BAB 20~ SAYA BERSEDIA

"Cinta?"

Mama Ratih seketika menggeleng. "Tapi ... saya kan, mengajukan anak saya untuk dinikahkan dengan anak Pak Azka," ucapnya lantang. .

"Maka dari itulah kami datang," sahut papa Azka. "Saya memang ada niat untuk menikahkan anak saya dengan anak Bu Ratih. Dan itu adalah Cinta Aurora Hadiwijaya yang tadi sudah disebutkan anak saya. Bukankah Cinta juga adalah anak Bu Ratih?"

Mama Ratih terbelalak. Jantungnya berdetak dengan cepat dan membuat aliran darahnya terasa mengalir deras. Dalam sekejap penglihatannya serasa berputar. Ia pun seketika ambruk dengan mata terpejam dan wajah pucat.

"Mama!" pekik pak Haris yang panik melihat istrinya tiba-tiba pingsan. Ia pun berjongkok di sisi istrinya itu sambil menepuk-nepuk pipinya.

"Ma, bangun!"

Melihat itu, Aidan selaku sepupu Vano yang seorang dokter tidak tinggal diam. Ia mendekat dan memeriksa keadaan bu Ratih. "Bisa dibawa ke kamar dulu? Biar Bu Ratih bisa istirahat."

Papa Haris mengangguk dan dengan cepat mengangkat istrinya menuju kamar dengan bantuan beberapa orang kerabatnya. Salah satu diantara mereka kemudian memanggil Indri dan memberitahu jika mamanya pingsang. Wanita itu pun panik dan segera menuju kamar orang tuanya.

"Pa, ada apa dengan Mama? Kenapa bisa pingsan begini?" tanya Indri cemas. Ia duduk di samping sang mama dan mengusap keringat di keningnya yang terasa dingin.

Papa Haris tak menjawab, ia sibuk menggosok telapak tangan istrinya menggunakan minyak angin. Perasaannya pun sedang berkecamuk saat ini. Entah bagaimana bisa, Vano justru memilih Cinta.

"Indri, temani Mama kamu sebentar. Papa harus keluar menemui keluarga Vano."

Indri mengangguk, sementara papa Haris pun segera keluar dari kamar.

"Mas, gimana keadaan Bu Ratih?" tanya Jihan pada suaminya.

"Gak apa-apa, cuma syok aja. Istirahat sebentar juga udah baikan," jawab Aidan.

"Syukurlah kalau gak kenapa-kenapa. Tadinya aku memang udah saranin sama kak Vano untuk bawa ambulance juga," sahut Vani.

"Hus!" tegur papa Azka ketika melihat pak Haris kembali.

"Bagaimana Bu Ratih?" tanyanya.

"Belum siuman, tapi ada Indri yang menemani Mamanya," jawab papa Haris. Ia menarik nafas dalam-dalam. "Maaf, Pak Azka. Ini sebenarnya ada apa? Bukankah diawal kita membahas tentang Indri dan Vano. Lalu kenapa sekarang justru Cinta yang kalian pilih?"

"Memangnya kenapa, Pak?" tanya Vano. "Siapapun yang menjadi pilihanku bukankah itu sama saja, karena keduanya sama-sama anak Pak Haris."

"Bukan begitu, Nak Vano. Saya cuma bingung saja, saya pikir kalian bermaksud untuk melamar Indri. Jika memang Cinta yang ditujukan, kenapa tidak membahasnya dari awal?"

Papa Azka beranjak dari tempat duduknya. "Maaf, Pak Haris. Apa kita bisa berbicara berdua saja di tempat lain? Ada yang ingin saya sampaikan, ini mengenai Vano dan Cinta."

Papa Haris mengangguk, kemudian mengajak pak Azka menuju ruang kerjanya.

Sementara itu di kamarnya. Mama Ratih sudah mulai siuman. Indri segera mengambil air minum di atas meja dan memberikan pada mamanya.

Setelah membasahi tenggorokannya, mama Ratih menghela nafas panjang sambil bersandar di tempat tidur dengan wajah pucat. Bukan karena sakit, melainkan karena merasa malu.

"Ma, ini ada apa? Kenapa Mama tiba-tiba pingsan?" tanya Indri.

