Ep 4 Jangan terlalu membencinya

Hari sudah cerah ketika Ganra membuka matanya di pagi hari. Pria itu merasa kepalanya pening. Matanya mengerjap-ngerjap sambil memijit kepalanya yang terasa pusing.  Lalu ketika di rasa pusingnya mulai hilang, pandangannya menyapu ke seluruh ruangan.

Dimana ini? Oh rupanya dikamarnya. Pria itu mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Sepertinya ada suatu kejadian. Ia ingat sehabis pertemuan keluarga dengan gadis yang baru saja kehilangan mamanya itu, dia langsung mendatangi bar William. Kemudian minum-minum sampai mabuk. Hal terakhir yang dia ingat adalah Leon yang menjemputnya.

Tidak, tidak. Ingatannya salah. Seperti ada sesuatu yang ia lewati. Ganra kembali mengingat-ingat. Lalu ingatan tersebut muncul begitu saja. Kejadian semalam, dia mengatai gadis yang akan dia nikahi itu, bahkan mendorongnya ke kolam. Ganra menutup matanya dalam-dalam.

Apa yang sudah dia lakukan? Lalu pria itu mendengar bunyi ketukan dari luar kamarnya. Setelah itu pintu terbuka, menampilkan Leon yang muncul dari balik pintu. Leon adalah sepupu yang paling dekat dengannya. Berbeda dengan Danta yang selalu sibuk dengan urusannya sendiri, sebelas dua belas dengan dirinya.

Leon duduk di sofanya sambil melipat kedua tangannya di dada dan terus menatap Ganra.

"Kau sudah sadar?" cowok itu mengangkat suara. Ganra balas menatapnya. Tidak perlu menjawab karena Leon pasti tahu dia sudah sadar betul.

"Kau ingat apa yang sudah kau lakukan semalam?" ujar Leon lagi. Ganra tidak menjawab. Ia memang sudah mengingatnya tapi tidak sedang ingin membicarakan kejadian semalam.

"Kau mengatainya anak kecil, dada rata, bahkan mendorongnya ke dalam kolam renang yang dingin." kata Leon lagi. Ganra tetap diam. Tidak kaget karena memang dia sudah ingat.

"Ganra, aku tahu kamu tidak menyukai perjodohan ini. Tapi gadis itu sama sekali tidak bersalah. Apalagi dia baru saja kehilangan mamanya. Aku dengar dia tidak punya siapa-siapa lagi. Setidaknya kau perlakukan dia dengan baik. Tadi saat aku melewati kamarnya, aku dengar dia bersin berkali-kali. Kau yakin tidak ingin minta maaf?" kata Leon panjang lebar. Mencoba menasehati sang sepupu yang empat tahun lebih tua darinya itu.

"Jangan ikut campur urusanku. Masalahku dan gadis itu biar aku selesaikan sendiri." balas Ganra akhirnya. Leon mengangkat bahunya. Setidaknya ia sudah memberikan nasehat.

"Terserah padamu. Aku hanya ingin bilang dia adalah calon istrimu. Itu fakta. Jadi jangan terlalu membencinya. Kalau tidak suatu saat nanti kau akan berakhir dengan tidak bisa hidup tanpanya." Ganra langsung melempari Leon dengan bantal. Sedang pria itu malah tertawa melihat wajah jengkel Ganra.

Leon sendiri hanya bermaksud bercanda. Tapi siapa yang tahu masa depan dan takdir seseorang. Bisa saja yang dia ucapkan hari ini benar-benar terjadi.

"Keluarlah. Aku harus mandi." kata Ganra mengusir Leon dari kamarnya. Ia masih bisa mencium bau alkohol ditubuhnya. Dia harus membersihkan diri sekarang agar tidak ada orang rumah lainnya yang tahu dia mabuk semalam. Apalagi mamanya. Cukup yang tahu hanya Leon dan gadis itu.

Karena Leon tidak keluar juga, Ganra bangkit dari kasur dan menarik sepupunya itu keluar. Leon malah terkikik. Sepertinya Ganra masih kesal karena perkataannya tadi.

Sekitar lima belas menit kemudian pria itu selesai mandi dan berganti pakaian. Gayanya sudah kembali formal seperti hari-hari biasa ia ke kantor. Jarang sekali pria itu berpakaian kasual, kecuali di rumah. Tapi apa saja penampilannya, mau formal, casual atau apapun itu, pria itu tetap terlihat sangat tampan. Hampir semua wanita dikantor tergila-gila padanya.

Namun Ganra adalah tipe pria yang sulit diraih oleh wanita manapun. Ia jenis pria yang lebih mementingkan pekerjaannya daripada bersenang-senang dengan wanita. Pria itu memang pernah berpacaran sekali dengan model papan atas, hanya saja wanita itu mundur sendiri karena sikap Ganra yang terlalu cuek.

