BAB 9~ APA PAPA AKAN MEMAAFKAN AKU?

"Papa gak ada niat mau jenguk anaknya Cinta di rumah sakit?" tanya mama Ratih yang tengah makan siang bersama anak dan suaminya. Sejak kedatangan Laura, meja makan hanya diisi mereka bertiga. Sedang Cinta tak diizinkan untuk bergabung bersama mereka lagi. Kalau tidak membawa makanannya ke kamar, Cinta akan makan bersama mbok Darmi di dapur.

Papa Haris melirik istrinya itu sekilas, lalu kembali fokus pada makanannya. "Enggak," jawabnya datar.

"Memangnya, anaknya Cinta kenapa, Ma?" Indri menatap mamanya. Semalam ia pulang larut, dan sejak bangun memang tidak melihat Cinta dan anaknya. Ia pikir mereka jalan-jalan di sekitar komplek sebab ini hari libur.

"Kena diare, di rawat sejak kemarin siang," jawab mama Ratih.

"Oh." Indri pun kembali menyantap makanannya.

Papa haris makan dengan tampak melamun tanpa disadari oleh istri dan anak tirinya. Setelah makanannya habis, ia pun meninggalkan ruang makan dan langsung menuju ruang tengah. Mengeluarkan ponsel dari saku celana lalu menghubungi seseorang.

Sementara itu di ruang makan. Indri dan mama Ratih tak langsung meninggalkan ruang makan meski mereka juga sudah selesai makan. Keduanya mengobrol membahas tentang Cinta.

"Kenapa sih, Papa gak mengusir aja dia dari rumah? Apa lagi yang bisa Papa banggakan dengan anak yang jelas-jelas sudah membuat muka Papa tercoreng dengan punya anak tanpa suami. Menarik semua fasilitas dan mencabut haknya saja itu belum cukup untuk memberi dia pelajaran. Seharusnya di usir juga dari rumah!"

"Sabar, Indri. Ada masanya nanti Cinta dan anaknya juga akan angkat kaki di rumah ini, kita tinggal tunggu saja waktunya. Sekarang, setidaknya Papa tidak mempedulikan dia lagi itu sudah cukup memuaskan." Mama Ratih menggenggam tangan anaknya.

"Tapi aku khawatir Papa akan luluh lagi sama dia, Ma. Apalagi setiap hari melihat Laura, dia itu menggemaskan sekali, bisa-bisa Papa tergoda sama anak itu dan mau menerimanya. Aku gak mau Cinta sampai kembali ke posisinya pemimpin perusahaan." Indri tampak geram seiring sebelah tangannya terkepal.

"Itu gak akan terjadi. Mama sendiri yang akan memastikan itu." Mama Ratih berusaha menenangkan anaknya.

"Ya, Mama harus memastikan itu. Jika tidak, kita berdua hanya akan menjadi pajangan di rumah ini." Indri lalu beranjak dari tempat duduknya. "Aku mau temui Papa dulu, ada yang mau aku bicarakan sama Papa," ucapnya lalu mengayun langkah meninggalkan ruang makan.

Papa Haris buru-buru menutup telepon ketika melihat kedatangan Indri. Ia meletakkan ponsel di atas meja, tersenyum pada anak tirinya itu.

"Papa lagi telpon sama siapa?" tanya Indri seraya duduk di samping papa Haris.

"Sama teman. Ngobrol, biasalah udah lama gak ketemu," jawab papa Haris.

"Oh." Indri terdiam sejenak, memikirkan kalimat yang tepat untuk ia sampaikan pada papa Haris.

"Aku sudah pernah cerita, kan, sama Papa, tentang Vano yang sudah hampir dua tahun ini menjalin kerjasama dengan perusahaan kita?"

Papa Haris mengangguk. "Hem, kenapa dengan dia? Apa cara kerjanya tidak profesional?" Papa Haris balik bertanya.

"Enggak, Pa, bukan begitu. Dia sangat profesional, kok."

"Terus, ada apa dengan dia?"

"Vano itu ternyata masih lajang, Pa. Dan ... aku tertarik sama dia." Indri menatap papa Haris dengan penuh harap. Ia yakin sang papa sudah bisa menebak apa keinginannya.

