Eps 4 Saya Minta Kamu Disiplin! - Barra

Iva maupun Launa sama-sama terkejut melihat sosok yang kini tengah menyelamatkan mereka.

“Pak Garry?” Ucap mereka bersamaan.

Tak puas karena orang tersebut malah masih memelototinya, Garry kembali menarik kerah kaos orang tersebut dan membuka penutup wajahnya secara kasar. Begitu wajahnya terlihat, ia kembali melayangkan bogem di wajah pria itu hingga orang itu kembali tersungkur.

“Siapa kamu?” Gertak orang tersebut hingga emosi Garry terpancing. Garry pun melonggarkan dasinya lalu kemudian kembali menghajar orang tersebut hingga pria itu berteriak minta ampun.

Tak ingin lama-lama di sana, pria itu lari tunggang langgang dari hadapan mereka dalam keadaan takut.

Melihat hal itu, Launa maupun Iva bernapas lega. Garry pun menghampiri mereka dan bertanya.

“Kalian baik-baik saja?”

“Iya pak saya baik-baik saja, tapi Iva_”

“Saya juga baik-baik saja kok pak.” Sergah Iva karena tak ingin merepotkan Garry terlalu jauh.

“Tadi Launa bilang Iva, Iva kenapa?” Tanya Garry sembari memperhatikan wajah Iva yang tampak meringis kesakitan.

“Tidak apa-apa pak.”

“Kamu meringis, apa orang itu menyakitimu?”

“Dia menendang perut Iva pak.”

“Apa?”

“Tapi sudah tidak terlalu sakit kok pak, apa saya dan Launa sudah boleh kembali?” Tanya Iva yang sungkan andai dia harus merepotkan Garry lagi.

“Eh sebentar, lebih baik biar aman kalian saya antar.”

“Tapi kami bawa mobil pak.”

“Mobil kalian biar anak buah saya yang bawa, kalian naik bersama saya saja.” Tawar Garry hingga Iva dan Launa perlahan mengangguk tanda setuju.

Akhirnya, mereka pulang dengan diantar Garry sampai ke rumah Iva. Begitu tiba, Launa dan Iva kembali berterimakasih pada Garry.

“Sama-sama, jangan sungkan, kalau butuh bantuan kalian bisa hubungi whatsapp saya. Ada di dalam group.”

“Iya pak sekali lagi_”

“Sama-sama.” Timpal Garry memotong ucapan Launa.

“Apa bapak tidak mam_” belum sempat Launa menyelesaikan kalimatnya, ia justru mendapat cubitan kecil di pahanya hingga Launa melirik Iva penuh tanya.

“Eh kami_masuk duluan ya pak.” Pungkas Iva lalu kemudian hendak berlalu namun langkah mereka tertahan.

“Ada apa pak?” Tanya Launa penasaran.

“Launa, kamu ikut ke pesta perayaan ulang tahun perusahaan ya besok?” Tawar Garry namun Launa masih tampak bungkam. Iva pun melirik Launa penuh harap dan segera menimpali.

“Iya pak Launa pasti ikut. Iya kan Lau? Kamu mau ikut kan?” Tanya Iva memberi kode hingga Launa pun mengangguk.

Alhasil, Launa menyetujui permintaan Garry mengingat jasanya malam ini.

****

“Va, pak Garry itu baik banget ya? Ramah, dan bedah sama bosnya itu.” Tutur Launa saat mereka sudah ada di kamar Iva.

“Iya, pak Garry memang ramah, dan juga berbahaya.” Ucap Iva namun kalimat terakhirnya hanya ia lanjutkan dalam hati.

“Beruntung banget dia bisa datang tepat waktu, kalau tidak, nggak tau deh gimana nasib kita.”

“I_iya. Aku ganti baju dulu ya Lau.”

“Aku juga ikut.” Tutur Launa lalu kemudian mengikuti langkah Iva menuju walk in closet.

Iva tidak mengutarakan secara jujur bagaimana karakter Garry yang sebenarnya karena tak ingin Launa ilfiel dan tiba-tiba batal pergi ke acara besok.

Usai ganti pakaian, Iva meraih ponselnya di atas nakas, dan membaca pesan dari pak Barra.

“Lau, besok pagi jam tujuh pak Barra minta kamu ke lokasi syuting, katanya dia mau kamu datang cepat biar kamu bisa latihan dulu. Ponsel kamu mana sih Lau? Kenapa pesan group pak Barra tidak kamu baca?”

“Sengaja, malas aja baca ketikan darinya. Kan ada kamu yang akan menyampaikan langsung padaku.” Ujar Launa seraya mengulas senyum termanis di hadapan Iva.

