BAB 20: Rencana Kerja

Sekeliling kami sudah terbakar tipis. Sungai di depan juga sudah kehilangan banyak airnya oleh penguapan hawa panas. Dan jin penunggu sungai di depan gue ini bersiap untuk menyerang. Kalau digambarkan, bentuknya seperti ikan gabus, tapi punya tangan dan kaki manusia. Tubuhnya gempal dan kepalanya lebar. Kepalanya bersisik di mana setiap keping sisiknya seukuran telapak tangan orang dewasa. Giginya seperti gergaji: kecil, rapat, dan tajam.

Dan gue hanyalah cowok berusia 23 tahun yang saat ini menghunuskan pedang ke arahnya. Dari ukuran tinggi badan aja, gue cuma setinggi ketiaknya. Dalam keadaan genting kayak sekarang, sejak tadi gue menyadari ada yang aneh dari asap-asap yang mencoba menguasai tangan gue.

Asap merah, yang gue yakin berasal dari kekuatan Dea membuat gue gak bisa ngendaliin tangan gue sendiri, dan selalu aja mau menebas apa pun. Dan asap hitam yang gue rasa berasal dari kekuatan Torgol membuat tenaga gue jauh menggila ketika gue marah. Persamaan antara keduanya adalah: mereka ingin menguasai seluruh tubuh gue.

Nah yang gue bilang aneh tadi adalah: asap-asap itu gak bisa naik lebih tinggi dari pergelangan tangan kanan gue. Apakah ... sesuatu yang melingkari pergelangan gue saat ini menahan pergerakannya? Apakah ini gara-gara gelang hitam pemberian Mery?

"Mati!"

Jin itu melompat dan memukul gue! Pipi kiri gue terkena sedikit kukunya dan membuat ada darah keluar dari sana.

"Mati!" katanya lagi, sambil menendang kepala gue.

Untungnya, hanya tangan gue yang gak bisa gue kendaliin, jadinya gue masih bisa menghindar.

"Mati!" katanya sekali lagi, sambil mencoba menggigit leher gue.

Kali ini pedang gue membentur giginya. Kami masih saling kirim serangan. Beberapa bagian di seluruh tubuh gue terasa sakit karena pukulannya yang gak bisa gue hindari. Dia juga masih belum kelihatan capek. Benar-benar tenaga ikan gabus! Setelah keadaan warung dan semua orang di sana cukup aman, Sulay berlari cepat ke arah kami.

Sulay meninju kepala jin itu dengan sangat keras! Banyak sisiknya yang berjatuhan, membuat kulit kepalanya terlihat. Jin itu berteriak kesakitan sambil memegangi dahinya. Sulay melompat dan kembali menghantam kepalanya!

Pukulan Sulay kali ini membuat kepalanya licin tanpa sisik. Dia terjatuh ke tanah dan berguling-guling kesakitan. Tiba-tiba, tangan gue bergerak sendiri dan menebas Sulay! Kacau! Sulay menahan gelombang api dari pedang gue dengan tangan kanannya.

"Apa-apan lo, Do!?"

"Mohon maaf, Pak! Gerak sendiri!"

Berulang kali gue menebas Sulay, yang untungnya selalu bisa dia tahan atau hindari.

"Gila lo! Gak ada cara lain lagi, gue harus mencabut ilmu hitam lo dulu, Do!"

"Lakuin aja, Pak! Yang penting gue bisa gerak lagi!"

Sulay menyepak kaki gue hingga gue terjatuh ke tanah! Dia mencengkeram tangan kanan gue, dan asap hitam itu tersedot masuk ke tangannya. Gue merasa kesakitan dan mulai capek sendiri. Butuh waktu beberapa saat hingga seluruh asap hitam itu tersedot habis. Indikasinya adalah perubahan warna pedang gue, dari hitam kembali menjadi perak.

Setelah selesai, gue merasa capek dan amarah gue jauh berkurang. Namun, hal terpenting berupa tangan gue gerak sendiri belum bisa diatasi! Iya juga! Itu, kan karena asap merah Dea! Kenapa asap hitam Torgol yang disedot!? Sulay memegangi tangan kanannya. Asap hitam beterbangan di sana. Kami berdua sama-sama terduduk di tanah. Dan, jin seperti ikan gabus itu hilang tanpa ada yang sadar.

"Pak! Jinnya hilang, Pak!"

Sulay yang tampak kesakitan langsung berdiri dan mencari jin itu.

"Do! Biasanya ikan gabus ke mana waktu air sungai kering?"

"Biasanya dia tetap di lumpurnya, Pak."