Papa Haris menarik sudut bibirnya tersenyum tipis. "Jadi, apa yang harus Papa lakukan?" tanyanya.

"Em, mungkin Papa bisa dekat dengan orangtuanya Vano terlebih dahulu. Dan... ."

"Oke, Papa paham." Papa Haris tersenyum sambil menggenggam sebelah tangan Indri. "Nanti Papa usahakan, ya."

Indri seketika tersenyum lebar, merasa sangat senang mendapat dukungan dari sang papa. "Terima kasih, Pa. Papa memang yang terbaik." Ia memeluk lengan papanya.

Papa Haris hanya menanggapinya dengan senyuman.

Sementara itu di rumah sakit...

Cinta sudah beberapa kali menghubungi nomor Sean, namun tak ada jawaban. Ia ingin mengucapkan terima kasih karena sudah memindahkan putrinya ke kamar rawat VIP, sekaligus ingin meminta izin untuk tidak masuk kerja selama beberapa hari.

"Kok gak diangkat ya?"

"Gak bakal diangkat. Bos lagi sibuk membujuk pacarnya yang lagi ngambek," kata Vano tanpa melihat kearah Cinta. Pandangannya terus tertuju pada Laura yang tertidur. Semakin ia perhatikan, ia merasa ada kemiripan diantara mereka. Bentuk alis Laura serta hidung dan bibirnya sama persis sepertinya. Mereka berdua juga memiliki lesung pipi. Apakah Cinta tidak menyadari itu?

"Kamu tahu darimana? Memangnya Bos kasih tahu kamu?" tanya Cinta.

"Hem, tadi aku telepon minta Izin gak masuk. Nanti masuk kerjanya bareng kamu aja."

"Huh?" Cinta tercengang. "Stev, jangan bercanda. Kamu bisa dipecat nanti!"

Vano mengulum senyum. "Gak akan di pecat. Tenang aja." Ia beralih menatap Cinta.

"Stev, please kamu masuk kerja. Aku gak mau karena aku, kamu sampai di pecat." Cinta menatap penuh permohonan.

Vano terkekeh. "Iya iya, besok aku masuk kerja. Oh ya, aku pamit pulang ya. Nanti malam aku balik kesini lagi."

"Ok, tapi gak usah nginap. Kamu sudah disini semalaman."

Vano terpaksa mengiyakan. Tapi lihat saja nanti malam, ia tetap akan menginap. Terlalu sayang untuk melewatkan kebersamaan dengan Laura. Jika nanti anak itu sudah diperbolehkan pulang, ia akan sulit untuk bertemu Laura lagi.

Setelah Vano pulang, Cinta merebahkan tubuhnya di bed khusus penunggu pasien. Ia lelah dan mengantuk, badannya juga terasa pegal-pegal sebab semalam tidur dengan posisi duduk. Bersyukur sekarang putrinya telah dipindahkan ke kamar VIP, ia pun bisa beristirahat dengan nyaman.

.

.

.

"Van," panggil papa Azka ketika putranya yang baru saja pulang, melintasi ruang tengah.

Vano berhenti melangkah dan menatap papanya. "Kenapa, Pa?" tanyanya.

"Kesini sebentar."

Vano mengangguk, ia pun menghampiri sang papa dan duduknya di sampingnya.

"Kamu belum mandi?" tanya papa Azka melihat memperhatikan pakaian putranya masih yang semalam.

"Iya, Pa." Vano tersenyum cengengesan.

"Sean gak kasih pinjam kamu baju?" tanya papa Azka lagi.

Vano menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Bingung harus menjawab apa.

Papa Azka menarik sudut bibirnya. "Sejak kapan kamu belajar berbohong? Papa sudah telpon Om Erick, dan dia bilang kamu gak menginap di rumahnya. Semalam Sean pulang sendirian."

Vano terdiam, tak tahu harus mengatakan apa.

"Van, kamu bukan anak kecil lagi. Gak masalah kalau kamu gak pulang. Tapi kenapa harus bohong? Mama kamu pasti kecewa kalau tahu kamu sudah membohonginya."

