BAB 14~ PERMAINAN SEGERA DIMULAI

"Selamat datang di rumah kami. Senang sekali Pak Azka dan Bu Kinan sudi menerima undangan makan malam dari kami," ucap papa Haris tersenyum ramah.

"Terima kasih, kami juga merasa senang dan merasa sangat terhormat mendapati undangan makan malam ini," balas papa Azka seraya menyambut uluran tangan pak Haris, lalu mengatupkan kedua tangannya di depan dada sebagai salam untuk bu Ratih.

Hal yang sama pun dilakukan mama Kinan terhadap pak Haris. Sementara mama Ratih tanpa canggung langsung memeluk mama Kinan sambil cipika cipiki.

"Oh ya, Vano kenapa tidak turun dari mobil?" tanya mama Ratih kemudian setelah mengurai pelukannya.

"Maaf, anak kami tidak bisa datang malam ini. Kebetulan ada urusan penting yang tidak bisa ditunda. Tapi lain kali pasti akan datang," jawab papa Azka.

Mama ratih melirik suaminya, tampak sekali gurat kecewa di wajahnya.

"Ah, gak apa-apa, Pak Azka." Papa Haris tersenyum. "Mari masuk," ajaknya.

Mama Kinan tersenyum dan mengangguk, kemudian merangkul lengan suaminya. Mengikuti langkah pak Haris dan bu Ratih masuk ke rumah yang menuntun mereka langsung ke ruang makan.

"Ma, panggil Indri," bisik papa Haris pada istrinya.

"Iya, Pa." Mama Ratih pun berpamitan sebentar pada mama Kinan dan papa Azka, kemudian segera menuju kamar Indri. Putrinya itu baru selesai berganti pakaian dan membenahi penampilannya saat ia masuk.

"Indri cepat, orangtuanya Vano sudah datang."

Indri berbalik menatap mamanya dan tersenyum lebar. "Aku sudah selesai, Ma. Ayo kita temui mereka sekarang," ajaknya begitu antusias.

"Tapi Ndr, Vano gak datang. Katanya ada urusan penting yang gak bisa ditinggal."

Senyum Indri perlahan pudar, jelas saja ia kecewa Vano tidak datang. Ia sudah berdandan secantik mungkin untuk pria itu. ''Tapi, gak apa-apa. Kata orang kan, sebelum mendekati anaknya, dekati dulu orangtuanya," gumamnya dalam hati.

Indri pun segera mengajak sang mama keluar kamar. Begitu tiba di ruang tamu, ia tersenyum ramah pada kedua orang tua Vano kemudian mencium punggung tangannya bergantian.

"Ini anak kami Indri. Pasti Vano sudah pernah cerita, kan?" ucap mama Ratih.

Papa Azka mengangguk. "Iya, Vano sudah cerita tentang Indri. Dan saya kagum dengan kinerjanya."

"Terima kasih, Om," ucap Indri, senang mendengar pujian itu.

"Cantik, Pa. Tapi ... Mama sedikit kurang suka sama penampilannya," bisik mama Kinan pada suaminya. Ia menilai cara berpakaian Indri sedikit terbuka. Hal yang sangat ia larang keras terhadap Vani, putri satu-satunya. Setidaknya jika tidak berhijab, jangan terlalu memamerkan bentuk tubuh.

Papa Azka hanya menanggapi bisikan istrinya dengan senyuman sambil mengusap punggung tangannya.

"Oh ya, dimana anak Pak Haris yang satunya?" tanya papa Azka, tadi ia melihat foto keluarga saat melintas ruang tengah. Di dalam foto itu Indri berdiri di sisi bu Ratih, dan seorang wanita seusia Indri berdiri di sisi pak Haris yang sudah pasti adalah Cinta.

Mama Ratih melirik suaminya, memberi kode dengan gelengan pelan sebagai isyarat biar dia saja yang menjawab.

"Ah iya, Indri punya Kakak, namanya Cinta. Tapi dia lagi gak bisa ikut gabung makan malam bersama kita. Anaknya lagi kurang sehat dan baru pulang dari rumah sakit tadi siang," ucap mama Ratih.

"Oh begitu. Lalu, suaminya kemana, kenapa gak kelihatan?" Kali ini mama Kinan yang bertanya.

