Ervan mengambil alat tes kehamilan yang tergeletak di lantai. Jika alat itu ada di kamarnya, maka otomatis pemiliknya adalah Erika. Mengingat Ervan tak pernah membawa wanita lain ke kamarnya
Pupil mata Ervan membesar. Dahinya berkerut dalam. Dia berbalik menghadap kedua anak buahnya. "Bagaimana cara membaca alat ini?" tanyanya.
Tim dan Ronald saling bertukar pandang. Sebab mereka juga tidak tahu caranya. Alhasil mereka memanggil anggota wanita untuk memberitahu.
Di sisi lain, Erika sedang menikmati spa bersama Cynthia. Sekarang dia tak kesepian lagi karena ada Cynthia yang menemani.
Ketika spa selesai, Erika mengajak Cynthia ke hotel. Dia sepenuhnya akan membawa gadis itu kemana-mana.
Erika dan Cynthia juga tak lupa saling bercerita tentang kisah hidup mereka masing-masing. Erika bahkan memberitahukan Cynthia tentang kehamilannya.
"Kau hamil, dan memilih pergi meninggalkan suamimu? Itu gila!" ungkap Cynthia.
"Aku meninggalkan suamiku karena dia penjahat kelas kakap. Lagi pula dia selalu menolak saat aku ajak untuk punya anak. Jadi dari pada anakku kenapa-napa, lebih baik aku pergi. Aku ingin menjalani kehidupan normal. Aku tidak mau anakku tumbuh menjadi penjahat seperti ayahnya," terang Erika.
"Itu benar. Kalau jadi kau, aku pasti akan melakukan hal yang sama. Jadi aku bisa memanggilmu apa? Kakak? Nama, atau..." Cynthia tak mengakhiri kalimatnya.
"Panggil saja Nona Erika," sahut Erika. Cynthia lantas mengangguk mengerti.
...***...
9 bulan kemudian...
Setelah melewati hari demi hari. Akhirnya tibalah Erika melahirkan anaknya. Dia kini sudah dibawa ke rumah sakit oleh Cynthia.
Erika berteriak tak karuan karena merasakan sakit luar biasa. Sungguh, dia merasa seperti disiksa. Rasa sakit melahirkan terasa lebih sakit dibandingkan apapun. Bahkan dari luka tembak yang pernah Erika rasakan.
"Sakit sekali! Tolong, Cynthia! Rasanya aku mau mati!" rintih Erika. Dia mencengkeram erat tangan dan rambut Cynthia. Gadis remaja itu hanya bisa bertahan sebisa mungkin.
Tak lama Erika tiba di ruang persalinan. Kala itu dokter obgyn dan para perawat langsung turun tangan.
"Tarik nafas Nona Erika! Dan... Dorong!" ujar sang dokter.
Erika berusaha keras mengejan agar bayinya bisa keluar. Namun berulang kali dia melakukan itu, rasanya sulit sekali. Air matanya bercucuran saat merasakan sakit tiada tara di bawah sana.
Ternyata benar kata orang, rasa melahirkan itu luar biasa sakit. Sosok perempuan tangguh seperti Erika bahkan nyaris menyerah. Wajahnya memerah dengan air mata dan keringat yang mengalir deras. Sementara orang-orang medis di sekelilingnya terus memberitahu bahwa sang bayi sedikit lagi akan keluar.
"Sedikit lagi, Nona!" ucap perawat yang membantu.
"Sedikit lagi sialan! Kau sudah mengatakan itu satu jam yang lalu! Dan bayiku masih belum keluar!" omel Erika yang merasa putus asa.
"Tenang, Nona. Bayinya bisa keluar dengan cepat kalau anda bersikap tenang," tutur sang dokter.
"Lakukan sesuatu! Aku tak tahan lagi... Aaaaarkhhh!!!" erang Erika. Dia sudah mengerahkan kekuatannya untuk mengeluarkan bayinya.
Dokter tampak menggeleng melihat Erika yang sudah kelelahan. Tanpa pikir panjang, dia mengambil alat suntikan dan pisau bedah, lalu melakukan sesuatu ke tempat jalan lahir bayi. Usai dokter melakukan itu, bayi langsung keluar. Suara tangisan seketika menggema di ruangan itu. Erika melahirkan seorang anak lelaki yang tampan.
Erika menghamburkan tangisan. Dia merasa kagum dan terharu saat mendengar suara tangisan sang anak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirman🦈
benar kata Cynthia kalau jadi Erika mending kabur juga
2025-01-25
1
Yuli a
suatu saat pasti nanyain ayahnya dimana...
2025-01-28
1
Ummi Yatusholiha
𝚜𝚎𝚕𝚊𝚖𝚊𝚝 𝚢𝚊 𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊, 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚜𝚞𝚍𝚊𝚑 𝚓𝚊𝚍𝚒 𝚖𝚘𝚖𝚖𝚢 🥰🥰
2025-01-27
1