Mama Ratih menatap putrinya. "Indri, ini gawat! Tadi yang disebut Vano itu adalah Cinta, bukan kamu. Yang mau dia lamar itu Cinta, Ndri. Bukan kamu!"

"Apa?" Indri tercengang. "Ma, jangan bercanda. Mereka saja tidak saling kenal, bagaimana justru Cinta yang Vano pilih." Ia tampak tak percaya.

"Tapi itu kenyataannya, Ndri. Vano ingin melamar Cinta, itu yang buat Mama syok sampai pingsan tadi."

Indri menggeleng. Rasanya tak percaya, tapi mamanya tidak mungkin berbohong disaat seperti ini. Namun, mengingat jika hari ini Cinta juga akan ada yang melamar, apakah itu artinya ... benar yang dikatakan mamanya? Wajah Indri pun seketika pias.

Keluarga dari pihak laki-laki masih setia menunggu. Mereka memberi waktu bagi bu Ratih untuk beristirahat. Setidaknya, sampai kondisinya lebih baik.

Papa Haris yang telah selesai berbicara dengan pak Azka langsung menuju kamarnya untuk memeriksa keadaan istrinya. Anak dan istrinya itu sedang mengobrol saat ia datang.

"Mama sudah baikan? Lamarannya mau dilanjut, gak enak sama keluarga Pak Azka kalau menunggu terlalu lama," ucap papa Haris menatap istrinya.

"Enggak, Pa! Lebih baik lamarannya tidak dilanjutkan kalau untuk Cinta. Dia itu janda bukan tapi punya anak. Cinta sama sekali gak pantas bersanding dengan keluarga Pak Azka. Jangan sampai dia membuat kita malu nanti. Kenapa lamarannya bukan untuk Indri saja? Indri sudah jelas layak. Bukan cuma berpendidikan, dia juga cantik dan tentunya masih gadis!" tutur mama Ratih panjang lebar.

Papa Haris menghela nafas berat. "Tapi mereka kemari untuk melamar Cinta, bukan Indri!" tegasnya.

"Pa, kenapa jadi seperti ini?" tanya Indri dengan suara serak menahan tangis. "Bukankah seharusnya aku yang dilamar sama Vano, tapi kenapa malah jadi Cinta yang dilamar?"

"Indri, maafkan Papa. Tapi memang seperti itulah kenyataannya, yang diinginkan Vano itu adalah Cinta." Sekali lagi, papa Haris menghembuskan nafas berat kemudian menghampiri istrinya. Dengan sedikit paksaan mengajaknya kembali ke ruang tamu.

Indri pun turut mengikuti kedua orangtuanya. Rasanya ia masih tak percaya dengan ini semua dan harus memastikannya sendiri. Tapi ia tidak sampai ke ruang tamu, melainkan hanya menyaksikan dari kejauhan.

Proses lamaran pun kembali dilanjutkan. Semua orang kembali duduk dengan tenang di tempatnya masing-masing.

Om Raka selaku juru bicara keluarga Atmajaya melirik ke sekeliling ruangan. Sejak tiba di rumah itu ia tidak melihat keberadaan wanita yang akan dilamar oleh keponakannya. Bahkan saat bu Ratih pingsan tadi, wanita itu juga tak terlihat.

"Maaf, Pak Haris. Apa bisa Nak Cinta dihadirkan disini untuk menyaksikan langsung bagaimana prosesi lamarannya."

Papa Haris mengangguk, kemudian melirik salah satu kerabatnya. "Tolong panggilkan Cinta."

Wanita sesuai mama Ratih itupun segera beranjak dari tempat duduknya dan langsung menuju kamarnya Cinta. "Ayo, kamu dipanggil keluar," ujarnya setelah baru saja masuk ke kamar Cinta.

"Memangnya keluarga laki-laki yang akan melamar ku sudah datang?" tanya Cinta.

"Sudah, dan sudah sempat bikin huru hara tadi."

Cinta seketika cemas, entah keributan apa yang sudah terjadi diluar tanpa ia ketahui. Apakah Stev dan keluarganya dihina dan mereka membela diri sehingga terjadi keributan.

"Udah, Cinta. Jangan kebanyakan mikir, ayo cepat. Semua orang sudah nungguin kamu!"

