BAB 2~ BUKANNYA KAMU BELUM MENIKAH?

"Stev, itu untuk siapa?" tanya Cinta ketika Stev kembali meracik kopi. Padahal semua pelanggan telah mendapatkan kopi pesanan mereka.

"Untuk kita berdua," jawab Stev tanpa melihat lawan bicaranya. Setelah selesai ia menyodorkan secangkir kopi latte buatannya itu ke hadapan Cinta.

Cinta tersenyum menatap desain art berbentuk hati di atas permukaan latte. Namun, sesaat kemudian keningnya mengkerut begitu menyadari Stev hanya membuat satu kopi latte.

"Katanya untuk kita berdua, tapi kok cuma secangkir?" tanyanya.

"Nanti kena marah Pak Bos kalau kita bikin banyak-banyak. Udah, ini secangkir aja untuk kita berdua." Stev mengulum senyum, itu hanya akal-akalannya saja. Kalaupun ia menghabiskan seluruh kopi di cafe itu, Sean tidak akan marah karena ia bisa menggantikan dua kali lipat dari itu.

Cinta terkekeh. "Ya udah, biar adil kita pakai sendok aja," putusnya kemudian. Selain tidak enak menolak kopi buatan Stev, ia juga tidak mungkin membiarkan pria itu meminum di cangkir bekasnya.

"Eh, jangan!" cegah Stev ketika Cinta hendak mengambil sendok. Ia menahan tangan wanita itu dan meminta duduk kembali. Kemudian mengambil secangkir kopi latte itu dan memberikannya pada Cinta. "Ayo di minum."

"Tapi ... beneran gak apa-apa nih, kamu minum bekas aku?" tanya Cinta.

"Ya memangnya kenapa kalau aku minum bekas kamu? Kamu gak ada penyakit menular, kan?" Bukannya menjaw, Stev justru balik bertanya.

Cinta mencubit pelan lengan pria itu sambil memasang ekspresi cemberut. "Ya gak ada lah. Aku sehat walafiat."

"Ya udah kalau gitu, ayo minum."

Cinta pun mengambilnya. Meminum dengan tampak ragu. Karena terus memperhatikan Stev dengan tatapan tak enak hati sambil minum kopi, ia sampai tak menyadari jika busa latte tersebut menempel di sekitar bibirnya.

Stev langsung bereaksi cepat menyeka bibir Cinta menggunakan ibu jarinya. Kemudian menghisapnya.

"Stev!" seru Cinta. Terkejut sekaligus tercengang melihat apa yang dilakukan pria itu.

Stev dengan santainya hanya tersenyum. "Manis, semanis cintamu," ucapnya sambil menunjukkan ibu jarinya yang telah bersih sehabis ia hisap.

"Modus ya!"

"Kok tahu." Stev tergeletak melihat Cinta melotot. "Kamu tambah cantik loh kalau lagi marah."

Cinta mendelik. Apakah semua laki-laki seperti itu, gombal.

Dering ponsel Stev menyita perhatian pria itu. Ia mengeluarkan ponselnya dan langsung menjauh dair meja bar begitu melihat nama penelpon.

Cinta pun kembali meminum kopi latte buatan Stev sambil sesekali melirik pria itu. Entah telepon dari siapa, tapi sepertinya penting melihat ekspresinya sangat serius.

"Oke, saya akan ke kantor sekarang." Stev kemudian menutup sambungan teleponnya. Berdecak pelan, sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Baru saja sekretarisnya mengingatkan bahwa sebentar lagi ia ada pertemuan dengan pimpinan perusahaan yang sudah hampir dua tahun ini menjalin kerjasama dengannya.

"Telepon dari pacar ya?" tanya Cinta ketika Stev kembali.

Stev terkekeh. "Bukan," jawabnya. "Oh ya aku mau ke ruangan Pak Bos. Mau izin pulang, ada keperluan mendadak."

"Ya coba saja, semoga saja dikasih izin." Cinta merasa ragu. Ia saja pernah meminta izin pulang saat mbok Darmi menelpon dan bilang Laura sedang demam. Namun, tidak diizinkan pulang.

"Pasti diizinkan pulang kalau aku bilang, gajiku selama 3 bulan gak usah di bayar," kata Stev bercanda.

