9. Kamar ayah dan ibu
Catrina berdiri di depan teras rumah besar keluarganya. Tangannya gemetar, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Ia tahu kedatangannya ke sini bukan tanpa risiko.
Catrina Grace
Aku tidak ingin melihatnya.
[ Batin ]
Frederick Harrison
[ Melirik Catrina ]
*Mengengam tanganya
Catrina Grace
[ Menatap Frederick ]
Frederick Harrison
Aku disini.
[ Suara lembut ]
Catrina Grace
[ Tersenyum lembut ]
*Semakin mengengam tangan Frederick
Catrina mengangguk pelan, berusaha menenangkan diri. Mereka lalu melangkah masuk.
Diana Victoria (Nenek)
Oh, lihat siapa yang datang~!
Catrina Grace
Palsu.
[ Membatin, menatap kecut ]
Frederick Harrison
[ Mendekat ]
Maaf membuat mu menunggu.
Diana Victoria (Nenek)
Ah, tidak apa! Aku sangat senang kalian datang~! Duduklah, duduk.
[ Semangat ]
Frederick Harrison
[ Duduk ]
Terimakasih.
Diana Victoria (Nenek)
Minumlah tehnya, sudah kusiapkan..
[ Melirik Catrina sekilas ]
Frederick Harrison
[ Angguk ]
Diana Victoria (Nenek)
Bagaimana kabar kalian? Kalian baik-baik saja, kan?
Diana Victoria (Nenek)
Apa tidak ada masalah?
[ Menatap Frederick dan Catrina bergantian ]
Catrina Grace
Kami baik-baik saja.
[ Datar ]
Diana Victoria (Nenek)
Bagus, bagus. Ah, tapi aku penasaran…
[ Seringai ]
Diana Victoria (Nenek)
Apakah kalian sudah memikirkan soal keturunan?
[ Menatap Catrina ]
Catrina Grace
[ Menatap tajam Diana ]
Langsung ke inti, ya?
*Batin
Diana Victoria (Nenek)
Atau mungkin… Catrina tidak bisa memberi keturunan?
[ Tatapan menyendir ]
Catrina mengepalkan tangan. Ia sudah menduga serangan ini akan datang, tapi tetap saja mendengar langsung dari mulut Diana membuat dadanya sesak. Tapi sebelum ia bisa membalas, suara dingin Frederick terdengar.
Frederick Harrison
Jaga ucapanmu.
[ Tegas ]
Diana Victoria (Nenek)
[ Tersenyum kecut ]
Oh? Aku hanya bertanya sayang, Kau tak perlu—
Frederick Harrison
Aku bilang, jaga ucapanmu.
[ Menatap tajam ]
Frederick Harrison
Kami belum memikirkan keturunan. Dan kalau kau tidak tahu apa-apa, lebih baik tutup mulut.
Catrina Grace
[ Menatap Frederick, sedikit terkejut ]
Diana Victoria (Nenek)
[ Mengeraskan rahang, kesal ]
Catrina Grace
[ Tersenyum tipis ]
"Dia bungkam"
*Batin
Frederick Harrison
[ Menatap Catrina ]
Aku ingin bicara dengan nyonya Diana, Tunggulah di sini sebentar Putri.
Catrina Grace
[ Bingung ]
Apa lama?
Frederick Harrison
[ Melirik Diana ]
Kurasa tidak.
Catrina Grace
[ Angguk ]
Baiklah-
Frederick Harrison
Bisa kita bicara?
[ Menatap Diana ]
Diana Victoria (Nenek)
[ Tersenyum kecut ]
Tentu! Mari, kita bicara di ruang kerjaku.
Mereka berdua meninggalkan ruangan, meninggalkan Catrina sendiri.
Catrina duduk diam sejenak, lalu memutuskan untuk berkeliling rumah yang sudah lama tak dikunjunginya.
Catrina Grace
Rumah ini banyak berubah, sangat sepi..