Sulay memukul lumpur di tepi sungai dengan asap hitam dari tangannya. Sebuah suara gemuruh terdengar dari dalam sungai. Lumpur-lumpur di bawah bergejolak hebat. Lalu, diiringi suara ledakan jin itu melompat keluar. Gue menebasnya dan berhasil membakar lengan kanannya. Walau teriak kesakitan, tapi dia langsung berusaha menerkam Sulay.

Sulay menahan gigitannya secara langsung dengan tangan kanannya. Ada percikan api dan segumpal asap hitam keluar dari sana. Sulay menendang perut jin itu hingga terpental ke pohon. Gue dan Sulay berdiri bersebelahan di depannya yang tertunduk.

"Di mana Naya!?" tanya gue.

Dia menatap gue, tersenyum sambil menunjukkan gigi-giginya.

"Jawab!" teriak Sulay.

"Mati!" sahutnya.

Gue menebas dan memotong tangan kanannya. Dia teriak kesakitan.

"Kenapa lo menangkap Naya!? Jawab atau gue cincang lo!"

Dia memegangi bahunya yang bercucuran darah sambil meringis. Setelah meringis kesakitan, dia tertawa. Tawanya benar-benar gak enak didengar. Dia berdiri dengan susah payah sambil berpegangan di pohon. Dia masih tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan darah dari mulutnya.

"Ma ... ti!" sahutnya sekali lagi.

Tangan gue langsung bergerak menebasnya yang entah kenapa ditahan oleh Sulay.

"Tunggu, Do!"

Sepasang tangan berkuku panjang keluar dari pohon dan memegangi jin itu. Dia kaget dan berusaha melepaskan diri. Hantu cewek berbaju putih penunggu pohon keluar, dan kali ini wajahnya kelihatan! Gak seperti yang gue kira, ternyata wajahnya cewek banget! Gak ada hantu-hantunya sama sekali. Bola matanya berwarna hijau, bibirnya kecil dan alisnya tipis.

Sulay mendekati jin ikan gabus itu. Dia menyodorkan tangan kanannya sendiri ke mulut jin itu, dan tentu aja dia langsung menggigitnya. Gumpalan asap hitam keluar dari tangan Sulay dan masuk ke dalam mulut jin itu.

"Lihat ini, Mardo."

Terdengar suara Torgol yang sudah lama gak gue dengar! Sulay mundur ke belakang gue. Tangan kanan gue bergerak sendiri membuat posisi berlindung dengan pedang, dan secara mengerikan jin itu meledak! Itu dia! Itu pasti ulah Torgol!

Torgol berdiri membelakangi kami dengan keren banget! Hasil ledakan dari jin itu meninggalkan cairan-cairan bau ke segala arah, termasuk ke pedang gue. Dia berpaling, dan dengan bibir paruh ayamnya itu, gue melihat dia tersenyum menatap gue. Dia melompat dan berubah menjadi asap hitam lagi.

Dia terbang dengan cepat, memadamkan semua api yang masih berkobar. Hantu cewek penunggu pohon terbang ke atas sungai yang kering lalu berubah menjadi asap hijau! Gue baru pertama kali lihat ada asap warna hijau.

Asap hijau itu melebar ke seluruh permukaan sungai dan benar-benar keajaiban alam, airnya kembali pasang! Sungainya gak kering lagi! Bahkan airnya jadi lebih jernih. Kedua asap itu lalu kembali ke wujudnya dan berdiri di depan gue.

"Mardo," kata Torgol.

"Terima kasih, Mardo," kata cewek itu.

Sulay membersihkan bajunya yang kotor, lalu menepuk bahu gue.

"Misi selesai. Lo gue traktir kopi di tempat Mery."

"Tunggu, tunggu! Selesai apaan!? Terima kasih apaan!? Naya belum kembali, woy!"

Hantu cewek itu memanjangkan tangannya ke arah pohon, dan seorang cewek berbaju kuning, berambut cokelat pendek dengan mata tertutup keluar dari sana! Torgol berubah menjadi asap lagi ke arah kursi yang masih ada di air. Dia mengangkat kursi itu, menaruhnya di tempat semula.

Naya yang dipegangi oleh tangan panjang hantu pohon dituntun buat kembali duduk di kursi. Gue gak bisa gerak, tangan gue gemetaran, dan ... gue nangis waktu melihatnya lagi. Serius. Gue menyarungi pedang dan duduk di samping Naya. Hantu pohon, Torgol dan Sulay meninggalkan kami berdua. Mereka berjalan ke warung, dan semua orang di sana pingsan seketika.

