CLB : Enaknya Punya Istri

“Masih lama nggak, saya sudah lapar,” keluh Rumi karena Kaisar belum juga keluar dari kamar.

“Sabar dong,” sahut Kaisar saat pintu terbuka.

Rumi menggeleng pelan melihat penampilan pria itu, padahal mereka hanya akan makan malam di luar itu pun bukan di cafe apalagi resto. Ia akan mengajak Kaisar menikmati seafood kaki lima di warung tenda pinggir jalan.

Kaisar terlihat rapi dan tentu saja tampan. Kaos dibalut cardigan dan celana jeans serta sandal. Harum tidak usah ditanya, rambutnya kembali rapi dan klimis khas pomade. Tubuhnya yang tinggi dengan kedua kaki jenjang membuat penampilannya semakin sempurna.

Namun, sampai depan rumah dahinya mengernyit karena jemputan mereka belum datang. Hanya ada motor matic yang biasa digunakan Rumi yang sudah diantarkan oleh supir kantor tadi sore.

“Ribut nggak sabar taunya jemputan belum datang.” Kaisar berkacak pinggang saat Rumi mengunci pintu. Mulutnya berdecak melihat Rumi kembali dengan setelan menyebalkan. Kacamata, rambut diikat norak dan poni berjejer di keningnya.

“Memang siapa yang mau jemput pak, malaikat maut? Kita naik motor lah, orang cuma ke kampung sebelah. Ayo!” Rumi sudah menaiki motor dan menghidupkan mesin.

“Tunggu, saya harus naik motor bareng kamu?”

“Ya iya, atau bapak mau di belakang motor lari sambil ngejar saya. Boleh, gimana enaknya aja,” tutur Rumi lalu tersenyum, membayangkan Kaisar berlarian mengejar dirinya.

“Ngaco kamu, penampilan saya udah oke begini taunya naik motor. Kenapa nggak bilang dari tadi.”

“Naik atau saya tinggal.” Ancaman Rumi berhasil, Kaisar langsung duduk di belakang tubuh gadis itu.

Cuaca mulai yang dingin mulai terasa, beruntung Kaisar memakai cardigan. Baru kali ini ia naik motor matic, bukan hal aneh sebenarnya kadang ia naik motor ke kantor. Hanya saja motor sport, terlihat gagah dan keren saat dikendarai. Yang menjengkelkan saat ini ia dibonceng dan tinggi badan mereka yang tidak seimbang membuat posisi di motor agak aneh.

Saat motor melewati jalan rusak, Kaisar kadang butuh pegangan. Tidak mungkin memeluk Rumi.

“Perhatikan jalanmu.”

“Tenang aja pak, saya udah biasa kok.”

‘Tapi saya nggak biasa,’ batin Kaisar.

Belum hilang kesalnya, makin emosi ketika Rumi berhenti di warung tenda dan meminta dirinya lekas turun.

“Ini … kita makan di sini?”

“Iya,” jawab Rumi lalu menarik kunci dan mengantonginya. “Ayo pak, tadi janji bapak yang traktir loh.”

“Nggak ada yang agak bagusan, rumah makan yang tertutup pake AC atau ….”

“Jangan takut pak, aman kok makan di sini.” Rumi meninggalkannya memasuki warung tenda.

Mau tidak mau Kaisar mengekor. Masih ada beberapa meja kosong, ia gegas duduk berhadapan dengan Rumi yang mengambil tisu lalu mengelap meja di hadapan Kaisar.

“Udah bersih pak, mau pesan apa?” tanya Rumi lalu dengan cepat mencatat pesanannya. Kaisar heran karena Rumi memilih tiga menu berbeda, padahal tubuhnya kecil tapi porsi makannya lumayan.

“Serius ini doang, warung di sini juara pak. Makanya rame.”

Kaisar menggeleng pelan, merasa pesanannya sudah cukup. Hanya satu porsi menu lengkap dengan nasi dan es jeruk.

Tidak sampai lima belas menit semua pesanan sudah terhidang di meja. Kaisar mengelap sendok dan garpu yang akan digunakan dengan tisu, sedangkan Rumi hanya mencuci tangannya dari mangkuk yang sudah disediakan.

“Selamat makan, makan besar malam ini,” ucapnya lalu mulai menikmati. Sambil mengunyah raut wajahnya menunjukan kalau rasa makanan itu nikmat bahkan sesekali mengangguk.

Kaisar pun mulai menyendokan isi piring ke dalam mulutnya. Mengunyah dengan pelan, ternyata rasanya tidak buruk. Saat menu miliknya sudah habis dan Rumi masih menikmati tiga menu yang dipesan, Kaisar mengarahkan sendok bermaksud mencicipi.

“Eh, jangan. Bapak pesan lagi aja.”

“Astaga,” gumam Kaisar lalu kembali memesan yang sama dengan milik Rumi.

Sesuai dengan janjinya, Kaisar membayar yang mereka makan, Rumi senyum-senyum sambil mengucapkan terima kasih. Terlihat menggemaskan. Kaisar merasa sudah tanggung jawabnya menafkahi gadis itu.