Papa Haris menundukkan pandangan, membiarkan istrinya yang menjawab.

"Cinta memiliki nasib yang kurang beruntung. Dia ditinggal suaminya dan gak tahu kemana. Kasihan, padahal anaknya masih kecil." Mama Ratih memasang ekspresi sedih yang membuat mama Kinan merasa bersalah telah menanyakan hal tersebut.

"Saya turut prihatin. Dan maaf, saya gak bermaksud untuk membuat Bu Ratih jadi sedih."

"Gak apa-apa, Bu. Saya memang suka sedih kalau ingat nasibnya Cinta. Walaupun dia itu bukan anak kandung saya, tapi saya sangat menyayangi dia sama seperti Indri. Saya yang merawatnya sejak usianya 12 tahun, dan sudah saya anggap seperti anak kandung sendiri."

Indri langsung mengangguk membenarkan ucapan mamanya. Sedangkan papa Haris memilih diam membiarkan istrinya yang berbicara.

"Mulia sekali hati Bu Ratih. Jarang sekali ada Ibu sambung yang bisa menyayangi anak sambungnya dengan begitu tulusnya," puji mama Kinan.

"Terima kasih atas pujiannya, Bu Kinan."

Papa Azka tampak mecebikkan bibirnya mendengar setiap kata yang terlontar dari bibir bu Ratih yang terdengar memuakan di telinganya.

Makan malam berlangsung dengan khidmat. Setelahnya mereka berpindah ruang tengah dan melanjutkan obrolan. Dimulai dengan basa-basi tentang kerjasama antara dua perusahaan. Lalu, pembicaraan mulai masuk ke inti dari tujuan undangan makan malam tersebut.

"Kita sudah sama-sama mendengar bagaimana hubungan kerjasama antar perusahaan kita yang masing-masing dipimpin oleh anak-anak kita. Jadi begini, Pak Azka. Jika tidak keberatan, saya ingin menjalin hubungan yang lebih erat lagi selain hanya hubungan kerjasama perusahaan."

Papa Azka tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan pak Haris. "Kalau saya sendiri, sebenarnya tertarik dengan salah satu anak Pak Haris untuk dijadikan menantu," ucapnya sengaja tidak menyebutkan nama.

Indri seketika mengembangkan senyum sebab yakin dirinyalah yang dimaksud. Tidak mungkin Cinta yang sudah memiliki anak. Keluarga terpandang seperti keluarga Vano tidak akan mau mempunyai menantu yang bukan lagi seorang gadis.

"Kalau begitu cocok, kebetulan Indri juga tidak sedang dekat dengan laki-laki manapun. Jadi kita tidak perlu menunda-nunda hal yang baik ini," ucap mama Ratih begitu antusias.

"Pasti, tapi saya perlu membahas lagi mengenai hal ini pada anak saya," kata papa Azka.

"Baik, Pak Azka. Kami bisa menunggu." Mama Ratih tersenyum, ia melirik Indri yang tampak tersipu malu.

"Oh ya, sebelum pulang, kami ingin bertemu dengan Cinta dan anaknya. Apa boleh?" tanya papa Azka.

Papa Haris langsung melirik istrinya yang tampak keberatan, tapi ia tidak mungkin tidak mengizinkan pak Azka dan bu Kinan untuk bertemu Cinta dan Laura. Mereka akan berpikir yang tidak-tidak jika ia melarang.

"Tentu saja boleh, Pak Azka. Mari, saya antar ke kamarnya." Papa Haris pun bwrbwnak dari tempat duduknya. Pun dengan papa Azka dan mama Kinan dan langsung mengikuti langkah pak Haris.

"Ma, Papa kenapa sih membiarkan orang tuanya Vano ketemu Cinta!"

"Udah, biarin aja. Mereka cuma mau silahturahmi aja, gak mungkin bakal tertarik sama Cinta yang sudah punya anak. Keluarga Vano gak akan mau punya menantu seperti Cinta."

Ucapan sang mama mampu membuat Indri sedikit lebih tenang.

Sementara itu, Cinta yang sedang duduk melamun di samping Laura yang telah tidur. Tersentak kaget ketika mendengar ketukan di balik pintu kamarnya ya disusul oleh suara sang papa memanggilnya. Ia pun menajamkan pendengarannya, memastikan ia tidak salah dengar. Sebab sejak kehadiran Laura, papanya tidak pernah lagi mendatangi kamarnya.