Mendengar itu Iva pun menghela napas panjang, saudaranya ini memang kerap bertindak sesuka hati.

****

Tak terasa kini matahari mulai menunjukkan eksistensinya, meninggalkan rembulan yang semalam menyinari malam yang pekat itu. Mentari yang masuk melalui ventilasi jendela, menerpa wajah Launa hingga ia menggeliat dan membuka matanya perlahan.

Seperti orang pada umumnya, Launa tidak langsung bangun. Begitu membuka mata, ia masih bengong layaknya orang terlilit hutang ratusan milyar. Tak lama dari acara bengongnya itu, Launa menatap ke arah mentari yang semakin meninggi. Saat itu juga Launa pun terkesiap dan sadar akan agendanya pagi ini. Bergegas ia meraih ponsel dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Launa terlonjak dan langsung beranjak dari tempat tidur meninggalkan Iva yang masih terlelap.

Begitu dirinya hampir masuk ke walk in closet, Launa kembali berbalik dan melihat Iva yang justru masih mengarungi lautan mimpi.

“Ivaaaaa!!!” Pekik Launa yang cukup kesal kepada Iva pagi ini, karena tidak membangunkannya.

“Tunggu! Aku nggak boleh buang-buang waktu, aku harus cepat ke kamar mandi terus mandi, ganti baju dan langsung ke lokasi syuting.” Launan berucap sembari berlari kecil dan mengurungkan niatnya untuk memarahi Iva lebih dulu.

Buru-buru Launa mandi dan ganti baju, hari ini ia hanya mengenakan kaos oblong polosnya dan bandana warna soft pink dengan rambut yang dibiarkan tergerai.

Dengan secepat kilat ia menyambar tas dan kunci mobil di nakas Iva dan bergegas turun dari kamar saudaranya itu menuju parkiran.

Beruntung mobil sudah dipanaskan oleh supir Iva, pak Anwar. Jadi Launa bisa langsung berangkat menuju tempat tujuan dan menyetir dengan kecepatan penuh.

Tak butuh waktu lama, Launa kini sudah sampai di lokasi syuting dan benar saja, dia sudah sangat terlambat. Lawan main dan juga para crew sudah berada di sana untuk menunggu dirinya. Tak lupa juga si wajah datar ada di sana. Melihat ekspresi wajah Barra, Launa ngeri ngeri sedap, walaupun katanya tidak takut, tapi kali ini Launa takut padanya. Bagaimana tidak? Pagi ini Launa akui dialah yang salah, jadi pantas saja Barra menjadi momok yang menakutkan baginya hari ini.

“Selamat pagi pak.” Sapa Launa memberanikan diri menyapa Barra.

“Selamat siang juga Launa!” Sahut Barra dengan kalimat menohok tanpa menatap Launa.

“Maaf pak, saya terlambat.” Ungkap Launa sembari menundukkan wajah.

“Ini baru hari pertama, tapi kamu sudah buat ulah.”

“Maaf pak, semalam saya hampir dapat musibah, saya hampir diculik dan untung saja ada pak Garry yang datang menyelamatkan saya dan juga Iva. Jadi say_”

“Stop stop! Saya tidak peduli kamu hampir diculik kek, kerasukan jin kek, mati konyol ataupun semacamnya, saya hanya meminta kamu disiplin.” Timpal Barra tak ingin mendengar keluhan Launa, apapun alasannya dia tidak peduli sungguh.

Mendengar itu, Launa kembali mengumpat dalam hati. Kekesalannya bertambah karena Barra tidak mau mendengar penjelasan darinya.

“Gila ya? Emang kalau aku mati aku masih bisa syuting?” Gumam Launa dalam hati sembari terus menatap kesal punggung Barra yang sudah berlalu dari hadapannya.

Alhasil, mereka pun memulai syuting karena Barra tidak mau mengulur waktu yang memang sudah terbuang sia-sia.

“Cut! Ulang!” Sentak Barra saat Launa justru lupa dialog di tengah proses syuting berjalan.

“Baik pak.” Sahut Launa lalu syuting kembali diulang.

“Citra, tunggu! Dengarkan penjelasanku dulu.” Ucap lawan main Launa lalu kemudian Launa menatap nyalang ke arah pria itu.

“Brengsek! Lepaskan aku penculik!”

“Cut! Ngaco! Dialognya apa Launa! Dia pasangan kamu bukan penculik.” Pekik salah satu crew yang membantu Barra mengarahkan jalannya film. Sedangkan Barra, hanya memijat pangkal hidungnya tanpa bicara apapun lagi, karena sudah lelah menghadapi Launa.

