CLB - Belum Ada Judul

Paling tidak semalam tidur Kaisar lebih nyenyak dibandingkan malam sebelumnya. Berkat jaket dan bedcover. Kurangnya adalah Rumi hanya memberikan satu buah jaket, apa iya harus dipakai tiap malam sampai urusannya selesai dan kembali ke Jakarta,

Nanti ia akan minta antar Rumi untuk beli satu atau dua jaket lagi. Untuk masalah mandi, semalam ia sudah membuat rencana. Kalau seharian tidak ada pekerjaan berat yang mengharuskan ia berkeringat lebih banyak, maka mandi hanya perlu dilakukan saat pagi.

Kalau tinggal putar kran, mungkin tidak akan masalah ia mandi sehari tiga kali bagai minum obat. Masalahnya dia harus memasak air panas hanya untuk mandi saja. Beruntung air tidak harus timba di sumur. Mendadak Kaisar menggeleng membayangkan tangannya berotot karena mengambil air dan telapak tangan yang kasar.

“Hah,” Kaisar mengusap perutnya setelah membuang hajat sambil menunggu airnya panas.

“Kayaknya selama di sini, gue nggak boleh makan pedas dan santan.” Kembali melirik closet jongkok yang membuatnya pegal. “Padahal kalau sambil duduk lebih nyaman, bisa menghayal. Mana tahu dapat ide cemerlang.”

Hari masih pagi, baru jam enam. Mengambil ponsel di kamar kembali berusaha menghubungi Johan.

“Halah, bapuk banget.”

Kalau menerima panggilan telepon, kadang suaranya tidak sampai ke ujung sana atau mau menghubungi balik sinyalnya tidak ada. Pesan masih bisa masuk meski harus menunggu jaringannya bagus dan balasan pun sama.

Bisa jadi Kaisar membalas pesan yang semalam atau sejam yang lalu dia terima, tentu saja tidak seru. Apalagi obrolan grup dengan dua sahabat gesreknya, Arya dan Reno. Sejak tiba di sini, belum puas rasanya kedua pria itu mengejek Kaisar yang belum bisa membalas dengan ejekan berarti.

Reno : Spil cewek di sana dong!

Pesan terakhir dari Reno tadi malam, ingin rasanya Kaisar menoyor kepala Reno. Bisa-bisanya menanyakan cewek yang ada di sini, apalagi Arya dengan keyakinan kalau cewek-cewek di sini pasti cantik.

Tidak mungkin Kaisar mengatakan cewek pertama yang ditemui adalah Rumi, yang penampilannya seperti betty la fea. Gegas ia menggeleng pelan, tidak ingin semua hal yang terjadi disini akan menjadi bahan ejekan seumur hidup.

“Nasib, nasib. Sabar Kaisar, mana tahu Tuhan sedang persiapan sesuatu untuk lo. Hal luar biasa yang akan merubah hidup dan masa depan lo. Eh, air panas gue.” Kaisar kembali ke dapur dan mendapati airnya sudah mendidih.

“Meski tidak mandi aura dan ketampanan gue masih utuh, harus jaga image dengan … mandi.”

***

“Hah, Pak Medi nggak bisa antar Pak Kaisar? Terus siapa yang harus nemenin, Cecep?”

“Stt, kamu jangan berisik. Nggak enak didengar Mas Kaisar.”

“Dia ‘kan punya kuping pak, normal dong kalau bisa dengar. Bapak gimana sih, kemarin bilang bisa antar sekarang nggak bisa. Mana nggak keren banget alasannya,” keluh Rumi yang mendadak emosi jiwa.

“Jangan gitu kamu, saya serius ini,” tutur Medi lirih.

Seharusnya ia mengantarkan dan menemani Kaisar meninjau lokasi proyek. Hanya saja tadi pagi ada drama di rumahnya, ia harus menyelesaikan masalah yang tidak kalah penting.

“Kamu belum menikah nggak akan tahu betapa pentingnya membuat istri saya tidak ngambek apalagi sampai kabur ke rumah mertua. Sudah siap-siap sana, nanti bisa pake mobil kantor.”

Rumi berdecak mendengar perintah Medi. Bukannya tidak mau mengerjakan apa yang diperintahkan hanya saja dia masalah berada di bawah terik matahari dan kostumnya kali ini mengenakan kemeja biru langit dan rok navy lengkap dengan flat shoes. Sangat tidak cocok untuk kunjungan lapangan.

