat dengan nada gugup, membungkukkan badannya dalam-dalam.

Lucy, gadis di sebelahnya, juga ikut membungkuk. "Kami sangat berterima kasih atas bantuan Anda," katanya dengan suara lembut.

Ferisu mengangkat wajahnya dari piring, memandang mereka dengan ekspresi malas seperti biasa. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil mengamati mereka.

"Hmm..." gumam Ferisu singkat, lalu tatapannya tertuju pada si rambut cokelat. Setelah beberapa saat, ia membuka mulut. "Kau anaknya Paman tukang sate, kan?" tanyanya santai, seolah-olah kejadian sebelumnya tidak terlalu penting.

Siswa berambut cokelat itu terkejut dan mengangguk dengan cepat. "Y-ya! Nama saya Geri!" jawabnya antusias.

Ferisu mengalihkan pandangannya ke gadis pirang di sebelah Geri. "Dan kau... anaknya Bibi toko roti, kan?" tanyanya lagi.

Lucy tampak lebih terkejut dari Geri. "Y-ya, benar... Bagaimana Anda bisa tahu?" tanyanya, matanya membulat karena penasaran.

Ferisu hanya mengangkat bahunya santai. "Orang tua kalian pernah cerita," jawabnya tanpa menjelaskan lebih lanjut, lalu melirik ke arah meja kosong di dekatnya. "Lupakan itu. Cepatlah duduk. Ini waktunya makan siang, bukan waktunya berdiri seperti patung."

Geri dan Lucy saling bertukar pandang sejenak sebelum akhirnya mengangguk patuh. Mereka duduk di meja yang tak jauh dari Ferisu, meski tampak masih canggung. Sementara itu, Erica memandangi Ferisu dengan alis terangkat, merasa sedikit aneh dengan interaksi tersebut.

"Kau mengenal mereka?" tanya Erica akhirnya, sambil mengaduk teh di cangkirnya.

"Sedikit," jawab Ferisu singkat sambil kembali melanjutkan makan siangnya.

Licia tersenyum kecil, melirik ke arah Geri dan Lucy. "Kau ternyata punya sisi yang perhatian juga, ya," ucapnya, meski nada suaranya terdengar menggoda.

"Jangan salah paham. Aku hanya tidak suka melihat bangsawan yang menindas rakyat biasa," balas Ferisu sambil menyuap makanannya dengan santai.

Percakapan itu membuat Geri dan Lucy merasa lebih tenang. Mereka pun makan siang dengan lebih nyaman, meskipun mereka tahu bahwa di depan mereka duduk seseorang yang jauh dari kesan "Pangeran Sampah" seperti yang sering mereka dengar dari rumor di akademi.

Terpopuler

Comments

Frando Wijaya

Frando Wijaya

heh 😏😈❄️....anjing pendukung langsung mundur begitu aja... LEMAH!

