Chapter 5 : Ramalan

Ferisu berlari tanpa arah pasti, melintasi lorong-lorong panjang istana. Nafasnya tersengal ketika akhirnya ia sampai di halaman belakang, sebuah taman bunga yang asri. Di tengah taman itu, terdapat sebuah paviliun kecil di mana seorang pria tua duduk dengan tenang. Pria itu adalah kakeknya, mantan Raja Velmoria, yang kini menikmati masa pensiunnya dengan merawat bunga-bunga di taman istana.

"Ah, akhirnya kau sampai, Ferisu," ujar sang Kakek tanpa menoleh, seolah ia sudah tahu bahwa cucunya akan datang mencarinya.

Ferisu langsung mendekat dengan langkah berat, wajahnya menunjukkan rasa frustrasi. "Apa maksudnya tentang pertunangan itu!?" tanyanya tajam, tanpa basa-basi.

Sang Kakek hanya tersenyum tipis, sama sekali tidak terpengaruh oleh nada cucunya. "Tenang dulu, Ferisu. Ambil nafas, duduklah di sini." Ia menunjuk kursi taman di sebelahnya.

Ferisu mendengus, namun akhirnya menurut. Ia menjatuhkan tubuhnya di kursi, menghela napas panjang sebelum menatap kakeknya dengan ekspresi jengkel. "Aku tenang. Sekarang jelaskan!"

Sang Kakek, yang rambutnya telah memutih namun masih memancarkan aura kebijaksanaan, tersenyum kecil. "Kau tahu roh yang menjalin kontrak denganku, bukan?" tanyanya dengan nada lembut.

Ferisu memutar mata, tampak kesal. "Ya, roh dengan kemampuan melihat masa depan, kan?" jawabnya setengah hati. Namun, tiba-tiba pikirannya menangkap sesuatu. Ia menatap kakeknya tajam. "Ah, jadi ini semua karena ramalan roh itu, ya? Jangan bilang ini hanya karena kesalahan perhitungan roh kontrakmu!"

Sang Kakek terkekeh pelan, seolah pertanyaan itu menghiburnya. "Kesalahan? Tidak, Ferisu. Justru ini semua demi masa depanmu yang lebih baik."

Ferisu hanya mendengus kasar, melipat tangannya dengan kesal. "Masa depan yang lebih baik? Menurut siapa? Aku? Atau roh sialan itu?"

Sang Kakek tetap tersenyum, tidak terpengaruh oleh amarah cucunya. Setelah beberapa saat, ia berganti topik. "Ngomong-ngomong, bukankah bulan depan kau akan masuk ke Akademi Roh?"

Wajah Ferisu langsung berubah dingin. "Aku tidak berniat pergi."

Sang Kakek tertawa kecil, seolah sudah menduga jawaban itu. "Kau benar-benar tidak berubah, ya? Tapi sebenarnya, apa yang membuatmu begitu membenci para roh, Ferisu?" tanyanya dengan nada ingin tahu.

Ferisu terdiam. Pertanyaan itu menyerang bagian terdalam dirinya, menggali luka yang tidak pernah ia ungkapkan kepada siapa pun. Pandangannya menerawang jauh, pikirannya melayang ke masa lalu—ke kehidupan sebelumnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Dalam ingatannya, ia adalah seorang pahlawan legendaris, pengguna roh terkuat di medan perang. Setiap hari, ia harus bertarung melawan para pengguna roh iblis yang berusaha menghancurkan dunia. Perang yang tiada henti itu telah menghabiskan sebagian besar hidupnya.

Bahu Ferisu selalu terasa berat, menanggung tanggung jawab besar sebagai simbol harapan umat manusia. Namun, harapan itu datang dengan harga yang sangat mahal. Ia kehilangan banyak rekan, sahabat, dan bahkan orang-orang yang dicintainya.

Wajah-wajah mereka yang gugur di medan perang terus menghantui pikirannya. Darah, tangisan, dan kematian menjadi bagian dari hidupnya. Meski dunia akhirnya damai, perasaan hampa itu tidak pernah hilang.

"Medan perang itu..." pikirnya dalam hati. "...hanya membawa kesedihan, kebencian, dan kehancuran."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Ferisu?" suara kakeknya membangunkannya dari lamunan.