Wanita itu akhirnya memutuskan mengejar cita-citanya di luar negeri dari pada makan hati menjadi pacar Ganra yang kerasnya melebihi batu. Hanya sekali itu Ganra pacaran, setelah itu tidak lagi. Bukan karena tidak bisa melupakan pacar modelnya, tapi belum ada perempuan yang membuatnya tertarik sampai sekarang.

Langkah Ganra terhenti ketika mendengar suara bersin-bersin dan batuk dari kamar yang dia lewati. Kebetulan kamarnya juga berada di lantai dua. Bukan, bukan kebetulan. Iya sekali yakin kakeknya sengaja mengatur kamar gadis itu agar dekat dengannya kamarnya. Kamar gadis itu berada di tengah-tengah kamarnya dan kamar Dante. Tapi Dante jarang pulang rumah. Dante selalu sibuk diluar dan kebanyakan menginap di hotel. Ia hanya pulang sesekali kalau ada urusan penting di rumah atau ada pertemuan keluarga.

Ganra menimbang-nimbang sebentar, kemudian berbalik masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil sesuatu dan keluarg lagi. Ia berhenti tepat di depan pintu kamar gadis itu lalu mengetuk. Tak lama kemudian pintu terbuka. Menampilkan seorang gadis berwajah polos tanpa polesan apapun berdiri di depannya.

Mereka saling menatap. Seperti dirinya yang tidak menyukai kehadiran gadis itu, tampaknya gadis itu pun sama. Terlihat jelas di wajahnya. Mungkin juga gadis itu masih dendam padanya karena kasus semalam.

"Ambil ini," kata Ganra kemudian, menyodorkan benda ditangannya. Itu adalah obat flu.

"Suara bersin-bersinmu terlalu mengganggu telinga. Obat itu akan membantu meredakan flumu. Minumlah setelah makan." Zua melotot. Dasar laki-laki kejam tak punya hati. Ia pikir laki-laki itu datang menemuinya karena mau minta maaf, eh malah makin membuatnya emosi.

"Kenapa menatapku begitu, ada yang ingin kau katakan?" tanya Ganra dengan sikap santai.

"Tidak ada," balas Zua menahan diri agar suaranya tidak terdengar ketus. Biar bagaimanapun dia hanyalah orang asing di rumah ini. Dan pria itu adalah tuan rumah, setidaknya dia masih cukup tahu diri.

"Baiklah kalau tidak ada. Ayo turun sarapan. Keluargaku biasanya sarapan jam begini. Kau harus membiasakan diri mulai sekarang." kata Ganra lagi lebih ke basa basi. Sebenarnya ia tidak peduli gadis itu mau turun sarapan atau tidak, tidak ada hubungannya sama sekali dengan dia. 

"Kalian saja yang sarapan. Aku sedang flu karena masuk angin semalam. Bilang pada kakekmu aku izin." ucap Zua sedikit menyindir. Tentu saja Ganra tahu gadis itu sedang menyindirnya, tapi ia pura-pura tidak peka sama sekali.

"Bilang saja sendiri, aku bukan pembantumu." kata Ganra lalu berbalik pergi meninggalkan Zua yang berdiri menahan kesal. Baru satu hari menghadapi laki-laki itu saja, Zua sudah stres begini. Bagaimana jadinya kalau mereka hidup bersama nanti?

Otak Zuya berpikir keras. Dia harus mencari cara agar pernikahan mereka batal.

Terpopuler

Comments

Dwi Winarni Wina

Dwi Winarni Wina

Ganra jgn terlalu membenci zua benci dan cinta beda tipis lama2 bisa jatuh cinta dan bucin akut stadium akhir.....

Zua sangat gemesin gadis polos dan lugu dan menolak jg dijodohkan dgn ganra krn pertama kl melihat ganra sll menatap zua permusuhan...

Ganra terima aja dulu perjodohan dgn zua pasti yg terbaik buatmu masa depanmu.....
lagian kakek barasta tidak bisa diganggu gugat keputusannya sebaik turutin aja.....

zua umurnya msh terlalu muda akan tetapi bs menjelang gadis cantiikk nantinya dan bikin ganra terpesona sampai klepek2......

Lanjut thor....
semangat sll....
sehat sll....

2025-01-09

3

Nanik Arifin

Nanik Arifin

ingat ya Ganra, benci & cinta itu bedanya setipis kulit Ari, g perlu terpeleset tuk jadi sebaliknya...