"Cinta, apa kamu sudah tidur? Ada yang ingin bertemu kamu." Papa Haris kembali mengetuk.

"Sudah, Pak. Sepertinya dia sudah tidur," ucap papa Azka. Sepertinya malam ini ia belum bisa mempertemukan istrinya dengan Cinta. Padahal, itu tujuan awalnya datang.

"Sepertinya begitu, Pak Azka. Beberapa hari ini dia memang terlihat cukup lelah merawat anaknya yang sedang sakit," kata papa Haris.

"Baiklah, kami bisa bertemu Cinta lain kali. Kalau begitu, kami pamit pulang dulu."

"Mari, saya antar ke depan."

Mereka hendak berbalik pergi ketika pintu kamar Cinta tiba-tiba terbuka. Mama Kinan seketika terpaku pada sosok wanita yang berdiri di ambang pintu. Selain cantik, pembawaannya juga terlihat lemah lembut. Ia bisa melihat itu dari aura wajah dan sorot matanya.

"Papa kira kamu sudah tidur. Ini, ada Om Azka dan Tante Kinan mau bertemu kamu dan Laura," kata papa Haris.

Cinta pun tersenyum ramah pada sepasang suami istri itu. "Selamat malam Om, Tante," sapanya. Jadi, ini tamu spesial untuk dimaksud Indri tadi. Mungkinkah orang tua dari laki-laki yang hendak meminang Indri, batinnya.

"Katanya anakmu sedang sakit, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya mama Kinan.

"Alhamdulillah sudah membaik, Tante," jawab Cinta.

"Boleh kami lihat sebentar?"

"Boleh, Tante. Silahkan." Cinta pun membuka lebar pintu kamarnya, kemudian mempersilahkan mama Kinan dan papa Azka untuk masuk. Sebelum menyusul masuk, ia melirik sekilas papanya yang hanya berdiri di luar. Setidak sudi itukah papanya untuk sekedar melihat Laura.

"Perempuan rupanya. Duh, gemes banget, Pa. Sayang lagi tidur, coba enggak pengen cubit pipinya." Saking gemasnya, mama Kinan sampai tak sadar mencubit lengan suaminya.

"Mama!" Papa Azka meringis, membuat Cinta menutup bibirnya rapat menahan tawa.

"Maaf, Pa. Habisnya gemes banget." Mama Kinan mengusap lengan suaminya. Ia pun beralih menatap Cinta. "Oh ya, tadi Mama kamu sedikit cerita tentang kamu. Kamu yang sabar ya, laki-laki seperti itu gak usah dipikirkan lagi. Lebih baik cari yang lain yang lebih bertanggung jawab."

Cinta mengerutkan keningnya. Sepertinya mama Ratih mengarang cerita tentangnya. "Iya, Tante. Terima kasih atas empatinya."

.

.

.

"Bagaimana menurut Mama tentang kedua anak Pak Haris tadi?" tanya papa Azka. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang.

"Kalau si Indri cantik, sih. Tapi jujur, Mama kurang suka cara berpakaiannya, agak terbuka gitu. Beda dengan Cinta, selain cantik auranya juga kalem banget. Adem gitu ngelihatin nya. Tapi sudahlah, Mama tetap harus terima Indri karena itu yang sudah menjadi pilihan Vano. Walaupun sebenarnya Mama lebih suka sama Cinta, tapi Vano juga gak mungkin mau sama perempuan yang sudah punya anak."

Papa Azka tersenyum mendengar ucapan istrinya. Meski mama Kinan belum tahu kebenaran tentang Cinta, tapi ia merasa lega sebab sang istri lebih condong pada Cinta daripada Indri. Sekarang ia hanya berharap, semoga istrinya tidak akan syok berat setelah mengetahui kebenarannya.

Setibanya di rumah, mama Kinan langsung menuju kamar untuk membersihkan diri. Sementara papa Azka memilih menemui putranya terlebih dahulu untuk menceritakan pembicaraan mereka di rumah pak Haris tadi. Yang mana, pak Haris mengira yang ia maksud lebih tertarik untuk dijadikan menantu adalah Indri.