“Kalau mau lanjut traktir saya, besok aja di sini lagi,” usul Rumi.

“Baru segini, sama warungnya sekalian aku beli.”

“Sombong,” ucap Rumi. Ia heran karena Kaisar mengulurkan telapak tangannya meminta kunci motor.

“Saya yang bawa, kamu di belakang. Berasa kayak dibonceng bocah,” ungkap Kaisar dan Rumi hanya mencibir karena ejekan pria itu.

***

Drama menjelang tidur terjadi lagi. Keduanya tidak mau mengalah sampai, akhirnya Rumi mengusulkan kalau malam ini ia tidur di sofa dan besok di ranjang, bergantian. Kaisar mengedikan bahunya lalu berbaring sedangkan Rumi terpaksa menjadikan sofa yang tidak terlalu nyaman untuknya istirahat.

Saat Kaisar terjaga esok pagi, ia menyadari ada Rumi yang tinggal satu atap dengannya. Belum terdengar ada pergerakan, bisa dipastikan gadis itu masih tidur.

“Rumi,” panggil Kaisar sambil meregangkan tubuhnya lalu meraih ponsel di atas nakas dan mengecek masih dengan posisi berbaring.

Tidak ada sahutan, Kaisar kembali teriak.

“Rumi!”

“Iya, iya. Ck, punya alarm baru, tapi nggak ramah di telinga.” Rumi beranjak dari sofa lalu melipat selimutnya. Berdiri di tengah pintu kamar sambil menggaruk kepala. “Kenapa Pak?”

Kaisar menoleh dan …

“Rambut kamu … macam singa. Kamu tidur apa ngamuk sih.” Memang rambut Rumi berantakan, tapi wajahnya terlihat semakin imut tanpa kaca mata dan poni yang acak-acakan.

Rumi berdecak lalu merapikan rambutnya dengan tangan.

“Siapkan air hangat, saya mau mandi?”

“Hah, nggak salah, Pak?” tanya Rumi.

“Nggak, kamu nggak salah. Kecuali kamu tidak patuh, itu namanya salah. Jangan lama, nanti kesiangan. Saya minta Pak Medi jemput, nggak mungkin naik motor kamu.”

Tidak peduli dengan suara Rumi yang mengoceh tidak jelas, Kaisar terkekeh.

“Enak juga punya istri. Kita lihat kamu bisa melakukan apa lagi. Ternyata dibalik musibah, ada anugerah.” Kaisar kemudian tergelak.

≈\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Author : Kai, sungkem dulu. Itu anugrah gue yg atur

Kaisar : ampun Doro 🙏

Terpopuler

Comments

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

lucu bgt pasangan suami istri dadakan ini... Kai sebelum pertemuan pertama Rumi dan mama kamu, make over Rumi supaya kelihatan lebih gorgeous dan elegant

2025-01-06

0

Mrs.Riozelino Fernandez

Mrs.Riozelino Fernandez

lama kelamaan kamu terbiasa ada Rumi di sampingmu Kai...
ntar balik ke kota baru ribet,Kaisar habis tugas sedangkan Rumi memank di tugaskan di kota ini 😆

2025-01-05

0

Ilfa Yarni

Ilfa Yarni

birpun Rumi km bilang kyk Betty la Vea tp sebenarnya dia cantik km make over aja dia pasti lama2 km bucin dan takut kehilangannya