2025-01-09

2

Yuliana Purnomo

Yuliana Purnomo

hadeeehhh emang Ganra keras kepala juga dingin,,mana bisa bermanis manis bertutur kata,, apalagi dgn orang asing seperti Zua

2025-01-09

0

lihat semua
Episodes
1 Ep 1 nyonya muda keluarga Barasta?
2 Ep 2 Menikah?
3 Ep 3 Ganra mabuk
4 Ep 4 Jangan terlalu membencinya
5 Ep 5 Tidak rela
6 Ep 6 Tidak sengaja menguping
7 Ep 7 Pengen pulang
8 Ep 8 Aku bukan anak-anak
9 Ep 9 Berencana kabur
10 Ep 10 Ukuranku terlalu besar
11 Ep 11 Kantor Ganra
12 Ep 12 Bunga Dwiyani
13 Ep 13 Segera menikah
14 Ep 14 Kabur lagi
15 Ep 15 Sindiran Dian
16 Ep 16 Ganra tengil
17 Ep 17 Kau tidak pakai bra?
18 Ep 18 Calon istriku
19 Ep 19 Berbagi air liur juga
20 Ep 20 Berendam air panas atau berenang?
21 Ep 21 Yang merah terlalu seksi
22 Ep 22 Burung
23 Ep 23 Sinting!
24 Ep 24 Kau sudah tahu ukurannya kan?
25 Ep 25 Pakai sendiri atau aku pakaikan?
26 Ep 26 Kau lebih diperlukan di sini
27 Ep 27 Truth or Dare
28 Ep 28 Ciuman pertama
29 Ep 29 Mimpi Ganra
30 Ep 30 Minum milikku saja
31 Ep 31 Kau yakin bilang aku bocah?
32 Ep 32 Dasar mesum
33 Ep 33 Ciuman kedua
34 Ep 34 Aku tidak suka berbagi
35 Ep 35 Bulan madu?
36 Ep 36 Menikah
37 Ep 37 Aku tidak akan menggigit
38 Ep 38 Perkara bra
39 Ep 39 Perjalanan bulan madu
40 Ep 40 Ingin main
41 Ep 41 Kau tidak bisa menyentuh anak-anak
42 Ep 42 Foreplay
43 Ep 43 Foreplay 2
44 Ep 44 Gol
45 Ep 45 Bermain lagi
46 Ep 46 Mau aku mandikan?
47 Ep 47 Kabar buruk
48 Ep 48 Pulang
49 Ep 49 Pemakaman
50 Bab 50 Kekacauan
51 Bab 51 Kau mencintai Ganra?
52 Bab 52 Jangan menyalahkan siapa-siapa
53 Bab 53 Cemburu
54 Bab 54 Apa kau mencintaiku?
55 Bab 55 Kembali ke kampus
56 Bab 56 Kantor
57 Bab 57 Rencana jahat Bunga
58 Bab 58 Paparazzi?
59 Bab 59 Perintah ibu mertua
60 Bab 60 Mengobati Dante
61 Bab 61 Kau mau tahu rahasiaku?
62 Bab 62 Ganra cemburu
63 Bab 62 Ganra cemburu
64 Bab 63 Kekesalan Bunga
65 Bab 64 Cemburu lagi
66 Bab 65 Main di kantor
67 Bab 66 Butik
68 Bab 67 Bunga si tukang caper
69 Bab 68 Zua cemburu
70 Bab 69 Main lagi
71 Bab 70 Gosip tentang Bunga
72 Bab 71 Main berlima
73 Bab 72 panggilan dari kantor polisi
74 Bab 73 Mual
75 Bab 74 Hamil
76 Bab 75 Tidak sengaja nguping
77 Bab 76 Jangan coba-coba Claire
78 Bab 77 Hukuman
79 Bab 78 Acara kantor
80 Bab 79 Kesal pada Bunga
81 Bab 80 peringatan Ganra
82 Bab 81 Masalah Narin
83 Bab 82 Berita gembira untuk keluarga
84 Bab 83 Pemutusan kontrak
85 Bab 84 Habis perempuan itu, giliranmu
86 Bab 85 Makan di pinggir jalan
87 Bab 86 Saling menggoda
88 Bab 87 Perubahan ibu mertua
89 Bab 88 Sejak kapan kalian dekat?
90 Bab 89 Memeriksa cctv
91 Bab 90 Kalau aku pijitin di sini?
92 Bab 91 Di manjakan istri
93 Bab 92 Positif HIV
94 Bab 93 Rencana menghancurkan Zua
95 Bab 94 Interogasi
96 Bab 95 Bunga makin nekat
97 Bab 96 Apa-apaan ini?
98 Bab 97 TOLONG!
99 Bab 98 bertahanlah
100 Bab 99 Kepanikan Ganra
101 Bab 100 Siapa yang melakukan ini?
102 Bab 101
103 Bab 102
104 Bab 103
105 Bab 104
106 Bab 105
107 Bab 106
108 Bab 107
109 Bab 108
110 Bab 109
111 Bab 110
112 Bab 111
Episodes