"Permainan segera dimulai. Lihat saja, Indri. Sekarang bukan aku yang akan mempermalukan kamu, tapi kamu yang akan mempermalukan dirimu sendiri." Vano menarik sudut bibirnya membentuk seringai tipis.

Terpopuler

Comments

Nanik Arifin

Nanik Arifin

Indri & Ratih terlalu kepedean. cukup Haris aj yg buta, yg lain g.
Indri anak tiri Haris kan ? siapa ayah Indri ? melihat kelakuan Indri & Ratih, jadi curiga, jangan jangan.... Indri anak Haram, bahkan tak diketahui ayahnya Krn gaya hidup yg Ratih pilih. klo iya, ketika ngatain Laura anak Haram, gi ngatain diri sendiri dong... jari telunjuk mengarah ke Laura, jari yg lain mengarah ke diri sendiri

2025-01-22

1

Salim S

Salim S

penasaran apa yg bakal di lakukan vano sama s ulet keket yah...sepertinya yang ngejebak cinta waktu di luar kota itu emak tirinya deh biar papa nya cinta marah sama cinta dan mengusirnya...

2025-01-22

1

amilia amel

amilia amel

gak sabar nunggu permainan yang bakal dimainkan sama Vano dan keluarganya....
mama kinan, memang cinta itu calon mantumu
bahkan mama cinta dah langsung jatuh hati sama cinta karena kecantikan dan aura lemah lembutnya, dan yang digemesin sama mama kinan bakalan jadi cucu kesayangannya

