Amarah Raka

Di parkiran kantor, sopir Raka, Pak Harun, berdiri gelisah sambil terus melirik jam tangan. Ia sudah menunggu hampir setengah jam tetapi Rania tak kunjung datang

Pak Harun mencoba menelepon Zidane untuk memastikan dimana Rania karena Waktu penjemputan Zian sudah lewat jam nya,ketiga kalinya, tapi panggilan itu langsung masuk ke voicemail. “Kenapa nggak diangkat juga, ya? mungkin pak Zidane sedang rapat ,” gumamnya sambil mengusap peluh di dahi.

Zidane, asisten Raka, yang kebetulan berada di kantor bersama sang bos baru selesai melakukan rapat, iya mengaktifkan ponselnya, terlihat banyak panggilan masuk dari pak Harun.

"Ya ada apa pak Harun?." tanya Zidane Raka yang mendengar nama supirnya di sebut langsung mengalihkan perhatiannya.

"Baik pak Harun,saya akan menghubungi Rania." Zidane mematikan sambungan telepon.

Terlihat kecemasan di wajah Zidane,Raka yang terusik pikirannya akhirnya mengeluarkan pertanyaan.

"ada apa?" tanya Raka.

"pak Harun mengatakan bahwa Rania tidak datang,saya sedang menghubungi Rania tapi nomornya tidak aktif." Zidane merasakan aura Raka yang mulai tidak bersahabat.

"Telpon sekolah Zian!." Raka merasa cemas karena takut terjadi sesuatu kepada putranya.

Zidane selesai menelpon sekolah Zian," kata pihak sekolah Zian sudah di jemput pak." Pernyataan Raka membuat amarah Raka memuncak.

"Cepat cari wanita itu,aku tidak ingin sesuatu terjadi kepada putraku.!" terselip kekhawatiran yang mendalam dari nada bicara Raka.

Zidane terus menghubungi Rania lewat ponselnya. Namun, hasilnya nihil

"Kerahkan anak buah kita untuk mencari wanita itu!." perintah Raka.

Zidane mengangguk. “Baik,pak."

Raka terdiam sejenak, pikirannya penuh dengan berbagai kemungkinan. Namun, sebelum ia sempat memerintahkan sesuatu, ponselnya berbunyi. Ia langsung mengangkatnya.

Papa!” Suara Zian terdengar ceria di ujung telepon.

Raka langsung merasa lega, meski tetap bingung. “Zian, kamu di mana? Kenapa belum pulang?”

“Aku sama Tante Rania, Pa! Kami naik motor! Seruuu banget! Anginnya kencang, kayak di film!” jawab Zian penuh semangat.

Raka mengerutkan kening, emosinya campur aduk antara lega, bingung, dan kesal. “Naik motor? Rania bawa kamu naik motor? Dia ada di sebelah kamu sekarang?”

“Enggak, Tante Rania lagi beli es krim. Aku tunggu di sini,” kata Zian polos.

Raka menarik napas panjang, berusaha menahan amarah yang mulai memuncak. Setelah menutup telepon, ia menatap Zidane dengan pandangan tajam.

“Cari tahu di mana mereka sekarang. Saya tidak mau ini terjadi lagi,” katanya dengan nada rendah tapi tegas.

Zidane mengangguk, lalu segera mengambil langkah cepat untuk mencari informasi lebih lanjut.

Sementara itu, Rania yang tidak tahu apa-apa sedang duduk di bangku taman, menikmati momen sederhana bersama Zian. Namun, ia tidak menyadari bahwa keputusan spontan itu telah menyalakan api kecil dalam hati Raka, yang selama ini sangat protektif terhadap anak-anaknya.

Rania dan Zian tiba di kantor menjelang sore. Zian masih tersenyum ceria sambil memegang balon yang ia dapatkan dari taman. Ia tak henti-hentinya bercerita sepanjang perjalanan naik lift menuju ruang kerja ayahnya.

“ Tante, lain kali kita ke taman itu lagi, ya? Tapi naik motor lagi! Seru banget!” ujar Zian sambil tertawa kecil.

Rania tersenyum kecil, meski hatinya sedikit gelisah. Ia tahu keputusannya mengajak Zian naik motor tanpa izin bisa menimbulkan masalah, tapi ia tak menyangka apa yang menunggunya.