"Wow!" Cinta melongo. "Kamu yakin?"

"Yakinlah," ucap Stev kemudian melirik cangkir kopi latte di depan Cinta yang isinya tinggal sedikit sekali. "Wah, kayaknya kamu ketagihan nih sama kopi buatan aku."

"Hem, kebetulan aku haus."

Stev tersenyum. Ia meraih cangkir tersebut dan meminum habis sisanya.

Cinta hanya geleng-geleng kepala melihatnya.

Ketika akan meletakkan kembali cangkir kopi latte yang sudah kosong itu, tatapan Stev tak sengaja tertuju pada layar ponsel Cinta yang menyala. Kedua alisnya tebalnya hampir menyatu melihat foto balita yang kira-kira berusia satu tahun menjadi backgroundnya. Ia memang baru kali ini melihat layar ponsel Cinta.

"Itu, keponakan kamu?" tanyanya penasaran.

Cinta pun menatap layar ponselnya. Ia tersenyum menatap foto putri kecilnya itu. "Bukan, aku belum punya keponakan," jawabnya. Ia anak tunggal. Dan Indri saudari tirinya pun belum menikah.

"Terus, itu foto anak siapa?" tanya Stev lagi.

"Anakku, jawab Cinta.

"Anak? Bukannya kamu belum menikah?"

Cinta menghela nafas sambil mengangguk.

Stev tercengang, dalam beberapa saat ia kehilangan kata. Mengetahui ternyata Cinta telah memiliki anak membuatnya serasa kehilangan akal sehatnya.

Ia ingin bertanya lebih banyak lagi. Namun, mengingat ia ada pertemuan dan tidak bisa diwakilkan membuatnya harus menahan diri.

"Cin, aku pamit dulu ya." Stev buru-buru ke ruangan Sean.

Cinta menatap nanar kepergian pria itu. Ia yakin setelah ini Stev pasti akan menjauh darinya setelah mengetahui ia mempunyai anak tanpa suami. Sama seperti papanya yang berubah karena menganggap ia pembawa aib.

.

.

.

Di sisi lain. Indri menunggu dengan tak sabar. Sekarang sudah lewat tiga puluh menit dari waktu yang ditentukan. Jika bukan karena memiliki niatan lain, ia pasti sudah memaki-maki pimpinan perusahaan yang bekerja sama dengannya karena bekerja dengan tidak profesional.

"Hei, kemari." Ia memanggil seorang wanita yang merupakan sekretaris Vano.

Wanita yang bernama Maura itu pun beranjak menghampiri Indri yang sejak tadi menunggu di sofa tak jauh dari meja kerjanya. "Apa Ibu butuh sesuatu?"

Indri mengulurkan ponselnya. "Berapa nomor telpon Bos kamu?"

"Maaf, Bu. Tadi saya sudah telepon Pak Vano, dan sekarang sedang dalam perjalanan kemari," jawab Maura. Sang bos sudah memperingati agar ia tidak sembarang memberi nomor telponnya pada siapapun. Jika ada keperluan, harus melalui dirinya.

Indri berdecak kesal. Namun, sekali lagi ia berusaha menahan diri. Sudah hampir dua tahun perusahaannya dan perusahaan Vano bekerjasama, tapi ia sama sekali tidak memiliki nomor telpon pria itu.

Ia sudah pernah meminta nomor telepon Vano pada pria itu langsung saat penandatanganan kontrak kerja sama. Tapi pria itu malah memberikan nomor telpon sekretarisnya, dan memintanya untuk menghubungi langsung sekretarisnya itu jika ada keperluan.

Ia pikir Maura akan memberikannya, tapi ternyata diluar ekpektasinya. Sepertinya Vano sudah mewanti-wanti sekretarisnya itu.

"Bu, itu Pak Vano sudah datang." Maura menunjuk ke arah bosnya yang berjalan tergesa-gesa.

Indri pun beranjak dari tempat duduknya.

"Maaf, sudah membuat Anda menunggu lama," ucap Stev alias Vano ketika telah berdiri di hadapan Indri.

Indri memasang senyum manisnya. "Gak apa-apa. Aku juga gak lagi terburu-buru, kok."

"Kalau begitu mari ke ruangan saya."

