Chapter 14 : Akademi Astralis

Hari pendaftaran Akademi Astralis akhirnya tiba, dan suasana istana kerajaan Velmoria dipenuhi kesibukan. Di ruang makan megah dengan meja panjang berhias piring-piring mewah, Ferisu duduk santai menikmati sarapannya. Di sekitarnya, anggota keluarga kerajaan lainnya memandangnya dengan berbagai ekspresi—beberapa acuh, beberapa terlihat lelah.

"Harinya sudah tiba, Ferisu," ujar Raja Velmoria dengan suara tegas, memecah keheningan. "Kau akan pergi ke Akademi Astralis untuk menempuh pendidikan. Jadikan ini kesempatan untuk menunjukkan nilaimu sebagai pangeran."

Ferisu, seperti biasa, tidak bereaksi apa-apa. Tatapannya tetap tertuju pada makanannya, memotong roti dan menikmati hidangan dengan santai. Sikapnya yang acuh membuat suasana semakin canggung, tetapi tak ada seorang pun yang merasa perlu menegurnya—mereka sudah terbiasa.

Namun, ada satu orang yang berbeda. Verina, kakak perempuannya yang selalu mencoba mendekatinya dengan cara yang lembut namun tegas, membuka suara. "Ferisu, aku akan mengantarmu ke sana. Jadi, setelah sarapan, pastikan kau bersiap untuk berangkat," ujarnya, menatap Ferisu dengan senyum penuh pengertian.

Ferisu melirik Verina sekilas, lalu kembali memakan makanannya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Reaksi itu membuat seseorang di ujung meja—Albert, Pangeran Pertama—mendecakkan lidahnya. "Benar-benar tidak tahu diri," gumamnya pelan, tetapi cukup terdengar oleh semua orang di meja.

Ratu Velmoria yang duduk di sisi Raja hanya menghela napas pelan, lalu menatap Verina. "Kuharap kau bisa memastikan dia tidak membuat masalah di sana. Akademi Astralis adalah tempat yang sangat penting bagi calon pemimpin kerajaan."

"Jangan khawatir, Ibu. Aku akan menjaganya," balas Verina dengan yakin.

Albert menyandarkan punggungnya di kursi, memandang Ferisu dengan tatapan dingin. "Membiarkan Ferisu masuk Akademi Astralis hanya membuang-buang tempat. Dia bahkan tidak peduli dengan nama baik keluarga, apalagi tanggung jawab sebagai pangeran."

"Albert," tegur Raja dengan suara tegas, membuat suasana meja makan semakin tegang.

Ferisu, seolah tidak terpengaruh, hanya bangkit dengan santai setelah selesai makan dan berjalan keluar ruangan tanpa sepatah kata pun. Para pelayan yang sudah siap dengan perlengkapan dan barang bawaannya segera mengikuti di belakangnya.

Verina menatap punggung adiknya dengan campuran rasa khawatir dan harapan. Dalam hatinya, dia tahu bahwa di balik sikap acuh Ferisu, ada sesuatu yang lebih besar yang disembunyikannya—dan dia bertekad untuk melihatnya sendiri.

Sementara itu, Albert hanya mendengus pelan. "Tidak ada gunanya. Bahkan jika dia masuk Akademi Astralis, dia tetap Ferisu yang sama—pangeran pemalas tanpa tujuan."

"Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan," sela Verina sambil melangkah keluar menyusul Ferisu.

Di luar istana, kereta kerajaan telah siap. Di sisi kereta, dua penjaga pribadi Ferisu berdiri dengan postur tegap, menunggu perintah untuk berangkat. Mereka tahu perjalanan ini akan menjadi awal yang menarik—dan mungkin penuh kejutan—bagi pangeran yang selalu dianggap sebagai sampah keluarga.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...----------------...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Akademi Astralis dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan paling bergengsi di seluruh benua. Akademi ini menawarkan pelatihan dalam empat disiplin utama: sihir, teknik roh, dan beladiri dengan berbagai jenis senjata. Di sinilah para individu berbakat dari seluruh penjuru benua datang untuk mengasah kemampuan mereka, mempersiapkan diri menjadi pemimpin, petarung, atau ahli sihir masa depan.

Namun, seperti institusi bangsawan lainnya, Akademi Astralis juga memiliki hierarki yang kuat. Para bangsawan memiliki privilese untuk masuk tanpa melalui tes apa pun. Status keluarga mereka dianggap cukup sebagai tiket masuk, meskipun kemampuan mereka mungkin biasa saja.