"Iya," ujar Cinta lalu menoleh pada mbok Darmi. "Aku keluar dulu ya, Mbok, titip Laura."

"Iya, Non. Bismillah, semoga lancar."

Cinta mengangguk, ia pun segera mengikuti kerabatnya itu menuju ruang tamu. Ia berjalan dengan pandangan tertunduk.

Perhatian semua orang pun langsung tertuju padanya dan membuat seluruh dari pihak keluarga laki-laki seketika berdecak kagum menatapnya.

"Masya Allah," ucap beberapa keluarga Vano yang baru pertama kali melihat Cinta.

Vano mengembangkan senyum menatap pujaan hatinya yang baru saja bergabung diantara mereka. Hatinya seketika terasa menghangat melihat Cinta mengenakan gamis putih lengkap dengan hijab sesuai seperti permintaannya.

Sementara Cinta masih menunduk. Sesekali memberanikan diri menatap beberapa orang yang ada di ruangan itu. Saat melihat om Azka dan tante Kinan duduk mengapit Stev, hatinya dipenuhi pertanyaan. Bagaimana bisa laki-laki yang akan melamarnya, justru ada bersama kedua orang tua dari laki-laki yang akan melamar Indri.

"Sudah tahu, belum. Kalau itu orang tuanya calonmu?" bisik salah satu kerabatnya.

Cinta yang terkejut lantas menoleh menatapnya. Namun, ia tak berani membuka suara dihadapan orang banyak.

"Bukan. Itu orang tua dari laki-laki yang akan melamar Indri. Aku sudah bertemu mereka beberapa hari lalu saat diundang Papa makan malam disini," balas Cinta berbisik.

"Sepertinya kamu yang keliru. Jelas-jelas kami semua tadi mendengar kalau mereka itu orang tua dari calon kamu. Namanya Stevano, kan?"

Cinta tercengang, ia lantas beralih menatap Stev yang terlihat tersenyum padanya. Sebenarnya ini ada apa, ia bertanya-tanya dalam hati. Stev, laki-laki yang akan melamarnya itu hanya seorang barista sepertinya, sedangkan sepasang suami istri yang duduk di sisi kiri dan kanannya itu berasal dari keluarga konglomerat yang tempo hari diakui Indri sebagai orang tua dari laki-laki yang akan melamar saudari tirinya itu.

"Berhubung Nak Cinta sudah ada di sini. Acara lamaran jadi bisa kita lanjutkan kembali," om Raka kembali membuka suara. "Untuk kali ini saya serahkan pada Pak Azka selalu Ayah dari pihak laki-laki."

Papa Azka tersenyum menatap Cinta yang duduk di samping pak Haris. "Sebelumnya, terima kasih atas sambutan hangatnya. Tujuan kedatangan kami sekeluarga adalah untuk meminang putri Pak Haris dan Bu Ratih yang bernama Cinta Aurora Hadiwijaya, untuk anak kami yang bernama Stevano Atmajaya. Semoga Pak Haris dan Bu Ratih berkenan, dan dengan adanya hari ini membawa berkah untuk kita semua."

"Amiin," sahut semua orang yang ada di ruangan itu.

Cinta semakin tercengang, kali ini memberanikan diri menatap Stev dengan lekat. Jadi, selama beberapa bulan ini pria itu hanya berpura-pura menjadi barista.

Pertama kali bertemu Stev, saat pria itu datang ke cafe dan memesan kopi. Beberapa hari setelahnya Stev datang lagi dan melamar menjadi barista. Ia sama sekali tidak curiga asal usul pria itu. Dan kini yang menjadi pertanyaan dalam benaknya. Kenapa Stev harus menyembunyikan identitasnya?

"Nak Cinta, apakah kamu bersedia menerima lamaran anak kami, Stevano Atmajaya?" tanya om Raka.

Untuk beberapa saat, Cinta masih terdiam. Terkejut dengan keadaan sebenarnya membuatnya hampir tak bisa berkata-kata.

"Sa-ya ... bersedia," ucapnya kemudian terdengar lirih dan terbata-bata.

"Alhamdulillah." Semua orang seketika berseru kecuali bu Ratih.

