Chapter 8. Siasat Aruna untuk kabur

Rika dan Aruna masuk paling akhir, hanya tinggal satu meja bulat yang kosong. Aruna memindai dengan matanya, hanya tinggal empat kursi. Di sana ada bu Imel atasan mereka, itu berarti Arshaka akan duduk di meja itu jua.

“Mbak, tinggal empat kursi. Mbak Rika duduk di sebelahku, please. Biarkan aku duduk di samping bu Imel,”

Rika paham maksud Aruna, sudah pasti dia ingin menghindar dari Arshaka. “Berani bayar berapa?” ucap Rika.

Aruna mengerucutkan bibirnya. “Ck ... mbak Rika materai,”

“Matre Ar, matre bukan materai” Rika menoyor kening juniornya tersebut.

Mereka terkikik bersama, tanpa mereka sadari Arshaka dan Danu ada di belakang mereka. Rika dan Aruna masih ngobrol sambil berjalan menuju meja.

“Please lah mbak. Ya ... ya ... ya,” mata memohon jurus andalan dia keluarkan. Mereka masih belum menyadari kehadiran Arshaka dan Danu.

“Bayarannya apa dulu nih?” ulang Rika.

“Bakso dekat pengkolan jalan tu,” jawab Aruna.

“CK ... itu isi ATM banyak Aruna, masa cuma bakso pengkolan sih.  Kali-kali resto bintang lima,”

“Iya deh, iya resto kaki lima. Emang susah kalau sudah materai,” ucap Aruna lagi.

Rika kembali menoyor kepala Aruna. “Bintang lima bukan kaki lima bege. Matre bukan materai, heran sama ni bocah. Jangan-jangan kamu kepribadian ganda Ar, di luar kerjaan gesrek gak karuan. Tapi kalau jadi tim delta, tatapanmu dingin mematikan. Kolam ikan bisa beku sekali kena tatapan kamu Ar,”

“Mbak pikir aku elsa gitu? Kalau bisa jadi elsa sih lumayan juga kali ya,”

“Cape hati, cape pikiran bicara sama kamu yang mode begini Aruna Azkiana amabell” gerutu Rika.

“Hahaha, sorry mbak. Bercanda doang,” Aruna kembali ke mode serius, kemudian mereka terkekeh bersama.

Sementara itu Danu yang berada di belakang mereka berusaha menahan tawanya, tak lupa dia melihat kearah atasannya. Ekspresi yang Danu tidak pernah lihat, Arshaka kembali menetralkan ekspresinya saat sadar Danu sedang menatapnya.

“Ada yang aneh?”

“Tidak tuan. Mereka lucu,” ucap Danu menunjuk Rika dan Aruna.

“Kalian datang bersama pak Arshaka dan pak Danu?” tanya Lin yang sudah ada di sana lebih dulu.

“Haa? Kita cuma berdua Lin,” ucap Rika.

“Lah itu di belakang kalian?”

Rika dan Aruna menengok kebelakang, mereka sangat terkejut karena tepat di belakang mereka dua pria itu berdiri.

Rika dan Aruna salin adu tatap, seolah mata mereka bisa saling bicara. “Sejak kapan tu dua orang di belakang kita Ar?”

“Mana aku tahu mbak. Ayo cepat sana duduk,” begitulah kira-kira mereka saling mengkode.

Sesuai permintaan Aruna, Rika akan membiarkan Aruna duduk di samping bu Imel. Sedangkan dia akan duduk di samping Aruna, tapi sayangnya dewi amor tidak berpihak pada mereka berdua.

“Rika. Duduk di sini, ada yang mau saya bicarakan denganmu” ucap Imel.

“Baik bu,” Rika berdiri dari tempat duduknya.

Mau tak mau mereka berdua bertukar tempat, Aruna berharap yang duduk di sampingnya adalah Danu asisten Arshaka. Dengan begitu lebih aman untuk jantungnya, meskipun dia sudah bilang membenci pria itu. Namun tetap saja kalau berada di jarak dekat dengannya, jantung Aruna tidak bisa terkondisikan.

“Kita ketemu lagi Aruna,” sapa Danu.

“Iya pak Danu,” jawab Aruna kikuk. Dalam hati dia bersyukur Danu yang duduk di sampingnya.

Arshaka menarik Danu untuk duduk di kursi dekat Arshaka berdiri, Aruna hanya bisa melongo karena itu berarti Arshaka duduk di sampingnya.

"Ck ... Kenapa juga si kutub ini duduk pas di sampingku,” batin Aruna sambil memegang dadanya.

“Kamu membatin aku?” ucap Arshaka.

“Haah? Percaya diri sekali pak Shaka, eh maksudnya pak Arshaka. Tidak ada yang membatin pak Arshaka,” jawab Aruna kemudian memalingkan muka. Dia benar-benar malu.

“Tapi aku kan membatin kenapa harus malu. Ish, dia ini manusi kutub apa cenayang sebenarnya,” batin Aruna.