[ Melirik sekeliling ]
Ia melangkah ke sebuah kamar mewah yang kosong. Napasnya tertahan sejenak. Ia mengenali ruangan ini.
Catrina Grace
Kamar ayah dan ibu..
[ Sayu ]
Catrina Grace
Aroma ayah masih disini-
[ Tersenyum ]
Catrina Grace
[ Menatap sebuah album foto mewah di meja ]
*Mendekat dan mengambil albumnya
Catrina Grace
[ Tersenyum ]
*Membuka halaman pertama
Halaman pertama menampilkan foto masa kecilnya bersama kedua orang tuanya.
Catrina tersenyum sendu. Tapi saat membalik halaman berikutnya, senyumnya langsung memudar.
Foto berikutnya adalah ayahnya… bersama wanita lain.
Catrina membeku, lalu tiba-tiba alur pikirannya melayang jauh ke belakang…
Catrina kecil menangis di tangga rumah, tubuhnya terguncang hebat.
Catrina [ Usia 7 tahun ]
Hiks- Ibu..
[ Menangis sedu ]
Catrina [ Usia 7 tahun ]
Kenapa ibu pergi? Hiks-
Ibunya baru saja meninggal dalam sebuah kecelakaan besar dalam perjalanan bisnis. Rasa sakit itu masih segar di hatinya.
Ayah Catrina
Sayang… Semua akan baik-baik saja.
[ Berlutut dihadapan Catrina ]
Ayah Catrina
Ayah janji..
[ Mengengam tangan Catrina kecil ]
Catrina [ Usia 7 tahun ]
Hiks- ayah, ibu pergi meningalkan kita..
[ Menangis semakin kencang ]
Tapi tiba-tiba, dari samping suara tajam terdengar.
Diana Victoria (Nenek)
Kau harus menikah lagi! aku sudah siapkan jodoh untuk mu!
[ Angkuh ]
Catrina dan ayahnya menoleh. Diana berdiri di tangga, ekspresinya dingin.
Ayah Catrina
[ Mengeram ]
Aku tidak akan menikah lagi!
Diana Victoria (Nenek)
Oh, kapan ku bilang kau punya pilihan?
[ Menaikan alisnya ]
Diana Victoria (Nenek)
[ Mendekati ayah Catrina ]
Kau tidak harus menikah!
Diana Victoria (Nenek)
Tapi kau harus-
*Berbisik
Catrina melihat ekspresi ayahnya berubah. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan Diana, tapi sesuatu dalam kata-katanya membuat ayahnya menyerah.
Ayah Catrina
[ Menghela napas ]
Baiklah..
Catrina [ Usia 7 tahun ]
[ Membelalakan matanya ]
Kenapa?!
Catrina [ Usia 7 tahun ]
Ibu baru saja pergi! Kenapa kau melakukan ini?!
[ Menagis deras ]
Catrina [ Usia 7 tahun ]
[ Menatap tajam Diana ]
Kenapa kau memaksa ayah?! Hiks-
Ayah Catrina
[ Mata berkaca-kaca ]
Maafkan ayah, Catrina..
*Memeluk Catrina kecil
Catrina [ Usia 7 tahun ]
Ayah-! Hiks
Diana hanya menyeringai, tatapannya tajam sebelum ia berbalik meninggalkan mereka.
Catrina kembali ke realita, air mata sudah menggenang di matanya. Ia menggenggam album foto itu erat.
Catrina Grace
Kau nenek yang jahat, Diana..
[ Meneteskan airmatanya ]
Catrina Grace
[ Memeluk foto album ]
Ibu- kumohon maafkan ayah
Catrina Grace
[ Tidak sadar ]
Frederick Harrison
Catrina.
[ Mendekat ]
Frederick Harrison
*Terdiam sekejap sebelum akhirnya memeluk tubuh Catrina dengan lembut
Frederick Harrison
Jangan menangis untuk seseorang yang tidak pantas.