Ferisu tersentak, kembali ke kenyataan. Ia menoleh ke arah kakeknya, menyadari bahwa ia telah melamun terlalu lama. "Ah... maaf. Aku... aku harus ke toilet," katanya gugup, mencari alasan untuk menghindar.

Tanpa menunggu jawaban, Ferisu bangkit dan bergegas meninggalkan taman. Sang Kakek hanya memandangi punggung cucunya yang menjauh, menghela napas panjang. "Kau masih memikul beban itu sendirian, ya, Ferisu?" gumamnya pelan, matanya memandang ke arah bunga-bunga yang bermekaran di taman.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...----------------...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Ruangan Tamu Istana Velmoria

Raja Velmoria duduk di kursinya, wajahnya tampak tenang, meski suasana di ruangan itu terasa berat. Di depannya, Duke Valcrest bersama istrinya tampak ragu, sementara putri mereka, Erica, duduk dengan ekspresi kesal dan wajah cemberut. Mata ungunyanya yang tajam memancarkan ketidakpuasan yang jelas, tetapi ia memilih diam, hanya melirik sesekali ke arah ayahnya.

"Jadi, bagaimana?" Raja memecah kesunyian dengan nada penuh pertimbangan. "Apakah kita tetap melanjutkan pertunangan ini?"

Duke Valcrest menghela napas panjang, lalu melirik putrinya. Melihat wajah Erica yang penuh penolakan, ia tampak semakin ragu. "Aku tidak tahu... tapi, ini adalah perjanjian yang dibuat oleh ayahku dengan Raja sebelumnya."

Raja Velmoria mengangguk pelan, menunjukkan bahwa ia memahami dilema Duke. Namun, di balik ketenangannya, ia sendiri tampak memikirkan banyak hal. "Aku juga merasa tak enak pada putrimu, Erica. Kau tahu bagaimana putraku, Ferisu, bukan?"

Duke tersenyum masam, menyembunyikan rasa tidak nyamannya. "Ya, aku sudah mendengar banyak tentangnya. Dia... benar-benar sesuai dengan rumor yang beredar."

Senyum Raja melebar tipis, mengisyaratkan bahwa ia tidak menyangkal pernyataan itu. "Ferisu memang... istimewa, dengan caranya sendiri. Namun, aku tidak bisa memaksa orang lain untuk memahaminya."

Erica, yang mendengar percakapan itu, akhirnya bersuara dengan nada dingin. "Istimewa? Kau menyebut seseorang seperti itu istimewa? Dia hanya seorang pangeran pemalas yang bahkan tidak bisa menjalin kontrak dengan roh."

"Erica!" seru Duke, suaranya terdengar tajam, memotong komentar pedas putrinya.

Namun, Erica tetap memasang wajah cemberut, pandangannya tertuju pada meja di depannya. "Maafkan ketidaksopananku," katanya akhirnya, meski nadanya masih terdengar ketus.

Raja hanya tersenyum kecil, seolah memahami reaksi gadis itu. "Tak apa. Aku yakin Ferisu pun tidak akan terlalu peduli. Dia bukan tipe orang yang mudah tersinggung, apalagi oleh kata-kata."

Duke menghela napas lagi, mengusap dahinya dengan lelah. "Meski begitu, aku masih tidak mengerti apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Raja sebelumnya... atau roh kontraknya."

Raja Velmoria menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap langit-langit ruangan seolah sedang mengingat sesuatu. "Ayahku... dia selalu mempercayai ramalan roh kontraknya. Katanya, Ferisu dan Erica memiliki peran besar di masa depan. Entah bagaimana, aku merasa kata-katanya tidak sekadar omong kosong."

"Peran besar?" Duke menatap Raja dengan alis terangkat.

"Ya," Raja mengangguk perlahan. "Sayangnya, roh itu hanya memberi gambaran, bukan penjelasan. Namun, jika ayahku bersikeras membuat perjanjian ini, aku yakin dia punya alasan yang kuat."

Hening kembali menyelimuti ruangan. Erica memandang ayahnya dengan tatapan ragu, sementara Duke tampak masih mempertimbangkan banyak hal. Akhirnya, Duke bersuara, meski dengan nada berat.

"Aku akan berbicara dengan Erica lagi tentang ini, Yang Mulia. Mungkin, jika ada sedikit harapan dari perjanjian ini, kita bisa mencobanya."