Aruna menjadi serba kikuk karena di sampingnya ada Arshaka, orang yang  dia idolakan sekaligus dia benci. Hati dan pikiran Aruna ada dua apa ya, bisa begitu dia mengidolakan tapi juga benci. Terserah Aruna sajalah, dia yang punya hati, Author ini gimana sih hahaha.

Melihat makanan lezat di depannya saja Aruna sudah tidak berselera, sesekali dia menghela napas.

“Kia, jangan makan yang itu” suara bu Imel membuyarkan lamunan Aruna.

“Iya bu Imel, kenapa?”

“Kamu alergi udang. Ada udang di capcaynya,”

“Ah iya. Terimakasih bu,”

“Sini Ar, biar aku makan. Kamu ambil menu lain saja,” ucap Lin yang duduk di sebelah kiri Imel.

“Terimakasih Lin,”

“Mi imi Aruna emes,”

Arshaka dan Danu mengerutkan dahinya mendengar ucapan Lin. “Haa? Artinya apa Lin? Aku belum pernah dengar bahasa seperti itu,” kepo Danu.

Imel tertawa mendengar ucapan Danu, Aruna dan Rika tersedak minuman mereka. Sementara Arshaka yang juga bingung bertambah bingung saat melihat kedua staffnya tersedak.

“Ya ampun pak Danu, kita hanya beda dua tahun. Masa pak Danu tidak paham bahasa gaul?” jawab Lin polos.

“Artinya sama-sama Aruna gemes,” Imel yang sudah sangat terbiasa dengan karakter tim delta tersebut memberikan jawaban pada Danu.

Aruna dan kawan-kawan yang ada di meja itu menahan tawa mereka, bos dan asistennya padahal punya pendidikan yang terbaik. Mereka juga suka main medsos, tapi bahasa gaul seperti yang di ucapkan Lin mereka tidak paham.

Aruna tidak banyak makan, dia juga tidak terlalu banyak ikut megobrol dengan yang lain. Dia ingin segera pulang, badannya sudah sangat lelah.

“Apa aku ijin ke kamar mandi saja ya? Habis itu kabur pulang saja, aku juga tidak akan bertemu dengan pak Arshaka lagi setelah ini, kan? Sepertinya tidak apa-apa,” batin Aruna yang sedang menyusun siasat untuk kabur.

Tanpa dia sadari Arshaka memperhatikan Aruna yang senyum smirk. “Dia sudah tidak waraskah? Bisa-bisanya senyum-senyum sendiri, atau karena aku tolak dan gara-gara vidio kemarin itu dia jadi agak kurang,” Arshaka dengan pemikirannya sendiri.

Aruna menenggak habis jus strawberrynya, setelah itu dia pamit ke kamar mandi. Sesuai rencananya, setelah dari kamar mandi dia akan kabur pulang.

“Heeh. Aku capek sekali, kepalaku rasanya berat. Apa tadi aku makan yang ada udangnya tanpa sengaja ya?” Aruna bermonolog dengan dirinya sendiri.

Aruna sedikit limbung dengan napas yang sedikit tersengal, tiba-tiba pandangannya menggelap dan hilang.

“Triiring ... Triiring,”

Bunyi alarm terus mengganggu pendengaran Arshaka, dia mencari-cari sumber suara. Dia mematikan alarm tersebut, setelah itu kembali tidur. Entah kenapa dia merasa nyaman dan sangat nyenyak memeluk guling di kamarnya.

“Braakk,”

“Tuan Arshaka siapa dia? Apakah dia kekasih anda,” suara-suara yang menganggu pendengaran Arshaka bersama kilauan cahaya membuatnya bangun.

“Ah ya ampun suara siapa sih berisik sekali,”

Arshaka membelalakkan matanya, dia mengedarkan pandangannya. Seketika sadar kalau itu bukan kamarnya, dan apa? Yang tadi dia peluk bukan guling tapi seorang perempuan.

Dengan sigap Arshaka langsung menutupi gadis tersebut dengan selimut, menyembunyikan wajahnya dari kilatan lampu kamera.

“Kalian apa-apa an sih? Tama, Danu usir mereka,” suara bariton yang cukup Arshaka kenal memenuhi ruangan tersebut.

Tama dan Danu berhasil mengusir wartawan-wartawan tersebut. Tinggal Naura, Arshaka dan entah siapa yang di sembunyikannya di dalam selimut. Arshaka sendiri juga belum tahu.

“Shaka apa dia Davina? Apa kalian menginap dan tidur bersama semalam?” cecar Naura dengan ekspresi geram dan marah.

“Mama apa-apa an sih? Aku saja belum bertemu Davina dari kemarin siang, aku juga tidak tahu dia siapa. Aku tidak mungkin melakukan hal di luar batas ma,”

“Ya ampun kenapa kalian berisik, kepalaku pusing. Ini juga aku tidak bisa napas, singkirkan selimutnya” gadis tersebut menyibak selimutnya.

“Aaaaa, kenapa pak Arshaka ada di kamarku?”

“Bruuuk,” Aruna menendang tubuh Arshaka hingga jatuh ke lantai.