2025-01-22

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1~ CINTA ADALAH ORANG YANG AKU CARI
2 BAB 2~ BUKANNYA KAMU BELUM MENIKAH?
3 BAB 3~ KAMU ADALAH PENYEMANGAT MAMA
4 BAB 4~ MEMINTA WAKTU 1 BULAN
5 BAB 5~ DUPLIKAT CABE SETAN
6 BAB 6~ KASIHAN SEKALI NON CINTA
7 BAB 7~ AKAN KU BUAT KAU MENYESAL
8 BAB 8~ SEMOGA BENAR KAMU ADALAH ANAKKU
9 BAB 9~ APA PAPA AKAN MEMAAFKAN AKU?
10 BAB 10~ TAK SABAR INGIN MELIHAT HASIL DNA
11 BAB 11~ MEMENUHI UNDANGAN CALON BESAN
12 BAB 12~ AKAN MEMPERMALUKAN KAMU!
13 BAB 13~ SEPERTI ANAK TIRI
14 BAB 14~ PERMAINAN SEGERA DIMULAI
15 BAB 15~ TUNGGU PAPA, NAK
16 BAB 16~ SUDAH WAKTUNYA MELUPAKAN KEJADIAN KELAM ITU
17 BAB 17~ APA GAK SEBAIKNYA DIUNDUR SAJA?
18 BAB 18~ DEMI CALON PAPANYA LAURA
19 BAB 19~ CINTA?
20 BAB 20~ SAYA BERSEDIA
21 BAB 21~ LEPASKAN CALON ISTRI SAYA!
22 BAB 22~ INI SEMUA BELUM BERAKHIR!
23 BAB 23~ DIA AKAN KEMBALI AKU DAPATKAN!
24 BAB 24~ AKU AKAN MENUNGGU SAMPAI KAMU SIAP
25 BAB 25~ SEMOGA KAMU TIDAK KECEWA
26 BAB 26~ AKU YANG AKAN MENGGANTIKAN TUGASMU
27 BAB 27~ MAAFKAN PAPA YANG SUDAH MENGABAIKAN MU
28 BAB 28~ UNBOXING BARANG BELANJAAN
29 BAB 29~ RESEPSI PERNIKAHAN
30 BAB 30~ LAURA JATUH
31 BAB 31~ PERASAAN APA INI?
32 BAB 32~ KAMU MASIH...?
33 INFO
34 BAB 33~ SIAPA SEBENARNYA ORANG TUA LAURA?
35 BAB 34~ TENTANG LAURA
36 BAB 35~ BUKTI KEJAHATAN INDRI
37 BAB 36~ DIA MELARIKAN DIRI
38 BAB 37~ HANYA INI YANG BISA PAPA LAKUKAN
39 BAB 38~ CARI BUKTI
40 BAB 39~ KENAPA HARUS AKU?
41 BAB 40~ KAMU JATUH CINTA PADAKU?
42 BAB 41~ HARUS MEMPERTANGGUNG JAWABKAN PERBUATANNYA!
43 BAB 42~ SUDAH TERTANGKAP
44 BAB 43~ PENYEBAB HUBUNGANNYA BERAKHIR
45 BAB 44~ KE BANDARA
46 BAB 45~ PUAS KAMU SEKARANG?"
47 BAB 46~ MASIH DALAM PROSES
48 BAB 47~ TIBA-TIBA PEDULI
49 BAB 48~ KENYATAAN PAHIT
50 BAB 49~ TIDAK BISA MEMBIARKANNYA PERGI
51 BAB 50~ JANGAN SAKITI MEREKA!
52 BAB 51~ APA MAKSUD MAMA?
53 BAB 52~ KAMU SUDAH GILA!
54 BAB 53~ MENGELABUHI
55 BAB 54~ JAWAB, PA!
56 BAB 55~ FLASHBACK
57 BAB 56~ TERTEMBAK
58 BAB 57~ TERPUKUL
59 BAB 58~ MENCARI PENDONOR
60 BAB 59~ BUNNY?
61 BAB 60~ KARENA AKU MENCINTAIMU
62 BAB 61~ NGAMBEK!
63 BAB 62~ SEHARUSNYA BERTERIMA KASIH
64 BAB 63~ GARA-GARA KAMU
65 BAB 64~ DIABAIKAN
66 BAB 65~ MASIH ADA AKU SUAMIMU
67 BAB 66~ TANGANMU KENAPA?
68 BAB 67~ MARAH SAMA KAMU!
69 BAB 68~ TIDAK INGIN DIGANGGU
70 BAB 69~ KENAPA MALAH MENYUSUL?
71 BAB 70~ REWEL DI SAAT YANG TIDAK TEPAT
72 BAB 71~ MEMILIH GAUN
73 BAB 72~ SEPERTI NAMANYA
74 BAB 73~ MIE SEAFOOD
75 BAB 74~ HARUS ADIL
76 BAB 75~ TERLALU CANTIK
77 BAB 76~ MEMULAI PERTUNJUKAN
78 BAB 77~ KITA IMPAS
79 BAB 78~ ANDAI LAURA MASIH ADA
80 BAB 79~ KENAPA TIDAK KITA WUJUDKAN SAJA?
81 BAB 80~ BERUSAHA MENJALIN KEDEKATAN
82 BAB 81~ SEPERTINYA ANDA SANGAT PENASARAN
83 BAB 82. KENAPA TIDAK BERCERMIN PADA MASA LALU
84 BAB 83~ AKAN DICERAIKAN
85 BAB 84~ ZIARAH
86 BAB 85~ DUA KALI KEHILANGAN
87 BAB 86~ PULANG
88 BAB 87.
89 BAB 88.
Episodes

