CLB - Pantas Saja Jomblo

"Mandilah," sahut Kaisar sengit.

“Apa ini bahas masalah mandi. Mas Kaisar nggak mandi pun kayaknya nggak kelihatan, tetap terlihat ganteng,” ungkap Medi dan mendapatkan cibiran dari Rumi.

“Beda sama kita Rum. Belek mata, iler, belum lagi aroma tubuh yang menyengat,” tambah Medi lalu terkekeh.

“Dih, itu Pak Medi kali. Aku mah nggak tuh.”

“Ya sudah, panggil yang lain. Pembahasan kita bukan masalah mandi.”

 Tidak sampai lima menit, berdatangan para staf termasuk Rumi yang duduk di sisi kanan Kaisar berhadapan dengan Medi. Ada lima belas orang mengisi meja panjang termasuk Kaisar, Rumi dan Medi dan sebagiannya lagi adalah perempuan.

“Baik, kita mulai saja.” Semua sudah memperhatikan saat Medi bicara, hanya saja Kaisar yang menjadi pusat perhatian membuatnya bangga dan besar kepala. Dia berdehem dan menegakkan tubuhnya. Medi menjelaskan siapa Kaisar dan tujuan kedatangannya. Semua peserta rapat menyimak dan mengangguk kompak mendengar penjelasan pimpinan mereka, kecuali Rumi.

“Silahkan Mas Kaisar,” ujar Medi mempersilahkan Kaisar untuk bicara.

“Selamat pagi, perkenalkan saya Kaisar Sadhana. Kedatangan saya tidak perlu dirisaukan, bukan menambah pekerjaan bapak dan Ibu sekalian. Hanya saja ada beberapa hal terkait proyek yang harus kita evaluasi bersama. Apa saja hal itu, akan didiskusikan lebih lanjut.”

Semua terlihat menyimak. Meski kenyataannya, ada yang melamun ada pula yang memikirkan menu makan siang dan ada juga yang memperhatikan wajah Kaisar yang glowing, termasuk juga Rumi yang berniat menanyakan skin care apa yang digunakan oleh Kaisar. Sebagai perempuan ia merasa minder dengan kulit wajahnya.

“Jadi, tidak usah sungkan. Lanjutkan saja pekerjaan bapak dan ibu. Kalaupun saya butuh informasi dan laporan, akan lewat Pak Medi.

Kaisar meminta Rumi membuka file dan menjelaskan apa yang harus menjadi perhatian sampai dia dikirim ke tempat itu.

“Tim dari pusat masih berpikir positif kalau kendala dan masalah ini bukan karena salah satu pihak tidak bertanggung jawab.”

Semua terpukau dengan penjelasan dan presentasi Kaisar. Sedangkan pria itu greget dengan respon dari peserta rapat yang hanya diam. Rasanya Kaisar ingin bertanya dengan suara keras, “Lo pada paham nggak?”

Akhirnya rapat pun berakhir, tapi para peserta rapat masih berada dalam ruangan. Mereka masih penasaran dengan pria yang tadi bicara panjang lebar, tapi tidak terlalu dipahami.

“Ini ngapain masih di sini, ayo pada bubar. Tidak ada makan siang ya, rapatnya cuma sebentar,” usir Rumi karena setelah ini dia dan Medi masih harus menjelaskan dua proyek yang menjadi alasan kedatangan Kaisar.

“Kita mau bertanya.”

“Oh, silahkan,” sahut Medi.

“Mas Kaisar sudah menikah belum?” tanya salah satu staf perempuan yang sejak tadi tidak melepaskan pandangan dari Kaisar.

“Kebetulan saya masih single,” jawab Kaisar tidak semangat. Dia mengira akan mendapatkan pertanyaan tentang presentasi yang baru saja dilakukan, nyatanya melenceng dari prediksi BMKG.

“Wah kebetulan juga saya masih single. Mana tahu cocok.”

“Cocok menurut kamu, belum tentu menurut Tuhan. Ayo bubar, biasanya nggak usah diusir langsung pada ngacir. Ini kenapa masih pada betah sih,” cetus Medi sambil menggerakan tangan mengusir anak buahnya.