Indri pun mengikuti langkah Vano yang sudah berjalan lebih dulu.

"Tadi aja mukanya kusut banget. Giliran di depan Pak Vano sok kalem. Dasar!" Maura mengepalkan tinjunya dan mengarahkan pada Indri yang berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Vano.

Terpopuler

Comments

Dwi Rustiana

Dwi Rustiana

akhirnya si Vano kelihatan hilalnya 🤭🤭🤭
tapi masih dibuat penisirin itu si vano ngapain nguber2 cinta ya
terus itu beneran anaknya cinta Mak jangan2 cuma adopsi lagi

2025-01-17

1

💜🌷halunya jimin n suga🌷💜

💜🌷halunya jimin n suga🌷💜

Oalah emang dasar wes umur emak lagian otor stev stev orak mudeng emak ...pas vano yooo inget lah...adik tiriya Adrian ...ank Azka n Kinan ...bearti yg Lom keluar kisah anakya Raka n alesha yoooooo hehehe

2025-01-16

1

Adelia Rahma

Adelia Rahma

biasa Maura ulat gitu biar keliatan cantik padahal dari jauh aja cantik sekali dari deket nyeremin dan bikin badan kita bentol bentol 🤣🤣🤣

2025-01-17

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1~ CINTA ADALAH ORANG YANG AKU CARI
2 BAB 2~ BUKANNYA KAMU BELUM MENIKAH?
3 BAB 3~ KAMU ADALAH PENYEMANGAT MAMA
4 BAB 4~ MEMINTA WAKTU 1 BULAN
5 BAB 5~ DUPLIKAT CABE SETAN
6 BAB 6~ KASIHAN SEKALI NON CINTA
7 BAB 7~ AKAN KU BUAT KAU MENYESAL
8 BAB 8~ SEMOGA BENAR KAMU ADALAH ANAKKU
9 BAB 9~ APA PAPA AKAN MEMAAFKAN AKU?
10 BAB 10~ TAK SABAR INGIN MELIHAT HASIL DNA
11 BAB 11~ MEMENUHI UNDANGAN CALON BESAN
12 BAB 12~ AKAN MEMPERMALUKAN KAMU!
13 BAB 13~ SEPERTI ANAK TIRI
14 BAB 14~ PERMAINAN SEGERA DIMULAI
15 BAB 15~ TUNGGU PAPA, NAK
16 BAB 16~ SUDAH WAKTUNYA MELUPAKAN KEJADIAN KELAM ITU
17 BAB 17~ APA GAK SEBAIKNYA DIUNDUR SAJA?
18 BAB 18~ DEMI CALON PAPANYA LAURA
19 BAB 19~ CINTA?
20 BAB 20~ SAYA BERSEDIA
21 BAB 21~ LEPASKAN CALON ISTRI SAYA!
22 BAB 22~ INI SEMUA BELUM BERAKHIR!
23 BAB 23~ DIA AKAN KEMBALI AKU DAPATKAN!
24 BAB 24~ AKU AKAN MENUNGGU SAMPAI KAMU SIAP
25 BAB 25~ SEMOGA KAMU TIDAK KECEWA