“Nggak usah cemberut gitu, saya atasan kamu loh.”

“Saya minta yang lain aja ya, pak. Berkasnya sudah beres tinggal berangkat doang. Pak Kaisar pasti lebih nyaman ditemani laki-laki,” sahut Rumi lagi, masih berusaha menolak.

“Heh, jangan panggil dia bapa. Saya aja panggil dia Mas. Lagian Rum, semua pria normal itu lebih nyaman ditemani perempuan. Ya … meskipun perempuannya kamu. Nggak tahu juga, Mas Kaisar nyaman atau nggak. Eh, bukannya meledek loh.”

“Pak Medi.” Terdengar suara Kaisar dari ruangan lain.

“Iya, Mas Kaisar. OTW, kesitu saya,” sahut Medi dengan suara keras. “Sudah sana siap-siap, ini kunci mobilnya.” Kali ini Medi bicara lirih.

Wajah Rumi seakan ditekuk saat memasuki mobil dan berada di depan kemudi. Menunggu Kaisar yang masih berbincang dengan Medi. Ransel milik Rumi dan zipper bag berisi dokumen sudah berada di kabin belakang. Pintu mobil dibuka dan masuklah Kaisar.

“Nanti Rumi yang akan melapor ke saya, butuh sesuatu minta saja pada dia,” ungkap Medi dan Kaisar menjawab dengan dehaman lagi.

Rumi sempat melirik sinis pada Medi yang membalas sinis seakan mengatakan, ‘Kerja yang bener, cari kerja itu susah’

“Saya jalan ya pak,” ujar Rumi.

“Kok jalan, kita sudah dalam mobil.”

“Maksudnya, saya mau jalankan mobil ini.” Rumi bicara pelan, tapi dengan tekanan berusaha sabar.

“Oh, ya udah. Tunggu apa lagi kalau nggak cepat jalan.”

Emosi Rumi bukan sebatas mendapatkan tugas mendadak dari Medi, meski tugas lain sudah menanti di mejanya. Pagi tadi, ada chat dari Mela. Kalau kontak Ardi sudah dia blokir, tapi tidak dengan Mela. Bagaimana pun Mela adalah sepupunya dan tidak ada banyak percakapan dengan dirinya. Mungkin saja Mela akan mengabarkan kondisi Pamannya yang membisu saat ia pergi dari rumah.

Mela menanyakan di mana Rumi berada, memastikan tidak menyusul ke Jakarta. Bahkan perempuan itu mengirimkan foto-foto keadaan apartemen mewah milik Ardi. Ada satu foto yang membuat Rumi menarik nafas, foto Mela dan Ardi sedang bercium4n. Kenapa tidak sekalian buat video m3sum saja pikirnya.

“Heh, kamu dengar tidak?”

Suara Kaisar menyadarkan lamunan Rumi dan langsung menginjak rem mendadak.

“Astaga!” pekik Kaisar. Beruntung mengenakan seat belt, jika tidak wajahnya pasti sudah menempel pada dashboard. “Kamu kenapa sih?”

“Ma-af pak, ya ampun saya nggak sengaja.”

“Gimana bisa nggak sengaja, kamu tiba-tiba ngerem.” Kaisar menoleh ke belakang memastikan tidak ada kendaraan lain.

“Saya tadi ….” Rumi menggaruk kepalanya. Melamun ucapnya dalam hati. “Lihat kucing, iya lihat kucing. Tahu sendiri Pak, kita nggak boleh melindas kucing atau nanti dapat sial.”

“Nggak usah nanti, sekarang aku udah sial,” gumam Kaisar.

“Apa pak?”

“Nggak apa-apa, lanjut saja atau saya yang nyetir. Kamu tinggal kasih petunjuk arah,” usul Kaisar.

“eh jangan Pak. Biar saya saja.” Rumi teringat ancaman Medi kalau susah cari kerja. Bisa saja Kaisar mengeluhkan hal ini ke pusat dan terbitlah surat peringatan atau bahkan surat pemecatan.

Jarak dari kantor ke lokasi pertama yang akan mereka kunjungi hanya dua puluh menit. Di sinilah mereka berada. Tanah merah luas terbentang, sudah rata tanpa pepohonan. Beberapa patok sudah terpasang. Bahkan sudah ada area yang memang disiapkan untuk membuat jalan.