Naya masih memejamkan matanya. Dia kayak lagi ketiduran. Gue memandanginya dengan air mata di pipi. Selama gue pacaran dengannya, gue gak pernah sesenang ini melihatnya lagi. Walau ... kalau diingat lagi, sekarang dia emang bukan pacar gue lagi.

"Nay," panggil gue pelan.

Kelopak matanya berdenyut sebelum dia membukanya. Dia menoleh ke arah gue perlahan.

"Mardo? Cepat banget kamu ke sini."

Gue diam aja sambil tersenyum bahagia melihatnya baik-baik aja.

"Kamu ... kenapa kotor gini? Pipi kamu luka lagi!"

"Biasa. Mancing.”

Episodes
1 BAB 1: Ingin Kerja
2 BAB 2: Rekan Kerja
3 BAB 3: Risiko Kerja
4 BAB 4: Kontrak Kerja
5 BAB 5: Pulang Kerja
6 BAB 6: Efek Kerja
7 BAB 7: Masuk Kerja
8 BAB 8: Latihan Kerja
9 BAB 9: Mulai Kerja
10 BAB 10: Cara Kerja
11 BAB 11: Dampak Kerja
12 BAB 12: Racun Kerja
13 BAB 13: Api Kerja
14 BAB 14: Warna Kerja
15 BAB 15: Spirit Kerja
16 BAB 16: Awal Kerja
17 BAB 17: Dandanan Kerja
18 BAB 18: Bulan Kerja
19 BAB 19: Amarah Kerja
20 BAB 20: Rencana Kerja
21 BAB 21: Mery dan Lukanya
22 BAB 22: Berkas dan Nasi Gorengnya
23 BAB 23: Dea dan Perasaannya
24 BAB 24: Es Krim dan Bayangannya
25 BAB 25: Bunga Kuning dan Wujudnya
26 BAB 26: Kotak dan Pitanya
27 BAB 27: Kuyang dan Kekuatannya
28 BAB 28: Senyuman dan Langkahnya
29 BAB 29: Sihir dan Warnanya
30 BAB 30: Pasar Gaib dan Uangnya
31 BAB 31: Kuda dan Topengnya
32 BAB 32: Air Mata dan Kecepatannya
33 BAB 33: Bulan Pucat dan Alasannya
34 BAB 34: Perebutan dan Jawabannya
35 BAB 35: Naya dan Sayapnya
36 BAB 36: Asap Hijau dan Aromanya
37 BAB 37: Latihan dan Waktunya
38 BAB 38: Bambu dan Suaranya
39 BAB 39: Bandara dan Kemauannya
40 BAB 40: Torgol dan Misinya
41 BAB 41: Sebuah Perjalanan
42 BAB 42: Sebuah Rumah
43 BAB 43: Sebuah Cerita
44 BAB 44: Sebuah Tanggal
45 BAB 45: Sebuah Pohon
46 BAB 46: Sebuah Rooftop
47 BAB 47: Sebuah Ambisi
48 BAB 48: Sebuah Persiapan
49 BAB 49: Sebuah Pertemuan
50 BAB 50: Sebuah Perbincangan
51 BAB 51: Sebuah Informasi
52 BAB 52: Sebuah Patahan
53 BAB 53: Sebuah Pengobatan
54 BAB 54: Sebuah Gaji
55 BAB 55: Sebuah Perkumpulan
56 BAB 56: Sebuah Bank
57 BAB 57: Sebuah Gambaran
58 BAB 58: Sebuah Warna
59 BAB 59: Sebuah Pencurian
60 BAB 60: Sebuah Batu
61 BAB 61: Cerita Material Itu
62 BAB 62: Cerita Buku Itu
63 BAB 63: Cerita Mobil Itu
64 BAB 64: Cerita Pasar Itu
65 BAB 65: Cerita Penangkapan Itu
66 BAB 66: Cerita Pelarian Itu
67 BAB 67: Cerita Mbah Itu
68 BAB 68: Cerita Sekolah Itu
69 BAB 69: Cerita Cewek Itu
70 BAB 70: Cerita Bubur Itu
71 BAB 71: Cerita Dinding Itu
72 BAB 72: Cerita Sungai Itu
73 BAB 73: Cerita Penempa Itu
74 BAB 74: Cerita Pedang Itu
75 BAB 75: Cerita Luka Itu
76 BAB 76: Cerita Serangan Itu
77 BAB 77: Cerita Pertikaian Itu
78 BAB 78: Cerita Video Itu
79 BAB 79: Cerita Gang Itu
80 BAB 80: Cerita Kucing Itu
81 BAB 81: Tentang Vivin dan Nita
82 BAB 82: Tentang Gosip di Kantor
83 BAB 83: Tentang Mencari Barang
84 BAB 84: Tentang Sebuah Flashdisk
85 BAB 85: Tentang Hantu yang Kecewa
Episodes