Entah apa yang Launa rasakan, mendadak dia teringat peristiwa semalam dan malah melontarkan kata-kata itu, seolah dia lupa dan mengira bahwa pasangan mainnya adalah penculik. Padahal di dalam film itu, tidak ada adegan penculikan.

“Maaf, bisa diulang lagi nggak?” Tanya Launa lirih dan kembali menjernihkan pikirannya. Dia berusaha fokus dan tidak ingin melakukan kesalahan lagi.

Akhirnya, syuting pun di ulang dan Launa mulai berakting untuk menunjukkan kepiawaiannya. Untuk kali ini, kemampuan akting Launa mendadak bagus dan mendapat pujian dari para crew kecuali si paling cool Barra.

Selesai itu, Barra langsung beranjak menuju ruangannya untuk makan siang karena proses syuting tersebut berjalan sampai siang hari.

Sementara Launa, ia tak hentinya tersenyum penuh kelegaan karena ia bisa melewati proses syuting dan menunjukkan bakatnya yang luar biasa itu.

Bakat akting Launa memang luar biasa, apalagi dia pandai memainkan wajah dengan berbagai ekspresi yang dituntut dalam film tersebut. Para crew dan juga lawan mainnya tak henti memuji Launa, bagaimana tidak? Akting Launa sangat mumpuni dibanding artis pendatang lama lainnya.

Setelah cukup lama beristirahat, tiba-tiba Iva menelepon Launa dan memintanya ke ruangan Iva.

“Anak ini, kemana saja dia dari tadi? Katanya mau temenin aku syuting.” Gerutu Launa lalu kembali mengayunkan langkah menuju ruangan Iva.

Sesampainya di sana, Launa langsung melayangkan protes perihal keterlambatannya tadi pagi. Ia menganggap Iva yang salah dan tidak membangunkannya namun Iva segera meralat omongan Launa.

“Aku lupa pasang alarm Launa, udah deh jangan bahas itu dulu. Masih ada yang lebih penting untuk kita bahas hari ini.” Ujar Iva sembari menyodorkan sebuah kerta ke arah wanita itu.

“Apa ini?”

“Buka saja.” Jawa Iva dengan wajah cemasnya.

Launa pun meraih kertas tersebut dan perlahan membukanya.

“What?” Pekik Launa kaget bukan main dengan mata yang membulat sempurna. Ia sampai menggeram dengan gigi yang bergemeletuk, dan meremas kertas tersebut hingga tak berbentuk.

“Apa maksudnya ini?” Launa pun mengepalkan tangan sampai buku tangannya memutih. Ini benar-benar sulit diterima akal.