“Tinggal eksekusi kenapa mandek begini.” Kasir menatap hamparan tanah kosong tersebut sambil berkacak pinggang dan kaca mata hitam karena suasana sedang terik.

Rumi menyusul setelah mematikan mesin mobil.

“Kalau proyek ini tidak dilanjutkan karena sesepuh daerah sini menolak pembangunan. Katanya akan merugikan masyarakat.”

“Merugikan gimana, ini perumahan bersubsidi. Tujuan pembangunanya memang untuk masyarakat menengah ke bawah.”

“Informasi yang sampai ke masyarakat bisa berbeda, pak.”

“Kita temui sesepuh itu. Di mana dia tinggal?”

Rumi membuka ponselnya, mencari informasi yang mungkin sudah disimpan sebelumnya. “Pak Djarot dan Prapto, ada di Desa Marga Asih.”

“Jauh dari sini?”

“Hm. Saya tidak tahu, Pak. Baru dua minggu jadi bawahan Pak Medi, sebelumnya saya dari Surabaya,” jawab Rumi lalu mengangkat sedikit kaca matanya untuk mengusap keringat di hidung dan dahi. Bahkan menyingkirkan sekilas poni yang berbaris rapi di keningnya.

Menyaksikan itu Kaisar mengernyitkan dahi.

Terpopuler

Comments

Lita Pujiastuti

Lita Pujiastuti

masa beneran ky Bety La Fea sih.....author inget jg serial drama jadul itu.....😅

2025-03-10

0

Ilfa Yarni

Ilfa Yarni

Rumi itu cantik tp dia sengaja tutupi biar ga ada orang yg niat jahat sama dia

2025-01-03

0

Dewi Purnomo

Dewi Purnomo

wah dah lihat wajah asli Rumi kan...hehe ...lanjut up kak.