Hanya bersisa Kaisar, Rumi dan Medi. Pembicaraan mereka fokus pada proyek yang mangkrak dan proyek yang belum dimulai padahal semua persiapan dan perizinan sudah lengkap.

“Kalau begitu, saya minta data mandor untuk proyek ini juga laporan mingguannya!” titah Kaisar dan Rumi langsung menampilan data yang diminta dan mencari kelengkapannya.

Ketiga orang tersebut sangat fokus dan cukup lama berdiskusi, bahkan makan siang pun diantar ke ruangan karena masih lanjut berdiskusi. Medi sebagai pimpinan sudah melakukan semua langkah dan kemungkinan agar proyek tetap berlanjut.

“Lokasi ini apa jauh dari sini?” tanya Kaisar menunjuk bantex berisi laporan mengenai proyek yang mangkrak.

“Nggak jauh- jauh banget sih,” jawab Rumi masih menekuni layar laptop. Sesekali ia akan membetulkan letak kacamatanya.

“Besok saya akan ke lokasi itu,” ujar Kaisar.

“Boleh, nanti saya temani.”

Mendengar usulan Medi, Rumi menghela lega. Ia masih bisa mengerjakan tugas yang lain dari pada harus menjadi tour guide Kaisar ke lokasi proyek. Apalagi dia juga belum pernah ke lokasi tersebut, baru dua minggu bertugas.

Sementara ruang kerja Kaisar masih disiapkan, akhirnya pria itu menempati meja di samping meja kerja Rumi.

Sudah hampir jam tiga sore saat Kaisar dan Rumi masih fokus dengan laptop masing-masing. Karena berdekatan, Rumi mendengar dengar jelas Kaisar bergumam dan mengumpat pelan.

“Bapak butuh sesuatu?” tanya Rumi.

“Tidak, tidak ada. Semua aman terkendali,” jawab Kaisar dan Rumi menghela pelan. Ternyata dia memiliki atasan yang aneh, bukan hanya Medi, tapi Kaisar juga.

Tangan Rumi sedang menggerakan mouse, Kaisar menggeser kursinya mendekat.

“Jaringan seluler di sini, yang bagus apa?” tanya Kaisar lirih.

“Tidak ada yang bagus, semua sama saja. Kadang timbul tenggelam.”

Kaisar kembali ingin menggerutu, tapi ditahan menyadari Rumi akan mendengar. Bagaimanapun dia adalah pimpinan dan perlu menjaga image.

“Oh iya, saya sepertinya butuh jaket dan bed cover. Ternyata cuacanya lebih dingin dari yang saya bayangkan.”

“Iya, nanti saya siapkan.”

“Kalau pemanas air otomatis, apa susah mendapatkan alat itu di sini?” tanya Kaisar lagi.

“Saya tidak tau Pak, sepertinya susah dan mahal. Kalau mudah apalagi murah, alat itu pasti laku keras.”

Kaisar tidak lagi bicara, jawaban Rumi yang tajam membuatnya urung bicara dan merespon jawaban gadis itu. Rumi terlihat tidak takut padanya, entah karena sikap asli Rumi begitu atau ….

Jam kerja berakhir, Rumi langsung keluar untuk mencari kebutuhan Kaisar menggunakan motornya sedangkan Kaisar diantar pulang oleh Medi. Kaisar menunggu kedatangan Rumi membawakan kebutuhannya.

Hampir maghrib saat kendaraan bermotor berhenti di depan rumah kontrakan. Gegas pria itu membuka pintu depan, sudah menduga yang baru saja tiba itu adalah Rumi.

“Pesanan saya, ada semua?”

“Kecuali pemanas air nggak ada dan saya nggak mau ke kota atau ke kampung sebelah untuk mencari barang itu.”

Kaisar melihat bedcover dan kantong plastik bergantung di motor. Tidak berani bicara lagi, dari pada berujung berdebat dengan Rumi. Tidak lucu kalau sampai didengar Johan dan Mihika kalau ia bertengkar dengan salah satu staf di cabang hanya karena air hangat.