Tak jauh dari sana. Indri mengepalkan kedua tangannya menahan amarah dan malu yang seakan meledak di hati. Ketika akan berbalik pergi, ia ambruk. Kali ini dirinyalah yang pingsan.

"Indri!" pekik salah satu kerabatnya yang melihat Indri tiba-tiba pingsan.

Semua orang pun menatap kearah Indri.

"Tuh, kan, seharusnya kita memang bawa ambulance juga tadi," ucap Vani sambil geleng-geleng kepala.

Terpopuler

Comments

💜🌷halunya jimin n suga🌷💜

💜🌷halunya jimin n suga🌷💜

si haris lembek bngt ya cinta di hina gitu diem aja payah laki kaya gini mah

2025-01-25

4

Salim S

Salim S

jangan ambulance lah sekalian aja mobil jenazah biar sekalian nyungsep karena malu /Tongue//Tongue//Tongue/gimana bu ratih dan indri jantung,hati,pikiran,jiwa,raga masih aman dan waras kan?makanya jadi orang jangan terlalu pede dan suka menghina orang........sakitnya tuh disini...definisi tetluka tp tidak berdarah malunya seumur hidup /Proud//Proud//Proud/

2025-01-25

0

Giandra

Giandra

orang yang suka terkejut lalu pingsan itu berbahaya umurnya? hanya YME yang tau

2025-01-25

2

lihat semua
Episodes
1 BAB 1~ CINTA ADALAH ORANG YANG AKU CARI
2 BAB 2~ BUKANNYA KAMU BELUM MENIKAH?
3 BAB 3~ KAMU ADALAH PENYEMANGAT MAMA
4 BAB 4~ MEMINTA WAKTU 1 BULAN
5 BAB 5~ DUPLIKAT CABE SETAN
6 BAB 6~ KASIHAN SEKALI NON CINTA
7 BAB 7~ AKAN KU BUAT KAU MENYESAL
8 BAB 8~ SEMOGA BENAR KAMU ADALAH ANAKKU
9 BAB 9~ APA PAPA AKAN MEMAAFKAN AKU?
10 BAB 10~ TAK SABAR INGIN MELIHAT HASIL DNA
11 BAB 11~ MEMENUHI UNDANGAN CALON BESAN
12 BAB 12~ AKAN MEMPERMALUKAN KAMU!
13 BAB 13~ SEPERTI ANAK TIRI
14 BAB 14~ PERMAINAN SEGERA DIMULAI
15 BAB 15~ TUNGGU PAPA, NAK
16 BAB 16~ SUDAH WAKTUNYA MELUPAKAN KEJADIAN KELAM ITU
17 BAB 17~ APA GAK SEBAIKNYA DIUNDUR SAJA?
18 BAB 18~ DEMI CALON PAPANYA LAURA
19 BAB 19~ CINTA?
20 BAB 20~ SAYA BERSEDIA
21 BAB 21~ LEPASKAN CALON ISTRI SAYA!
22 BAB 22~ INI SEMUA BELUM BERAKHIR!
23 BAB 23~ DIA AKAN KEMBALI AKU DAPATKAN!
24 BAB 24~ AKU AKAN MENUNGGU SAMPAI KAMU SIAP