26 BAB 26~ AKU YANG AKAN MENGGANTIKAN TUGASMU
27 BAB 27~ MAAFKAN PAPA YANG SUDAH MENGABAIKAN MU
28 BAB 28~ UNBOXING BARANG BELANJAAN
29 BAB 29~ RESEPSI PERNIKAHAN
30 BAB 30~ LAURA JATUH
31 BAB 31~ PERASAAN APA INI?
32 BAB 32~ KAMU MASIH...?
33 INFO
34 BAB 33~ SIAPA SEBENARNYA ORANG TUA LAURA?
35 BAB 34~ TENTANG LAURA
36 BAB 35~ BUKTI KEJAHATAN INDRI
37 BAB 36~ DIA MELARIKAN DIRI
38 BAB 37~ HANYA INI YANG BISA PAPA LAKUKAN
39 BAB 38~ CARI BUKTI
40 BAB 39~ KENAPA HARUS AKU?
41 BAB 40~ KAMU JATUH CINTA PADAKU?
42 BAB 41~ HARUS MEMPERTANGGUNG JAWABKAN PERBUATANNYA!
43 BAB 42~ SUDAH TERTANGKAP
44 BAB 43~ PENYEBAB HUBUNGANNYA BERAKHIR
45 BAB 44~ KE BANDARA
46 BAB 45~ PUAS KAMU SEKARANG?"
47 BAB 46~ MASIH DALAM PROSES
48 BAB 47~ TIBA-TIBA PEDULI
49 BAB 48~ KENYATAAN PAHIT
50 BAB 49~ TIDAK BISA MEMBIARKANNYA PERGI
51 BAB 50~ JANGAN SAKITI MEREKA!
52 BAB 51~ APA MAKSUD MAMA?
53 BAB 52~ KAMU SUDAH GILA!
54 BAB 53~ MENGELABUHI
55 BAB 54~ JAWAB, PA!
56 BAB 55~ FLASHBACK
57 BAB 56~ TERTEMBAK
58 BAB 57~ TERPUKUL
59 BAB 58~ MENCARI PENDONOR
60 BAB 59~ BUNNY?
61 BAB 60~ KARENA AKU MENCINTAIMU
62 BAB 61~ NGAMBEK!
63 BAB 62~ SEHARUSNYA BERTERIMA KASIH
64 BAB 63~ GARA-GARA KAMU
65 BAB 64~ DIABAIKAN
66 BAB 65~ MASIH ADA AKU SUAMIMU
67 BAB 66~ TANGANMU KENAPA?
68 BAB 67~ MARAH SAMA KAMU!
69 BAB 68~ TIDAK INGIN DIGANGGU
70 BAB 69~ KENAPA MALAH MENYUSUL?
71 BAB 70~ REWEL DI SAAT YANG TIDAK TEPAT
72 BAB 71~ MEMILIH GAUN
73 BAB 72~ SEPERTI NAMANYA
74 BAB 73~ MIE SEAFOOD
75 BAB 74~ HARUS ADIL
76 BAB 75~ TERLALU CANTIK
77 BAB 76~ MEMULAI PERTUNJUKAN
78 BAB 77~ KITA IMPAS
79 BAB 78~ ANDAI LAURA MASIH ADA
80 BAB 79~ KENAPA TIDAK KITA WUJUDKAN SAJA?
81 BAB 80~ BERUSAHA MENJALIN KEDEKATAN
82 BAB 81~ SEPERTINYA ANDA SANGAT PENASARAN
83 BAB 82. KENAPA TIDAK BERCERMIN PADA MASA LALU
84 BAB 83~ AKAN DICERAIKAN
85 BAB 84~ ZIARAH
86 BAB 85~ DUA KALI KEHILANGAN
87 BAB 86~ PULANG
88 BAB 87.
89 BAB 88.
Episodes