Mengambil alih bed cover dan jaket miliknya lalu membawa ke kamar. Rumi mengekor membawa kantong plastik dan diletakan di atas meja makan.

“Ini makan malamnya, juga cemilan. Moga aja suka ya pak makan yang beginian, belinya di minimarket.”

Mendengar penuturan Rumi, telinga Kaisar sepertinya gatal. Entah mengapa penuturan wanita itu seakan menyindir.

Gimana nggak jomblo, mulutnya … ya ampun. Jangan sampai jodoh aku yang kayak gini, batin Kaisar. 

\=\=\=\=

Author : Padahal dianya juga jomblo

Terpopuler

Comments

Vita

Vita

mulutnya msh mending dr pd pikiranmu pak pak
🤣🤣
jeleeeeeeekkkkkk mlu ma org 😂😂😂

2025-01-03

0

Eva Karmita

Eva Karmita

dasar Kaisar ngk nyadar jomblo ngomongin jomblo wkwkwk 🤪😂😂

2025-01-03

0

Siireng Siireng

Siireng Siireng

sudah dibeliin masih ngomel aja..../Chuckle//Grin/
lanjut kak

2025-01-03

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog ~ CLB
2 CLB - Berkah Atau Musibah
3 CLB - Saya Juga Lapar
4 CLB - Cewek Pertama
5 CLB - Sudah Mandi?
6 CLB - Pantas Saja Jomblo
7 CLB - Belum Ada Judul
8 CLB - Salah Sangka
9 CLB - Bukan Prank
10 CLB - Drama Suami Istri
11 CLB ~ Mau Kemana?
12 CLB - Tinggal Bersama
13 CLB : Enaknya Punya Istri
14 CLB - Mau ....
15 CLB - Lagi ....
16 CLB - Mau Ikut
17 CLB - Karpet Merah
18 CLB - Mela dan Ardi
19 CLB - Sambutan Keluarga
20 CLB - Mirip Dengan ....
21 CLB ~ Perasaan
22 CLB - Jatuh Cinta
23 CLB - Menyesal
24 CLB - Lebih Hebat
25 CLB - Sambutan Keluarga
26 CLB - Gagal Lagi
27 CLB - Bertemu (Lagi)
28 CLB - Mencari Tahu
29 CLB - Kamu Siapa?
30 CLB - Terungkap
31 CLB - Rencana
32 CLB - Bertemu Mertua
33 CLB - Ada Yang Salah
34 CLB - Rencana (2)
35 CLB - Tidak Mungkin
36 CLB - Ternyata ....
37 CLB - Belum Ada Judul
38 CLB - Ternyata (2)
39 CLB - Nanti Juga Tahu
40 CLB - Tidak Mungkin
41 CLB - Balas Dendam
42 CLB - Tuduhan Ardi
43 CLB - Gaya Apa
44 CLB - Akhirnya Berhasil
45 CLB - Karena Rumi
46 CLB - Masa Lalu
47 CLB - Mikirin Aku
48 CLB - Kerja Siang dan Malam
49 CLB - Ancaman Ardi
50 CLB - Tempat Sampah
51 CLB - Rumi Sakit
52 CLB - Sakitnya Rumi (2)
53 CLB - Hamil
54 CLB - Perempuan Gil4
55 CLB - Cewek Gila
56 CLB - Kami Bersaudara
57 CLB - Karatan
58 CLB - Baby Rusa
59 CLB - Keluarga Yang Aneh
60 CLB - Suami Mesum
61 CLB -
62 CLB - Menyadari Kesalahan
63 CLB - Siapa Yang Gil4
64 CLB - Tanda - tanda
65 CLB - Bulan Madu
66 CLB - Rumi Vs Rida
67 CLB - I Love You
68 CLB - Masih Kuat
69 CLB - Tanda-tanda (2)
70 CLB - Nama Kesayangan