[ Membelai surai Catrina ]
Catrina Grace
[ Terdiam ]
Frederick-?
Catrina Grace
[ Menatap Frederick ]
Frederick Harrison
Kau terlalu lemah putri.
[ Menatap lembut Catrina ]
Catrina Grace
[ Mengerutkan Dahi dan menyeka airmatanya ]
Jangan mengejek ku!
Frederick Harrison
[ Terkekeh ]
"Tuan putri ini masih cengeng."
*Batin
Catrina Grace
Kau sudah berbicara dengannya?
[ Lembut ]
Frederick Harrison
[ Angguk ]
Sudah.
Catrina Grace
[ Mengatur napas ]
Apa yang kalian bicarakan?
Frederick Harrison
Tidak saat ini, Putri.
[ Membelai sura Catrina ]
Catrina Grace
[ Mengerutkan Dahi ]
Ck, tidak seru.
Frederick Harrison
[ Terkekeh ]
Frederick Harrison
[ Melihat sekeliling ]
Kamar mu, Putri?
Catrina Grace
[ Geleng ]
Bukan, ini kamar ayah dan ibu.
Catrina Grace
[ Tertawa kecil ]
Desainya norak, kan?
Frederick Harrison
[ Menoleh kearah Catrina ]
Kau benar Tuan putri, terlalu penuh ornamen.
Frederick Harrison
Terlalu terang.
Catrina Grace
[ Terkekeh ]
Kamar yang terang itu bagus kok..
Frederick Harrison
[ Berbalik dan mendekati Catrina ]
Tidak, ini buruk untuk mata.
Catrina Grace
[ Menatap Frederick ]
Tidak seburuk itu juga..
Frederick Harrison
[ Tersenyum ]
*Menarik pinggang Catrina
Frederick Harrison
[ Membelai pingang Catrina lalu Plek ]
Frederick Harrison
[ Menyandarkan kepalanya pada pundak Catrina ]
Apapun alasannya, aku tak suka.
Catrina Grace
[ Terpaku ]
Frederick- kau sedang apa?
Catrina Grace
Jangan macam-macam ya, ini kamar orangtua ku!!
[ Mendorong Frederick ]
Frederick Harrison
[ Tidak terdorong ]
Seperti ini Catrina, sebentar.
Catrina Grace
[ Terkekeh ]
Tapi- kenapa?
Frederick Harrison
[ Menghembuskan napas ]
Hah-
Frederick Harrison
[ Melepaskan pelukanya lalu menatap tajam Catrina ]
Tidak ada.
Frederick Harrison
Ayo pulang.
[ Mengengam tangan Catrina ]
Ia lalu menggenggam tangan Catrina dan menuntunnya keluar.
Saat melewati lorong, mata Frederick menangkap sebuah foto kecil di dinding—foto Catrina kecil dengan senyum polos.
Ia menatap foto itu sejenak, sebelum kembali melangkah keluar rumah bersama Catrina.
"Catrina sunguh manis, kurasa suatu saat. Putri kecil tak akan jauh berbeda darinya."
[ Frederick ]
Larissa Grace Carter, mayoret marching band yang ceria dan selalu menjadi pusat perhatian, tak pernah menyangka hidupnya akan bersinggungan dengan Alstair Montgomery—atlet renang berbakat, dingin, dan penuh teka-teki. Ketika perbedaan dunia mereka mulai bercampur, keduanya terseret dalam kisah penuh gairah, kompetisi, dan kejujuran hati.
Di tengah hiruk-pikuk sekolah elit dan pesta yang megah, mampukah Larissa keluar dari bayang-bayang Alstair atau justru tenggelam lebih dalam?
Oh ya, sekarang, coba tebak di komentar, bakal seperti apa kelanjutan ceritanya? siapa tau tembakan kalian benar!! ♡
Comments