“Argggh. Dasar gadis gesrek, sakit tahu” Arshaka bangun sambil mengusap pantatnya yang sakit.

 

 

Episodes
1 Chapter 1. Penolakan
2 Chapter 2. Ruang meeting
3 Chapter 3. Tim delta 1
4 Chapter 4. Keluarga Pradipta
5 Chapter 5. Aku minta maaf
6 Chapter 6. Kehebohan mommy Naura
7 Chapter 7. Mimom, kita seperti pengintai
8 Chapter 8. Siasat Aruna untuk kabur
9 Chapter 9. Ini bukan kamarku
10 Chapter 10. Gosip kantor
11 Chapter 11. Kalian menikah lusa
12 Chapter 12. Menikah denganku
13 Aku bersedia
14 Sah
15 Aku harus kemana?
16 Aruna Pergi
17 Salah kira
18 Memulai awal di Bandung
19 Pertemuan 3 sahabat
20 Kamu bisa melepaskannya
21 Kebetulan yang luar biasa
22 CEO baru Hanapra Retail
23 Tidak semudah itu
24 Profesionalitas seorang Aruna
25 Gebrakan Arshaka pada Aruna
26 Password leptop Aruna
27 Amplop coklat (pengajuan pembatalan)
28 Amarah Alice & Eris
29 Apartemen Aruna
30 Nathanael Kaysa Wijaya
31 Membantu tim delta 1
32 Kedatangan mama mertua
33 Vienna International Airport
34 Permintaan mama mertua
35 Kembali di retas
36 Misi Danu
37 Dulu disiakan
38 Tujuan di balik penjebakan
39 Kedatangan Ael (Revisi)
40 apa tadi dia bilang? Istri, sayang?
41 Tidak ada keraguan dalam hatiku
42 Di hatimu masih ada aku
43 Hana ngambek
44 Aruna tahu Ael sudah di Bandung
45 Bertemunya sahabat lama
46 Kesalah pahaman yang terurai
47 Mereka sudah berdamai?
48 Aruna, Erisa dan Ran unjuk Gigi
49 Ael x Ciara
50 Aruna & Ciara
51 Rencana Naura via Anres
52 Insident
53 Mungkinkah ini di Sengaja?
54 Kolaborasi Ran x Eris
55 Mengintai (Masih Ran x Eris)
56 Arshaka siuman
57 Biarkan aku melindungi Kia
58 Angga & Davina ke rumah sakit
59 Pulang ke apartemen
60 Arshaka demam
61 Beri aku satu minggu
62 Kunjungan ke Market place
Episodes

Updated 62 Episodes

1
Chapter 1. Penolakan
2
Chapter 2. Ruang meeting
3
Chapter 3. Tim delta 1
4
Chapter 4. Keluarga Pradipta
5
Chapter 5. Aku minta maaf
6
Chapter 6. Kehebohan mommy Naura
7
Chapter 7. Mimom, kita seperti pengintai
8
Chapter 8. Siasat Aruna untuk kabur
9
Chapter 9. Ini bukan kamarku
10
Chapter 10. Gosip kantor
11
Chapter 11. Kalian menikah lusa
12
Chapter 12. Menikah denganku
13
Aku bersedia
14
Sah
15
Aku harus kemana?
16
Aruna Pergi
17
Salah kira
18
Memulai awal di Bandung
19
Pertemuan 3 sahabat
20
Kamu bisa melepaskannya
21
Kebetulan yang luar biasa
22
CEO baru Hanapra Retail
23
Tidak semudah itu
24
Profesionalitas seorang Aruna
25
Gebrakan Arshaka pada Aruna
26
Password leptop Aruna
27
Amplop coklat (pengajuan pembatalan)
28
Amarah Alice & Eris
29
Apartemen Aruna
30
Nathanael Kaysa Wijaya
31
Membantu tim delta 1
32
Kedatangan mama mertua
33
Vienna International Airport
34
Permintaan mama mertua
35
Kembali di retas
36
Misi Danu
37
Dulu disiakan
38
Tujuan di balik penjebakan
39
Kedatangan Ael (Revisi)
40
apa tadi dia bilang? Istri, sayang?
41
Tidak ada keraguan dalam hatiku
42
Di hatimu masih ada aku
43
Hana ngambek
44
Aruna tahu Ael sudah di Bandung
45
Bertemunya sahabat lama
46
Kesalah pahaman yang terurai
47
Mereka sudah berdamai?
48
Aruna, Erisa dan Ran unjuk Gigi
49
Ael x Ciara
50
Aruna & Ciara
51
Rencana Naura via Anres
52
Insident
53
Mungkinkah ini di Sengaja?
54
Kolaborasi Ran x Eris
55
Mengintai (Masih Ran x Eris)
56
Arshaka siuman
57
Biarkan aku melindungi Kia
58
Angga & Davina ke rumah sakit
59
Pulang ke apartemen
60
Arshaka demam
61
Beri aku satu minggu
62
Kunjungan ke Market place

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!