Raja mengangguk, senyumnya mengandung rasa terima kasih. "Aku hargai itu, Duke Valcrest. Lagipula, ini bukan hanya tentang kita, tapi tentang masa depan yang mungkin tidak bisa kita lihat sekarang."

Erica, meski masih merasa tidak puas, memilih untuk tidak berkomentar lebih jauh. Namun, di dalam hatinya, ia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika harus terikat dengan seseorang seperti Ferisu.

Terpopuler

Comments

Mizuki

Mizuki

berapa kata bjir kok gak kerasa

2025-02-20

0

Quinnela Estesa

Quinnela Estesa

gak suka sama diksinya. kata yang dipakai untuk orang yang lebih tua seharusnya lebih sopan.

2025-02-26

2

Nani Kurniasih

Nani Kurniasih

ferisu cuma lelah, pengen santai aja
udah mager perang perangan

2025-02-20

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 : Akhir Dan Awal Yang Baru
2 Chapter 2 : Upacara Kontrak
3 Chapter 3 : Menyelinap
4 Chapter 4 : Pertunangan
5 Chapter 5 : Ramalan
6 Chapter 6 : Pertemuan Di Hutan
7 Chapter 7 : Ah, Merepotkan...
8 Chapter 8 : Ini Tidak Masuk Akal!
9 Chapter 9 : Kenapa Hari Ini Jadi Penuh Drama?
10 Chapter 10 : Dua Bunga
11 Chapter 11 : Sisi Lain Pangeran Sampah
12 Chapter 12 : Kecurigaan
13 Chapter 13 : Galau
14 Chapter 14 : Akademi Astralis
15 Chapter 15 : Hari Pertama
16 Chapter 16 : Aku Menantangmu Duel!
17 Chapter 17 : Tak Tahu Malu
18 Chapter 18 : Acara Bulanan
19 Chapter 19 : Kelas 1-D VS Kelas 1-B
20 Chapter 20 : Percakapan Antara Dua Laki-laki
21 Chapter 21 : Pertandingan Yang Berat
22 Chapter 22 : Kalian Sudah Berusaha
23 Chapter 23 : Kenangan Masa Lalu Yang Muncul
24 Chapter 24 : Mau Dipikir Bagaimanapun Itu Tidak Masuk Akal
25 Chapter 25 : Keributan Di Perpustakaan
26 Chapter 26 : Pangeran Sampah Meminta Maaf?
27 Chapter 27 : Praktik Dungeon
28 Chapter 28 : Hal Yang Tak Terduga
29 Chapter 29 : Lantai Yang Belum Diketahui
30 Chapter 30 : Kemampuan Asli Sang Pangeran
31 Chapter 31 : Manticore
32 Chapter 32 : Kali Ini Saja... Aku Akan Menggunakan Sihir
33 Chapter 33 : Rahasiakan Ini...
34 Chapter 34 : Sesuatu Berubah?
35 Chapter 35 : Percakapan Di Taman
36 Chapter 36 : Kunjungan Dadakan
37 Chapter 37 : Sepertinya Ada Pesaing Yang Mulai Serius
38 Chapter 38 : Orang Bodoh Mana Yang Mau Menyerang Raja-nya Sendiri?
39 Chapter 39 : Kencan
40 Chapter 40 : Kencan #2
41 Chapter 41 : Kamu Sangat Menginginkan Kekuatan?
42 Chapter 42 : Senjata Roh
43 Chapter 43 : Membolos
44 Chapter 44 : Masih Berpikir Kau Benar-benar Mengerti Sihir?
45 Chapter 45 : Pangeran Sampah Dengan Sihirnya
46 Chapter 46 : Sepertinya Aku Dalam Bahaya Besar
47 Chapter 47 : Pengusiran!?
48 Chapter 48 : Latihan
49 Chapter 49 : Mimpi Buruk
50 Chapter 50 : Energi Yang Menjijikkan
51 Chapter 51 : Sesuatu Mulai Bergerak
52 Chapter 52 : Hari Festival
53 Chapter 53 : Kekacauan
54 Chapter 54 : Mengamuk
55 Chapter 55 : Sosok Yang Dikenal
56 Chapter 56 : Roh Dalam Legenda
57 Chapter 57 : Sudah Kubilang, kan? Kau Tak Akan Bisa Membunuhku
58 Chapter 58 : Aku Mencintaimu...