Episodes
1 Eps 1 Hadiah Besar di Akhir Tahun
2 Eps 2 Terkesima Tapi Menyebalkan
3 Eps 3 Hampir Mendapat Musibah
4 Eps 4 Saya Minta Kamu Disiplin! - Barra
5 Eps 5 Saya Tidak Suka Artis Plonga Plongo- Barra
6 Eps 6 Kamu Pasti Jadi Milikku- Garry
7 Eps 7 Jebakan
8 Eps 8 Hilang Jejak - Danu
9 Eps 9 Mobil Dengan Sejuta Kenangan
10 Eps 10 Hancur
11 Eps 11 Hancur Bersamaan
12 Eps 12 Dendam
13 Eps 13 Pandai Bersilat Lidah
14 Eps 14 Nomor Baru
15 Eps 15 Kecemasan
16 Eps 16 Mengusir Penat Dengan Caraku
17 Eps 17 Serupa Tapi Tak Sama
18 Eps 18 Iva dan Perasaannya
19 Eps 19 Tapi Akan Balik Lagi Untuk Melamarmu - Bara
20 Eps 20 Merasa Tidak Pantas
21 Eps 21 Dalam Bahaya
22 Eps 22 Mual
23 Eps 23 Ngapel Dadakan
24 Eps 24 Berdebat yang Tak Pasti
25 Eps 25 Menjauh
26 Eps 26 Tetap Keras Hati
27 Eps 27 Hampir Saja
28 Eps 28 Kabar Baik/Buruk?
29 Eps 29 Kesepakatan
30 Eps 30 Kecewanya Hati Danu
31 Eps 31 Terancam Kala Strategi
32 Eps 32 Diluar Prediksi
33 Eps 33 Sah!!!
34 Eps 34 Dia Suamiku, Mencintainya Adalah Kewajiban - Launa
35 Eps 35 Resepsi
36 Eps 36 Sogokkan
37 Eps 37 Gaun Pembawa Celaka
38 Eps 38 Keresahan Hati Iva
39 Eps 39 Pertanyaan Konyol
40 Eps 40 Kamu Pasangan Halalku-Bara
41 Eps 41 Kelakuan Pasukan Kepo
42 Eps 42 Rasakan Pembalasanku!
43 Eps 43 Kamu Istriku Bukan Rekan Bisnis.
44 Eps 44 Jelmaan Buaya Putih
45 Eps 45 Syarat Mematikan
46 Eps 46 Salting
47 Eps 47 Bayangan? - Launa
48 Eps 48 Maaf Jika Aku Belum Menjanjikan Cinta
49 Eps 49 Kamu Adalah Hakku
50 Eps 50 Minta Nafkah?
51 Eps 51 Penyelesaian Masalah Ala Bara
52 Eps 52 Kiss
53 Eps 53 Cemburu
54 Eps 54 Tidak Bisa Dibiarkan
55 Eps 55 Pantai Pertama Setelah Menikah
56 Eps 56 Misi Baru Danu
57 Eps 57 Tidak Seburuk yang Kamu Pikirkan - Bara
58 Eps 58 Mau Tidak? - Bara
59 Eps 59 Menunya Apa?
60 Eps 60 Mencurigakan! - Launa
61 Eps 61 Menyatu
62 Eps 62 Kapan Makan Malamnya?
63 Eps 63 Ketakutan Launa
64 Eps 64 Jangan Mencampuri Urusan Rumah Tanggaku - Bara
65 Eps 65 I Love You mas - Launa
66 Eps 66 Tidak Tertebak
67 Eps 67 Apapun Untuk Launa - Danu
68 Eps 68 Mengurungkan ungkapan cinta - Danu
69 Eps 69 Merasa Dibodohi
70 Eps 70 Orang Tua yang Bijak
71 Eps 71 Ikatan Sahabat Itu Lemah ~ Bara
72 Eps 72 Marahnya Sungguhan
73 Eps 73 Tak Terbaca
74 Eps 74 Tenang
75 Eps 75 Kena Mental ~ Bara
76 Eps 76 Awal
77 Eps 77 Kejadian
78 Eps 78 Kabar Baik
79 Eps 79 Dijemput
80 Eps 80 Permintaan yang Sulit
81 Eps 81
82 Eps 82 Keadilan yang Bagaimana?
83 Eps 83 Menyesap Madu
84 Eps 84 Teman Masak Sahur
85 Eps 85 Hati Kamu ~ Bara
86 Eps 86 Tamu Tak Diundang
87 Eps 87 Sudah Saatnya Go Public
88 Eps 88 Tabur Tuai
89 Eps 89 Pengawal Lagi
90 Eps 90 Buka Pakai Apa?
91 Eps 91 Dua Garis
92 Eps 92 Tidak Diharapkan
93 Eps 93 Pengganti Ibu
94 Eps 94 Tanggung Jawab
95 Eps 95 Ikhtiar
96 Eps 96 Hari Raya
97 Eps 97 Aku Ikut ~ Launa
98 Eps 98 Makan Malam yang Sangat Berkesan ~ Bara
99 Eps 99 Hamili Aku~ Launa
100 Eps 100 Menguji Adrenalin
101 Eps 101 Serangan Pertanyaan
102 Eps 102 Nasehat Launa
103 Eps 103 Tuntutan Perhatian
104 Eps 104 Sembilan Bulan Sudah
105 Eps 105 Diabaikan
106 Eps 106 Terjebak Film
107 Eps 107 Berakhir
108 Eps 108 Benang Kusut yang Mulai Bisa Ditarik
109 Eps 109 Penyelematan
110 Eps 110 Pembelaan
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Eps 1 Hadiah Besar di Akhir Tahun