"Maaf, Pa." Hanya itu yang dapat dikatakan Vano.

"Kemana kamu semalaman?"

Vano pun memberanikan diri menatap sang papa. Ia tahu tidak akan bisa menyembunyikan masalahnya terlalu lama.

"Pa, andai aku melakukan kesalahan. Apa Papa akan memaafkan aku?"

"Tergantung, bagaimana cara kamu memperbaiki kesalahan itu."

...VISUAL ...

...SEAN _ MAURA _ INDRI ...

Terpopuler

Comments

amilia amel

amilia amel

kalo kamu gentleman mengakui kesalahan dan berusaha memperbaiki kesalahan pasti papa azka bakalan maafin kok

2025-01-19

4

Eva Karmita

Eva Karmita

mantap visual Sean Maura 😍😍👍 dan visual Indri memang cocok auranya judes 😂

2025-01-20

0

Adelia Rahma

Adelia Rahma

yang mana indri yg mana Naura

2025-01-20

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1~ CINTA ADALAH ORANG YANG AKU CARI
2 BAB 2~ BUKANNYA KAMU BELUM MENIKAH?
3 BAB 3~ KAMU ADALAH PENYEMANGAT MAMA
4 BAB 4~ MEMINTA WAKTU 1 BULAN
5 BAB 5~ DUPLIKAT CABE SETAN
6 BAB 6~ KASIHAN SEKALI NON CINTA
7 BAB 7~ AKAN KU BUAT KAU MENYESAL
8 BAB 8~ SEMOGA BENAR KAMU ADALAH ANAKKU
9 BAB 9~ APA PAPA AKAN MEMAAFKAN AKU?
10 BAB 10~ TAK SABAR INGIN MELIHAT HASIL DNA
11 BAB 11~ MEMENUHI UNDANGAN CALON BESAN
12 BAB 12~ AKAN MEMPERMALUKAN KAMU!
13 BAB 13~ SEPERTI ANAK TIRI
14 BAB 14~ PERMAINAN SEGERA DIMULAI
15 BAB 15~ TUNGGU PAPA, NAK
16 BAB 16~ SUDAH WAKTUNYA MELUPAKAN KEJADIAN KELAM ITU
17 BAB 17~ APA GAK SEBAIKNYA DIUNDUR SAJA?
18 BAB 18~ DEMI CALON PAPANYA LAURA
19 BAB 19~ CINTA?
20 BAB 20~ SAYA BERSEDIA
21 BAB 21~ LEPASKAN CALON ISTRI SAYA!
22 BAB 22~ INI SEMUA BELUM BERAKHIR!
23 BAB 23~ DIA AKAN KEMBALI AKU DAPATKAN!
24 BAB 24~ AKU AKAN MENUNGGU SAMPAI KAMU SIAP
25 BAB 25~ SEMOGA KAMU TIDAK KECEWA
26 BAB 26~ AKU YANG AKAN MENGGANTIKAN TUGASMU
27 BAB 27~ MAAFKAN PAPA YANG SUDAH MENGABAIKAN MU