25 BAB 25~ SEMOGA KAMU TIDAK KECEWA
26 BAB 26~ AKU YANG AKAN MENGGANTIKAN TUGASMU
27 BAB 27~ MAAFKAN PAPA YANG SUDAH MENGABAIKAN MU
28 BAB 28~ UNBOXING BARANG BELANJAAN
29 BAB 29~ RESEPSI PERNIKAHAN
30 BAB 30~ LAURA JATUH
31 BAB 31~ PERASAAN APA INI?
32 BAB 32~ KAMU MASIH...?
33 INFO
34 BAB 33~ SIAPA SEBENARNYA ORANG TUA LAURA?
35 BAB 34~ TENTANG LAURA
36 BAB 35~ BUKTI KEJAHATAN INDRI
37 BAB 36~ DIA MELARIKAN DIRI
38 BAB 37~ HANYA INI YANG BISA PAPA LAKUKAN
39 BAB 38~ CARI BUKTI
40 BAB 39~ KENAPA HARUS AKU?
41 BAB 40~ KAMU JATUH CINTA PADAKU?
42 BAB 41~ HARUS MEMPERTANGGUNG JAWABKAN PERBUATANNYA!
43 BAB 42~ SUDAH TERTANGKAP
44 BAB 43~ PENYEBAB HUBUNGANNYA BERAKHIR
45 BAB 44~ KE BANDARA
46 BAB 45~ PUAS KAMU SEKARANG?"
47 BAB 46~ MASIH DALAM PROSES
48 BAB 47~ TIBA-TIBA PEDULI
49 BAB 48~ KENYATAAN PAHIT
50 BAB 49~ TIDAK BISA MEMBIARKANNYA PERGI
51 BAB 50~ JANGAN SAKITI MEREKA!
52 BAB 51~ APA MAKSUD MAMA?
53 BAB 52~ KAMU SUDAH GILA!
54 BAB 53~ MENGELABUHI
55 BAB 54~ JAWAB, PA!
56 BAB 55~ FLASHBACK
57 BAB 56~ TERTEMBAK
58 BAB 57~ TERPUKUL
59 BAB 58~ MENCARI PENDONOR
60 BAB 59~ BUNNY?
61 BAB 60~ KARENA AKU MENCINTAIMU
62 BAB 61~ NGAMBEK!
63 BAB 62~ SEHARUSNYA BERTERIMA KASIH
64 BAB 63~ GARA-GARA KAMU
65 BAB 64~ DIABAIKAN
66 BAB 65~ MASIH ADA AKU SUAMIMU
67 BAB 66~ TANGANMU KENAPA?
68 BAB 67~ MARAH SAMA KAMU!
69 BAB 68~ TIDAK INGIN DIGANGGU
70 BAB 69~ KENAPA MALAH MENYUSUL?
71 BAB 70~ REWEL DI SAAT YANG TIDAK TEPAT
72 BAB 71~ MEMILIH GAUN
73 BAB 72~ SEPERTI NAMANYA
74 BAB 73~ MIE SEAFOOD
75 BAB 74~ HARUS ADIL
76 BAB 75~ TERLALU CANTIK
77 BAB 76~ MEMULAI PERTUNJUKAN
78 BAB 77~ KITA IMPAS
79 BAB 78~ ANDAI LAURA MASIH ADA
80 BAB 79~ KENAPA TIDAK KITA WUJUDKAN SAJA?
81 BAB 80~ BERUSAHA MENJALIN KEDEKATAN
82 BAB 81~ SEPERTINYA ANDA SANGAT PENASARAN
83 BAB 82. KENAPA TIDAK BERCERMIN PADA MASA LALU
84 BAB 83~ AKAN DICERAIKAN
85 BAB 84~ ZIARAH
86 BAB 85~ DUA KALI KEHILANGAN
87 BAB 86~ PULANG
88 BAB 87.
89 BAB 88.
Episodes