Updated 89 Episodes

1
BAB 1~ CINTA ADALAH ORANG YANG AKU CARI
2
BAB 2~ BUKANNYA KAMU BELUM MENIKAH?
3
BAB 3~ KAMU ADALAH PENYEMANGAT MAMA
4
BAB 4~ MEMINTA WAKTU 1 BULAN
5
BAB 5~ DUPLIKAT CABE SETAN
6
BAB 6~ KASIHAN SEKALI NON CINTA
7
BAB 7~ AKAN KU BUAT KAU MENYESAL
8
BAB 8~ SEMOGA BENAR KAMU ADALAH ANAKKU
9
BAB 9~ APA PAPA AKAN MEMAAFKAN AKU?
10
BAB 10~ TAK SABAR INGIN MELIHAT HASIL DNA
11
BAB 11~ MEMENUHI UNDANGAN CALON BESAN
12
BAB 12~ AKAN MEMPERMALUKAN KAMU!
13
BAB 13~ SEPERTI ANAK TIRI
14
BAB 14~ PERMAINAN SEGERA DIMULAI
15
BAB 15~ TUNGGU PAPA, NAK
16
BAB 16~ SUDAH WAKTUNYA MELUPAKAN KEJADIAN KELAM ITU
17
BAB 17~ APA GAK SEBAIKNYA DIUNDUR SAJA?
18
BAB 18~ DEMI CALON PAPANYA LAURA
19
BAB 19~ CINTA?
20
BAB 20~ SAYA BERSEDIA
21
BAB 21~ LEPASKAN CALON ISTRI SAYA!
22
BAB 22~ INI SEMUA BELUM BERAKHIR!
23
BAB 23~ DIA AKAN KEMBALI AKU DAPATKAN!
24
BAB 24~ AKU AKAN MENUNGGU SAMPAI KAMU SIAP
25
BAB 25~ SEMOGA KAMU TIDAK KECEWA
26
BAB 26~ AKU YANG AKAN MENGGANTIKAN TUGASMU
27
BAB 27~ MAAFKAN PAPA YANG SUDAH MENGABAIKAN MU
28
BAB 28~ UNBOXING BARANG BELANJAAN
29
BAB 29~ RESEPSI PERNIKAHAN
30
BAB 30~ LAURA JATUH
31
BAB 31~ PERASAAN APA INI?
32
BAB 32~ KAMU MASIH...?
33
INFO
34
BAB 33~ SIAPA SEBENARNYA ORANG TUA LAURA?
35
BAB 34~ TENTANG LAURA
36
BAB 35~ BUKTI KEJAHATAN INDRI
37
BAB 36~ DIA MELARIKAN DIRI
38
BAB 37~ HANYA INI YANG BISA PAPA LAKUKAN
39
BAB 38~ CARI BUKTI
40
BAB 39~ KENAPA HARUS AKU?
41
BAB 40~ KAMU JATUH CINTA PADAKU?
42
BAB 41~ HARUS MEMPERTANGGUNG JAWABKAN PERBUATANNYA!
43
BAB 42~ SUDAH TERTANGKAP
44
BAB 43~ PENYEBAB HUBUNGANNYA BERAKHIR
45
BAB 44~ KE BANDARA
46
BAB 45~ PUAS KAMU SEKARANG?"
47
BAB 46~ MASIH DALAM PROSES
48
BAB 47~ TIBA-TIBA PEDULI
49
BAB 48~ KENYATAAN PAHIT
50
BAB 49~ TIDAK BISA MEMBIARKANNYA PERGI
51
BAB 50~ JANGAN SAKITI MEREKA!
52
BAB 51~ APA MAKSUD MAMA?
53
BAB 52~ KAMU SUDAH GILA!
54
BAB 53~ MENGELABUHI
55
BAB 54~ JAWAB, PA!
56
BAB 55~ FLASHBACK
57
BAB 56~ TERTEMBAK
58
BAB 57~ TERPUKUL
59
BAB 58~ MENCARI PENDONOR
60
BAB 59~ BUNNY?
61
BAB 60~ KARENA AKU MENCINTAIMU
62
BAB 61~ NGAMBEK!
63
BAB 62~ SEHARUSNYA BERTERIMA KASIH
64
BAB 63~ GARA-GARA KAMU
65
BAB 64~ DIABAIKAN
66
BAB 65~ MASIH ADA AKU SUAMIMU
67
BAB 66~ TANGANMU KENAPA?
68
BAB 67~ MARAH SAMA KAMU!
69
BAB 68~ TIDAK INGIN DIGANGGU
70
BAB 69~ KENAPA MALAH MENYUSUL?
71
BAB 70~ REWEL DI SAAT YANG TIDAK TEPAT
72
BAB 71~ MEMILIH GAUN
73
BAB 72~ SEPERTI NAMANYA
74
BAB 73~ MIE SEAFOOD
75
BAB 74~ HARUS ADIL
76
BAB 75~ TERLALU CANTIK
77
BAB 76~ MEMULAI PERTUNJUKAN
78
BAB 77~ KITA IMPAS
79
BAB 78~ ANDAI LAURA MASIH ADA
80
BAB 79~ KENAPA TIDAK KITA WUJUDKAN SAJA?
81
BAB 80~ BERUSAHA MENJALIN KEDEKATAN
82
BAB 81~ SEPERTINYA ANDA SANGAT PENASARAN
83
BAB 82. KENAPA TIDAK BERCERMIN PADA MASA LALU
84
BAB 83~ AKAN DICERAIKAN
85
BAB 84~ ZIARAH
86
BAB 85~ DUA KALI KEHILANGAN
87
BAB 86~ PULANG
88
BAB 87.
89
BAB 88.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!