28 BAB 28~ UNBOXING BARANG BELANJAAN
29 BAB 29~ RESEPSI PERNIKAHAN
30 BAB 30~ LAURA JATUH
31 BAB 31~ PERASAAN APA INI?
32 BAB 32~ KAMU MASIH...?
33 INFO
34 BAB 33~ SIAPA SEBENARNYA ORANG TUA LAURA?
35 BAB 34~ TENTANG LAURA
36 BAB 35~ BUKTI KEJAHATAN INDRI
37 BAB 36~ DIA MELARIKAN DIRI
38 BAB 37~ HANYA INI YANG BISA PAPA LAKUKAN
39 BAB 38~ CARI BUKTI
40 BAB 39~ KENAPA HARUS AKU?
41 BAB 40~ KAMU JATUH CINTA PADAKU?
42 BAB 41~ HARUS MEMPERTANGGUNG JAWABKAN PERBUATANNYA!
43 BAB 42~ SUDAH TERTANGKAP
44 BAB 43~ PENYEBAB HUBUNGANNYA BERAKHIR
45 BAB 44~ KE BANDARA
46 BAB 45~ PUAS KAMU SEKARANG?"
47 BAB 46~ MASIH DALAM PROSES
48 BAB 47~ TIBA-TIBA PEDULI
49 BAB 48~ KENYATAAN PAHIT
50 BAB 49~ TIDAK BISA MEMBIARKANNYA PERGI
51 BAB 50~ JANGAN SAKITI MEREKA!
52 BAB 51~ APA MAKSUD MAMA?
53 BAB 52~ KAMU SUDAH GILA!
54 BAB 53~ MENGELABUHI
55 BAB 54~ JAWAB, PA!
56 BAB 55~ FLASHBACK
57 BAB 56~ TERTEMBAK
58 BAB 57~ TERPUKUL
59 BAB 58~ MENCARI PENDONOR
60 BAB 59~ BUNNY?
61 BAB 60~ KARENA AKU MENCINTAIMU
62 BAB 61~ NGAMBEK!
63 BAB 62~ SEHARUSNYA BERTERIMA KASIH
64 BAB 63~ GARA-GARA KAMU
65 BAB 64~ DIABAIKAN
66 BAB 65~ MASIH ADA AKU SUAMIMU
67 BAB 66~ TANGANMU KENAPA?
68 BAB 67~ MARAH SAMA KAMU!
69 BAB 68~ TIDAK INGIN DIGANGGU
70 BAB 69~ KENAPA MALAH MENYUSUL?
71 BAB 70~ REWEL DI SAAT YANG TIDAK TEPAT
72 BAB 71~ MEMILIH GAUN
73 BAB 72~ SEPERTI NAMANYA
74 BAB 73~ MIE SEAFOOD
75 BAB 74~ HARUS ADIL
76 BAB 75~ TERLALU CANTIK
77 BAB 76~ MEMULAI PERTUNJUKAN
78 BAB 77~ KITA IMPAS
79 BAB 78~ ANDAI LAURA MASIH ADA
80 BAB 79~ KENAPA TIDAK KITA WUJUDKAN SAJA?
81 BAB 80~ BERUSAHA MENJALIN KEDEKATAN
82 BAB 81~ SEPERTINYA ANDA SANGAT PENASARAN
83 BAB 82. KENAPA TIDAK BERCERMIN PADA MASA LALU
84 BAB 83~ AKAN DICERAIKAN
85 BAB 84~ ZIARAH
86 BAB 85~ DUA KALI KEHILANGAN
87 BAB 86~ PULANG
88 BAB 87.
89 BAB 88.
Episodes