Begitu pintu lift terbuka dan mereka memasuki ruangan, sosok Raka sudah berdiri di depan meja kerjanya, dengan ekspresi dingin namun penuh kemarahan. Zidane berdiri di sudut ruangan, tampak canggung, seolah tak ingin berada di tengah-tengah ini.

“Papa!” seru Zian sambil berlari mendekat. “Tadi aku sama tante Rania ke taman, naik motor! Seruuu banget! Papa harus coba!”

Namun, Raka tak menjawab. Tatapannya langsung tertuju pada Rania, penuh dengan amarah yang tertahan. Suaranya keluar rendah tapi tajam. “Rania, bisa saya bicara sebentar?”

Rania mengangguk pelan, merasa jantungnya berdegup kencang. “Tentu, Pak.”

Zian melihat perubahan suasana itu dan langsung berdiri di antara ayahnya dan Rania. “Papa, jangan marah sama Tante Rania! Aku yang minta naik motor. Tante Rania nggak salah!” katanya dengan suara tegas, meski tubuh kecilnya mencoba terlihat berani.

Raka menatap putranya sejenak, lalu merendahkan tubuhnya. “Zian, masuk ke ruangan sebelah. Kita bicara nanti.”

“Tapi, Papa—”

“Zian,” ujar Raka dengan nada lebih tegas.

Zian mengerucutkan bibir, tapi akhirnya menurut. Sebelum pergi, ia menoleh ke arah Rania dan berbisik, “Maaf, Tante Rania.”

Setelah Zian keluar, Raka berdiri tegak dan menatap Rania. Kali ini nada suaranya tidak lagi ditahan.

“Bagaimana mungkin kamu membawa anak saya naik motor tanpa izin? Apa kamu sadar betapa berbahayanya itu? Apa yang kamu pikirkan?”

Rania, yang sepanjang hidupnya tak pernah menerima bentakan, hanya bisa terdiam. Matanya membesar, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia mencoba mencari kata-kata, tapi suaranya tertahan di tenggorokan.

“Saya mempercayakan anak saya kepada kamu, Rania. Tapi ini? Apa kamu tidak paham bahwa keselamatan Zian adalah prioritas saya?” lanjut Raka, suaranya semakin keras.

“S-saya… saya hanya ingin membuat Zian senang, Pak,” jawab Rania dengan suara kecil, mencoba menahan air matanya.

“Senang?” Raka menyipitkan mata. “Kesenangan tidak ada artinya jika nyawa anak saya jadi taruhannya!”

Kata-kata itu menusuk Rania. Ia merasa dadanya sesak. Sepanjang hidupnya, ia selalu dianggap sempurna oleh orang-orang di sekitarnya, tak pernah dikritik apalagi dibentak. Tapi kini, amarah Raka membuatnya merasa kecil.

“Maaf, Pak,” ucap Rania akhirnya, suaranya hampir bergetar. “Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya ingin memberikan sesuatu yang berbeda untuk Zian…”

Raka menghela napas panjang, emosinya mulai mereda, tapi tatapannya masih tajam. “Jangan pernah ulangi ini lagi, Rania. Kalau sesuatu terjadi pada anak saya, kamu akan bertanggung jawab.”

Tanpa menunggu jawaban, Raka berbalik dan berjalan menuju meja kerjanya. Rania hanya berdiri di sana, membatu, mencoba menenangkan dirinya. Di dalam hati, ia merasa terluka oleh kemarahan itu, tapi juga memahami bahwa semuanya adalah karena cinta seorang ayah.

Ketika ia meninggalkan ruangan, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh. Namun, di lorong, Zian yang sudah menunggunya langsung menghampiri dan memeluknya erat.

“ Tante Rania, jangan sedih. Papa memang galak, tapi aku sayang tante,” ujar Zian polos, membuat hati Rania sedikit terasa hangat meski masih terselubung luka.

Terpopuler

Comments

🎃SЯ ШłŁŁ🎃

🎃SЯ ШłŁŁ🎃

Ceritanya bikin seru, terus lah menulis, author!