2025-01-06

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog ~ CLB
2 CLB - Berkah Atau Musibah
3 CLB - Saya Juga Lapar
4 CLB - Cewek Pertama
5 CLB - Sudah Mandi?
6 CLB - Pantas Saja Jomblo
7 CLB - Belum Ada Judul
8 CLB - Salah Sangka
9 CLB - Bukan Prank
10 CLB - Drama Suami Istri
11 CLB ~ Mau Kemana?
12 CLB - Tinggal Bersama
13 CLB : Enaknya Punya Istri
14 CLB - Mau ....
15 CLB - Lagi ....
16 CLB - Mau Ikut
17 CLB - Karpet Merah
18 CLB - Mela dan Ardi
19 CLB - Sambutan Keluarga
20 CLB - Mirip Dengan ....
21 CLB ~ Perasaan
22 CLB - Jatuh Cinta
23 CLB - Menyesal
24 CLB - Lebih Hebat
25 CLB - Sambutan Keluarga
26 CLB - Gagal Lagi
27 CLB - Bertemu (Lagi)
28 CLB - Mencari Tahu
29 CLB - Kamu Siapa?
30 CLB - Terungkap
31 CLB - Rencana
32 CLB - Bertemu Mertua
33 CLB - Ada Yang Salah
34 CLB - Rencana (2)
35 CLB - Tidak Mungkin
36 CLB - Ternyata ....
37 CLB - Belum Ada Judul
38 CLB - Ternyata (2)
39 CLB - Nanti Juga Tahu
40 CLB - Tidak Mungkin
41 CLB - Balas Dendam
42 CLB - Tuduhan Ardi
43 CLB - Gaya Apa
44 CLB - Akhirnya Berhasil
45 CLB - Karena Rumi
46 CLB - Masa Lalu
47 CLB - Mikirin Aku
48 CLB - Kerja Siang dan Malam
49 CLB - Ancaman Ardi
50 CLB - Tempat Sampah
51 CLB - Rumi Sakit
52 CLB - Sakitnya Rumi (2)
53 CLB - Hamil
54 CLB - Perempuan Gil4
55 CLB - Cewek Gila
56 CLB - Kami Bersaudara
57 CLB - Karatan
58 CLB - Baby Rusa
59 CLB - Keluarga Yang Aneh
60 CLB - Suami Mesum
61 CLB -
62 CLB - Menyadari Kesalahan
63 CLB - Siapa Yang Gil4
64 CLB - Tanda - tanda
65 CLB - Bulan Madu
66 CLB - Rumi Vs Rida
67 CLB - I Love You
68 CLB - Masih Kuat
69 CLB - Tanda-tanda (2)
70 CLB - Nama Kesayangan
71 CLB - Luar Biasa
72 CLB - Kontraksi
73 CLB - Seriuslah Kai ....
74 CLB - Seperti Digigit
75 CLB - Akhirnya ....
76 CLB - Kejutan (1)
77 CLB - Kejutan (2)
78 CLB - Warisan Kaisar
79 CLB - Aku Buktikan
80 CLB - Kontraksi
81 CLB - Kondisi Mamak
82 CLB - Kaisar VS Dokter
83 CLB - Astaga ....
84 CLB - Terserah!
85 CLB - Tidak Yakin
86 CLB - Benar Anakku
87 CLB -
88 CLB - Rahasia
89 CLB -
90 CLB - End
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Prolog ~ CLB
2
CLB - Berkah Atau Musibah
3
CLB - Saya Juga Lapar
4
CLB - Cewek Pertama
5
CLB - Sudah Mandi?
6
CLB - Pantas Saja Jomblo
7
CLB - Belum Ada Judul
8
CLB - Salah Sangka
9
CLB - Bukan Prank
10
CLB - Drama Suami Istri
11
CLB ~ Mau Kemana?
12
CLB - Tinggal Bersama
13
CLB : Enaknya Punya Istri
14
CLB - Mau ....
15
CLB - Lagi ....
16
CLB - Mau Ikut
17
CLB - Karpet Merah
18
CLB - Mela dan Ardi
19
CLB - Sambutan Keluarga
20
CLB - Mirip Dengan ....
21
CLB ~ Perasaan
22
CLB - Jatuh Cinta
23
CLB - Menyesal
24
CLB - Lebih Hebat
25
CLB - Sambutan Keluarga
26
CLB - Gagal Lagi
27
CLB - Bertemu (Lagi)
28
CLB - Mencari Tahu
29
CLB - Kamu Siapa?
30
CLB - Terungkap
31
CLB - Rencana
32
CLB - Bertemu Mertua
33
CLB - Ada Yang Salah
34
CLB - Rencana (2)
35
CLB - Tidak Mungkin
36
CLB - Ternyata ....
37
CLB - Belum Ada Judul
38
CLB - Ternyata (2)
39
CLB - Nanti Juga Tahu
40
CLB - Tidak Mungkin
41
CLB - Balas Dendam
42
CLB - Tuduhan Ardi
43
CLB - Gaya Apa
44
CLB - Akhirnya Berhasil
45
CLB - Karena Rumi
46
CLB - Masa Lalu
47
CLB - Mikirin Aku
48
CLB - Kerja Siang dan Malam
49
CLB - Ancaman Ardi
50
CLB - Tempat Sampah
51
CLB - Rumi Sakit
52
CLB - Sakitnya Rumi (2)
53
CLB - Hamil
54
CLB - Perempuan Gil4
55
CLB - Cewek Gila
56
CLB - Kami Bersaudara
57
CLB - Karatan
58
CLB - Baby Rusa
59
CLB - Keluarga Yang Aneh
60
CLB - Suami Mesum
61
CLB -
62
CLB - Menyadari Kesalahan
63
CLB - Siapa Yang Gil4
64
CLB - Tanda - tanda
65
CLB - Bulan Madu
66
CLB - Rumi Vs Rida
67
CLB - I Love You
68
CLB - Masih Kuat
69
CLB - Tanda-tanda (2)
70
CLB - Nama Kesayangan
71
CLB - Luar Biasa
72
CLB - Kontraksi
73
CLB - Seriuslah Kai ....
74
CLB - Seperti Digigit
75
CLB - Akhirnya ....
76
CLB - Kejutan (1)
77
CLB - Kejutan (2)
78
CLB - Warisan Kaisar
79
CLB - Aku Buktikan
80
CLB - Kontraksi
81
CLB - Kondisi Mamak
82
CLB - Kaisar VS Dokter
83
CLB - Astaga ....
84
CLB - Terserah!
85
CLB - Tidak Yakin
86
CLB - Benar Anakku
87
CLB -
88
CLB - Rahasia
89
CLB -
90
CLB - End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!