Updated 89 Episodes

1
BAB 1~ CINTA ADALAH ORANG YANG AKU CARI
2
BAB 2~ BUKANNYA KAMU BELUM MENIKAH?
3
BAB 3~ KAMU ADALAH PENYEMANGAT MAMA
4
BAB 4~ MEMINTA WAKTU 1 BULAN
5
BAB 5~ DUPLIKAT CABE SETAN
6
BAB 6~ KASIHAN SEKALI NON CINTA
7
BAB 7~ AKAN KU BUAT KAU MENYESAL
8
BAB 8~ SEMOGA BENAR KAMU ADALAH ANAKKU
9
BAB 9~ APA PAPA AKAN MEMAAFKAN AKU?
10
BAB 10~ TAK SABAR INGIN MELIHAT HASIL DNA
11
BAB 11~ MEMENUHI UNDANGAN CALON BESAN
12
BAB 12~ AKAN MEMPERMALUKAN KAMU!
13
BAB 13~ SEPERTI ANAK TIRI
14
BAB 14~ PERMAINAN SEGERA DIMULAI
15
BAB 15~ TUNGGU PAPA, NAK
16
BAB 16~ SUDAH WAKTUNYA MELUPAKAN KEJADIAN KELAM ITU
17
BAB 17~ APA GAK SEBAIKNYA DIUNDUR SAJA?
18
BAB 18~ DEMI CALON PAPANYA LAURA
19
BAB 19~ CINTA?
20
BAB 20~ SAYA BERSEDIA
21
BAB 21~ LEPASKAN CALON ISTRI SAYA!
22
BAB 22~ INI SEMUA BELUM BERAKHIR!
23
BAB 23~ DIA AKAN KEMBALI AKU DAPATKAN!
24
BAB 24~ AKU AKAN MENUNGGU SAMPAI KAMU SIAP
25
BAB 25~ SEMOGA KAMU TIDAK KECEWA
26
BAB 26~ AKU YANG AKAN MENGGANTIKAN TUGASMU
27
BAB 27~ MAAFKAN PAPA YANG SUDAH MENGABAIKAN MU
28
BAB 28~ UNBOXING BARANG BELANJAAN
29
BAB 29~ RESEPSI PERNIKAHAN
30
BAB 30~ LAURA JATUH
31
BAB 31~ PERASAAN APA INI?
32
BAB 32~ KAMU MASIH...?
33
INFO
34
BAB 33~ SIAPA SEBENARNYA ORANG TUA LAURA?
35
BAB 34~ TENTANG LAURA
36
BAB 35~ BUKTI KEJAHATAN INDRI
37
BAB 36~ DIA MELARIKAN DIRI
38
BAB 37~ HANYA INI YANG BISA PAPA LAKUKAN
39
BAB 38~ CARI BUKTI
40
BAB 39~ KENAPA HARUS AKU?
41
BAB 40~ KAMU JATUH CINTA PADAKU?
42
BAB 41~ HARUS MEMPERTANGGUNG JAWABKAN PERBUATANNYA!
43
BAB 42~ SUDAH TERTANGKAP
44
BAB 43~ PENYEBAB HUBUNGANNYA BERAKHIR
45
BAB 44~ KE BANDARA
46
BAB 45~ PUAS KAMU SEKARANG?"
47
BAB 46~ MASIH DALAM PROSES
48
BAB 47~ TIBA-TIBA PEDULI
49
BAB 48~ KENYATAAN PAHIT
50
BAB 49~ TIDAK BISA MEMBIARKANNYA PERGI
51
BAB 50~ JANGAN SAKITI MEREKA!
52
BAB 51~ APA MAKSUD MAMA?
53
BAB 52~ KAMU SUDAH GILA!
54
BAB 53~ MENGELABUHI
55
BAB 54~ JAWAB, PA!
56
BAB 55~ FLASHBACK
57
BAB 56~ TERTEMBAK
58
BAB 57~ TERPUKUL
59
BAB 58~ MENCARI PENDONOR
60
BAB 59~ BUNNY?
61
BAB 60~ KARENA AKU MENCINTAIMU
62
BAB 61~ NGAMBEK!
63
BAB 62~ SEHARUSNYA BERTERIMA KASIH
64
BAB 63~ GARA-GARA KAMU
65
BAB 64~ DIABAIKAN
66
BAB 65~ MASIH ADA AKU SUAMIMU
67
BAB 66~ TANGANMU KENAPA?
68
BAB 67~ MARAH SAMA KAMU!
69
BAB 68~ TIDAK INGIN DIGANGGU
70
BAB 69~ KENAPA MALAH MENYUSUL?
71
BAB 70~ REWEL DI SAAT YANG TIDAK TEPAT
72
BAB 71~ MEMILIH GAUN
73
BAB 72~ SEPERTI NAMANYA
74
BAB 73~ MIE SEAFOOD
75
BAB 74~ HARUS ADIL
76
BAB 75~ TERLALU CANTIK
77
BAB 76~ MEMULAI PERTUNJUKAN
78
BAB 77~ KITA IMPAS
79
BAB 78~ ANDAI LAURA MASIH ADA
80
BAB 79~ KENAPA TIDAK KITA WUJUDKAN SAJA?
81
BAB 80~ BERUSAHA MENJALIN KEDEKATAN
82
BAB 81~ SEPERTINYA ANDA SANGAT PENASARAN
83
BAB 82. KENAPA TIDAK BERCERMIN PADA MASA LALU
84
BAB 83~ AKAN DICERAIKAN
85
BAB 84~ ZIARAH
86
BAB 85~ DUA KALI KEHILANGAN
87
BAB 86~ PULANG
88
BAB 87.
89
BAB 88.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!