Updated 89 Episodes

1
BAB 1~ CINTA ADALAH ORANG YANG AKU CARI
2
BAB 2~ BUKANNYA KAMU BELUM MENIKAH?
3
BAB 3~ KAMU ADALAH PENYEMANGAT MAMA
4
BAB 4~ MEMINTA WAKTU 1 BULAN
5
BAB 5~ DUPLIKAT CABE SETAN
6
BAB 6~ KASIHAN SEKALI NON CINTA
7
BAB 7~ AKAN KU BUAT KAU MENYESAL
8
BAB 8~ SEMOGA BENAR KAMU ADALAH ANAKKU
9
BAB 9~ APA PAPA AKAN MEMAAFKAN AKU?
10
BAB 10~ TAK SABAR INGIN MELIHAT HASIL DNA
11
BAB 11~ MEMENUHI UNDANGAN CALON BESAN
12
BAB 12~ AKAN MEMPERMALUKAN KAMU!
13
BAB 13~ SEPERTI ANAK TIRI
14
BAB 14~ PERMAINAN SEGERA DIMULAI
15
BAB 15~ TUNGGU PAPA, NAK
16
BAB 16~ SUDAH WAKTUNYA MELUPAKAN KEJADIAN KELAM ITU
17
BAB 17~ APA GAK SEBAIKNYA DIUNDUR SAJA?
18
BAB 18~ DEMI CALON PAPANYA LAURA
19
BAB 19~ CINTA?
20
BAB 20~ SAYA BERSEDIA
21
BAB 21~ LEPASKAN CALON ISTRI SAYA!
22
BAB 22~ INI SEMUA BELUM BERAKHIR!
23
BAB 23~ DIA AKAN KEMBALI AKU DAPATKAN!
24
BAB 24~ AKU AKAN MENUNGGU SAMPAI KAMU SIAP
25
BAB 25~ SEMOGA KAMU TIDAK KECEWA
26
BAB 26~ AKU YANG AKAN MENGGANTIKAN TUGASMU
27
BAB 27~ MAAFKAN PAPA YANG SUDAH MENGABAIKAN MU
28
BAB 28~ UNBOXING BARANG BELANJAAN
29
BAB 29~ RESEPSI PERNIKAHAN
30
BAB 30~ LAURA JATUH
31
BAB 31~ PERASAAN APA INI?
32
BAB 32~ KAMU MASIH...?
33
INFO
34
BAB 33~ SIAPA SEBENARNYA ORANG TUA LAURA?
35
BAB 34~ TENTANG LAURA
36
BAB 35~ BUKTI KEJAHATAN INDRI
37
BAB 36~ DIA MELARIKAN DIRI
38
BAB 37~ HANYA INI YANG BISA PAPA LAKUKAN
39
BAB 38~ CARI BUKTI
40
BAB 39~ KENAPA HARUS AKU?
41
BAB 40~ KAMU JATUH CINTA PADAKU?
42
BAB 41~ HARUS MEMPERTANGGUNG JAWABKAN PERBUATANNYA!
43
BAB 42~ SUDAH TERTANGKAP
44
BAB 43~ PENYEBAB HUBUNGANNYA BERAKHIR
45
BAB 44~ KE BANDARA
46
BAB 45~ PUAS KAMU SEKARANG?"
47
BAB 46~ MASIH DALAM PROSES
48
BAB 47~ TIBA-TIBA PEDULI
49
BAB 48~ KENYATAAN PAHIT
50
BAB 49~ TIDAK BISA MEMBIARKANNYA PERGI
51
BAB 50~ JANGAN SAKITI MEREKA!
52
BAB 51~ APA MAKSUD MAMA?
53
BAB 52~ KAMU SUDAH GILA!
54
BAB 53~ MENGELABUHI
55
BAB 54~ JAWAB, PA!
56
BAB 55~ FLASHBACK
57
BAB 56~ TERTEMBAK
58
BAB 57~ TERPUKUL
59
BAB 58~ MENCARI PENDONOR
60
BAB 59~ BUNNY?
61
BAB 60~ KARENA AKU MENCINTAIMU
62
BAB 61~ NGAMBEK!
63
BAB 62~ SEHARUSNYA BERTERIMA KASIH
64
BAB 63~ GARA-GARA KAMU
65
BAB 64~ DIABAIKAN
66
BAB 65~ MASIH ADA AKU SUAMIMU
67
BAB 66~ TANGANMU KENAPA?
68
BAB 67~ MARAH SAMA KAMU!
69
BAB 68~ TIDAK INGIN DIGANGGU
70
BAB 69~ KENAPA MALAH MENYUSUL?
71
BAB 70~ REWEL DI SAAT YANG TIDAK TEPAT
72
BAB 71~ MEMILIH GAUN
73
BAB 72~ SEPERTI NAMANYA
74
BAB 73~ MIE SEAFOOD
75
BAB 74~ HARUS ADIL
76
BAB 75~ TERLALU CANTIK
77
BAB 76~ MEMULAI PERTUNJUKAN
78
BAB 77~ KITA IMPAS
79
BAB 78~ ANDAI LAURA MASIH ADA
80
BAB 79~ KENAPA TIDAK KITA WUJUDKAN SAJA?
81
BAB 80~ BERUSAHA MENJALIN KEDEKATAN
82
BAB 81~ SEPERTINYA ANDA SANGAT PENASARAN
83
BAB 82. KENAPA TIDAK BERCERMIN PADA MASA LALU
84
BAB 83~ AKAN DICERAIKAN
85
BAB 84~ ZIARAH
86
BAB 85~ DUA KALI KEHILANGAN
87
BAB 86~ PULANG
88
BAB 87.
89
BAB 88.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!