2
Eps 2 Terkesima Tapi Menyebalkan
3
Eps 3 Hampir Mendapat Musibah
4
Eps 4 Saya Minta Kamu Disiplin! - Barra
5
Eps 5 Saya Tidak Suka Artis Plonga Plongo- Barra
6
Eps 6 Kamu Pasti Jadi Milikku- Garry
7
Eps 7 Jebakan
8
Eps 8 Hilang Jejak - Danu
9
Eps 9 Mobil Dengan Sejuta Kenangan
10
Eps 10 Hancur
11
Eps 11 Hancur Bersamaan
12
Eps 12 Dendam
13
Eps 13 Pandai Bersilat Lidah
14
Eps 14 Nomor Baru
15
Eps 15 Kecemasan
16
Eps 16 Mengusir Penat Dengan Caraku
17
Eps 17 Serupa Tapi Tak Sama
18
Eps 18 Iva dan Perasaannya
19
Eps 19 Tapi Akan Balik Lagi Untuk Melamarmu - Bara
20
Eps 20 Merasa Tidak Pantas
21
Eps 21 Dalam Bahaya
22
Eps 22 Mual
23
Eps 23 Ngapel Dadakan
24
Eps 24 Berdebat yang Tak Pasti
25
Eps 25 Menjauh
26
Eps 26 Tetap Keras Hati
27
Eps 27 Hampir Saja
28
Eps 28 Kabar Baik/Buruk?
29
Eps 29 Kesepakatan
30
Eps 30 Kecewanya Hati Danu
31
Eps 31 Terancam Kala Strategi
32
Eps 32 Diluar Prediksi
33
Eps 33 Sah!!!
34
Eps 34 Dia Suamiku, Mencintainya Adalah Kewajiban - Launa
35
Eps 35 Resepsi
36
Eps 36 Sogokkan
37
Eps 37 Gaun Pembawa Celaka
38
Eps 38 Keresahan Hati Iva
39
Eps 39 Pertanyaan Konyol
40
Eps 40 Kamu Pasangan Halalku-Bara
41
Eps 41 Kelakuan Pasukan Kepo
42
Eps 42 Rasakan Pembalasanku!
43
Eps 43 Kamu Istriku Bukan Rekan Bisnis.
44
Eps 44 Jelmaan Buaya Putih
45
Eps 45 Syarat Mematikan
46
Eps 46 Salting
47
Eps 47 Bayangan? - Launa
48
Eps 48 Maaf Jika Aku Belum Menjanjikan Cinta
49
Eps 49 Kamu Adalah Hakku
50
Eps 50 Minta Nafkah?
51
Eps 51 Penyelesaian Masalah Ala Bara
52
Eps 52 Kiss
53
Eps 53 Cemburu
54
Eps 54 Tidak Bisa Dibiarkan
55
Eps 55 Pantai Pertama Setelah Menikah
56
Eps 56 Misi Baru Danu
57
Eps 57 Tidak Seburuk yang Kamu Pikirkan - Bara
58
Eps 58 Mau Tidak? - Bara
59
Eps 59 Menunya Apa?
60
Eps 60 Mencurigakan! - Launa
61
Eps 61 Menyatu
62
Eps 62 Kapan Makan Malamnya?
63
Eps 63 Ketakutan Launa
64
Eps 64 Jangan Mencampuri Urusan Rumah Tanggaku - Bara
65
Eps 65 I Love You mas - Launa
66
Eps 66 Tidak Tertebak
67
Eps 67 Apapun Untuk Launa - Danu
68
Eps 68 Mengurungkan ungkapan cinta - Danu
69
Eps 69 Merasa Dibodohi
70
Eps 70 Orang Tua yang Bijak
71
Eps 71 Ikatan Sahabat Itu Lemah ~ Bara
72
Eps 72 Marahnya Sungguhan
73
Eps 73 Tak Terbaca
74
Eps 74 Tenang
75
Eps 75 Kena Mental ~ Bara
76
Eps 76 Awal
77
Eps 77 Kejadian
78
Eps 78 Kabar Baik
79
Eps 79 Dijemput
80
Eps 80 Permintaan yang Sulit
81
Eps 81
82
Eps 82 Keadilan yang Bagaimana?
83
Eps 83 Menyesap Madu
84
Eps 84 Teman Masak Sahur
85
Eps 85 Hati Kamu ~ Bara
86
Eps 86 Tamu Tak Diundang
87
Eps 87 Sudah Saatnya Go Public
88
Eps 88 Tabur Tuai
89
Eps 89 Pengawal Lagi
90
Eps 90 Buka Pakai Apa?
91
Eps 91 Dua Garis
92
Eps 92 Tidak Diharapkan
93
Eps 93 Pengganti Ibu
94
Eps 94 Tanggung Jawab
95
Eps 95 Ikhtiar
96
Eps 96 Hari Raya
97
Eps 97 Aku Ikut ~ Launa
98
Eps 98 Makan Malam yang Sangat Berkesan ~ Bara
99
Eps 99 Hamili Aku~ Launa
100
Eps 100 Menguji Adrenalin
101
Eps 101 Serangan Pertanyaan
102
Eps 102 Nasehat Launa
103
Eps 103 Tuntutan Perhatian
104
Eps 104 Sembilan Bulan Sudah
105
Eps 105 Diabaikan
106
Eps 106 Terjebak Film
107
Eps 107 Berakhir
108
Eps 108 Benang Kusut yang Mulai Bisa Ditarik
109
Eps 109 Penyelematan
110
Eps 110 Pembelaan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!