Updated 89 Episodes

1
BAB 1~ CINTA ADALAH ORANG YANG AKU CARI
2
BAB 2~ BUKANNYA KAMU BELUM MENIKAH?
3
BAB 3~ KAMU ADALAH PENYEMANGAT MAMA
4
BAB 4~ MEMINTA WAKTU 1 BULAN
5
BAB 5~ DUPLIKAT CABE SETAN
6
BAB 6~ KASIHAN SEKALI NON CINTA
7
BAB 7~ AKAN KU BUAT KAU MENYESAL
8
BAB 8~ SEMOGA BENAR KAMU ADALAH ANAKKU
9
BAB 9~ APA PAPA AKAN MEMAAFKAN AKU?
10
BAB 10~ TAK SABAR INGIN MELIHAT HASIL DNA
11
BAB 11~ MEMENUHI UNDANGAN CALON BESAN
12
BAB 12~ AKAN MEMPERMALUKAN KAMU!
13
BAB 13~ SEPERTI ANAK TIRI
14
BAB 14~ PERMAINAN SEGERA DIMULAI
15
BAB 15~ TUNGGU PAPA, NAK
16
BAB 16~ SUDAH WAKTUNYA MELUPAKAN KEJADIAN KELAM ITU
17
BAB 17~ APA GAK SEBAIKNYA DIUNDUR SAJA?
18
BAB 18~ DEMI CALON PAPANYA LAURA
19
BAB 19~ CINTA?
20
BAB 20~ SAYA BERSEDIA
21
BAB 21~ LEPASKAN CALON ISTRI SAYA!
22
BAB 22~ INI SEMUA BELUM BERAKHIR!
23
BAB 23~ DIA AKAN KEMBALI AKU DAPATKAN!
24
BAB 24~ AKU AKAN MENUNGGU SAMPAI KAMU SIAP
25
BAB 25~ SEMOGA KAMU TIDAK KECEWA
26
BAB 26~ AKU YANG AKAN MENGGANTIKAN TUGASMU
27
BAB 27~ MAAFKAN PAPA YANG SUDAH MENGABAIKAN MU
28
BAB 28~ UNBOXING BARANG BELANJAAN
29
BAB 29~ RESEPSI PERNIKAHAN
30
BAB 30~ LAURA JATUH
31
BAB 31~ PERASAAN APA INI?
32
BAB 32~ KAMU MASIH...?
33
INFO
34
BAB 33~ SIAPA SEBENARNYA ORANG TUA LAURA?
35
BAB 34~ TENTANG LAURA
36
BAB 35~ BUKTI KEJAHATAN INDRI
37
BAB 36~ DIA MELARIKAN DIRI
38
BAB 37~ HANYA INI YANG BISA PAPA LAKUKAN
39
BAB 38~ CARI BUKTI
40
BAB 39~ KENAPA HARUS AKU?
41
BAB 40~ KAMU JATUH CINTA PADAKU?
42
BAB 41~ HARUS MEMPERTANGGUNG JAWABKAN PERBUATANNYA!
43
BAB 42~ SUDAH TERTANGKAP
44
BAB 43~ PENYEBAB HUBUNGANNYA BERAKHIR
45
BAB 44~ KE BANDARA
46
BAB 45~ PUAS KAMU SEKARANG?"
47
BAB 46~ MASIH DALAM PROSES
48
BAB 47~ TIBA-TIBA PEDULI
49
BAB 48~ KENYATAAN PAHIT
50
BAB 49~ TIDAK BISA MEMBIARKANNYA PERGI
51
BAB 50~ JANGAN SAKITI MEREKA!
52
BAB 51~ APA MAKSUD MAMA?
53
BAB 52~ KAMU SUDAH GILA!
54
BAB 53~ MENGELABUHI
55
BAB 54~ JAWAB, PA!
56
BAB 55~ FLASHBACK
57
BAB 56~ TERTEMBAK
58
BAB 57~ TERPUKUL
59
BAB 58~ MENCARI PENDONOR
60
BAB 59~ BUNNY?
61
BAB 60~ KARENA AKU MENCINTAIMU
62
BAB 61~ NGAMBEK!
63
BAB 62~ SEHARUSNYA BERTERIMA KASIH
64
BAB 63~ GARA-GARA KAMU
65
BAB 64~ DIABAIKAN
66
BAB 65~ MASIH ADA AKU SUAMIMU
67
BAB 66~ TANGANMU KENAPA?
68
BAB 67~ MARAH SAMA KAMU!
69
BAB 68~ TIDAK INGIN DIGANGGU
70
BAB 69~ KENAPA MALAH MENYUSUL?
71
BAB 70~ REWEL DI SAAT YANG TIDAK TEPAT
72
BAB 71~ MEMILIH GAUN
73
BAB 72~ SEPERTI NAMANYA
74
BAB 73~ MIE SEAFOOD
75
BAB 74~ HARUS ADIL
76
BAB 75~ TERLALU CANTIK
77
BAB 76~ MEMULAI PERTUNJUKAN
78
BAB 77~ KITA IMPAS
79
BAB 78~ ANDAI LAURA MASIH ADA
80
BAB 79~ KENAPA TIDAK KITA WUJUDKAN SAJA?
81
BAB 80~ BERUSAHA MENJALIN KEDEKATAN
82
BAB 81~ SEPERTINYA ANDA SANGAT PENASARAN
83
BAB 82. KENAPA TIDAK BERCERMIN PADA MASA LALU
84
BAB 83~ AKAN DICERAIKAN
85
BAB 84~ ZIARAH
86
BAB 85~ DUA KALI KEHILANGAN
87
BAB 86~ PULANG
88
BAB 87.
89
BAB 88.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!