Updated 85 Episodes

1
BAB 1: Ingin Kerja
2
BAB 2: Rekan Kerja
3
BAB 3: Risiko Kerja
4
BAB 4: Kontrak Kerja
5
BAB 5: Pulang Kerja
6
BAB 6: Efek Kerja
7
BAB 7: Masuk Kerja
8
BAB 8: Latihan Kerja
9
BAB 9: Mulai Kerja
10
BAB 10: Cara Kerja
11
BAB 11: Dampak Kerja
12
BAB 12: Racun Kerja
13
BAB 13: Api Kerja
14
BAB 14: Warna Kerja
15
BAB 15: Spirit Kerja
16
BAB 16: Awal Kerja
17
BAB 17: Dandanan Kerja
18
BAB 18: Bulan Kerja
19
BAB 19: Amarah Kerja
20
BAB 20: Rencana Kerja
21
BAB 21: Mery dan Lukanya
22
BAB 22: Berkas dan Nasi Gorengnya
23
BAB 23: Dea dan Perasaannya
24
BAB 24: Es Krim dan Bayangannya
25
BAB 25: Bunga Kuning dan Wujudnya
26
BAB 26: Kotak dan Pitanya
27
BAB 27: Kuyang dan Kekuatannya
28
BAB 28: Senyuman dan Langkahnya
29
BAB 29: Sihir dan Warnanya
30
BAB 30: Pasar Gaib dan Uangnya
31
BAB 31: Kuda dan Topengnya
32
BAB 32: Air Mata dan Kecepatannya
33
BAB 33: Bulan Pucat dan Alasannya
34
BAB 34: Perebutan dan Jawabannya
35
BAB 35: Naya dan Sayapnya
36
BAB 36: Asap Hijau dan Aromanya
37
BAB 37: Latihan dan Waktunya
38
BAB 38: Bambu dan Suaranya
39
BAB 39: Bandara dan Kemauannya
40
BAB 40: Torgol dan Misinya
41
BAB 41: Sebuah Perjalanan
42
BAB 42: Sebuah Rumah
43
BAB 43: Sebuah Cerita
44
BAB 44: Sebuah Tanggal
45
BAB 45: Sebuah Pohon
46
BAB 46: Sebuah Rooftop
47
BAB 47: Sebuah Ambisi
48
BAB 48: Sebuah Persiapan
49
BAB 49: Sebuah Pertemuan
50
BAB 50: Sebuah Perbincangan
51
BAB 51: Sebuah Informasi
52
BAB 52: Sebuah Patahan
53
BAB 53: Sebuah Pengobatan
54
BAB 54: Sebuah Gaji
55
BAB 55: Sebuah Perkumpulan
56
BAB 56: Sebuah Bank
57
BAB 57: Sebuah Gambaran
58
BAB 58: Sebuah Warna
59
BAB 59: Sebuah Pencurian
60
BAB 60: Sebuah Batu
61
BAB 61: Cerita Material Itu
62
BAB 62: Cerita Buku Itu
63
BAB 63: Cerita Mobil Itu
64
BAB 64: Cerita Pasar Itu
65
BAB 65: Cerita Penangkapan Itu
66
BAB 66: Cerita Pelarian Itu
67
BAB 67: Cerita Mbah Itu
68
BAB 68: Cerita Sekolah Itu
69
BAB 69: Cerita Cewek Itu
70
BAB 70: Cerita Bubur Itu
71
BAB 71: Cerita Dinding Itu
72
BAB 72: Cerita Sungai Itu
73
BAB 73: Cerita Penempa Itu
74
BAB 74: Cerita Pedang Itu
75
BAB 75: Cerita Luka Itu
76
BAB 76: Cerita Serangan Itu
77
BAB 77: Cerita Pertikaian Itu
78
BAB 78: Cerita Video Itu
79
BAB 79: Cerita Gang Itu
80
BAB 80: Cerita Kucing Itu
81
BAB 81: Tentang Vivin dan Nita
82
BAB 82: Tentang Gosip di Kantor
83
BAB 83: Tentang Mencari Barang
84
BAB 84: Tentang Sebuah Flashdisk
85
BAB 85: Tentang Hantu yang Kecewa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!