Updated 112 Episodes

1
Ep 1 nyonya muda keluarga Barasta?
2
Ep 2 Menikah?
3
Ep 3 Ganra mabuk
4
Ep 4 Jangan terlalu membencinya
5
Ep 5 Tidak rela
6
Ep 6 Tidak sengaja menguping
7
Ep 7 Pengen pulang
8
Ep 8 Aku bukan anak-anak
9
Ep 9 Berencana kabur
10
Ep 10 Ukuranku terlalu besar
11
Ep 11 Kantor Ganra
12
Ep 12 Bunga Dwiyani
13
Ep 13 Segera menikah
14
Ep 14 Kabur lagi
15
Ep 15 Sindiran Dian
16
Ep 16 Ganra tengil
17
Ep 17 Kau tidak pakai bra?
18
Ep 18 Calon istriku
19
Ep 19 Berbagi air liur juga
20
Ep 20 Berendam air panas atau berenang?
21
Ep 21 Yang merah terlalu seksi
22
Ep 22 Burung
23
Ep 23 Sinting!
24
Ep 24 Kau sudah tahu ukurannya kan?
25
Ep 25 Pakai sendiri atau aku pakaikan?
26
Ep 26 Kau lebih diperlukan di sini
27
Ep 27 Truth or Dare
28
Ep 28 Ciuman pertama
29
Ep 29 Mimpi Ganra
30
Ep 30 Minum milikku saja
31
Ep 31 Kau yakin bilang aku bocah?
32
Ep 32 Dasar mesum
33
Ep 33 Ciuman kedua
34
Ep 34 Aku tidak suka berbagi
35
Ep 35 Bulan madu?
36
Ep 36 Menikah
37
Ep 37 Aku tidak akan menggigit
38
Ep 38 Perkara bra
39
Ep 39 Perjalanan bulan madu
40
Ep 40 Ingin main
41
Ep 41 Kau tidak bisa menyentuh anak-anak
42
Ep 42 Foreplay
43
Ep 43 Foreplay 2
44
Ep 44 Gol
45
Ep 45 Bermain lagi
46
Ep 46 Mau aku mandikan?
47
Ep 47 Kabar buruk
48
Ep 48 Pulang
49
Ep 49 Pemakaman
50
Bab 50 Kekacauan
51
Bab 51 Kau mencintai Ganra?
52
Bab 52 Jangan menyalahkan siapa-siapa
53
Bab 53 Cemburu
54
Bab 54 Apa kau mencintaiku?
55
Bab 55 Kembali ke kampus
56
Bab 56 Kantor
57
Bab 57 Rencana jahat Bunga
58
Bab 58 Paparazzi?
59
Bab 59 Perintah ibu mertua
60
Bab 60 Mengobati Dante
61
Bab 61 Kau mau tahu rahasiaku?
62
Bab 62 Ganra cemburu
63
Bab 62 Ganra cemburu
64
Bab 63 Kekesalan Bunga
65
Bab 64 Cemburu lagi
66
Bab 65 Main di kantor
67
Bab 66 Butik
68
Bab 67 Bunga si tukang caper
69
Bab 68 Zua cemburu
70
Bab 69 Main lagi
71
Bab 70 Gosip tentang Bunga
72
Bab 71 Main berlima
73
Bab 72 panggilan dari kantor polisi
74
Bab 73 Mual
75
Bab 74 Hamil
76
Bab 75 Tidak sengaja nguping
77
Bab 76 Jangan coba-coba Claire
78
Bab 77 Hukuman
79
Bab 78 Acara kantor
80
Bab 79 Kesal pada Bunga
81
Bab 80 peringatan Ganra
82
Bab 81 Masalah Narin
83
Bab 82 Berita gembira untuk keluarga
84
Bab 83 Pemutusan kontrak
85
Bab 84 Habis perempuan itu, giliranmu
86
Bab 85 Makan di pinggir jalan
87
Bab 86 Saling menggoda
88
Bab 87 Perubahan ibu mertua
89
Bab 88 Sejak kapan kalian dekat?
90
Bab 89 Memeriksa cctv
91
Bab 90 Kalau aku pijitin di sini?
92
Bab 91 Di manjakan istri
93
Bab 92 Positif HIV
94
Bab 93 Rencana menghancurkan Zua
95
Bab 94 Interogasi
96
Bab 95 Bunga makin nekat
97
Bab 96 Apa-apaan ini?
98
Bab 97 TOLONG!
99
Bab 98 bertahanlah
100
Bab 99 Kepanikan Ganra
101
Bab 100 Siapa yang melakukan ini?
102
Bab 101
103
Bab 102
104
Bab 103
105
Bab 104
106
Bab 105
107
Bab 106
108
Bab 107
109
Bab 108
110
Bab 109
111
Bab 110
112
Bab 111

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!