2025-01-27

1

lihat semua
Episodes
1 Hal Baru
2 Lantai Dua Puluh
3 Makan siang
4 Raka
5 Pembawa Sial?
6 Bos Sombong
7 Dimana Rania?
8 Amarah Raka
9 Mas Zidane?
10 Maaf untuk Rania
11 Jalan-jalan
12 Sandal Dinosaurus
13 Penculikan
14 Bagaimana dengan Rania?
15 Ungkapan Perasaan
16 Rencana Rahasia Leon
17 Kedatangan Raka
18 Pertemuan tidak terduga
19 Tawaran menggiurkan
20 Selisih Paham
21 Melanjutkan hidup
22 Familiar
23 Saran Zidane
24 Keputusan Rania
25 Mengobati luka
26 Hari terakhir bekerja
27 Zian sakit
28 Tinggal bersama
29 Terjebak dalam hujan
30 Rasanya kok beda?
31 Peringatan untuk Sherly
32 Gombalan maut Leon
33 Minuman herbal dan kesalahan pahaman
34 bekal cinta Rania
35 Bekal - bekal gemoy
36 Wajah yang teduh
37 Izin
38 Patah hati Raka
39 Menciptakan jarak
40 Janur kuning belum melengkung
41 Lomba memasak
42 Siapa sangka?
43 Meyakinkan
44 Hanya Pengasuh anak
45 Akhirnya ditemukan
46 Kekecewaan Leon
47 Mencuri hati papi
48 Serangan janda depan rumah
49 Kedatangan Zidane
50 Saingan berat Zidane
51 Dilema Zidane
52 Keretakan hubungan
53 Cinta lama
54 Rasa bersalah
55 Seperti apa Rania?
56 Kunjungan dadakan
57 Rencana jahat Sherly
58 Sakit
59 Kekacauan
60 Misteri dibalik foto
61 Saya akan datang!
62 Resepsi pernikahan Zidane dan Sherly
63 Apa hubungan di antara kalian?
64 Putri yang terabaikan
65 Kesedihan
66 Penyesalan
67 Lamaran dadakan
68 Ketegangan di malam hari
69 Kamu tahu saya,kan?
70 Dia bukan.....
71 Kemarahan seorang ayah
72 Fakta tentang Rania
73 Om atau pak?
74 Tamu tidak di undang
75 Pernikahan dipercepat
76 Menyadarkan Revan
77 Dunia selalu berubah
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Hal Baru
2
Lantai Dua Puluh
3
Makan siang
4
Raka
5
Pembawa Sial?
6
Bos Sombong
7
Dimana Rania?
8
Amarah Raka
9
Mas Zidane?
10
Maaf untuk Rania
11
Jalan-jalan
12
Sandal Dinosaurus
13
Penculikan
14
Bagaimana dengan Rania?
15
Ungkapan Perasaan
16
Rencana Rahasia Leon
17
Kedatangan Raka
18
Pertemuan tidak terduga
19
Tawaran menggiurkan
20
Selisih Paham
21
Melanjutkan hidup
22
Familiar
23
Saran Zidane
24
Keputusan Rania
25
Mengobati luka
26
Hari terakhir bekerja
27
Zian sakit
28
Tinggal bersama
29
Terjebak dalam hujan
30
Rasanya kok beda?
31
Peringatan untuk Sherly
32
Gombalan maut Leon
33
Minuman herbal dan kesalahan pahaman
34
bekal cinta Rania
35
Bekal - bekal gemoy
36
Wajah yang teduh
37
Izin
38
Patah hati Raka
39
Menciptakan jarak
40
Janur kuning belum melengkung
41
Lomba memasak
42
Siapa sangka?
43
Meyakinkan
44
Hanya Pengasuh anak
45
Akhirnya ditemukan
46
Kekecewaan Leon
47
Mencuri hati papi
48
Serangan janda depan rumah
49
Kedatangan Zidane
50
Saingan berat Zidane
51
Dilema Zidane
52
Keretakan hubungan
53
Cinta lama
54
Rasa bersalah
55
Seperti apa Rania?
56
Kunjungan dadakan
57
Rencana jahat Sherly
58
Sakit
59
Kekacauan
60
Misteri dibalik foto
61
Saya akan datang!
62
Resepsi pernikahan Zidane dan Sherly
63
Apa hubungan di antara kalian?
64
Putri yang terabaikan
65
Kesedihan
66
Penyesalan
67
Lamaran dadakan
68
Ketegangan di malam hari
69
Kamu tahu saya,kan?
70
Dia bukan.....
71
Kemarahan seorang ayah
72
Fakta tentang Rania
73
Om atau pak?
74
Tamu tidak di undang
75
Pernikahan dipercepat
76
Menyadarkan Revan
77
Dunia selalu berubah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!