71 CLB - Luar Biasa
72 CLB - Kontraksi
73 CLB - Seriuslah Kai ....
74 CLB - Seperti Digigit
75 CLB - Akhirnya ....
76 CLB - Kejutan (1)
77 CLB - Kejutan (2)
78 CLB - Warisan Kaisar
79 CLB - Aku Buktikan
80 CLB - Kontraksi
81 CLB - Kondisi Mamak
82 CLB - Kaisar VS Dokter
83 CLB - Astaga ....
84 CLB - Terserah!
85 CLB - Tidak Yakin
86 CLB - Benar Anakku
87 CLB -
88 CLB - Rahasia
89 CLB -
90 CLB - End
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Prolog ~ CLB
2
CLB - Berkah Atau Musibah
3
CLB - Saya Juga Lapar
4
CLB - Cewek Pertama
5
CLB - Sudah Mandi?
6
CLB - Pantas Saja Jomblo
7
CLB - Belum Ada Judul
8
CLB - Salah Sangka
9
CLB - Bukan Prank
10
CLB - Drama Suami Istri
11
CLB ~ Mau Kemana?
12
CLB - Tinggal Bersama
13
CLB : Enaknya Punya Istri
14
CLB - Mau ....
15
CLB - Lagi ....
16
CLB - Mau Ikut
17
CLB - Karpet Merah
18
CLB - Mela dan Ardi
19
CLB - Sambutan Keluarga
20
CLB - Mirip Dengan ....
21
CLB ~ Perasaan
22
CLB - Jatuh Cinta
23
CLB - Menyesal
24
CLB - Lebih Hebat
25
CLB - Sambutan Keluarga
26
CLB - Gagal Lagi
27
CLB - Bertemu (Lagi)
28
CLB - Mencari Tahu
29
CLB - Kamu Siapa?
30
CLB - Terungkap
31
CLB - Rencana
32
CLB - Bertemu Mertua
33
CLB - Ada Yang Salah
34
CLB - Rencana (2)
35
CLB - Tidak Mungkin
36
CLB - Ternyata ....
37
CLB - Belum Ada Judul
38
CLB - Ternyata (2)
39
CLB - Nanti Juga Tahu
40
CLB - Tidak Mungkin
41
CLB - Balas Dendam
42
CLB - Tuduhan Ardi
43
CLB - Gaya Apa
44
CLB - Akhirnya Berhasil
45
CLB - Karena Rumi
46
CLB - Masa Lalu
47
CLB - Mikirin Aku
48
CLB - Kerja Siang dan Malam
49
CLB - Ancaman Ardi
50
CLB - Tempat Sampah
51
CLB - Rumi Sakit
52
CLB - Sakitnya Rumi (2)
53
CLB - Hamil
54
CLB - Perempuan Gil4
55
CLB - Cewek Gila
56
CLB - Kami Bersaudara
57
CLB - Karatan
58
CLB - Baby Rusa
59
CLB - Keluarga Yang Aneh
60
CLB - Suami Mesum
61
CLB -
62
CLB - Menyadari Kesalahan
63
CLB - Siapa Yang Gil4
64
CLB - Tanda - tanda
65
CLB - Bulan Madu
66
CLB - Rumi Vs Rida
67
CLB - I Love You
68
CLB - Masih Kuat
69
CLB - Tanda-tanda (2)
70
CLB - Nama Kesayangan
71
CLB - Luar Biasa
72
CLB - Kontraksi
73
CLB - Seriuslah Kai ....
74
CLB - Seperti Digigit
75
CLB - Akhirnya ....
76
CLB - Kejutan (1)
77
CLB - Kejutan (2)
78
CLB - Warisan Kaisar
79
CLB - Aku Buktikan
80
CLB - Kontraksi
81
CLB - Kondisi Mamak
82
CLB - Kaisar VS Dokter
83
CLB - Astaga ....
84
CLB - Terserah!
85
CLB - Tidak Yakin
86
CLB - Benar Anakku
87
CLB -
88
CLB - Rahasia
89
CLB -
90
CLB - End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!