Sebaliknya, rakyat jelata harus melewati serangkaian tes yang sangat ketat. Tes ini dirancang untuk menyaring mereka yang benar-benar berbakat, menuntut kecerdasan, kemampuan fisik, dan potensi sihir yang luar biasa. Dari ribuan pelamar rakyat biasa, hanya segelintir yang berhasil lolos setiap tahun, menjadikan mereka sebagai minoritas yang sering kali mendapat sorotan—baik karena dikagumi maupun dipandang rendah.

Ferisu, sebagai pangeran kerajaan Velmoria, tentu saja masuk dalam kategori bangsawan yang tidak memerlukan tes. Namun, sikap dan reputasinya yang buruk membuat banyak orang bertanya-tanya apakah dia pantas berada di Akademi Astralis. Bahkan beberapa pengajar senior di akademi secara diam-diam mempertanyakan keputusan kerajaan untuk mengirimkan "pangeran sampah" itu.

Bagi Ferisu, perjalanan ke Akademi Astralis adalah awal dari sesuatu yang lebih besar—entah itu pembuktian diri, atau sekadar kesempatan untuk melarikan diri dari tekanan istana.

.

.

.

Setelah tiba di Akademi Astralis, Ferisu merasa lega karena akhirnya bisa terbebas dari Verina yang hanya mengantarnya sampai gerbang. Ia menolak membawa pelayan seperti para bangsawan lainnya. Bagi Ferisu, membawa pelayan hanya akan menjadi beban tambahan.

Tanpa peduli dengan pandangan atau tatapan penasaran orang-orang di sekitarnya, Ferisu langsung berjalan menjelajahi area akademi. Langkahnya santai, tetapi matanya tajam mengamati lingkungan baru itu.

Saat melangkah, Ferisu mendengar suara ramai dari sebuah area di dekatnya. Ia melirik ke arah itu dan melihat kerumunan besar berkumpul di sekitar arena terbuka. Ternyata, tempat itu adalah lokasi tes masuk untuk para rakyat biasa.

"Aku penasaran dengan tesnya," gumam Ferisu sambil mendekati kerumunan. Ia berdiri di pinggir arena, mengamati jalannya tes dengan tangan terlipat di depan dada.

Tiga Tes Utama

Tes Ilmu Pengetahuan

Para peserta diberikan serangkaian pertanyaan mengenai sejarah sihir, teknik roh, dan strategi militer. Peserta yang gagal menjawab dengan benar langsung dieliminasi. Ferisu memperhatikan dengan sedikit ketertarikan, mencatat bahwa beberapa rakyat biasa memiliki kecerdasan yang mengejutkan. Namun, kebanyakan hanya membuat kesalahan dasar.

Tes Sihir

Setelah tes teori, para peserta diminta menunjukkan kemampuan sihir mereka. Tes ini mengharuskan mereka memanipulasi elemen dasar seperti api, air, atau angin untuk membentuk pola tertentu. Beberapa peserta gagal menghasilkan sihir apa pun, sementara yang lain membuat kesalahan kecil hingga pola mereka tidak sempurna. Ferisu tersenyum kecil saat melihat itu, tampak bosan namun tetap memperhatikan detail.

Tes Teknik Bertarung

Ini adalah tes terakhir, di mana peserta diminta untuk bertarung melawan boneka otomatis yang disesuaikan dengan level kekuatan mereka. Boneka-boneka itu dilengkapi dengan sensor yang akan menilai efisiensi serangan peserta.

Ferisu menyaksikan peserta satu per satu menghadapi boneka tersebut. Ada yang menyerang dengan percaya diri tetapi gagal memberikan dampak berarti, ada pula yang bertarung dengan strategi cerdas tetapi fisik mereka terlalu lemah untuk menyelesaikan pertarungan.

"Aku sudah bisa menebak hasilnya," gumam Ferisu, wajahnya menunjukkan kebosanan yang semakin kentara. Meskipun pertarungan itu cukup menarik bagi sebagian besar penonton, bagi Ferisu, itu hanyalah pertunjukan yang penuh kekurangan.

Setelah tes terakhir selesai, Ferisu memutar tubuh dan mulai berjalan pergi. Setelah puas berjalan-jalan dan mengamati jalannya tes, Ferisu melihat matahari mulai condong ke barat, pertanda hari sudah menjelang sore. Ia menghela napas panjang, merasa cukup dengan eksplorasinya hari itu.

"Yah, sepertinya tak ada yang menarik lagi di sini," gumam Ferisu sambil melirik langit yang mulai berubah jingga.

Dengan langkah santai, ia meninggalkan area tes dan berjalan menuju gerbang utama akademi. Para penjaga yang berjaga di sana sempat meliriknya dengan heran, mungkin karena Ferisu adalah satu-satunya Bangsawan yang keluar akademi begitu cepat setelah mendaftar.

Verina yang sudah menunggu di luar gerbang, berdiri tegak dengan ekspresi serius khas dirinya. Begitu melihat Ferisu keluar, ia segera mendekat.