2025-02-12

0

ꪱׁׁׁׅׅׅᥴհíᥒ᥆ׅ꯱ꫀׁׅܻ݊

ꪱׁׁׁׅׅׅᥴհíᥒ᥆ׅ꯱ꫀׁׅܻ݊

cwo susah ditebak🗿

2025-02-11

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 : Akhir Dan Awal Yang Baru
2 Chapter 2 : Upacara Kontrak
3 Chapter 3 : Menyelinap
4 Chapter 4 : Pertunangan
5 Chapter 5 : Ramalan
6 Chapter 6 : Pertemuan Di Hutan
7 Chapter 7 : Ah, Merepotkan...
8 Chapter 8 : Ini Tidak Masuk Akal!
9 Chapter 9 : Kenapa Hari Ini Jadi Penuh Drama?
10 Chapter 10 : Dua Bunga
11 Chapter 11 : Sisi Lain Pangeran Sampah
12 Chapter 12 : Kecurigaan
13 Chapter 13 : Galau
14 Chapter 14 : Akademi Astralis
15 Chapter 15 : Hari Pertama
16 Chapter 16 : Aku Menantangmu Duel!
17 Chapter 17 : Tak Tahu Malu
18 Chapter 18 : Acara Bulanan
19 Chapter 19 : Kelas 1-D VS Kelas 1-B
20 Chapter 20 : Percakapan Antara Dua Laki-laki
21 Chapter 21 : Pertandingan Yang Berat
22 Chapter 22 : Kalian Sudah Berusaha
23 Chapter 23 : Kenangan Masa Lalu Yang Muncul
24 Chapter 24 : Mau Dipikir Bagaimanapun Itu Tidak Masuk Akal
25 Chapter 25 : Keributan Di Perpustakaan
26 Chapter 26 : Pangeran Sampah Meminta Maaf?
27 Chapter 27 : Praktik Dungeon
28 Chapter 28 : Hal Yang Tak Terduga
29 Chapter 29 : Lantai Yang Belum Diketahui
30 Chapter 30 : Kemampuan Asli Sang Pangeran
31 Chapter 31 : Manticore
32 Chapter 32 : Kali Ini Saja... Aku Akan Menggunakan Sihir
33 Chapter 33 : Rahasiakan Ini...
34 Chapter 34 : Sesuatu Berubah?
35 Chapter 35 : Percakapan Di Taman
36 Chapter 36 : Kunjungan Dadakan
37 Chapter 37 : Sepertinya Ada Pesaing Yang Mulai Serius
38 Chapter 38 : Orang Bodoh Mana Yang Mau Menyerang Raja-nya Sendiri?
39 Chapter 39 : Kencan
40 Chapter 40 : Kencan #2
41 Chapter 41 : Kamu Sangat Menginginkan Kekuatan?
42 Chapter 42 : Senjata Roh
43 Chapter 43 : Membolos
44 Chapter 44 : Masih Berpikir Kau Benar-benar Mengerti Sihir?
45 Chapter 45 : Pangeran Sampah Dengan Sihirnya
46 Chapter 46 : Sepertinya Aku Dalam Bahaya Besar
47 Chapter 47 : Pengusiran!?
48 Chapter 48 : Latihan
49 Chapter 49 : Mimpi Buruk
50 Chapter 50 : Energi Yang Menjijikkan
51 Chapter 51 : Sesuatu Mulai Bergerak
52 Chapter 52 : Hari Festival
53 Chapter 53 : Kekacauan
54 Chapter 54 : Mengamuk
55 Chapter 55 : Sosok Yang Dikenal
56 Chapter 56 : Roh Dalam Legenda
57 Chapter 57 : Sudah Kubilang, kan? Kau Tak Akan Bisa Membunuhku
58 Chapter 58 : Aku Mencintaimu...
59 Side Story Eliza : Gadis Dari Daerah Kumuh
60 Side Story Eliza : Istana
61 Side Story Eliza : Berbakat!
62 Side Story Eliza : Menjadi Kuat
63 Side Story Eliza : Menyelinap
64 Side Story Eliza : Garis Depan Medan Perang
65 Side Story Eliza : Kebangkitan Dan Kehilangan
66 Season 2 : Prolog
67 [Season 2] Chapter 1 : Pengusiran Pangeran
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Chapter 1 : Akhir Dan Awal Yang Baru
2
Chapter 2 : Upacara Kontrak
3
Chapter 3 : Menyelinap
4
Chapter 4 : Pertunangan
5
Chapter 5 : Ramalan
6
Chapter 6 : Pertemuan Di Hutan
7
Chapter 7 : Ah, Merepotkan...
8
Chapter 8 : Ini Tidak Masuk Akal!
9
Chapter 9 : Kenapa Hari Ini Jadi Penuh Drama?
10
Chapter 10 : Dua Bunga
11
Chapter 11 : Sisi Lain Pangeran Sampah
12
Chapter 12 : Kecurigaan
13
Chapter 13 : Galau
14
Chapter 14 : Akademi Astralis
15
Chapter 15 : Hari Pertama
16
Chapter 16 : Aku Menantangmu Duel!
17
Chapter 17 : Tak Tahu Malu
18
Chapter 18 : Acara Bulanan
19
Chapter 19 : Kelas 1-D VS Kelas 1-B
20
Chapter 20 : Percakapan Antara Dua Laki-laki
21
Chapter 21 : Pertandingan Yang Berat
22
Chapter 22 : Kalian Sudah Berusaha
23
Chapter 23 : Kenangan Masa Lalu Yang Muncul
24
Chapter 24 : Mau Dipikir Bagaimanapun Itu Tidak Masuk Akal
25
Chapter 25 : Keributan Di Perpustakaan
26
Chapter 26 : Pangeran Sampah Meminta Maaf?
27
Chapter 27 : Praktik Dungeon
28
Chapter 28 : Hal Yang Tak Terduga
29
Chapter 29 : Lantai Yang Belum Diketahui
30
Chapter 30 : Kemampuan Asli Sang Pangeran
31
Chapter 31 : Manticore
32
Chapter 32 : Kali Ini Saja... Aku Akan Menggunakan Sihir
33
Chapter 33 : Rahasiakan Ini...
34
Chapter 34 : Sesuatu Berubah?
35
Chapter 35 : Percakapan Di Taman
36
Chapter 36 : Kunjungan Dadakan
37
Chapter 37 : Sepertinya Ada Pesaing Yang Mulai Serius
38
Chapter 38 : Orang Bodoh Mana Yang Mau Menyerang Raja-nya Sendiri?
39
Chapter 39 : Kencan
40
Chapter 40 : Kencan #2
41
Chapter 41 : Kamu Sangat Menginginkan Kekuatan?
42
Chapter 42 : Senjata Roh
43
Chapter 43 : Membolos
44
Chapter 44 : Masih Berpikir Kau Benar-benar Mengerti Sihir?
45
Chapter 45 : Pangeran Sampah Dengan Sihirnya
46
Chapter 46 : Sepertinya Aku Dalam Bahaya Besar
47
Chapter 47 : Pengusiran!?
48
Chapter 48 : Latihan
49
Chapter 49 : Mimpi Buruk
50
Chapter 50 : Energi Yang Menjijikkan
51
Chapter 51 : Sesuatu Mulai Bergerak
52
Chapter 52 : Hari Festival
53
Chapter 53 : Kekacauan
54
Chapter 54 : Mengamuk
55
Chapter 55 : Sosok Yang Dikenal
56
Chapter 56 : Roh Dalam Legenda
57
Chapter 57 : Sudah Kubilang, kan? Kau Tak Akan Bisa Membunuhku
58
Chapter 58 : Aku Mencintaimu...
59
Side Story Eliza : Gadis Dari Daerah Kumuh
60
Side Story Eliza : Istana
61
Side Story Eliza : Berbakat!
62
Side Story Eliza : Menjadi Kuat
63
Side Story Eliza : Menyelinap
64
Side Story Eliza : Garis Depan Medan Perang
65
Side Story Eliza : Kebangkitan Dan Kehilangan
66
Season 2 : Prolog
67
[Season 2] Chapter 1 : Pengusiran Pangeran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!