59 Side Story Eliza : Gadis Dari Daerah Kumuh
60 Side Story Eliza : Istana
61 Side Story Eliza : Berbakat!
62 Side Story Eliza : Menjadi Kuat
63 Side Story Eliza : Menyelinap
64 Side Story Eliza : Garis Depan Medan Perang
65 Side Story Eliza : Kebangkitan Dan Kehilangan
66 Season 2 : Prolog
67 [Season 2] Chapter 1 : Pengusiran Pangeran
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Chapter 1 : Akhir Dan Awal Yang Baru
2
Chapter 2 : Upacara Kontrak
3
Chapter 3 : Menyelinap
4
Chapter 4 : Pertunangan
5
Chapter 5 : Ramalan
6
Chapter 6 : Pertemuan Di Hutan
7
Chapter 7 : Ah, Merepotkan...
8
Chapter 8 : Ini Tidak Masuk Akal!
9
Chapter 9 : Kenapa Hari Ini Jadi Penuh Drama?
10
Chapter 10 : Dua Bunga
11
Chapter 11 : Sisi Lain Pangeran Sampah
12
Chapter 12 : Kecurigaan
13
Chapter 13 : Galau
14
Chapter 14 : Akademi Astralis
15
Chapter 15 : Hari Pertama
16
Chapter 16 : Aku Menantangmu Duel!
17
Chapter 17 : Tak Tahu Malu
18
Chapter 18 : Acara Bulanan
19
Chapter 19 : Kelas 1-D VS Kelas 1-B
20
Chapter 20 : Percakapan Antara Dua Laki-laki
21
Chapter 21 : Pertandingan Yang Berat
22
Chapter 22 : Kalian Sudah Berusaha
23
Chapter 23 : Kenangan Masa Lalu Yang Muncul
24
Chapter 24 : Mau Dipikir Bagaimanapun Itu Tidak Masuk Akal
25
Chapter 25 : Keributan Di Perpustakaan
26
Chapter 26 : Pangeran Sampah Meminta Maaf?
27
Chapter 27 : Praktik Dungeon
28
Chapter 28 : Hal Yang Tak Terduga
29
Chapter 29 : Lantai Yang Belum Diketahui
30
Chapter 30 : Kemampuan Asli Sang Pangeran
31
Chapter 31 : Manticore
32
Chapter 32 : Kali Ini Saja... Aku Akan Menggunakan Sihir
33
Chapter 33 : Rahasiakan Ini...
34
Chapter 34 : Sesuatu Berubah?
35
Chapter 35 : Percakapan Di Taman
36
Chapter 36 : Kunjungan Dadakan
37
Chapter 37 : Sepertinya Ada Pesaing Yang Mulai Serius
38
Chapter 38 : Orang Bodoh Mana Yang Mau Menyerang Raja-nya Sendiri?
39
Chapter 39 : Kencan
40
Chapter 40 : Kencan #2
41
Chapter 41 : Kamu Sangat Menginginkan Kekuatan?
42
Chapter 42 : Senjata Roh
43
Chapter 43 : Membolos
44
Chapter 44 : Masih Berpikir Kau Benar-benar Mengerti Sihir?
45
Chapter 45 : Pangeran Sampah Dengan Sihirnya
46
Chapter 46 : Sepertinya Aku Dalam Bahaya Besar
47
Chapter 47 : Pengusiran!?
48
Chapter 48 : Latihan
49
Chapter 49 : Mimpi Buruk
50
Chapter 50 : Energi Yang Menjijikkan
51
Chapter 51 : Sesuatu Mulai Bergerak
52
Chapter 52 : Hari Festival
53
Chapter 53 : Kekacauan
54
Chapter 54 : Mengamuk
55
Chapter 55 : Sosok Yang Dikenal
56
Chapter 56 : Roh Dalam Legenda
57
Chapter 57 : Sudah Kubilang, kan? Kau Tak Akan Bisa Membunuhku
58
Chapter 58 : Aku Mencintaimu...
59
Side Story Eliza : Gadis Dari Daerah Kumuh
60
Side Story Eliza : Istana
61
Side Story Eliza : Berbakat!
62
Side Story Eliza : Menjadi Kuat
63
Side Story Eliza : Menyelinap
64
Side Story Eliza : Garis Depan Medan Perang
65
Side Story Eliza : Kebangkitan Dan Kehilangan
66
Season 2 : Prolog
67
[Season 2] Chapter 1 : Pengusiran Pangeran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!