"Kau selesai begitu cepat?" tanya Verina, nadanya sedikit curiga.

"Yah, aku hanya melihat-lihat," jawab Ferisu singkat sambil berjalan melewatinya.

"Kau tidak bertemu siapa pun? Tidak ada hal menarik yang terjadi?" Verina terus bertanya, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya dilakukan Ferisu.

Ferisu hanya mengangkat bahu tanpa menoleh. "Tidak ada yang penting. Lagipula, aku sudah lelah. Mari kita pulang."

Verina mengerutkan dahi, tetapi ia memilih untuk tidak mendesak lebih jauh. Ia mengikuti Ferisu menuju kereta yang telah menunggu di depan gerbang.

Di dalam kereta, Ferisu bersandar malas di kursi, matanya setengah terpejam. Sepanjang perjalanan pulang, ia hanya diam, seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Verina, yang duduk di seberangnya, terus mengamati adiknya itu. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Ferisu, tetapi seperti biasa, Ferisu pandai menyembunyikan pikirannya.

"Ferisu..." gumam Verina pelan, tetapi ia memilih untuk tidak melanjutkan kalimatnya.

Kereta pun melaju menuju istana Velmoria, meninggalkan bayangan Akademi Astralis yang mulai diselimuti kegelapan malam.

Terpopuler

Comments

Frando Wijaya

Frando Wijaya

haa 💨....itulh knp gw mles lht bangsawan

2025-02-12

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 : Akhir Dan Awal Yang Baru
2 Chapter 2 : Upacara Kontrak
3 Chapter 3 : Menyelinap
4 Chapter 4 : Pertunangan
5 Chapter 5 : Ramalan
6 Chapter 6 : Pertemuan Di Hutan
7 Chapter 7 : Ah, Merepotkan...
8 Chapter 8 : Ini Tidak Masuk Akal!
9 Chapter 9 : Kenapa Hari Ini Jadi Penuh Drama?
10 Chapter 10 : Dua Bunga
11 Chapter 11 : Sisi Lain Pangeran Sampah
12 Chapter 12 : Kecurigaan
13 Chapter 13 : Galau
14 Chapter 14 : Akademi Astralis
15 Chapter 15 : Hari Pertama
16 Chapter 16 : Aku Menantangmu Duel!
17 Chapter 17 : Tak Tahu Malu
18 Chapter 18 : Acara Bulanan
19 Chapter 19 : Kelas 1-D VS Kelas 1-B
20 Chapter 20 : Percakapan Antara Dua Laki-laki
21 Chapter 21 : Pertandingan Yang Berat
22 Chapter 22 : Kalian Sudah Berusaha
23 Chapter 23 : Kenangan Masa Lalu Yang Muncul
24 Chapter 24 : Mau Dipikir Bagaimanapun Itu Tidak Masuk Akal
25 Chapter 25 : Keributan Di Perpustakaan
26 Chapter 26 : Pangeran Sampah Meminta Maaf?
27 Chapter 27 : Praktik Dungeon
28 Chapter 28 : Hal Yang Tak Terduga
29 Chapter 29 : Lantai Yang Belum Diketahui
30 Chapter 30 : Kemampuan Asli Sang Pangeran
31 Chapter 31 : Manticore
32 Chapter 32 : Kali Ini Saja... Aku Akan Menggunakan Sihir
33 Chapter 33 : Rahasiakan Ini...
34 Chapter 34 : Sesuatu Berubah?
35 Chapter 35 : Percakapan Di Taman
36 Chapter 36 : Kunjungan Dadakan
37 Chapter 37 : Sepertinya Ada Pesaing Yang Mulai Serius
38 Chapter 38 : Orang Bodoh Mana Yang Mau Menyerang Raja-nya Sendiri?
39 Chapter 39 : Kencan
40 Chapter 40 : Kencan #2
41 Chapter 41 : Kamu Sangat Menginginkan Kekuatan?
42 Chapter 42 : Senjata Roh
43 Chapter 43 : Membolos
44 Chapter 44 : Masih Berpikir Kau Benar-benar Mengerti Sihir?
45 Chapter 45 : Pangeran Sampah Dengan Sihirnya
46 Chapter 46 : Sepertinya Aku Dalam Bahaya Besar
47 Chapter 47 : Pengusiran!?
48 Chapter 48 : Latihan
49 Chapter 49 : Mimpi Buruk
50 Chapter 50 : Energi Yang Menjijikkan
51 Chapter 51 : Sesuatu Mulai Bergerak