2025-01-03

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog ~ CLB
2 CLB - Berkah Atau Musibah
3 CLB - Saya Juga Lapar
4 CLB - Cewek Pertama
5 CLB - Sudah Mandi?
6 CLB - Pantas Saja Jomblo
7 CLB - Belum Ada Judul
8 CLB - Salah Sangka
9 CLB - Bukan Prank
10 CLB - Drama Suami Istri
11 CLB ~ Mau Kemana?
12 CLB - Tinggal Bersama
13 CLB : Enaknya Punya Istri
14 CLB - Mau ....
15 CLB - Lagi ....
16 CLB - Mau Ikut
17 CLB - Karpet Merah
18 CLB - Mela dan Ardi
19 CLB - Sambutan Keluarga
20 CLB - Mirip Dengan ....
21 CLB ~ Perasaan
22 CLB - Jatuh Cinta
23 CLB - Menyesal
24 CLB - Lebih Hebat
25 CLB - Sambutan Keluarga
26 CLB - Gagal Lagi
27 CLB - Bertemu (Lagi)
28 CLB - Mencari Tahu
29 CLB - Kamu Siapa?
30 CLB - Terungkap
31 CLB - Rencana
32 CLB - Bertemu Mertua
33 CLB - Ada Yang Salah
34 CLB - Rencana (2)
35 CLB - Tidak Mungkin
36 CLB - Ternyata ....
37 CLB - Belum Ada Judul
38 CLB - Ternyata (2)
39 CLB - Nanti Juga Tahu
40 CLB - Tidak Mungkin
41 CLB - Balas Dendam
42 CLB - Tuduhan Ardi
43 CLB - Gaya Apa
44 CLB - Akhirnya Berhasil
45 CLB - Karena Rumi
46 CLB - Masa Lalu
47 CLB - Mikirin Aku
48 CLB - Kerja Siang dan Malam
49 CLB - Ancaman Ardi
50 CLB - Tempat Sampah
51 CLB - Rumi Sakit
52 CLB - Sakitnya Rumi (2)
53 CLB - Hamil
54 CLB - Perempuan Gil4
55 CLB - Cewek Gila
56 CLB - Kami Bersaudara
57 CLB - Karatan
58 CLB - Baby Rusa
59 CLB - Keluarga Yang Aneh
60 CLB - Suami Mesum
61 CLB -
62 CLB - Menyadari Kesalahan
63 CLB - Siapa Yang Gil4
64 CLB - Tanda - tanda
65 CLB - Bulan Madu
66 CLB - Rumi Vs Rida
67 CLB - I Love You
68 CLB - Masih Kuat
69 CLB - Tanda-tanda (2)
70 CLB - Nama Kesayangan
71 CLB - Luar Biasa
72 CLB - Kontraksi
73 CLB - Seriuslah Kai ....
74 CLB - Seperti Digigit
75 CLB - Akhirnya ....
76 CLB - Kejutan (1)
77 CLB - Kejutan (2)
78 CLB - Warisan Kaisar
79 CLB - Aku Buktikan
80 CLB - Kontraksi
81 CLB - Kondisi Mamak
82 CLB - Kaisar VS Dokter
83 CLB - Astaga ....
84 CLB - Terserah!
85 CLB - Tidak Yakin
86 CLB - Benar Anakku
87 CLB -
88 CLB - Rahasia
89 CLB -
90 CLB - End
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Prolog ~ CLB
2
CLB - Berkah Atau Musibah
3
CLB - Saya Juga Lapar
4
CLB - Cewek Pertama
5
CLB - Sudah Mandi?
6
CLB - Pantas Saja Jomblo
7
CLB - Belum Ada Judul
8
CLB - Salah Sangka
9
CLB - Bukan Prank
10
CLB - Drama Suami Istri
11
CLB ~ Mau Kemana?
12
CLB - Tinggal Bersama
13
CLB : Enaknya Punya Istri
14
CLB - Mau ....
15
CLB - Lagi ....
16
CLB - Mau Ikut
17
CLB - Karpet Merah
18
CLB - Mela dan Ardi
19
CLB - Sambutan Keluarga
20
CLB - Mirip Dengan ....
21
CLB ~ Perasaan
22
CLB - Jatuh Cinta
23
CLB - Menyesal
24
CLB - Lebih Hebat
25
CLB - Sambutan Keluarga
26
CLB - Gagal Lagi
27
CLB - Bertemu (Lagi)
28
CLB - Mencari Tahu
29
CLB - Kamu Siapa?
30
CLB - Terungkap
31
CLB - Rencana
32
CLB - Bertemu Mertua
33
CLB - Ada Yang Salah
34
CLB - Rencana (2)
35
CLB - Tidak Mungkin
36
CLB - Ternyata ....
37
CLB - Belum Ada Judul
38
CLB - Ternyata (2)
39
CLB - Nanti Juga Tahu
40
CLB - Tidak Mungkin
41
CLB - Balas Dendam
42
CLB - Tuduhan Ardi
43
CLB - Gaya Apa
44
CLB - Akhirnya Berhasil
45
CLB - Karena Rumi
46
CLB - Masa Lalu
47
CLB - Mikirin Aku
48
CLB - Kerja Siang dan Malam
49
CLB - Ancaman Ardi
50
CLB - Tempat Sampah
51
CLB - Rumi Sakit
52
CLB - Sakitnya Rumi (2)
53
CLB - Hamil
54
CLB - Perempuan Gil4
55
CLB - Cewek Gila
56
CLB - Kami Bersaudara
57
CLB - Karatan
58
CLB - Baby Rusa
59
CLB - Keluarga Yang Aneh
60
CLB - Suami Mesum
61
CLB -
62
CLB - Menyadari Kesalahan
63
CLB - Siapa Yang Gil4
64
CLB - Tanda - tanda
65
CLB - Bulan Madu
66
CLB - Rumi Vs Rida
67
CLB - I Love You
68
CLB - Masih Kuat
69
CLB - Tanda-tanda (2)
70
CLB - Nama Kesayangan
71
CLB - Luar Biasa
72
CLB - Kontraksi
73
CLB - Seriuslah Kai ....
74
CLB - Seperti Digigit
75
CLB - Akhirnya ....
76
CLB - Kejutan (1)
77
CLB - Kejutan (2)
78
CLB - Warisan Kaisar
79
CLB - Aku Buktikan
80
CLB - Kontraksi
81
CLB - Kondisi Mamak
82
CLB - Kaisar VS Dokter
83
CLB - Astaga ....
84
CLB - Terserah!
85
CLB - Tidak Yakin
86
CLB - Benar Anakku
87
CLB -
88
CLB - Rahasia
89
CLB -
90
CLB - End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!