52 Chapter 52 : Hari Festival
53 Chapter 53 : Kekacauan
54 Chapter 54 : Mengamuk
55 Chapter 55 : Sosok Yang Dikenal
56 Chapter 56 : Roh Dalam Legenda
57 Chapter 57 : Sudah Kubilang, kan? Kau Tak Akan Bisa Membunuhku
58 Chapter 58 : Aku Mencintaimu...
59 Side Story Eliza : Gadis Dari Daerah Kumuh
60 Side Story Eliza : Istana
61 Side Story Eliza : Berbakat!
62 Side Story Eliza : Menjadi Kuat
63 Side Story Eliza : Menyelinap
64 Side Story Eliza : Garis Depan Medan Perang
65 Side Story Eliza : Kebangkitan Dan Kehilangan
66 Season 2 : Prolog
67 [Season 2] Chapter 1 : Pengusiran Pangeran
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Chapter 1 : Akhir Dan Awal Yang Baru
2
Chapter 2 : Upacara Kontrak
3
Chapter 3 : Menyelinap
4
Chapter 4 : Pertunangan
5
Chapter 5 : Ramalan
6
Chapter 6 : Pertemuan Di Hutan
7
Chapter 7 : Ah, Merepotkan...
8
Chapter 8 : Ini Tidak Masuk Akal!
9
Chapter 9 : Kenapa Hari Ini Jadi Penuh Drama?
10
Chapter 10 : Dua Bunga
11
Chapter 11 : Sisi Lain Pangeran Sampah
12
Chapter 12 : Kecurigaan
13
Chapter 13 : Galau
14
Chapter 14 : Akademi Astralis
15
Chapter 15 : Hari Pertama
16
Chapter 16 : Aku Menantangmu Duel!
17
Chapter 17 : Tak Tahu Malu
18
Chapter 18 : Acara Bulanan
19
Chapter 19 : Kelas 1-D VS Kelas 1-B
20
Chapter 20 : Percakapan Antara Dua Laki-laki
21
Chapter 21 : Pertandingan Yang Berat
22
Chapter 22 : Kalian Sudah Berusaha
23
Chapter 23 : Kenangan Masa Lalu Yang Muncul
24
Chapter 24 : Mau Dipikir Bagaimanapun Itu Tidak Masuk Akal
25
Chapter 25 : Keributan Di Perpustakaan
26
Chapter 26 : Pangeran Sampah Meminta Maaf?
27
Chapter 27 : Praktik Dungeon
28
Chapter 28 : Hal Yang Tak Terduga
29
Chapter 29 : Lantai Yang Belum Diketahui
30
Chapter 30 : Kemampuan Asli Sang Pangeran
31
Chapter 31 : Manticore
32
Chapter 32 : Kali Ini Saja... Aku Akan Menggunakan Sihir
33
Chapter 33 : Rahasiakan Ini...
34
Chapter 34 : Sesuatu Berubah?
35
Chapter 35 : Percakapan Di Taman
36
Chapter 36 : Kunjungan Dadakan
37
Chapter 37 : Sepertinya Ada Pesaing Yang Mulai Serius
38
Chapter 38 : Orang Bodoh Mana Yang Mau Menyerang Raja-nya Sendiri?
39
Chapter 39 : Kencan
40
Chapter 40 : Kencan #2
41
Chapter 41 : Kamu Sangat Menginginkan Kekuatan?
42
Chapter 42 : Senjata Roh
43
Chapter 43 : Membolos
44
Chapter 44 : Masih Berpikir Kau Benar-benar Mengerti Sihir?
45
Chapter 45 : Pangeran Sampah Dengan Sihirnya
46
Chapter 46 : Sepertinya Aku Dalam Bahaya Besar
47
Chapter 47 : Pengusiran!?
48
Chapter 48 : Latihan
49
Chapter 49 : Mimpi Buruk
50
Chapter 50 : Energi Yang Menjijikkan
51
Chapter 51 : Sesuatu Mulai Bergerak
52
Chapter 52 : Hari Festival
53
Chapter 53 : Kekacauan
54
Chapter 54 : Mengamuk
55
Chapter 55 : Sosok Yang Dikenal
56
Chapter 56 : Roh Dalam Legenda
57
Chapter 57 : Sudah Kubilang, kan? Kau Tak Akan Bisa Membunuhku
58
Chapter 58 : Aku Mencintaimu...
59
Side Story Eliza : Gadis Dari Daerah Kumuh
60
Side Story Eliza : Istana
61
Side Story Eliza : Berbakat!
62
Side Story Eliza : Menjadi Kuat
63
Side Story Eliza : Menyelinap
64
Side Story Eliza : Garis Depan Medan Perang
65
Side Story Eliza : Kebangkitan Dan Kehilangan
66
Season 2 : Prolog
67
[Season 2] Chapter 1 : Pengusiran Pangeran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!